Kamis, 10 Januari 2013

Kenduri Karet (Chapter 4)


Chapter 4
Rekayasa Gosip

SEPERTI anak hilang, pulang kuliah Vanya jalan-jalan sendirian ke Bandung Indah Plaza (BIP). Teman satu kosnya nggak ada yang berminat menemani Vanya. Tapi Vanya juga nggak memaksa kok. Dia sudah terbiasa jalan sendirian ke mana-mana. Vanya suka dianggap aneh oleh teman-temannya karena terlalu sering pergi-pergi sendirian tanpa tujuan. Keluyuran. Ketemu toko buku, langsung masuk. Betah berjam-jam memelototi komik-komik Jepang macarn Dragon Ball, Kungfu Boy, Candy-candy, Atom Boy, atau sejenisnya. Ketemu rumah makan, ya mampir juga. Sekadar minum es teler. Seperti juga sekarang. Vanya cuma punya satu target: ketemu orang yang dia kenal!

"Belanja, Nya?" sebuah teguran mengagetkan Vanya.

Putra! Tiba-tiba saja makhluk setinggi 185 senti, anak Tante Elok tetangga sebelah rumah yang baru selametan itu berdiri, sambil cengar-cengir di depan Vanya.

"Nggak!" Vanya ikutan nyengir. Diam-diam dia bersyukur ketemu orang yang bisa diajak ngobrol. Berarti targetnya untuk ketemu orang yang dikenal siang itu tercapai. "Kamu sendirian, Put?"

Putra mengangguk cepat. "Kamu?"

Vanya ikut mengangguk.

"Kebetulan, Nya, temenin saya, ya? Nggak ada kuliah lagi, kan? Saya pengen beli kemeja niih.... Tolong bantu milihin, ya?" rayu Putra setengah memaksa.

Vanya menurut saja ketika diseret Putra ke tempat baju-baju cowok. Dia memang lebih tertarik pada kemeja-kemeja cowok yang modelnya nggak aneh-aneh. Dipadukan dengan Jins, pas banget buat dipakai kuliah.

Sementara Putra sibuk memilih kemeja, Vanya ikut-ikutan repot meneliti T-shirt yang tergantung di rak. Setelah lama mengacak-acak T-shirt, Vanya baru sadar, Putra belum menentukan pilihannya.

"Belum ketemu, Put?" tanya Vanya menghampiri Putra.

"Belum tuh!"

Secara acak Vanya menarik sebuah kemeja berlengan panjang warna biru bergaris-garis merah.

"Ini bagus, Put!"

"Nggak mau, ah!" Putra manyun. "Saya nggak suka kalo ada merah-merahnya."

Vanya mengangkat bahu. Lalu matanya lirik kanan lirik kiri bak garong mau nyikat jemuran nganggur. Lirikannya terhenti pada sebuah kemeja bermotif lembut, kotak-kotak gading kuning. Naaa, itu kali selera si Putra. Soalnya anak Mesin yang satu ini seleranya rada susah-susah ditebak. Tapi jangan panggil "Vanya" kalo nggak bisa nebak selera orang.

Dengan percaya diri yang digas sampe pol, Vanya mengambil kemeja itu, lalu menyodorkannya ke Putra yang lagi asyik memilih baju lain. "Kalo yang ini pasti mau, kan?" ujar Vanya mantep.

"Nggak!" sahut Putra cepat.

"Kenapa?" Vanya rada tersinggung juga. Soalnya dia sendiri udah suka banget pada kemeja pilihannya. Vanya kan suka bangga punya selera bagus dalam memilih warna. Bapak dan kedua kakak cowoknya selalu menculik Vanya kalo mau beli baju. Minta pertimbangan. Dan hasilnya, mereka selalu puas. Jadi kalo sekarang Putra nggak setuju sama pilihannya, berarti yang seleranya kampungan ya si Putra itu.

"Saya benci warna kuning!" Jawaban Putra cukup bikin kuping Vanya panas.

Tapi Vanya pura-pura bersikap manis. "Oooo, begitu, ya ?'. Lalu suaranya langsung meninggi, "Jadi kamu suka warna apa?"

Kaget juga Putra mendengar lengkingan Vanya. Langsung aja hatinya mengkeret. "Ng... pokoknya nggak ada warna kuning dan merahnya..."

Vanya diem aja. Lalu berlalu dari situ sambil membawa kemeja kuning itu dengan wajah manyun. Setelah jauh, ia merutuk-rutuk sendiri. "Kampungan! Ndesit! Norak! Sandal jebol! Selokan mampet!"

Seorang pramuniaga yang berdiri di balik gantungan baju, bengong melihat ke arah Vanya. "Lho, kenapa, Dik?"

Vanya jadi malu. "Eh, oh, i-ini. Bajunya norak!" katanya sambil melemparkan baju itu ke pramuniaga. "Ada warna lain nggak?"

"Ada, Dik... ke sebelah sini aja...." Pramuniaga itu mengajak Vanya mencari di pojok toko. Sedetik kemudian, Vanya udah sibuk mengaduk-aduk baju di pojokan.

Sementara Putra, sejak digalaki Vanya, jadi waswas juga. Ia takut diteror cewek mungil itu lagi. Makanya, dengan lagak bak abal-abal kabur dari penjara, Putra beringsut sedikit demi sedikit menuju pintu keluar untuk melarikan diri. Tapi ketika ia sampai pintu keluar dan baru membalikkan tubuh, tiba-tiba Vanya sudah berdiri di depannya.

Putra kaget setengah mati. "Waaa...!"

Vanya heran. "Kenapa, Put?"

“Nggak, nggak apa:-apa kok. Cuma agak kaget aja...."

Tanpa banyak omong Vanya langsung menyodorkan kemeja hijau pastel ke Putra. Nada suaranya mengancam, "Yang ini juga nggak mau?"

Putra langsung gelagapan. "Oh, eh... saya udah punya warna itu, Nya," sahut Putra salah tingkah. Ciut juga hatinya menyaksikan kegalakan Vanya. Diam-diam Putra mulai menyesal bertemu Vanya. Menyesal sudah memaksa cewek itu memilihkan kemeja. Galaknya minta ampun!

Vanya tersenyum dengan sinisnya. Lalu pergi begitu saja.

"Mo ke mana, Nya?" panggil Putra dengan suara perpaduan antara lega campur rasa bersalah. Ya, berarti kan dia nggak perlu repot-repot lagi mengusir Vanya.

"Sebentar, Put. Saya mau cari di tempat lain!"

"Eeeh, nggak usah repot-repot, Nya!" Putra jadi panik lagi.

"Harus!" ujar Vanya tegas. Putra terbelalak dan berdiri dengan kaku di tempat. "Kamu tunggu di sini!"

Nggak lama kemudian, Vanya muncul kembali.

"Yang ini aja, Put!" teriak Vanya sambil melemparkan sebuah baju blus cewek berleher rendah warna pink metalik.

Putra melotot!

***

Pulang dari BIP Vanya langsung melabrak Iril yang masih duduk terbengong-bengong setelah menyelesaikan acara tidur siangnya.

"Cowok pujaanmu itu norak, Rill Kampungan!" maki Vanya.

Iril yang sukmanya belum ngumpul, tambah bengong. "Siapa, Nya?"

"Siapa lagi? Ya si Mesin itu! Apa makhluk Mesin modelnya begitu semua, ya? Seleranya norak! Rewel! Wah, Ril, jangan mau deh sama Putra!"

"Diih! Siapa yang mau?" sahut Iril munafik banget. Untung Vanya sudah berjalan menjauh. Kalo dia sempat dengar, bisa-bisa ketawa tujuh hari tujuh malam. Belum sampai di depan pintu kamarnya, Dani sudah mencegat.

"Nya! Kamu jangan keterlaluan, ah! Kasian kan si Iril...."

Vanya menatap Dani penuh keheranan.

"Kamu ngomong apaan siih?"

"Di depan Iril kamu melecehkan Putra terus, nggak taunya..." Dani ngomong dengan bibir termanyun-manyun.

"Nggak taunya apa?!" bentak Vanya mulai kesal.

Dani menyeringai. Jelek sekali.

"Makan tulang kawan!"

"Apa?!!" Vanya melotot heran.

"Iya, kamu, Nya, kamu makan tulang kawan! Menari di kebun orang!" cerocos Dam makin sinis. Busyet deh, koleksi kata-kata kiasannya hebat sekali!

Vanya menghela napas panjang. Tampangnya suntuk sekali.

"Udah deh, nggak usah pake ungkapan-ungkapan aneh, Dan. Nilai bahasa Indonesia kamu kan cuma C kurus!"

"Sialan." Dani nyengir. "Kamu selalu mengungkit-ungkit masalah sensitif itu...." Kemudian Dani melanjutkan, "Tapi kamu memang keterlaluan, Nya. Menikam dari belakang...."

"No! Not again!" teriak Vanya.

"Kamu ada apa-apa sama Putra, kan?"

"Hah?"

"Tadi saya ketemu Putra di Simpang. Dia ngajak saya numpang mobilnya dengan gaya malu-malunya yang ajaib itu. Eh, heran, ya, kok Iril bisa tergila-gila sama dia? Malah sekarang kamu juga..."

"Terus?" potong Vanya penasaran.

"Buntut-buntutnya dia malah nitipin sesuatu buat kamu."

"Nitip apa?" Vanya makin penasaran.

Dani tersenyum dengan ganjennya.

"Wah, ya nggak tau! Masih terbungkus rapi tuh di kamar."

Vanya langsung berlari menyerbu masuk ke kamar Dani. Bikin Dani geleng-geleng kepala. Dia semakin bertambah yakin kalo teman mungilnya ini ada apa-apa dengan Putra. Mendadak saja jantung Dani berpacu dua kali lipat dari biasanya. Dia begitu excited pada gosip yang berhasil ditemukannya ini.

Berita seru ini bisa menjadi sumber gosip hangat di tempat kos. Vanya menjalin hubungan dengan Putra. Vanya kencan dengan cowok pujaan Iril! Ceritanya masih bisa ditambah bumbu-bumbu penyedap lagi. Iril tersirik-sirik pada Vanya, patah hati, lantas merencanakan balas dendam yang mendebarkan. Wuww! Sudah mirip cerita-cerita opera sabun nih!

"Mana, Dan?" Suara Vanya memecah lamunan Dani yang sedang di awang-awang.

"Tuh!" Dani menunjuk bungkusan di atas meja belajarnya.

Vanya meraba-raba bungkusan yang tidak seberapa besar itu. Dari bentuknya sih nggak ada kemungkinan bom plastik atau sejenis bahan peledak lainnya.

"Udah, Nya! Buka dong! Jangan dipegang-pegang aja!" kata Dani penasaran. "Apa kamu nggak rela saya ikutan ngeliat isinya?"

"Eh, nggak! Saya cuma mau meyakinkan kalo bungkusan ini aman," sahut Vanya serius.

Dani ketawa ngakak.

"Kebanyakan nonton film detektif! Payah!"

Akhirnya bungkusan dari Putra itu dibuka juga oleh Vanya. Begitu melihat isinya, Vanya langsung cekikikan. Bikin Dani semakin penasaran lalu merebut bungkusan tersebut.

Dani tercengang-cengang menyaksikan sebuah blus cewek berleher. rendah warna pink metalik. Nggak salah niih!

"Nya, Putra bener-bener kesengsem sama kamu!"

Tawa Vanya bertambah keras.

"Selera humor si Putra memang ajaib!" kata Vanya di antara ketawanya. Masih dengan cekakak-cekikik dia menjelaskan semua kejadian yang berlangsung di BIP pada Dani.

Dani jadi ikutan ketawa juga. Tapi rada garing. Soalnya tadi dia begitu menggebu-gebu akan menyebarkan berita gosip hasil temuannya pada seluruh penghuni kos. Sekarang dia agak kecewa juga karena harapan-harapan serunya ternyata nggak bakal tercapai.

Melihat Dani yang langsung nggak bersemangat itu, Vanya jadi kasihan juga. Padahal dia sempat kesel karena sudah dicurigai yang bukan-bukan.

Vanya tersenyum geli.

"Kecewa ya, Dan, batal bikin gempar isi kos...."

Dani memukul tangan Vanya sambil menyeringai malu.

"Vanya, ah! Siapa yang mau dibikin gempar?" sahut Dani sok polos.

"Ya jelas saya dong! Kan saya tadi yang kamu tuduh ada apa-apa sama Putra," jawab Vanya kalem. Bikin Dani semakin tersipu-sipu.

"Ah, saya mau mandi, Nya. Kamu?" tiba-tiba Dani mengalihkan topik pembicaraan.

"Ya mau juga." Vanya senyam-senyum penuh arti. "Tapi apa kamu nggak tertarik sama gosip sehat, Dan?"

"Apaan tuh?" Dani pura-pura nggak begitu berminat.

"Gosip sehat itu gosip yang nggak merugikan orang lain. Tapi malahan bikin orang senang. "

"Maksudnya?" Dani mulai terpancing.

"Beneran mau tau?"

Dani manggut-manggut.

Sambil membawa blus pink metalik di tangannya, Vanya menarik tangan Dani menuju ke tempat Iril yang masih duduk sambil terbengong-bengong.

"Ril, sori saya hampir lupa niih! Tadi Putra titip blus ini buat kamu...," Vanya berusaha ngomong dengan tekanan suara sewajar mungkin. Dani melotot kagum menyaksikan "muka tipu" yang diperagakan Vanya. Dia baru mengakhiri sikap takjubnya setelah perutnya dicubit Vanya.

"Wah, Ril! Ngimpi apa kamu? Tiba-tiba mendapat durian runtuh," timpal Dani nyengir.

"Dani!" Vanya memotong Dani yang sudah mulai lagi dengan ungkapan-ungkapan gombalnya.

"Ayo sana, bilang terima kasih ke Putra!" perintah Vanya mirip ibu-ibu yang menyuruh anaknya berterima kasih karena sudah dikasih permen.

Sebetulnya Dani nggak tega juga menyaksikan ekspresi wajah Iril yang begitu bahagia. Vanya nipunya keterlaluan. Tapi nggak apa juga sih, kan Iril nggak merasa dirugikan.

"Tapi, Nya...," kata Iril masih dengan wajah tersipu-sipu.

"Nggak pake tapi-tapian! Sekarang juga kamu harus ke sebelah, bilang. terima kasih ke Putra!" .

"Iya, Ril, harus!" tambah Dani mulai berdebar-debar lagi. Jiwa gosipnya muncul kembali.

Iril menatap Vanya dengan sorot mata berbinar-binar.

"Kamu temenin saya, Nya. Saya malu...."

Sejenak Vanya berpandang-pandangan dengan Dani.

"Iyalah...," kata Vanya akhirnya.

"Saya juga! Saya ikutan juga, ya, Ril?" rayu Dani nggak mau rugi melepaskan peristiwa yang bakal seru itu.

Iril mengangguk cepat.

"Yuk!" ajak Dani bersemangat banget.

Iril menatap Vanya ragu-ragu. "Nya, saya ke kamar dulu ya?"

"Mau mandi?"

"Iya."

Dani langsung manyun.

"Yah, lama lagi deh! Mandinya nanti aja, Ril!" kata Dani nggak sabar.

"Biarin Iril mandi dulu, Dan!" sela Vanya.

"Tapi upacara mandinya Iril bisa satu jam sendiri!" sahut Dani masih sewot.

"Kamu nih kayak nggak tau aja! Iril kan pengen tampil wangi di depan Putra. Masa nemuin Putra kucel-kucelan pake daster begitu...."

Dani terpaksa mengalah. Dia harus rela menunggu Iril mandi lengkap selama satu jam. Sepanjang penantiannya di depan kamar Iril, Dani mengomel terus.

"Udah, Dan, kalo ngomel terus, kamu nggak bakal dapet jodoh!" tegur Vanya kesal.

"Iih, apa hubungannya?"

Penantian yang serasa setahun bagi Dani itu berakhir juga. Iril muncul dari kamarnya dengan menebarkan wewangian yang menyengat. Tapi yang bikin Vanya dan Dani kaget, Iril nekat memakai blus pink metalik dari Putra.

"Pantes nggak?" tanya Iril sambil memutar tubuhnya.

"Pantes, pantes...," jawab Vanya dan Dani rada linglung.

"Putra pasti suka kalo blus ini saya pake," kata Iril manja.

Vanya dan Dani cuma ber-"oh-oh" saja. Kedua cewek jail ini mendadak kehilangan kata-kata.

Di depan rumahnya, Putra yang sedang asyik dengan koran sorenya, nggak melihat kedatangan Vanya cs.

Dani mendorong Iril untuk mulai ngomong. Yang didorong tampaknya repot mengatur irama suaranya biar terdengar semerdu mungkin.

"Put, Putra...," panggil Iril mesra.

Putra menurunkan koran sorenya.

"Terima kasih, Put! Ini pas banget," lanjut Iril memegangi blusnya. Gayanya sok imut sekaligus grogi.

Putra menatap Iril dengan bengong. Kemudian ganti ntenatap Vanya heran.

"Lho, Nya? Kamu pinjemin ke Iril, ya?"

"Nya?" Iril menatap Vanya dengan heran.

Kemudian dengan wajah merah padam menahan malu dan marah yang selangit, Iril segera berlari pulang.

Dani menatap Vanya dengan panik.

"Kok jadi begini, Nya?"

Vanya ikutan panik. Dia cuma bisa menatap Putra dengan penuh dendam.

"Kenapa, Nya?" tanya Putra keheranan.

"Diam kamu, Put!" bentak Vanya galak. "Kamu cowok terjelek dan tergoblok yang pernah saya kenal!!!"

Lalu Vanya bergegas menyeret Dani pulang.

"Saya pikir blus itu bikin dia sedikit ramah. Eh, malah tambah ngamuk. Dasar cewek galak! Payah!" omel Putra manyun.

Bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar