Kamis, 10 Januari 2013

Kenduri Karet (Chapter 7)


Chapter 7
Pesta Buat Pak Penjaga

IBU kos Vanya yang biasa dipanggil "Tante" (karena nggak ada yang tahu nama aslinya) dengan terpaksa harus hijrah ke rumah anaknya di Jalan Buah Batu. Mbak Isti, anak Tante satu-satunya, minta ditemani karena suaminya tugas belajar di Belanda. Tentu saja berita pindahnya Tante disambut gembira oleh seluruh penghuni kos. Sebetulnya Tante bukan tergolong tipe ibu kos yang berkelakuan semena-mena terhadap anak kosnya. Tapi namanya juga anak kos, kalo nggak ada orang tua di rumah rasanya tambah merdeka.

Ternyata harapan untuk hidup lebih bebas sia-sia saja. Karena begitu Tante pindah, malam harinya di pojok halaman kos berdiri gardu kecil lengkap dengan seorang penjaga malam.

Malam itu Eko dan Yadi yang berkunjung ke tempat kos Vanya dibikin bengong oleh teguran sang penjaga malam. "Selamat malam, ada yang bisa saya bantu?"

Eko dan Yadi langsung colek-colekan bingung. Yadi berbisik, "Ini beneran kan tempat kos Vanya? Apa dia udah pindah?"

"Pindah?" Eko ragu-ragu. "Masa pindah nggak cerita-cerita.... Wong kemaren saya liat masih nguber-nguber ayam kok di pekarangan...."

"Atau kita salah alamat?" bisik Yadi lagi.

Yadi jadi melihat ke sekeliling. Takut salah masuk jalan atau apa, gitu. "Ah, rasanya kok nggak..."

"Selamat malam," tegur si penjaga lagi. "Kok diam saja? Apa situ nggak dengar?"

Ya ampun, sinis amat? Eko buru-buru ngomong, "Ehh, selamat malam juga, Pak! Ini tempat kosnya Vanya, kan?"

Penjaga malam yang sok berwibawa itu tersenyum sedikit. "Nah, begitu dong! Kalian kan punya mulut."

Yadi sebel sekali melihat tingkahnya.

"Betul bahwa ini adalah merupakan tempat kos," lanjut si penjaga sok resmi banget. "Saudara mencari daripada siapa?"

Eko dan Yadi bengong lagi.

"Aduh, kok pada diam lagi? Jawab dong!"

"Vanya!" sahut Yadi ketus. Ini tempat kos apa kantor sih?

"Vanya?" Si penjaga mengernyitkan dahinya yang memang sudah bergaris-garis. "Sebentar, saya liat." Kemudian dia membuka buku besar yang diselipkannya di celah gardu.

"Vanya... mahasiswi Teknik Geologi?"

"Iya, iya!" sahut Eko nggak sabar.

"Yang kecil mungil suka dikucir?"

"Iya, iya!" Yadi ikutan nggak sabar.

"Yang ukuran sepatunya 35?"

"Yeeee, mana saya tau!" Eko jadi sewot.

Penjaga itu tak bereaksi, matanya masih meneliti daftar di buku besarnya. "Menurut catatan di sini, Vanya tidak sedang ke luar kota."

"Ya jelas aja!" Kali ini Yadi nggak bisa menahan gejolak rasa kesalnya lagi. "Tadi siang kuliah bareng!"

Pak Penjaga tersenyum kecut.

"Oo, Saudara teman kuliahnya? Bilang kek dari tadi. Silakan ditanyakan sendiri ke dalam," katanya dengan gaya menyebalkan. "Siapa tau nggak ada. Kan Saudara bisa kecele...."

Yadi dan Eko buru-buru berjalan ke dalam.

"Eh, sebentar...," tahan Pak Penjaga.

"Ada apa lagi? Apa saya harus meninggalkan kartu pengenal?" pekik Eko senewen.

Pak Penjaga dengan enteng menyerahkan sepucuk surat. "Tolong, ada surat buat Iril...."

"Lho, kan saya mau ke Vanya?" Eko protes.

"Kan bisa sekalian lewat...."

Dengan kesal Eko pergi. Enak aja, batinnya, emang gue kurir apa?

Dan Yadi nggak bisa menahan emosinya lagi ketika melihat Vanya nongol dari kamarnya.

"Nya, siapa sih tuh? Rese banget!"

"Iya, tangan saya juga udah gatel, pengen ngegampar! Tengilnya minta ampun!" Eko ikutan manyun.

Vanya nyengir-nyengir. "Ngakunya sih penjaga malam. Tapi tingkahnya ngelebihin satpam! Tadi Via nangis gara-gara dia. Iya, waktu Via diajak pergi sama temennya. Masa temen Via ditanya di mana rumahnya, nomor teleponnya, berapa uang jajannya sehari, lalu dipesenin nggak boleh pergi lama-lama. Tante aja nggak pernah begitu!"

"Memangnya dia itu siapa? Bapaknya Via?" Yadi semakin sebel.

"Udah, Nya, laporin aja ke Tante!" usul Eko.

"Ngelapor gimana? Tante sendiri yang nyuruh dia jaga di sini."

Yadi geleng-geleng kepala.

"Apa dosamu ya, Nya? Kok jadi mirip di asrama tentara?"

Vanya ketawa pasrah.

''Jangan sampe kita-kita melakukan aksi mogok bayar kos gara-gara dia...."

"Nyaingin Marsinah, ya?" Eko ketawa geli.

Suasana di tempat kos Vanya semakin bertambah nggak nyaman. Pak Penjaga semakin merajalela. Setiap tamu yang datang diwajibkan mengisi buku tamu yang mencantumkan jam kedatangan, siapa yang akan ditmui, apa keperluannya, jam pulang. Kalo berniat mengajak keluar anak kos harus. dengan alasan yang kuat. Syukur-syukur bisa bawa oleh-oleh sekalian. Begitu juga anak kosnya sendiri. Kalo mereka mau keluar malam selalu diinterogasi dulu. Pulang pukul sebelas malam, jangan harap! Setengah jam sebelumnya pintu pagar sudah dikunci. Nggak peduli malam Minggu atau malam Jumat. Para penghuni yang pulang dari disko atau nonton midnight terpaksa harus pinter-pinter loncat pagar. Hitung-hitung olahraga malam!

"Saya nggak percaya masih tinggal di tempat kos!" keluh Dani putus asa. Semua anak kos saat ini sedang berkumpul di kamar Dani.

"Ayo dong, Nya, biasanya kamu banyak akal. Kita harus gimana?" tanya Iril cemas.

Vanya geleng-geleng kepala. "Kalo tau bakal begini, lebih enak tinggal di Tante Ela...."

Iril semakin sebel.

"Hari ini udah lima kali saya denger kamu ngomong begitu!"

Nana ikut menimpali, "Saya tadi pagi juga didamprat itu satpam, gara-gara bawa teman kelupaan melapor."

"Mana mungkin? Kamu kan paling disegani Tante!" Dani menoleh ke arah Nana. Cewek yang memang masih berbau-bau saudara dengan Tante Kos ini cuma mengangkat bahunya. "Sodara sih sodara, tapi kalo urusan begini, saya nggak punya suara!"

"Mama kamu juga nggak?" Vanya nggak percaya.

Nana menyeringai.

"Dia lagi! Tiga ratus persen percaya sama Tante.... "

Tita yang sejak tadi asyik memelototi Donal Bebek tiba-tiba nyeletuk, "Kita lawan aja!"

"Siapa?" yang lainnya keheranan.

"Ya si penjaga malam!"

"Pake apa?" tanya Via bego. "Gunting? Pisau? Cutter? Senjata tajam jenis apa?"

Vanya menjitak kepala Via sambil ketawa ngakak. .

"Makanya jangan kebanyakan nonton film action! Dampaknya "nggak baik buat kamu!"

"Iya, iya!" dukung Apri yang tubuhnya paling bulat di temp at kos. "Otak Via jadi otak kriminal. Serem!"

"Habis pake apa?" tanya Via tambah kelihatan tolol.

"Ya pake mogok dong!" jawab Tiur sok tahu.

Nana jadi panik.

''Jangan, ah! Kayak buruh pabrik aja! Saya nggak ikutan Iho, kalo pake acara mogok...."

Lalu Vanya dan teman-teman kosnya kembali sibuk dengan pikiran masing-masing.

"Gimana kalo pake aksi nekat?" usul Vanya mengagetkan.

"Nekat?" tanya yang lain.

"Iya, dilarang-larang, kita nekat! Nggak boleh pulang malam, cuek aja. Kalo perlu pulang pagi! Dimarahin, nekat aja, ngelawan! Pokoknya nekat!"

"Nggak mau!" jerit Apri ketakutan. "Ntar kita dibunuh!"

Vanya ketawa geli.

"Kita dibunuh? Yang bener aja!"

Nana menatap Vanya dengan serius. "Nya, ini masalah besar! Jangan main-main! Di luar sana banyak pembunuhan terjadi tanpa alasan apa-apa. Terkadang cuma gara-gara seratus perak. Segala sesuatu bisa terjadi...."

Vanya ketawa lagi.

"Wah, Na, kamu betul-betul nggak percuma kuliah hUkum!"

"Saya serius!" bentak Nana galak.

Buru-buru Vanya menghentikan tawanya. Via dengan wajah memelasnya melempar bantal Dani ke lantai.

"Via!" Dani melotot.

Via cuma nyengir.

"Biar, Dan, biar aja rusak. Toh bantalnya punya Tante. Kalo bisa semua barang-barang tante saya rusakin!" kata Via penuh dendam.

“Boleh-boleh aja, asal yang di kamar kamu!" sahut Dani galak.

Via menggerutu nggak jelas, bikin Dani tambah bersemangat meneruskan acara maki-makinya.

"Udah, Dan, Apri ketakutan too!" sela Iril nggak teg lihat Apri yang terdiam dengan wajah panik di pojok kamar.

Vanya yang tadinya cuek terpaksa ikut-ikutann berkomentar, "Wah-wah! Kayaknya suasana kian memanas.... Kita kudu g imana, Na?”

Nana yang biasanya bijak banget kali ini cuma geleng-gelengkepala. "Nggak tau deh! Mungkin kita harus selametan buat ngusir setan penjaga...."

"Selametan?" Dahi Vanya berkerut. "Ya ampun, Na! Kenapa nggak bilang dari tadi? Iya, Na, betul banget! Selametan! Pesta!"

Anak-anak kos yang lain terbengong-bengong menyimak percakapan kedua temannya itu.

"Kalian berdua kesurupan, ya?" Dani melotot heran.

"Sini-sini...." Vanya memberi isyarat teman-temannya untuk mendekat. Kemudian dia berbisik-bisik serius. Nggak lama, mereka semua ketawa cekikikan bersama.

Nana mencubit lengan Vanya dengan gemas.

"Vanya, Vanya! Nggak percuma kamu jauh-jauh disekolahin ke Bandung!"

"Ngebales niih hoo!" sahut Vanya sambil nyengir.

***

Sejak sore suasana tempat kos sudah mirip tempat hajatan. Kursi-kursi lip at berderet-deret memenuhi halaman. Vanya dibantu Dani, Iril, dan Tita sudah lebih dari sepuluh kali mondar-mandir ke dapur. Sementara Nana, Tiur, Apri, dan Via tampak sibuk mengatur barisan tukang jualan menempati posisinya masing-masing. Anak kos yang lain repot membenahi ruang makan yang ditata ala prasmanan.

Di halaman, Pak Penjaga nggak kalah sibuk ikut-ikutan memerintah para tukangjualan agar tertib. Mang Bakso, Mang Es Teler, Mang Asinan, Mang Sate, Mang Mi Kocok, Mang Es Puter, dan mang-mang lainnya kelihatan kuran senang diperintah-perintah Pak Penjaga. Tapi berhubung Nana yang bercita-cita jadi pengacara (gara-gara keseringan nonton L.A. Law), berhasil meyakinkan kalo sekali ini Pak Penjaga kudu dituruti kemauannya, akhirnya mereka mengalah juga.

Vanya bersama Iril dan Dani mulai ketawa-ketiwi.

"Liat, Nya, sok repot banget dia! Sok penting!" bisik Dani.

Vanya tersenyum-senyum jail.

"Jangan khawatir, nanti kita bikin lebih repot lagi!"

Vanya menoleh ke Iril. "Mana buku tamunya?" Iril mengacungkan dua buku tamu lalu menghampiri Pak Penjaga.

"Pak, ini buku tamunya. Setiap tamu yang datang harus Bapak minta untuk mengisi buku tamu ini."

Pak Penjaga manggut-manggut yakin.

"O iya, Neng! Bapak bisa minta tolong temen Bapak ngebantuin?"

Iril menatap ragu-ragu.

"Wah, nggak tau, Pak! Bapak tanya sendiri deh sama Vanya. Dia yang atur semuanya."

Begitu Pak Penjaga menemui Vanya, cewek mungil ini menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Nggak bisa, Pak, sayang sekali. Kita nggak berani mempekerjakan sembarang orang. Sekalipun itu temen Bapak sendiri. Tante Kos juga udah pesan, jangan masukin sembarang orang. Jadi jangan deh, Pak. Nanti kalo Bapak ditegur, kita juga yang susah!"

Pak Penjaga kelihatan amat kecewa.

"Nanti kalo ada tamu yang parkir kendaraan, siapa yang ngurus?"

"Ya Bapak juga!"

"Saya kan ngurus buku tamu?"

"Iya, Bapak ngurus semua keperluan tamu. Dari orangnya sampe barang-barangnya," jelas Vanya kalem.

"Semua saya?" Pak Penjaga terlonjak kaget.

"Iya, Pak." Vanya tersenyum manis. "Cuma Bapak Iho yang kita percaya. Kita semua yakin, Bapak bisa mengatur semuanya...."

Disanjung seperti itu, cuping hidung Pak Penjaga kembang-kempis. Dengan sombongnya ia menepuk dadanya. "Jelas, Neng, Bapak...!"

Malam harinya para tamu mulai berdatangan. Masing-masing anak kos mengundang tamunya. Kalo setiap anak rata-rata membawa dua tamu, jumlahnya sudah lebih dari dua puluh tamu. Tentu saja Vanya merupakan penghuni kos dengan tamu terbanyak. Ada Yadi, Eko, Dodit, Java, Yoyok, Ari, Igun, Hiro, dan masih sederetan nama lagi. Dani yang diberi tanggung jawab urusan konsumsi sempat kelabakan menyaksikan Vanya mengundang sekompi cowok. "Nya, kamu gila banget! Kenapa Pak RT nggak diundang sekalian?" Vanya seperti biasa cuma cengar-cengir saja. Dia bilang, nggak ada salahnya sekali-sekali membagi rezeki ke tukang jualan.

"Dan, saya heran! Acara makan-makan ini kan nggak ada judulnya, kok pada dateng ya?" kata Vanya tiba-tiba.

Dani ketawa geli.

"Aduh, Nya, kayak nggak tau aja! Namanya juga lalat!"

Kali ini Vanya yang ketawa.

"O iya, ya! Di mana ada makanan, di situ mereka ngumpul!"

Dari arah halaman Apri berlari-lari dengan lincahnya, sepertinya dia ingin memperlihatkan pada dunia, kalo orang gendut bisa juga berlincah-lincah.

"Nya! Vanya! Gawat deh!"

Dani dan Vanya ikutan panik.

"Pak Penjaga teler di gardu!"

Dani menatap Vanya khawatir.

"Yang ini kayaknya di luar rencana, Nya...."

"Teler? Mabok, Pri?" tanya Vanya cemas.

"Nggak!" sahut Apri cepat. "Mabok gimana? Mana sempat dia makan-minum! Ini teler lemes, Nya! Kecapekan, kayaknya...."

Vanya jadi nggak tega. Padahal dia nggak bermaksud membuat Pak Penjaga seloyal itu pada pekerjaannya. Naluri kewanitaan Vanya yang jarang terlihat mendadak saja muncul ke permukaan. "Dan, tolong ambilin teh anget di dapur. Apri, kamu pesenin nasi goreng, ya? Saya mau ambil obat di kamar!" kata Vanya buru-buru. "Nanti kita ketemu di gardu!"

Di dalam gardu, Pak Penjaga terduduk pucat. Vanya mengangsurkan nasi goreng yang dibawa Apri. "Makan dulu, Pak.... Abis itu baru rninum obaya,." tawar Vanya. Vanya nggak. sadar, saat itu tingkahnya mirip banget sama Ibunya kalo dia lagi sakit.

Pak Penjaga mengangguk lemah. "Aduh Neng-neng, nuhun pisan! Bapak ngerepotin, ya....

Kemudian ia mulai memakan nasi gorengnya dengan lahap.

"Rasanya Bapak sudah terlalu tua buat jadi penjaga. Bapak mau berhenti aja, Neng, nggak kuat!"

Vanya, Dani, dan Apri nggak bilang apa-apa. Tangan mereka sodok-sodokan dari belakang.

"Pak, ditinggal dulu, ya? Kasian tamu-tamunya...," kata Vanya setelah berhasil mengontrol emosinya.

Begitu mereka menutup pintu gardu, ketiganya mengepalkan tinju dan berteriak, “Yes!”

Bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar