Kamis, 10 Januari 2013
Kenduri Karet (Chapter 5)
Chapter 5
Kontes Bayi Sehat
MALAM Minggu yang nggak begitu ceria, Vanya, Tita, dan para penghuni kos lainnya, kecuali Via (makhluk yang satu ini sukses nggak nganggur berhubung ada kegiatan malam amal di kampusnya), duduk-duduk melototi acara televisi di ruang tamu. Seperti biasanya kalo baru mulai duduk mereka agak tenang. Tapi lima menit kemudian, siapa pun yang muncul di layar televisi bakal dikomentari habis-habisan. Dari cara ngomongnya yang meliuk-liuk (ini komentar khusus buat pembawa acara dan penyiar), baju yang nggak matching, goyang-goyangnya aneh, sampai makeup yang nggak sinkron sama suasana. (Contohnya, seorang bintang sinetron tidur dengan riasan wajah kayak mau ke pesta. Nggak jelas deh maksud sutradaranya, biar si bintang mimpi pesta atau begitu bangun tidur bisa langsung ke pesta atau maksud-maksud yang lain.) Pokoknya acara nonton televisi di tempat kos Vanya itu selalu diwarnai celetak-celetuk para anggota Kelompencabir-Kelompok Pencela dan Pencibir.
Kalo televisi sedang menayangkan acara yang isinya cuma orang ngobrol-ngobrol, baik beramai-ramai, berdua, atau sendiri (eh, sendiri bukan ngobrol ya namanya, tapi ngoceh) yang biasanya terdiri atas bapak-bapak berwajah kurang meyakinkan (paling nggak di mata anak kos), mereka agak malas mengomentarinya. Televisi tetap nyala, tapi volumenya dikecilkan sampai pol. Lalu masing-masing asyik ngobrol tanpa memedulikan si bapak yang sudah ngoceh dengan penuh semangat. Kalo itu belum cukup juga, layarnya digelapkan. Jadi nggak ada bedanya dengan nonton televisi mati. Nggak jelas, kesintingan ini diperoleh para penghuni kos dari mana. Nyatanya mereka semua menikmati cara nonton seperti itu.
Dari arah pintu pagar terdengar suara sepeda motor memasuki halaman.
"Sttt!" Iril menyuruh teman-temannya tenang. "Siapa tuh?"
"Yang jelas bukan kamu yang diapelin, Ril...," celetuk Tita kalem.
"Putra kan nggak punya motor!" timpal Nana dengan wajah serius.
Apri ketawa geli.
"Kalo toh punya, kok iseng banget ngapel ke tetangga sebelah rumah bawa motor!"
Iril kali ini nggak berkomentar apa-apa. Dia cuma tersipu sedikit, lalu mencoba bersikap tenang. Sejak peristiwa blus pink metaliknya Putra, Iril selalu malu kalo ketemu Putra.
Vanya dan Dani sebaliknya. Mereka berdua siap memasang tampang manyun kalo ditegur Putra. Gara-gara Putra, mereka berdua, terutama Vanya si otak rekayasa gosip, terpaksa mengorbankan uang jajan sebulan untuk menyogok Iril yang ngambek. Demi persahabatannya dengan Iril, uang jajan habis nggak apa-apa. Syukurlah setelah kenyang ditraktir ayam suntik, sate padang, dan batagor di berbagai tempat, Iril luluh juga. Dia mau memaafkan kejailan Vanya dan Dani.
"Assalamualaikum!"
Serut wajah kearab-araban muncul dari balik pintu.
"Wa'alaikum salam! Ehh, Habib!" teriak anak kos dengan riang.
Habib, cowok Arab Pekalongan ini penjahit langganan anak-anak kos. Jahitannya rapi, harganya terjangkau, dan selalu memuaskan anak-anak kos. Dengar-dengar, beberapa artis asal Bandung jadi langganan Habib juga.
"Ah, udah jadi, ya?" tanya Iril sambil membongkar kantong plastik besar yang dibawa Habib.
Habib manggut-manggut.
"Udah! Punya Apri sama Tita juga udah."
"Punya saya, -Bib? Yang warna merah?" Nana ikutan mengamati baju baru Apri.
"Ya belum dong! Kan baru dibawa kemaren dulu!"
Sementara anak kos sibuk mengerubungi baju, Vanya cuma bersandar ke tembok, memperhatikan tingkah teman-temannya.
"Nonton televisi, ya, Nya?" sapa Habib ramah.
Vanya mengangguk. "Tadi sih iya. Tapi sekarang acaranya lagi jelek. Orang ngobro1!"
"Ooo, dimatiin......”
"Nggak, Bib. Mau nonton?" Vanya memunculkan suara dan menjelaskan wajah bapak-bapak di televisi.
"Bib! Jangan nonton dong! Saya mau bikin lagi niih!" protes Tita sambil menyodorkan selembar kain. Ya ampun, gerak cepat juga nih anak! Begitu sadar kalo Habib yang datang, ia langsung berlari ke kamar mengambil kain simpanannya.
Dani ikutan bersandar di sebelah Vanya.
"Nggak bikin baju, Nya?" tanya Dani.
"Nggak. Kamu?"
"Nggak juga," sahut Dani nyengir. "O ya, Nya, besok kamu ada acara nggak?"
"Besok hari Minggu, kan? Paling jogging sama Eko en Yadi di Gasibu sampe pukul tujuh pagi...."
"Abis itu?"
"Makan bubur ayam Mang Oyo, lalu..."
"Ngapain lagi?"
"Pulang."
"Asyik!" teriak Dani bikin teman-temannya yang sedang ngerubutin Habib menoleh semua. "Berarti kamu bisa ikutan ngeceng di Taman..."
"Maluku?" potong Vanya ketawa. Vanya geli banget membayangkan Dani bersemangat ngeceng di wilayah kekuasaan makhluk-makhluk "cantik perkasa"'itu.
"Ngaco! Taman Lalu Lintas!"
Vanya langsung manyun.
"Saya bosen, Dan, tiap kali ke sana ice cream party melulu! Mending enak esnya! Udah nggak enak, mahal lagil" omel Vanya.
"Nggak, Nya, bukan ice cream party kok!"
"Lalu apa?"
"Kontes bayi sehat!"
Vanya langsung ngakak berat! Sejak kapan Dani yang alergi anak-anak menaruh minat pada bayi? Vanya ingat sekali, setiap mendengar ada anak kecil atau bayi yang menangis di bus atau di kendaraan umum lainnya, Dani yang paling keras protes. "Aduh, Bu, kalo anaknya rewel jangan diajak naik bus dong! Kan kasihan penumpang yang lain. Mana panas, mana jauh.... Bikin pusing! Lain kali nggak usah dibawa deh anaknya. Ngerepotin! "
"Kamu, Dan? Mau bela-belain ke Taman Lalu Lintas buat ngecengin bayi?" Vanya terbelalak.
"Hush! Ya nggak dong!"
"Lalu ngapain?" Vanya tambah heran.
"Ngecengin panitia!" Dani senyum-senyum ganjen.
"Anak mana sih?"
"FK! Ikutan ya?"
Sekarang gantian Vanya yang tersenyum ganjen.
"Sipp!!!"
Setelah itu Dani sibuk memberikan pengumuman ke seluruh anak kos mengenai rencana ngeceng massal di Taman Lalu Lintas. Tentu saja cewek-cewek centil itu langsung berteriak-teriak histeris kayak mau jumpa Michael Jackson. Habib yang sempat dicuekin selama beberapa menit jadi ber-ck-ck-ck sambil berastagfirullah menyaksikan ulah para pelanggannya. Kalo besok Fatimah, adik Habib mau ikutan ngeceng juga, nggak bakal dia beri izin. Bisa-bisa ketularan centilnya anak kos.
Vanya girang banget membayangkan anak-anak Fakultas Kedokteran yang terkenal keren-keren. Meskipun banyak juga yang kuper sama cewek berhubung terlalu rajin belajar. Vanya ingat setiap kali ada urusan di perpustakaan, dia pasti ketemu gerombolan anak FK yang sedang sibuk mendiskusikan pelajaran. Padahal bukan musim ujian! Di meja mereka bertebaran textbook tebal bergambar serem-serem. Kalo sedang kumat isengnya, Vanya suka sok akrab menegur salah seorang dari mereka. (Milih yang paling kece, tentunya! Hehehe....) "Halo! Kok dari kemaren pelajarannya jorok melulu?"
Tapi pernah juga Vanya memergoki segerombolan anak FK yang berusaha ngeceng. Sayang acara ngecengnya terlalu terus terang, sehingga berkesan norak bagi Vanya. Apalagi manusia yang "dikecengi" itu Vanya sendiri.
Waktu itu sedang musim ujian semester. Vanya memang suka belajar bareng teman-temannya di ruang baca perpustakaan. Kalo mulai suntuk dia bisa menggoda teman-temannya yang masih serius belajar. Memang Vanya suka curang. Kalo dia sedang serius, ada yang coba-coba menggoda, dia bisa ngamuk berat kayak kakek-kakek kebakaran jenggot. .
Waktu itu Vanya sedang agak suntuk. Dia pindah belajar ke meja diskusi tempat cowok-cowok FK lagi pada ngumpul. Namanya cowok, ngeliat anak manis nganggur, langsung aja pada ribut kasak-kusuk.
"Eh, gue dideketin!" kata seseorang.
"Enak aja, deketan juga gue!" kata yang lain nggak mau kalah.
Merasa terganggu, Vanya mengangkat wajahnya sedikit dari halaman buku. Tak disangka, reaksinya amat dahsyat. Cowok yang duduk tepat di depannya, langsung ge-er dan ngejublak jatuh telentang beserta kursinya.
"Ahoooi, gue diliatin!"
Suasana perpus tentu sedikit gaduh oleh suara kursi yang jatuh.
"Duuh, lo norak amat sih? Orang dia ngeliatin gue kok!" ujar yang di sebelahnya sambil membantu bangun anak yang jatuh.
"Sembarangan!" ujar cowok yang jatuh itu sambil mengusap kepalanya yang benjol.
"Yang pasti, urang si pang kasepna!"
Vanya nggak ngerasa ge-er meskipun cuma dia seorang yang duduk berhadapan dengan cowok-cowok FK Dia udah terlalu sering dibikin ge-er oleh teman-teman kuliahnya. Maklumlah, geologi kan termasuk jurusan langka cewek. Dulu pas baru masuk kuliah, Vanya udah kenyang ber-ge-er ria. Soalnya, cewek manis ini laku keras diperebutkan cowok-cowok fakultasnya. Tapi sekarang, rasanya Vanya sekarang udah kehilangan jiwa ge-er-nya, lantaran udah keseringan ditaksir cowok. (Wuuuuu!) Dan lagi para cowok itu udah nggak bersemangat lagi ngejar-ngejar Vanya, berhubung yang dikejar "responsnya terlalu cuek. Malah kadang nggak nyadar.
Cowok-cowok FK itu mulai in action lagi. Kasak-kusuk nyari perhatian Vanya. Vanya lantas mengangkat wajahnya lagi dari bukunya,. dan menatap tajam cowok-cowok itu. Satu per satu. Nggak heran kalo para cowok itu jadi salah tingkah.
"Gue pindah aja, ya? Nggak bisa konsentrasi!" kata yang satu.
"Iya nih. Gue juga nggak bisa!" yang lainnya ikutan.
"Gue juga!"
"Sarua jeung abdi. Sieun euy, awewe.....”
Satu per satu gerombolan efka membubarkan diri. Tinggal yang tadi jatuh. Tak bergeming. Cintanya mentok kali sama Vanya.
"Kamu anak FK, ya?" tanya Vanya.
"Iya, semester akhir," jawab anak itu dengan semangat promosi. Dikira ada respons. Maklum, mendekati lulus, jodoh harus ready to use.
"Oke, daripada nggak ada kerjaan, mending kita taruhan pake teka-teki. Setuju?" ujar Vanya lagi sambil memicingkan mata.
"Boleh," ujar anak FK itu riang. "Gini aja, saya usul. Yang nggak bisa nebak, harus bayar 20.000! Oke?"
"Ah, tapi kamu kan anak FK. Semester akhir lagi. Jadi kan lebih pinter. Nggak adil kalo taruhannya sama. Gimana kalo saya kalah, saya bayar 5.000, tapi kalo kamu kalah, kamu bayar tetap 20.000!"
Anak FK itu, berhubung langsung percaya diri karena udah dipuji Vanya, langsung oke aja.
"Saya duluan, ya, ngasih tebakan!" ujar Vanya. "Binatang apa yang berjalan dengan tiga kaki dan terbang dengan dua kaki?"
Anak FK itu nggak bisa jawab. Lalu menyerahkan duit 20.000 sambil penasaran.
"Emang jawabnya apa?"
Vanya juga nggak tau. Ia menggeleng, lalu menyerahkan uang 5.000-an. "Thanks. See you next time!"
Vanya pergi. Anak FK itu bengong.
***
Pagi itu Taman Lalu Lintas masih belum begitu ramai. Vanya dan teman-temannya berjalan mengitari pagar yang melingkari taman. Di sana-sini terdapat pagar yang terpotong, memancing setiap orang yang nggak mau rugi untuk menyusup ke taman secara gratis.
"Dari sini aja, Neng!" ajak seorang tukang es yang berjualan di luar pagar sambil menunjuk ke sebuah lubang yang cukup besar, akibat bolongnya beberapa besi pagar.
"Kamu mau jadi sukarelawan, Dan?" tawar Vanya.
"Ehh, nggak bisa! Badan saya kan gede! Nggak imut kayak kamu, Nya!"
"Sialan!" Vanya manyun dikatain imut. "Itu tuh, si Via aja! Ntar kalo ketauan, baru deh saya ikutan nyusul sambil lari-lari.... Ceritanya Via adik saya yang lepas!" . .
"Ogah!" teriak Via. Cewek yang satu ini memang lebih mungil daripada Vanya. Tapi gayanya sok dewasa dan centilnya minta ampun! "Mending disuruh bayar beberapa perak daripada sampe di dalam saya dipajang! Dibikin malu sama satpam! Iih, kebayang deh malunya tujuh turunan!!!"
Akhirnya mereka nggak jadi masuk lewat jalan pintas. Nggak ada yang bersedia jadi sukarelawan, eh, sukarelawati siih!
Baru saja memasuki taman, mereka sudah disambut stand-stand kecil yang menjual perlengkapan bayi. Vanya langsung mengajak Dani mampir ke salah satu stand dengan penjaga seorang cowok keren. Pasti mahasiswa FK! Betul-betul minus cewek! pikir Vanya.
Dan dia begitu kaget setelah menyadari' yang dijual si keren adalah popok bayi dan sejenisnya.
"Ehh, bagus ya, Dan?" kata Vanya asal-asalan lalu memegang selembar popok bermotif bunga-bunga.
Dani cuma cengar-cengir bingung.
"Harganya juga murah...," promosi si keren dengan gayanya yang kaku.
"Ka1o yang itu?" Vanya menunjuk sebuah celana dalam ukuran balita.
"Itu juga murah!" jawab si keren, lalu menyebutkan sejumlah angka yang nggak diperhatikan Vanya.
"Eh, Mas, di sini kok jualannya celana ukuran kecil semua?" tanya Vanya bego. Dani melotot kaget.
"Maksudnya?" Si keren kebingungan.
Sadar akan ketololan pertanyaannya, Vanya jadi salah tingkah sendiri. Tapi kepalang tanggung, dia meneruskan, “Apa nggak ada ukuran besar buat saya?"
Buru-buru Dani menyeret Vanya ke aula sebelum si keren bertambah bengong. Di dalam aula, Tita, Iril, dan yang lainnya sibuk mencoleki pipi-pipi bayi yang bertebaran.
Vanya sangat panik melihat begitu banyak bayi yang berseliweran di depan matanya, sampai nggak tahu mesti bagaimana. Vanya memang tergolong bayimania. Dia paling nggak tahan lihat bayi. Bawaannya pengen nyubit. Atau pengen nyium lamaaaa banget!
Makanya para ibu yang punya bayi, apalagi kalo bayinya gendut, berhati-hatilah! Sementara itu Dani yang alergi balita keasyikan memandangi sosok-sosok keren panitia kontes bayi sehat.
“Ketemu, Dan?" goda Vanya sambil ikut-ikutan jelalatan.
"Bukan ketemu lagi, Nya! Panen! Sampe bingung. Terlalu banyak yang bisa diliat!"
Ketika acara pengumuman pemenang, Vanya cs. ikut-ikutan berdesak-desakan di antara para suporter. Cuma Dani yang kelihatan nggak bersemangat.
"Dan pemenang pertama kelompok umur lima sampai delapan bulan... Novita Amelia!" kata si pembawa acara yang merupakan satu di antara segelintir cewek yang jadi panitia kontes.
Seorang cowok yang rupanya ketua panitia, tampil ke atas panggung. Orangnya kece dan kelihatannya pantes banget dengan kumis tipisnya. Jadi tampak berwibawa.
Si kecil Novita Amelia tampil ke atas panggung digendong ibunya. Komentar-komentar gemas bermunculan,
"Iih, lucunya!"
"Aduhh, cantiknya! Sehat banget, yah!"
Tiba-tiba dari arah samping Vanya terlontar sebuah celetukan cukup keras, "Iih, kumisnya lucu!"
Maka pecahlah aula itu oleh tawa ibu-ibu yang berpadu dengan tangisan bayi-bayi. Siapa lagi yang bisa senorak itu kalo bukan Dani? Sadar akan kenorakannya, wajah Dani langsung mirip kepiting rebus. Malu berat!
Dia buru-buru mencari perlindungan ke teman-teman kosnya. Tapi betapa kagetnya dia, Vanya dan yang lainnya sudah nggak kelihatan lagi., Mereka langsung menyelinap keluar aula begitu mendengar jeritan Dani. Saat itu nggak ada yang mengaku kenal Dani. Takut kecipratan malu!
Bersambung...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar