Kamis, 10 Januari 2013

Kenduri Karet (Chapter 3)


Chapter 3
Kenduri Karet

“TA, siang ini kita makan apa?"

Pertanyaan klise anak indekosan muncul dari mulut Vanya. Iya, Vanya, dan anak sekos mulai bosen makan rantangan. Rantangannya distop untuk waktu yang tidak terbatas. Risikonya ya itulah! Tiap datang waktu makan mereka kebingungan cari makanan. Mentok-mentok ya ke Supermie! Kadang diselingi makan mi tek-tek. Itu Iho, mi Jawa yang dijualnya pake bunyi "Tek... tek... tek!" Tapi biar Jawa juga namanya tetap mi. Makannya repot. Dan kalo sering-sering bisa bikin usus jadi lengket.

Sekarang Vanya dan teman-temannya duduk bengong sambil sibuk berpikir. Apa yang bisa mereka makan?

"Ke Kentucky Dago yuk!" celetuk Tita.

"Lu aje sorangan!" sahut Vanya kesel. Yang lainnya ikutan kesel. Gimana nggak kesel? Makan ayam suntik tanggung bulan begini! Besok-besok pada makan apa? Tentu saja ide gila Tita ditolak mentah-mentah.

"Ehh... gini maksudnya," Tita coba kasih penjelasan. Ciut juga hatinya menghadapi anak satu kos. "Kita urunan berapa-berapa gitu, terus kita beli ayam! Bisa dadanya, pahanya, atau apanya...: Yang penting ..rasanya masih ayam!" cerocos Tita bersemangat.

"Bagus! Ayamnya sepotong dan kita bersebelas! Ethiopia aja lewat...." Vanya tambah sebel. Yang lain ikutan manyun.

"Biar aja Tita yang kebagian tulangnya! Kemaren dia ketangkep basah gigitin tulang ayam.... Saya liat Iho, Ta! Makannya ngumpet-ngumpet di dapur, kan?!!" Dani ngakak ditimpali tawa cekikikan yang lain.

Diketawain anak satu kos gitu, Tita makin malu. Buru-buru dia lari ke kamarnya.

"Ehh, Ta...! Tita!! Jangan bunuh diri! Masa gitu aja mau bunuh diri?!!" ledek Vanya.

Tita melotot sebel.

"Siapa yang mau bunuh diri? Saya mau tidur kok! Biar ngimpi makan ayam!"

"Makan ayam apa makan tulang ayam?!" Via teriak.

"Apa makan sama-sama ayam?" timpal Iril.

"Terserah!" sahut Tita sengit. Lalu masuk kamar dan betul-betul tidur. Kebo juga tuh anak! Padahal baru pukul satu siang. Tapi ya nggak apa, toh sekarang hari Minggu! Hari istirahat sedunia! Kalo kemaren, hari keramas nasional. Soalnya hari Sabtu kan makhluk-makhluk centil penghuni tempat kos itu suka sok repot dan sibuk. Berdandan abis-abisan. Siapa tahu ada yang datang! Kasihan memang anak-anak kos itu. Jiwa ge-er-nya suka kelewatan! Kalo disinggung soal ke-ge-er-an ini, mereka selalu berkelit ngomong, "Biarin ge-er, asal ge-er positif! Lebih baik ge-er daripada minder!"

Payah!

Tiba-tiba dari arah jalanan nyelonong masuk sepasang ayam. (Sepasang, maksudnya pasangan ayam normal. Ayam jago dan ayam betina. Yang jelas bukan sepasang ayam jago atau sepasang ayam betina. Itu sih sudah di luar jalur kodrat "perayaman". Anomali ayam nggak berlaku di sini.) Ayam-ayam itu berjalan santai sambil sesekali mematuk-matuk tanah.

"Nya, makanan tuh," bisik Dani pelan. Takut kedengeran si ayam.

"Cepet tutup pager!" jerit Vanya lepas kontrol. Bikin ayam-ayam itu meloncat kaget. Mereka berlarian panik di halaman rumah kos.

Via dan Iril tergopoh-gopoh menutup pagar.

Vanya tersenyum puas menyaksikan kegesitan teman-temannya. Ternyata program senam Jane Fonda yang mereka contek setiap pagi nggak sia-sia. Meskipun sudah berbulan-bulan belum ada yang beratnya turun lebih dari setengah kilo. Tapi, yah, paling nggak saat ini dampaknya sudah mulai keliatan. Buktinya Via dan Iril bisa cekatan banget menutup pagar!

"Yuk, Dan, kita tangkep yang betina!" ajak Vanya excited banget.

Mendadak Dani menarik tangan Vanya.

"Nya, ayam-ayam itu ada yang punya, nggak?"

"Mestinya nggak ada dong!" Vanya sok yakin. "Kalo ada yang punya, masa dibiarkan berkeliaran ke sini?"

Dani manggut-manggut setuju. Tampangnya polos sekali.

Sementara itu Via dan Iril mulai mengincar ayam yang jantan. Via tampak serius membisikkan petunjuk praktis cara menangkap ayam pada Iril.

Vanya ketawa geli.

"Pada doyan makan jago, ya? Dagingnya emang asyik tuh! Kalo digigit malah ngelawan! Tapi ya lumayanlah, buat ngelatih kekuatan gigi."

"Biarin!" sahut Via dan Iril kompak, lalu memulai perburuannya. Maka ramailah suara teriakan anak kos yang berpadu jeritan ayam memenuhi seisi rumah. Anak-anak kos yang lain bermunculan dari sarangnya. Ada yang ikutan mengejar ayam. Ada yang cuma nonton sambil teriak-teriak memberi semangat. Ada juga yang diam. Ngebantu doa. Khusyuk banget. Cuek ama situasi. Pokoknya suasana tempat kos saat itu mirip di stadion sepak bola.

Mendengar ribut-ribut di luar, Tita terbangun dari mimpinya. Lalu keluar kamar. Digosoknya kelopak matanya yang segaris. Mimpi Tita berkelanjutan!

"Oii...! Ayam siapa tuh?!" teriak Tita.

"Nggak tau!" Vanya masih berkonsentrasi penuh mengejar si betina. "Bantuin dong, Ta! Daripada tidur melulu!"

"Eh, tunggu, Nya! Itu bukannya ayam-ayam nya Tante Elok? Tante Elok kan punya kandang ayam di belakang rumahnya!" Tita mengingatkan.

"Bodo, ah! Siapa suruh nyasar ke sini!" Vanya cuek banget. Baru saja dia berhasil menangkap kedua kaki ayam betina berkat cegatan Dani, di luar pagar ada sebuah teriakan.

"Punten...!"

Seraut wajah milik Inah, pembantu Tante Elok, menyembul.

"Punten, Neng! Liat ada ayam, ehh..." Inah kaget banget lihat Vanya menggendong ayam.

"Itu, Neng! Itu ayam yang lepas!!"

Vanya sempat pucat. Yang lain ikutan panik. Tapi untung otak licik Vanya jalan. Dengan tenangnya dia menghampiri Inah.

"Ini ayamnya, Nah, tadi nyasar ke sini.... Ayamnya bandel-bandel nih, kita usir nggak pergi-pergi! Udah aja kita nyoba nangkep. Terus rencananya mau dibalikin ke sebelah. Kasian kan Tante Elok pasti nyariin."

"Aduhh, nuhun pisan, Neng! Betul, Neng Vanya, tadi saya udah kebingungan mau cari di mana. Kelupaan nutup kandang, Neng, heheheee...," sahut Inah girang.

Vanya dan teman-temannya ikutan ketawa. Tapi ketawa garing.

"O iya, Neng! Eneng semua diajak ikut kenduri di sebelah!"

Sebuah koor norak berkumandang, "Asyik!!!"

"Ehh, sekarang ya, Nah?" tanya Vanya penuh harap.

"Nggak, Neng! Siang-siangan nanti.... Nanti saya panggil, Neng!" kata Inah lantas pamit pulang sambil menggiring pasangan ayam yang nyaris menjadi korban keganasan anak kos. Setelah Inah berlalu, anak kos langsung berkonferensi pers.

"Hampir aja! Kamu siih, Nya! Iseng amat nangkepin ayam!" tuduh Via.

"Alaa, kamu doyan juga lah! Nggak usah munafik, Vi.... Siapa tadi yang paling bersemangat ngejar-ngejar ayam? Pake acara mengatur strategi segala! Kayak mau perang!" Dani ngebelain Vanya.

Vanya cuma nyengir. Soalnya dia sudah hafal kelakuan Dani. Kalo Dani ngebaikin Vanya, pasti ada maunya. Iya tuh, buntut-buntutnya pasti minta cokelat. Padahal dalam soal cokelat Vanya terkenal pelit. Di pojokan kamarnya ada supermarket cokelat yang nggak boleh dibagi-bagikan ke orang lain. Ditimbun terus! Sering cokelat Vanya jadi bulukan. Gara-gara nggak dimakan-makan. Iya, soal cokelat, bikin Vanya pelit ke ubun-ubun!

"Udah deh... pokoknya siang ini kita makan enak!" kata Tita sambil membayangkan makanan yang enak-enak.

"Siiip!" sahut yang lain.

"Ngomong-ngomong, Tante Elok kenduri apaan siih?" Iril penasaran. Soalnya Iril kalo dengar - sesuatu yang berhubungan dengan Tante Elok and her family semangat banget. Bukannya apa-apa, Iril tuh naksir berat sama Putra, anak tunggalnya Tante Elok. Sayangnya si Mesin yang pinter-pinter bodo itu nggak merasa. Kasihan Iril, selalu repot bergenit-genit di depan Putra. Yang digeniti nggak sadar-sadar. Dasar Mesin! Apa semua anak Mesin semodel Putra, ya? Nggak cepat tanggap kalo ditaksir. Nggak peka!

"Nggak tau! Nyunatin Putra kali!" Vanya ketawa.

"Awas, Nya! Saya bilangin Putra Iho...." Iril manyun. Pujaan hatinya kok dilecehkan seenaknya saja. Kurang ajar si Vanya. Tersinggung niih!

Tawa Vanya malah tambah keras.

"Ayo bilangin, kalo berani! Ngeliat orangnya aja grogi! Gemeteran! Gimana mau ngebilangin, Ril ?!!"

"Sialan!" maki Iril. Tapi nggak bisa membantah. Soalnya yang diomongin Vanya betul banget sih! Meski sudah berusaha segenit mungkin, Iril selalu saja salah tingkah kalo ketemu Putra.

"Sekarang gini aja," Vanya ganti topik, "kita diem manis-manis, nungguin Inah manggil. Yang mau dandan, pake baju bagus... silakan!"

Dan berhamburanlah anak-anak kos itu ke kamarnya masing-masing.

Sekitar pukul dua, tampang-tampang suntuk bermunculan.

"Nya, kok nggak dipanggil-panggil, ya? Saya udah dandan abis-abisan nih!" gerutu Iril sambil merapikan gaunnya yang mulai kusut. Manyun lagi.

"Sabar, baru pukul dua!" hibur Vanya. Padahal dia sendiri mulai sebel bercampur khawatir. Jangan-jangan Inah lupa!

Pukul tiga kurang, mereka belum dipanggil juga.

"Inah lupa kali!" Via kesel. "Kita susulin yuk!"

"Gengsi dong, Vi," sahut Iril manja.

"Ah, udah kelaperan aja masih mikirin gengsi!" Via makin kesel. Sendirian ke sebelah? Nggak berani juga!

Nggak lama kemudian Mang Bakso langganan memasuki halaman. Dia memang begitu yakin kedatangannya ditunggu-tunggu. Gara-gara hampir tiap hari pasti ada saja anak kos yang membeli baksonya. Memang rada ke-ge-er-an itu Mang Bakso. Cuma pernah dua kali Mang Bakso kehilangan jiwa ge-er-nya. Pertama, waktu gosip bakso tikus menyebar. Kedua, waktu ribut-ribut soal penggunaan boraks buat campuran bakso. Mang Bakso mati-matian membela dirinya. Dia bilang, semua baksonya dibuat sendiri. Malah sambil memberikan iming-iming mirip iklan supermarket: Beli satu mangkuk bakso, berhadiah satu sendok cantik. Anak-anak kos itu dengan kurang ajarnya menawar, gimana kalo beli satu mangkuk bakso berhadiah dua mangkuk bakso?

Vanya langsung melompat, dan ngejogrok di dekat tukang bakso.

"Satu mangkuk, Mang! Banyakin kecapnya, banyakin sayurnya, pedesnya dikit aja, dan nggak pake vetsin," pesan Vanya bikin bengong anak sekos.

"Kok beli bakso, Nya? Kan mau makan di Tante Elok?" Iril heran.

"Biarin! Pokoknya sekarang saya laper!" Satu per satu penghuni kos mengikuti jejak Vanya. Ikutan ngebakso. Cacing-cacing dalam perut mereka sudah berontak. Nggak bisa diajak kompromi lagi. Kendurinya mau jadi apa nggak, terserah!

Setelah kenyang berbakso ria, nggak lama kemudian muncu1 Inah dengan tampang innocent-nya.

"Ayo, Neng-neng! Udah ditungguin tuh di rumah!" ajak Inah.

"Kok ngaret sih, Nah?" Vanya nggak bisa menyembunyikan perasaan kesalnya.

"Aduhh, punten, Neng! Tadi saya sibuk sekali. Tamu-tamunya buanyak sekali! Saya mesti ngeladenin, nggak sempet ke sini." Inah membela diri.

Vanya senyum-senyum sebel.

"Yuk berangkat!" ajaknya.

"Saya kenyang berat niih!" protes Via yang sudah menghabiskan tiga mangkuk bakso. Mentang-mentang badan cuma selapis, makannya digeber.

"Cuek aja, Vi! Nanti makanannya kita bawa pake rantang! Lumayan buat malem!" usul Tita ogah rugi. Anak kos lain langsung mendukung Tita. Tanpa kecuali yang sedang menjalankan program diet. Khusus hari Minggu, program itu nggak berlaku!

Dan beriringanlah mereka menuju rumah Tante Elok.

"Nah, emangnya ada apa sih?" Iril penasaran banget.

"Itu, Neng, selametannya Den Putra! Kemaren Den Putra jadi mahasiswa teladan di sekolahnya," sahut Inah bangga.

"Aduh, kita nggak kasih apa-apa niih?" sambut Iril dengan wajah panik. Anak-anak kos yang lain ikut-ikutan panik. Tapi Vanya malah senyum-senyum saja.

"Kenapa pada bingung sih? Biasanya juga kalo Tante Elok ngadain makan-makan, kita nggak pernah bawa apa-apa! Tapi ya kalo terpaksa, si Iril aja kita bungkus, terus dikasih pita!" Semua yang mendengar, kecuali Iril, ketawa ngakak. Iril ngomel sambil menghujani Vanya dengan cubitan.

"Vanya norak! Jahat! Jeleeeek....!!!”

Bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar