Kamis, 10 Januari 2013
Kenduri Karet (Chapter 10-Tamat)
Chapter 10
Teman Baru Dalam Bus Antarkota
MESKIPUN kedua kelopak matanya masih menutup begitu rapat, Vanya memaksakan diri bangun. Brr... kenapa Jakarta ikut-ikutan dingin seperti Bandung, ya? Diliriknya weker di atas meja. Pukul empat pagi. Ampun, ba rum pukul empat pagi! Berarti dia duluan bangun satu pukul sebelum weker berbunyi. Sebel banget! Setiap kali memasang weker, Vanya pasti bangun duluan. Sial! Nggak mau rugi, dilanjutkannya acara bergeletakan leyeh-leyeh di atas kasur. Mau tidur lagi, sudah nggak bisa. Akhirnya Vanya mematikan weker. Biar saja. Nanti toh jeritan ibunya nggak kalah dengan suara weker.
"Anyaaa! Bangun, Nya!!!"
Betul, kan?
"Anya udah bangun, Miiii...!" jerit Vanya nggak mau kalah. Biasanya kalau sudah begini, Dewa, kakaknya yang sok ngatur itu, menggedor pintu kamarnya. "Kenapa sih mesti jerit-jerit? Tetangga pada bangun tuh!"
Tapi Vanya cuek saja. Sudah lama Vanya nggak mengalami berbalas jerit dengan ibunya, sejak dia kos di Bandung. Sekarang boleh dong bernostalgia. Apalagi hari ini liburan terakhirnya di Jakarta. Besok Vanya mulai menjalani lagi hari-hari kuliah di Bandung. Dengan gaya malasnya, Vanya masuk ke kamar mandi. Nggak lama kemudian dia menongolkan kepalanya. "Mi, tolong ambilin anduk dong...."
Ibu Vanya sambil ngomel-ngomel menyodorkan handuk. Sementara itu bapak Vanya yang jarang ngumpul di rumah gara-gara keseringan di laut cuma senyum-senyum.
"Kamu tuh udah gede,Nya! Kok masih selalu lupa bawa anduk. Heran!" Ibu Vanya melanjutkan omelannya di meja makan. "Nya, cepetan mandinya! Nanti kamu terlambat!"
"Naik bus kok bisa terlambat," jawab Vanya dari kamar mandi.
"Udah, pokoknya cepetan!!!"
"Mami nih dari tadi jerit-jerit melulu." Bapak mulai terganggu. Gimana nggak terganggu, dari tadi baca korannya satu kalimat terus berhubung nggak bisa konsentrasi.
Pukul setengah tujuh pagi Vanya sudah sampai di Terminal Bus Kampung Rambutan. Bus cepat Bandung-Jakarta belum ada yang nongol. Lagi-lagi Vanya kepagian! Vanya menyandarkan tubuhnya ke tembok. Melamun.
Vanya ingat zaman gila-gilaan bareng Iman dan Jaya. Pulang sekolah Vanya janjian ketemu di Blok M. Iman dan Jaya satu sekolah. Mereka berdua anak Bulungan. Dari Blok M mereka bertiga sering keluyuran ke TIM. Menonton makhluk-makhluk aneh, kata Vanya. Tapi Iman suka protes berat kalau para seniman itu dijuluki makhluk aneh. Soalnya Iman sendiri merasa seniman. Dibilang aneh, tersinggung dong!
Pernah juga mereka main ke Cililitan. Dulu, waktu terminalnya belum pindah ke Kampung Rambutan. Asyik nonton bus-bus antarkota yang berseliweran di depan hidung mereka. Bosen nonton bus, Jaya kasih usul naik ke salah satu bus. Yang lainnya langsung pasrah menyetujui usul Jaya. Begitu masuk jalan tol, Iman iseng bertanya ke kondektur, "Mas, bus ini mau ke mana?" Si kondektur tentu saja kesel banget, sejak tadi dia sudah teriak-teriak sampai urat lehernya nyaris putus meneriakkan tujuan perjalanan, eee... ini ada penumpang yang nggak tahu tujuan.
"Bus ini ke Bogor, situ mau ke mana? Banjar, ya? Ntar turun aja di gerbang!" sahutnya sinis.
"Banjar?" kata Iman dengan polosnya. "Di mana tuh? Saya ke Bogor aja deh! Saya udah pernah kok ke Bogor. Kalo Banjar belum pernah. Nanti nyasar...."
Si kondektur berlalu dengan wajah bingung.
"Jay, kok kita bisa naik bus ini, ya?" tanya Vanya setengah ngelamun.
"Nggak tau niih!" Jaya yang punya inisiatif ikutan bingung.
Mereka bertiga berpandang-pandangan lalu ketawa bareng. Di Terminal Bus Baranangsiang, Bogor, seperti tiga anak hilang, Vanya, Jaya, dan Iman celingukan.
"Jay, balik yuuk!" ajak Iman persis anak kecil yang takut nyasar di daerah asing. J
aya langsung melotot.
"Diih, baru juga sampe!"
"Iya niih!" Vanya ikutan kesel. "Betah amat sih naik bus?"
"Bukan begitu, Nya! Saya baru inget hari ini Mama ulang tahun, ee, saya malah keluyuran ke Bogor...," sahut Iman membela diri.
Perasaan "kewanitaan" Vanya yang jarang muncul, langsung tersentuh. Dia ingat, setiap kali ibunya ulang tahun, dia pasti memberikan sesuatu. Sesuatu yang kecil yang kelihatannya nggak berharga, tapi amat berarti bagi ibu Vanya. Yang penting bukan harganya, tapi perhatian yang diberikan melalui sesuatu tersebut.
Vanya menatap Iman serius. "Kamu udah nyiapin kado?"
Iman menggeleng dengan tampang memelas.
"Itulah, Nya, kenapa saya pengen cepet balik. Saya belum punya apa-apa buat Mama!"
"Bawain asinan aja!" celetuk Jaya cuek.
"Eh, iya! BetuI, Jay! Betul!" teriak Vanya mengagetkan. "Bawain asinan, Man!"
"Asinan?"
"Iya, asinan!" ulang Vanya menatap Jaya dan Iman bergantian. Keduanya melihat Vanya seperti melihat makhluk aneh. Malahan Jaya yang tadi punya usul ikutan heran. Soalnya tadi dia cuma iseng nyeletuk berhubung lihat toko yang menjual asinan di sebelah terminal.
"Asinan Bogor enak Iho, Man! Pasti Mama kamu suka! Percaya deh!" desak Vanya lagi.
"Tapi, Nya, masa dikasih kado asinan?"
Karena kepandaian Vanya nyerocos yang intinya bahwa kado itu bukan dilihat dari bendanya, tapi dari harganya, eh, perhatiannya, akhirnya Iman menurut juga. Setelah membeli asinan buat mamanya Iman, mereka kembali ke Jakarta. Kalo ingat kegilaan mereka dulu, Vanya jadi pengen balik jadi anak SMA lagi.
Vanya masih akan meneruskan lamunannya di dalam bus ketika terdengar sebuah teguran di sampingnya, "Kosong, ya?"
Pagi-pagi berkacamata hitam, komentar Vanya dalam hati. Ditatapnya cowok berkumis tipis yang menegurnya itu, lalu dia menggeser duduknya menjauhi jendela bus.
Vanya ingat pesan wanti-wanti dari Dewa, kakak Vanya yang sok ngatur tapi sebetulnya sayang banget sama adiknya itu, kalo nanti di sebelahnya ada cowok, jangan duduk di dekat jendela. Nanti kalo cowok itu mau macam-macam, Vanya nggak bisa berkutik. Sedangkan kalo duduk di dekat gang, kalo ada apa-apa bisa langsung kabur. Selama ini Vanya sudah sering menjumpai cowok-cowok yang dimaksud kakaknya itu, cowok-cowok iseng yang nggak bisa lihat cewek nganggur, meskipun cewek nganggur itu berpenampilan secuek Vanya.
"Kok nggak suka duduk dekat jendela?" Si kacamata hitam keheranan. "Saya malah suka banget duduk dekat jendela...."
Vanya cuma cengar-cengir. Sekilas diperhatikannya penampilan cowok di sebelahnya. Beggar look atau memang betul-betul gembel? pikir Vanya. Jinsnya sudah sangat parah. Belei berat dengan tambalan di sana-sini. Mengenakan T-shirt putih dengan lengan yang sengaja digunting. Kakinya cuma dihiasi sepasang sandal jepit yang sudah layak dipensiunkan. Diam-diam Vanya pengen ketawa melihat sandal jepit si cowok, persis banget sama sandal jepit yang sedang dipakainya. Sama-sama butut dan berwarna biru.
Vanya sedang terbengong-bengong menatap jalanan ketika tiba-tiba cowok di sebelah mencoleknya. "Kamu kok berani ke Bandung sendirian?"
Kaget sekali Vanya menerima pertanyaan seperti itu. Sejak keterima sekolah di Bandung, dia sudah terbiasa bolak-balik Jakarta-Bandung sendirian. Sekarang dia ketemu orang yang terheran-heran.
"Udah biasa kok," sahut Vanya agak ketus.
Si kacamata hitam malah ketawa.
"Kok dikasih izin sama ibu kamu? Kamu kan masih kecil...."
Vanya melotot sebel. Dia mulai tersinggung.
"Enak aja! Saya udah kuliah!"
"Nggak mungkin!" Si kacamata hitam malah ngotot. "Kamu tuh cocoknya anak SMP. Atau paling top ya kelas satu SMA!"
Vanya sering menjumpai orang yang nggak percaya dia sudah mahasiswa, tapi yang nggak percaya pakai acara ngotot, baru sekali ini ketemu! SaKing kesalnya Vanya mencabut kartu mahasiswa dari dompetnya lalu disodorkannya ke si kacamata hitam.
"Masih nggak percaya?" tanya Vanya sinis.
Si kacamata hitam tersenyum geli.
"Siapa tau itu punya kakak kamu!"
Vanya langsung membuang muka. Nggak mau tahu lagi! Keselnya menggunung pada cowok sok tahu di sebelahnya ini.
Mendadak si cowok ketawa begitu riang.
"Ngambek, ya? Maaf deh! Saya percaya kok kamu mahasiswa.... Tapi kamu mungil sekali siih!"
Vanya lagi-lagi cuma nyengir. Dia masih kesal pada si kacamata hitam.
"Eh, kita ngomong-ngomong yuk!" ajak si cowok dengan ramah.
Menyaksikan keramahan itu, Vanya jadi mulai berani.
"Tapi kamu lepas dulu kacamatamu!" sahut Vanya. Dia memang paling sebel lihat orang berkacamata hitam. Benci karena nggak bisa tahu mata orang itu jelalatan ke arah mana. Mirip copet!
"Aduh, sori deh! Saya sedang sakit mata nih! Malu kalo dilepas!" si cowok ngomong dengan memelas.
"Iih, ngeri! Sakit mata kan menular!" Vanya bergidik takut sambil menggeser duduknya menjauh.
"Yang ini nggak kok! Percaya deh! Kata dokter, ini alergi!" sahut si kacamata hitam buru-buru.
Vanya ketawa geli.
"Kebanyakan ngintip siih!"
Si cowok ikutan ketawa.
"Kamu, iih, mungil sekali!" katanya sambil menepuk tangan Vanya. Vanya sempat kaget juga dengan sikap sok akrab cowok yang baru dikenalnya.
Belakangan Vanya baru tahu bahwa Tria-nama si kacamata hitam-juga alumni tempatnya kulih. Lulusan sipil yang kerja di Jakarta. Tria begitu terbukanya menceritakan kehidupan keluarganya. Bahkan urusan pribadinya juga dibeberkan. Vanya agak curiga juga mendengar semua cerita Tria. Nggak biasanya cowok yang baru dikenalnya bisa ngomong dengan begitu terus terang mengenai masalah pribadi. Jangan-jangan Tria penipu.
Setelah capek ngobrol-ngobrol, mereka berdua terdiam sebentar. Tiba-tiba Tria menarik tangan Vanya. "Nya, liat deh orang di depan kita!"
Vanya ikut-ikutan memperhatikan penumpang di depannya. Seorang ibu dan laki-laki setengah baya.
"Kenapa ?"
"Liat, mereka juga sama-sama nggak kenal. Kayak kita tadi! Tapi dua-duanya nggak ada yang mau mulai ngomong. Jadinya ya gitu... diem-dieman!" cerocos Tria riang.
Vanya geli mendengar kecerewetan Tria.
"Mestinya gimana?" pancing Vanya. Dia suka mendengar komentar Tria yang lucu.
"Kalo saya, nggak bisa lho diem-dieman begitu. Bayangin, Nya, berjam-jam duduk di bus tanpa ngomong! Saya, biar sebelahan sama nenek-nenek, pasti saya ajak ngomong. Daripada bengong. Nggak enak, kan?" lanjut Tria bersemangat.
Vanya tersenyum. Dia mulai menyukai Tria. Cowok ini nggak begitu keren tapi amat charming. Ramah. Dia kelihatan begitu ramah meskipun berpenampilan supercuek.
"Nya, kamu suka nonton film nggak?" Tria membuka topik baru.
"Lumayan......
"Temanya apa?"
"Wawancara niih?" Vanya ketawa. "Saya suka film perang yang kolosal, ngng... horor juga!"
"Drama percintaan?" tanya Tria mirip wartawan kurang kerjaan.
"Nggak tuh!"
"Eh, Nya, kamu suka nggak liat film Indonesia?"
"Nah, kan! Betul, kan! Kamu betul-betul mau ngewawancarain saya! Atau buat angket?"
Vanya mulai curiga.
"Nggak kok!" Tria berkelit. "Pengen tau aja!"
"Terus terang, Tri, saya belum suka film Indonesia. Saya hampir nggak pernah nonton film Indonesia. Nanti-nanti deh kalo mutunya udah lumayan, saya akan nonton," jawab Vanya jujur .
"Itulah kesalahan kamu," sahut Tria. "Kamu nggak berani mencoba nonton. Padahal sekarang udah banyak Iho bintang film yang bermutu. Misalnya Prasta Prahara, Nina Sitta, Rio Supit, Anggreini Erlanggawati, Maheswara...."
"Eh, sebentar, Tri!" sela Vanya. "Tadi kamu bilang Rio Supit? Iya? Saya pernah tuh nonton filmnya. Diajak temen kos yang tergila-gila sama dia. Aduh, kayak kekurangan stok cowok keren aja. Punya idola kok Rio Supit...."
Tria tersenyum mesem.
Vanya ngelanjutin ngomong, "Tapi Rio mainnya lumayan juga. Nggak jelek. Eh...,"
Vanya menatap wajah Tria, "eh, tapi tampangnya agak mirip-mirip kamu lho...."
"Masa?" Tria tersenyum geli. "Pantes, dulu waktu saya nyari rumah temen di daerah Bekasi, saya diikutin segerombolan anak kecil. Mereka teriak, 'Rio! Rio!' Saya dikira Rio Supit!"
"Huhh! Keenakan kamu, Tri. Rio kan bintang film, nggak sakit mata kayak kamu! Hihihi.... Udah gitu, mana mau dia naik bus butut begini? Dia sih paling sial naik kereta api kelas eksekutifl" goda Vanya.
"Emang kenapa hams naik kereta eksekutif?"
"Iya lah. Duitnya kan banyak. Mana mau sih berkere ria macem kita-kita. Tau sendiri jadi bintang film itu susah. Apalagi bintang film Indonesia. Honornya nggak seimbang sama gaya hidup yang hams dijalaninya. Harus punya mobil, harus punya rumah mewah. Makanya biasanya nggak cukup dari honor main film. Biasanya ada sampingannya...."
"Sampingan? Sampingan apa?"
"Ngobyek kanan-kiri."
"Misalnya apa?"
"Ya begitulah... berubah nama jadi simatupang."
"Simatupang?"
"Siang-malam tunggu panggilan. Hahaha...."
Tria ikut ketawa. "Aduh, Vanya. Kamu tuh kebanyakan baca tabloid, ya?"
Vanya agak nyadar. "Iya juga, kali...."
Tria ketawa-ketawa.
"Iya, ngomong-ngomong... rasanya Rio Supit pasti bakalan sebel banget dibilang mirip saya!"
"Bukan sebel lagi! Kamu malah bisa dituntut gara-gara berusaha meniru dia!" tambah Vanya. Lalu mereka berdua ketawa.
***
Keesokan harinya ketika sedang membaca koran pagi, Vanya terkaget-kaget menatap foto seorang bintang film berpenampilan cuek.
"Mirip Tria!" pikir Vanya.
Vanya ingat kartu nama yang diberikan Tria ketika mereka turun di Terminal Bus Kebon Klapa. Kemaren dia langsung memasukkannya ke dalam ransel karena terburu-buru mengejar angkutan ke Dago. Bergegas Vanya berlari ke kamar. Mengaduk-aduk isi ransel. Akhirnya ketemu juga kartu nama itu!
Tria Ontario Supit.
"Ya ampun! Dia betul-betul Rio Supit!" jerit Vanya. Kemudian sambil tersenyum-senyum Vanya membaca kembali tulisan di bawah foto itu. Rio Supit berada di Bandung untuk mempromosikan film terbarunya, Kabut Berasap....
TAMAT
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar