Kamis, 10 Januari 2013

Kenduri Karet (Chapter 1)


Chapter 1
Nama Saya Vanya

SEORANG cewek kecil sibuk mengaduk-aduk isi lemari pakaiannya. "Mana siih kaus kaki Aya yang pink? Mana siih?! Kok nggak ada?!!" omelnya manyun.

Sementara di ranjang tumpukan baju udah kayak timbunan sampah yang siap dibakar. Semua hasil lemparan Vanya. Kaus kaki yang ujungnya bolong, kaus singlet, sampe kaus lampu petromaks juga ada.

Sebetulnya gadis ini biasa dipanggil "Anya", nama kesayangan zaman balita. Tapi belakangan, ia sendiri yang membahasakan dirinya "Aya". Katanya, biar lebih imut. Di samping juga, gara-gara Dewa, abangnya, sering ngeledek dengan menyanyikan lagu Hari Mukti, Anya satu kata...

Pintu kamar terbuka, sebuah kepala menyembul. Nyengir.

"Cari apa, Nya? Kaus kaki? Tumben! Kemaren kartu ujian Hang tenang-tenang aja! Sekarang kok nyariin kaus kaki panik amat?!"

"Biarin!" jerit si kecil. Galak.

Iya, cewek kecil ini memang rada galak kalo panik. Tapi kalo nggak panik dia betul jadi anak manis. Sekarang Vanya kecil sudah jadi mahasiswa teknik geologi tingkat satu di Bandung. Baru keterima. Dengan tubuhnya yang kecil mungil mirip anak SMP itu, Vanya memang kurang pantes jadi mahasiswi. Apalagi ditambah penampilannya yang sama sekali nggak menunjang statusnya. Suka cengar-cengir kuda dan ketawa ngakak.

Teman-teman Vanya menyebutnya "manusia kadang-kadang". Kadang Vanya bersikapbegitu ramah; maktir bakso dan nonton film, padahal nggak ulang tahun! Tapi kalo kumat jeleknya, dia yang maksa minta ditraktir. Terus manyun kalo nggak dikabulkan. Bersikap cuek pada semua orang. Payahnya, sikap jelek ini yang lebih sering kelihatan. Jadi orang yang nggak begitu dekat sama Vanya suka menganggap dia jahat. Cuek. Sombong. Padahal sebenarnya Vanya baik. Vanya suka nggak tega Lihat anak kecil menangis. Pernah dia ikutan menangis di samping seorang anak kecil yang balonnya lepas. Vanya bisa ikut merasakan kesedihan anak kecil itu. Sampai akhirnya si anak kecil berhenti menangis karena bingung melihat Vanya.

Vanya punya potongan rambut model cowok dengan poni lurus yang dipertahankannya dari SD. Itu poni udah jadi trademark Vanya. Malah katanya udah didaftarkan di kantor hak paten. Jadi barang siapa yang niru, bisa dituntut. Dan kalo reuni, dia paling sering disindir, "Bertahun-tahun kok kamu nggak ada kemajuan, Nya?" Teman-temannya sering memaksa Vanya untuk memanjangkan rambutnya. "Ntar saya cantik! Nanti pada kagum!" jawabnya selalu.

Tapi potongan rambut Vanya itu memang cocok buat penampilannya yang cuek. Tiap hari berjins ria sampai ibunya suka lupa kalo punya anak perempuan. Apalagi teman mainnya semua cowok. Vanya nggak jadi makhluk aneh di antara mereka, meskipun teman sekolahnya cewek melulu. Itu dulu, waktu Vanya masih SMA.

Sekarang Vanya sudah mahasiswi. Sudah gede, biarpun badannya tetap kecil mungil,nggak tumbuh lagi. Di kamarnya, Vanya sibuk mengepak baju buat dibawa ke Bandung. Iya, Vanya itu anak Jakarta. Anak bungsu dari tiga bersaudara. Kakak Vanya dua-duanya cowok, Dewa dan Dana. Yang bernama Dewa itu yang sekarang memasuki kamar Vanya. Orangnya cukup kece tapi sok ngatur.

Mata Dewa mulai berinspeksi, mencari-cari sesuatu yang nggak beres. Nah, kelihatannya dia berhasil menemukan!

"Nya, kamu tuh pindahan apa mau kemping?" Dewa melotot melihat ransel butut yang tergeletak di lantai kamar.

"Emang kenapa siih?!"

"Itu bawaan!" bentak Dewa. "Kemping seminggu juga nggak gitu-gitu amat bawaannya!!"

"Abis saya mesti bawa apa? Koper? Iya, Wa? Berapa biji?!" sahut Vanya sinis.

"Iya! Koper kek, barang dua biji! Kamu kan nggak sehari-dua hari di Bandung, Nya... Tapi bertahun-tahun! Inget itu!!!"

Sedang hangat-hangatnya pertengkaran,Dana dengan gaya kucelnya masuk.

"Ngapain, Nya?"

"Ngepak baju nih!" Vanya mulai beraksi minta dukungan Dana. Biasanya kakaknya yang satu ini selalu mendukungnya karena sama- sama satu aliran: cuek! "Tapi Dewa urusan amat nyuruh-nyuruh bawa koper. Emangnya pengungsi? Mami aja nggak protes liat bawaan saya!"

"Bukan gitu, Nya!" Dewa tersinggung. "Mami udah males ngeliat tingkah kamu. Mami udah pasrah ngeliat kamu. Kamu kan butuh baju banyak di Bandung! Masa bawaan cuma satu ransel begitu? Barbar amat!"

"Anya kan bisa beli baju di Bandung," Dana nyeletuk membela adiknya.

"Kamu lagi!" Dewa makin sewot. "Pake acara ngebelain! Udah jelas dia salah, eee, dibelain! Mestinya kamu turut perhatiin dia. Emangnya baju murah, Na? Emangnya di Bandung Anya nggak ada kebutuhan lain? Enak aja main beli-beli di Bandung! Anya kan masih perlu biaya buat sekolah! Buat beli buku, buat ongkos, buat makan, buat... buat semua keperluan hidup di Bandung!!!"

Dana menyimak seluruh pidato Dewa dengan tekun. Begitu Dewa menutup mulut, Dana ngomong sambil tersenyum dengan manisnya, "Wa, siapa sih yang mau ke Bandung? Anya, kan? Biar aja dia yang urus sendiri semua keperluannya. Kita nggak usah turut campur. Kita toh nggak ikutan kuliah di Bandung. Iya, kan?"

Betapa kesalnya makhluk yang berjudul Dewa! Begitu kalimat Dana berakhir, dia langsung membanting pintu kamar Vanya. Dan beberapa detik kemudian seisi kamar dipenuhi tawa Vanya dan Dana.

***

Dalam perjalanan kereta api yang membawanya ke Bandung, Vanya banyak melamun. Vanya ingat teman-temannya. Ingat Iman dan Jaya, teman mainnya yang juga harus pindah dari Jakarta; Jaya yang berpenampilan "bapak teladan" karena mempunyai sifat-sifat kebapakan dan selalu siap melindungi, sekolah pertanian di Bogor; sedangkan Iman yang mirip seniman gagal dengan rambut gondrongnya yang kucel, keterima di fakultas kehutanan, Yogya. Penampilan Iman yang awut-awutan itu memang serasi dengan suasana hutan. Iman memang cocok kok jadi orang hutan. Kayak Tarzan, gitu, bukan monyetnya!

Iman, Jaya, kamu berdua sedang apa?

Vanya senyum-senyum sendiri ketika tiba-tiba di sebelah ada suara bariton menegurnya.

"Ke Bandung, Dik?"

"Kalo keretanya nggak nyasar, iya," jawab Vanya cuek.

Oom-oom di sebelahnya ketawa genit.

"Ehh, adik ini lucu, ya! Di Bandung nanti liburan ?"

"Bisa...." Vanya mulai kesal diajak ngomong terus.

"Benda hidup? Terdiri dari dua kata?" si Oom genit tambah nekat. Maksudnya sih ngelucu. Tapi terasa garing di kuping Vanya.

"Boleh deh! Terserah...." Vanya menguap lebar. Iih, nggak sopan! "Saya tidur dulu, ya, Oom? Ngantuk niih!"

Oom genit cuma bisa berbengong ria menyaksikan Vanya mulai mengatur posisi tidur ala tukang ronda. Dan nggak lama kemudian napasnya mulai turun-naik dengan teratur. Vanya melanjutkan acara melamunnya dalam mimpi.

***

Besoknya Vanya udah ada di Bandung. Dan acara penataran yang membosankan dimulai.

Vanya, mau nggak mau, harus menghafalkan butir-butir P4 yang panjang-panjang itu. Sementara di depan kelas seorang penatar begitu bersemangat membawakan materi, Vanya dan beberapa orang tampak repot menahan kantuk. Secara iseng Vanya melempar pandangan ke sekeliling kelas. Matanya berhenti pada seorang cowok kece yang juga sedang berusaha keras menahan kepalanya supaya nggak jatuh. Vanya jadi ingat ilmu telepati gombal ajaran Dana. Dana bilang, kalo mau kontak dengan seseorang, cukup dengan memperhatikan bagian dari kepalanya. Lalu menyugestikan diri berbicara padanya. Mendadak Vanya berminat mempraktekkan ilmu itu. Vanya menatap si kece dengan konsentrasi penuh. "Eh, cowok, liat saya dong!" kata Vanya norak, tapi cuma dalam hati.

Nggak jelas telepatinya yang berhasil, atau kebetulan itu cowok juga sedang iseng matanya jalan-jalan, pokoknya sekarang dia melihat ke arah Vanya. Vanya langsung pasang senyum supermanis. Dengan gerakan isyarat dia ngomong, "Kita surat-suratan yuk!"

Nostalgia zaman SMA. Tiap jam pelajaran Suster Meri yang ngomongnya kayak bisik-bisik, Vanya berdua Ilen asyik main surat-suratan. Dan sekarang, nggak ada jeleknya surat-suratan sama cowok kece di seberang sana. Si cowok manggut-manggut setuju. Daripada bengong, pikirnya.

Nama kamu siapa? tulis Vanya kecil-kecil. Lalu secara berantai surat itu tiba di tangan si kece. Sebetulnya Vanya rada malu juga surat-suratan begitu. Soalnya teman-teman si kece dengan noraknya berebutan ikut baca surat Vanya juga. Tapi, biarin deh! Yang penting kan ada kegiatan menarik daripada sekadar duduk terkantuk-kantuk dengar orang ngomong.

Java, balas si kece. Kalo kamu siapa?

Rasanya selangit membaca balasan Jaja. Eh, Java? Keren banget! Java Jive apa Java Jazz? Dia tersenyum ndiri, lalu menulis lagi, Saya Vanya dari SMA Jakarta. Kamu dari SMA Bandung, ya? Bisa ngomong Sunda dong! Ajarin saya, ya? Saya kuper niih! Cuma bisa punten sama mangga....

Sejak hari itu penataran merupakan hari-hari yang berkesan bagi Vanya. Materi yang diterima Vanya betul-betul menyenangkan. Apalagi kalo bukan kursus kilat bahasa Sunda dari Java!

Setiap hari Vanya berangkat penataran berbekal satu target. Paling sedikit nambah satu perbendaharaan kata Sunda. Atau paling sial, ya senyum-senyuman dari jauh sama Java. Nggak peduli teman sepenatarannya mulai sibuk menyebarkan gosip di antara mereka. Konyolnya, Vanya malah senang! Yang model begini memang baru pertama kali dialaminya. Dulu zaman SMA, acara begitu nggak ada. Ya jelas, SMA Vanya di Jakarta adalah SMA swasta yang isinya cewek melulu.

Pagi-pagi ketika Vanya baru memasuki ruang penataran, si cantik Judith sudah menariknya ke pojokan kelas.

"Nya, tau nggak? Java kan udah punya pacar sejak SMA!"

"0 ya?" sahut Vanya acuh tak acuh.

Menyaksikan tanggapan Vanya yang begitu cuek, Judith jadi penasaran.

"Namanya Lina, Nya.... Anaknya kece Iho!" tambah Judith.

Vanya nyengir sedikit.

"Asyik dong si Java punya pacar kece...."

Seperti melihat setan, Judith melotot hebat.

"Lho? Kamu nggak marah, Nya?!"

"Marah?" gantian Vanya yang kaget. "Apa alasan saya buat marah?"

"Java kan pacar kamu!"

Mendadak Vanya ketawa geli.

"Iih, ngaco! Pacar apaan?!"

"Tapi... tapi kamu kan dekat sama dia selama ini. Kamu suka ngobrol sama Java, becanda.... Masa kamu nggak pacaran sama dia?!" Judith keheranan.

"Lho, emang kalo deket, ngobrol, bercanda, trus harus pacaran, gitu?"

Judith kelihatan begitu bingung.

"Tapi, Nya, Java bilang kamu memang pacarnya!"

"Java bilang?!!"

"Iya!"

Sampai di situ Vanya nggak tahu mesti bersikap bagaimana. Marah apa ketawa. Sementara itu bapak penatar sudah memasuki ruangan. Vanya penasaran banget sama Java. Nggak sabar menunggu waktu istirahat. Begitu masuk jam istirahat, Vanya langsung menyeret Java untuk dimintai pertanggungjawaban. Belum sempat dilabrak, Java sudah mendahului ngomong, "Maafin, Nya, saya memang salah! Saya ngaku kamu pacar saya soalnya saya takut dikira ngasih harapan terus. Saya memang nggak tega ngomong langsung ke cewek sebetulnya saya nggak punya perasaan apa-apa sama dia. Tapi dia sepertinya nggak mau ngerti. Nggak bisa nerima bahwa perasaan itu nggak bisa dipaksain."

Vanya menatap Java keheranan.

"Kamu ngomongin siapa sih? Saya nggak ngerti!"

"Judith, Nya... Dia teman saya dari SMA. Dia memang cantik, saya akui itu! Tapi saya nggak bisa pacaran sama dia. Saya nggak tertarik sama dia. Lalu saya bikin gosip kamu pacar saya. Orang pasti percaya karena selama ini kamu satu-satunya cewek yang akrab sama saya. Saya pikir dengan begitu Judith jadi sadar kalo saya nggak menyukai dia," lanjut Java pelan.

Vanya jadi kebingungan sendiri. Sekarang, siapa yang mesti dilabraknya? Java yang nggak tegaan ngomong terus terang? Atau Judith, anak cantik yang bertepuk sebelah tangan? Buntut-buntutnya Vanya malah prihatin pada nasibnya sendiri sebagai pihak yang jadi korban gosip. Padahal dia sudah telanjur ge-er digosipin sama Java. Siapa nggak suka digosipin sama orang kece!

Hari-hari selanjutnya Vanya sudah siap mental Vanya yakin, Judith bakal memusuhinya. Vanya bisa maklum. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Judith jadi sering ngobrol sama Vanya. Cerita macam-macam. Juga soal Java.

"Terus terang, Nya, saya malu sekali!" kata Judith penuh tekanan. "Masa saya sebagai cewek nggak sadar kalo cowok yang saya sayangi ternyata nggak punya perasaan apa-apa pada saya!”

Vanya cuma diam. Mendengarkan cerita Judith dengan baik.

"Kamu tau, Nya? Tau siapa cowok itu?" tanya Judith.

Agak salah tingkah Vanya menggelengkan kepalanya. Kayaknya untuk saat-saat seperti ini, berbohong itu nggak dosa.

"Dia Java, Nya!"

"Java?!" Vanya berusaha berekspresi sekaget mungkin. Dan sukses. Soalnya dua orang yang lewat di dekatnya sambil makan kedondong, langsung keselek biji kedondong saking kagetnya. Vanya jadi kagum sama kemampuan aktingnya sendiri. Bakat terpendam. Siapa tau nyaingin Jodie Foster.

"Iya, Java! Saya menyukai dia sejak SMA. Dan rasanya saya goblok sekali karena baru sadar kalo ternyata dia nggak menyukai saya belum lama ini. Ya, sejak kamu bilang Java bukan pacar kamu, Nya...."

Tiba-tiba saja Judith memeluk Vanya dan mulai menangis. "Nya, kasian Java! Selama ini dia bingung mau nolak saya. Perasaannya terlalu halus. Nggak seperti saya, cewek tanpa perasaan. Dia ngaku kamu pacarnya cuma supaya saya nggak mengharapkan dia lagi. Iih, kayaknya saya murahan sekali, ya? Saya malu, malu sekali!" ucap Judith sesenggukan.

Lagi-lagi Vanya cuma bisa diam. Diam nggak tahu mesti ngomong apa. Ketika bel tanda istirahat berakhir, buru-buru dia bimbing Judith ke kamar kecil untuk menghapus sisa air matanya.

Penataran hari terakhir.

Vanya sibuk tuker-tukeran alamat dengan teman sekelas penatarannya. Sedang asyik-asyiknya mengedarkan buku alamat, bahu Vanya dicolek dari belakang. Java cengar-cengir menatapnya.

"Aya naon, Ja?" tanya Vanya sok Sunda.

"Saya mau ngomong sama kamu, Nya.... Nanti, pulang penataran!"

"Udah aja ngomong sekarang!"

"Nggak bisa! Nanti aja, Nya!" sahut Java serius.

"Ada apa sih, Ja? Nggak biasanya kamu gini. Ehh, nanti malem Minggu, ya? Kamu ada niat ngajak saya kencan nggak? Boleh juga tuh! Minum yoghurt yuk di Cisangkuy! Asyik deh!" Vanya nyerocos sambil ketawa.

Java ikutan ketawa.

Pulang penataran, Java mencegat Vanya di pintu gerbang. Anak lain yang menyaksikan adegan itu mendadak bersuit-suit dengan noraknya. Nggak bisa lihat orang lain senang!

"Sabar, Ja, masih sore!" teriak teman-teman Java rada sirik. Tapi Java cuek, malah senyam-senyum penuh arti. Sementara Vanya celingukan mencari sosok Judith di antara gerombolan temannya. Secuek-cueknya Vanya, dia nggak enak juga dilihat Judith pulang barengan Java. Vanya lega, Judith ternyata sudah pulang duluan.

"Terus, apa yang mau diomongin?" Vanya ketawa. "Eh, cepetan, Ja, saya pengen buru-buru pulang niih!"

"Iya deh! Gini, Nya, saya suka kamu. Saya pengen pacaran sama kamu. Kamu mau nggak sama saya? Mau nggak jadi pacar saya?" sahut Javalancar.

"Gombal, ahh! Saya pikir soal penting. Masa cuma ngomong gitu aja pake acara janjian? Udah, ah, Ja, saya pulang duluan!" Vanya manyun. Lalu bergegas meninggalkan Java.

"Tunggu, Nya!" cegah Java sambil menarik tangan Vanya. "Saya serius! Terserah kamu mau percaya apa enggak. Saya suka kamu, Nya, suka pribadi kamu. Suka segalanya yang ada pada kamu. Sayang, saya belum kerja. Kalo udah kerja,. sekarang juga saya berani ngelamar karr.u. Supaya kamu percaya, saya nggak main-main!"

Vanya jadi ketakutan sendiri melihat ekspresi Java yang begitu serius. Dan ketika sebuah angkutan umum melintas di depannya, Vanya langsung meloncat ke dalamnya setelah sempat ngomong, "Ja, kita temenan aja, ya?"

Bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar