Kamis, 10 Januari 2013

Kenduri Karet (Chapter 6)


Chapter 6
Dodit

SEJAK dua minggu yang lalu Vanya punya kebiasaan buruk, membuang muka jauh-jauh kalo ketemu Dodit. Iih, persis anak kecil! Bagusnya wajah Vanya yang manis itu selalu bisa kembali ke posisi semula. Kalo nggak, serem! Iya, Vanya musuhan. Kelakuan jelek yang sudah bertahun-tahun ditinggalkannya itu mendadak muncul kembali gara-gara Dodit. Gara-gara makhluk yang paling dicuekin di seluruh Geologi itu!

Vanya yang selama ini berusaha bersikap netral ke Dodit, sekarang ikut-ikutan masuk barisan orang yang membenci Dodit. Bahkan Vanya merasa dialah yang paling membenci Dodit. Paling benci sedunia!

Masalahnya berawal waktu kuis praktikum kimia. Sebelum kuis, Dodit mendekati Vanya yang masih komat-kamit menghafalkan rumus.

"Nya, nanti kasih tau, ya?"

Vanya mengangguk sedikit, kemudian meneruskan acara komat-kamitnya.

"Saya nggak sempat belajar niih," lanjut Dodit sambil membuka-buka catatan kimianya asal-asalan. "Kecapekan ngeronda...”

Vanya diam saja. Mulutnya komat-kamit. Bikin Dodit penasaran. Dia menatap Vanya dengan tatapan minta dipercaya.

"Nggak percaya, Nya?" .

Vanya masih terdiam. Komat-kamitnya makin semangat dan ditunjukin ke muka Dodit, biar tau.

Dengan gerakan lumayan kasar, Dodit mengguncang-guncang bahu Vany.

"Kamu nggak percaya kalo saya ikutan ngeronda?"

Cewek mungil itu mulai kesal.

"Kamu kok ngeganggu terus siih?!" bentaknya.

"Tapi kamu percaya kan kalo saya ngeronda sampe nggak sempat belajar? Percaya, kan, Nya?" desak Dodit lagi.

"Percaya, percaya, percaya!!!" teriak .Vanya kemudian pergi menjauh. Eko dan Yadi, yang sejak tadi memperhatikan, senyam-senyum menyaksikan adegan tersebut.

“Taruhan, sebentar lagi pasti Dodit ngejar Vanya,” bisik Eko geli. Yadi manggut-manggut.

“Itu sih nggak usah taruhan lagi, Ko!"

Betul juga, Dodit kembali menarik kurSl

mendekati Vanya yang pindah ke pojokan lab

kimia.

"Ngapain sih, Dit?!" Vanya jadi galak.

Dodit tersenyum semanis mungkin. Cuma Vanya-lah satu-satunya yang masih bersikap baik pada Dodit. Semua orang telah membenci Dodit setulus hati karena tingkahnya yang terlalu menyebalkan. Overacting! Kalo nggak merugikan orang lain, masih bisa dimaafkan. Tapi ini overacting yang bikin sebel semua orang. Pernah di tengah-tengah kuliah matematik Dodit nyeletuk keras, "Pak, katanya mau ada tes? Kapan? Minggu lalu kan Bapak janji tes hari ini. Saya sudah belajar lho, Pak...." Tengil banget! Seisi kelas menatapnya dengan sebel. Atau nggak ada hujan, nggak ada angin, dia mendatangi Andayani, kembangnya Teknik Kimia, berlutut dan ngomong, "Oh, Andayani, aku cinta padamu!" Norak berat. Andayani kesel banget karena adegan gombal itu dilakukan di tengah-tengah keramaian kantin. Tentu saja dia malu berat. Dia lalu mengadu ke Vanya, "Nya, temen kamu itu kesambet apa sih?" Vanya cuma ketawa dan bilang kalo Andayani bukan cewek pertama yang digombali Dodit seperti itu.

"Kamu korban ke-25, Yan!" kata Vanya geli. Sambil tetap ketawa Vanya melanjutkan, "Jangankan cewek, kemaren Yadi aja sampe terbatuk-batuk gara-gara Dodit!"

"Yadi? Digombalin Dodit?!!" Andayani terlonjak kaget.

Vanya nyengir.

"'Lalu Yadi gimana?" tanya Andayani penasaran.

"Katanya, 'Sori, Dit, saya nggak tersentuh, nggak tergetar! Abis kamu cowok sih!’”

Sekarang Dodit masih terus tersenyum-senyum menatap Vanya. Lama-kelamaan Vanya nggak tahan juga. Ditutupnya buku catatannya.

"Ada apa?" tanya Vanya manyun.

"Saya duduk dekat kamu, Nya.... Nanti kita kerja bareng," jawab Dodit dengan senyumannya yang nggak lepas-lepas.

"Iyalah...," sahut Vanya akhirnya.

Saat mengerjakan kuis, dari lima soal, empat sudah berhasil diselesaikan Vanya dengan sukses. Vanya lalu berbaik hati menyilakan Dodit untuk bebas menyontek pekerjaannya. itu sih bukan kerja bareng lagi! Tapi rupanya Vanya nggak keberatan hasil jerih payahnya di-copy semena-mena oleh Dodit. Maklumlah, Vanya sedang kumat baiknya.

"Yang terakhir, Nya? Nomor lima?" bisik Dodit sambil melirik kertas Vanya.

Vanya menggeleng.

"Nggak bisa, susah...."

Kemudian Dodit mulai melebarkan sayap persontekannya ke lain orang. Berkat juluran leher jerapahnya (sebetulnya lebih mirip leher angsa sih, tapi julukan "leher angsa" rasanya terlalu anggun buat jurus percontekan Dodit), Dodit berhasil menyalin jawaban soal nomor lima dari Revan.

Vanya yang ikut memperhatikan tingkah Dodit merasa perlu menagih haknya.

"Dit, nomor lima dong...."

"Belum," sahut Dodit buru-buru menggeser lembar jawabannya menjauhi Vanya.

"Bohong!" Vanya melotot kesal.

Dodit semakin ngotot.

"Beneran, belum!"

"Saya liat kok kamu nyalin punya Revan!"

Vanya nggak kalah ngotot.

"Siapa yang nyalin Revan?" kata Dodit dengan wajah tanpa dosa.

Vanya nggak tahan lagi. "Curang!!!" kali ini dia berteriak.

Kang Agus, asisten lab kimia mendekati mereka. "Ada apa nih?"

Belum sempat Vanya bicara, Dodit sudah mendahului ngomong dengan volume yang sengaja diatur sekeras mungkin. Biar seluruh isi laboratorium mendengar, "Ohh, ehh, nggak ada apa-apa, Kang.... Vanya cuma tanya soal nomor lima."

"Betul, Nya?"

"Terserah!" sahut Vanya cuek. Kemudian dengan tenangnya dia mengumpulkan lembar jawabannya lalu ngeloyor keluar. Vanya sudah begitu kesal pada Dodit. Makhluk menyebalkan itu dikasih hati minta jantung. (Jantung dan hati, lain, kan?) Begitu menyaksikan Vanya keluar, Eko dan Yadi langsung solider ikutan keluar. Padahal mereka berdua baru berhasil menyelesaikan satu soal. Memang rasa kesetiakawanan mereka suka keterlaluan.

"Udah saya bilangin, Nya... kamu nggak nurut siih," cerocos Eko menghampiri Yadi yang bersandar di sisi Vanya.

Vanya cuma diam.

"Kamu, Nya, selalu keluar jalur. Kamu selalu bertingkah ekstrem!" kata Eko lagi.

"Ekstrem?" Vanya mulai terpancing.

"Iya, semua orang nyuekin dia. Cuma kamu yang nggak. Gimana nggak ekstrem?"

Vanya menatap kedua sahabatnya bergantian. Lalu dia geleng-geleng kepala.

"Apa saya salah bersikap biasa-biasa aja ke Dodit? Apa salah bersikap netral begitu? Yang saya inget, selama ini dia nggak pernah merugikan saya. Cuma tadi...." Vanya terdiam sejenak Kemudian melanjutkan lagi, "Tadi dia memang keterlaluan."

Yadi melotot kagum.

"Ya ampun, Nya! Dodit mempermalukan kamu, kok masih dibelain aja? Kamu ini siapa, Nya? Malaikat?"

Vanya tersenyum geli, lalu menepuk bahu Yadi.

''Jangan khawatir, Di! Saya tetap Vanya. Mulai sekarang saya membenci yang berjudul Dodit sepenuh hati!"

"That's our Vanya!" kata Eko dan Yadi sok kompak.

Kebencian Vanya pada Dodit semakin menjadi-jadi setelah tahu bahwa Dodit-lah satu-satunya anak yang kuis kimianya mendapat nilai A gendut. Dodit memang pantas dimusuhi!

Untuk kesekian kalinya Vanya membuang muka ketika Dodit melintas di depannya.

"Vanya...," panggil Dodit pelan.

Keterlaluan, pikir Vanya. Sudah dicuekin masih berani-beraninya manggil. Vanya tetap menjalankan aksi cueknya ketika tiba-tiba tangannya ditarik dari belakang.

"Nya! Jangan cuek dong!"

Cowok ini sintingnya sudah mencapai taraf amit-amit! Vanya syok banget menyaksikan kenekatan Dodit. Dan dia bertambah kaget setelah mendengar ucapan Dodit selanjutnya.

"Nya, saya minta tolong, Nya.... Saya pinjem sepuluh ribu, ya, saya mau pulang ke Sumedang. Maafin saya, Nya, saya nggak tau lagi harus pinjem ke siapa. Soalnya saya perlu sekali. Saya harus pulang, Nya, ibu saya sakit." Suara

Dodit memelas sekali. Mirip Padhyangan yang lagi ngerayu ibu kos untuk pinjem uang. Vanya nggak tahu harus ngomong apa. Tanpa disadarinya dia mengeluarkan lembaran sepuluh ribuan terakhirnya buat bulan ini.

Tadinya Vanya berniat bertahan hidup satu minggu lagi dengan uang itu. Tapi sekarang dia langsung melupakan niatnya.

Dodit menyambut sepuluh ribuan itu dengan sukacita.

"Nuhun, Nya! Nuhun pisan, da bageur! Saya janji pasti ngembaliin. Saya janji!" ucap Dodit serius.

"Nggak usah dipikirin," kata Vanya lalu melanjutkan langkahnya. Tingkahnya persis anak orang kaya yang baru saja membagikan sedekah. Padahal otaknya mulai bekerja keras. Dalam satu minggu ini apa yang bisa dia lakukan? Menginap di Tante Ela? Pinjam uang ke Tita? Atau terpaksa mengambil tabungan daruratnya di bank?

Vanya nggak bisa berbohong pada Eko dan Yadi waktu mereka menanyakan perubahan drastis yang terjadi padanya. Cewek cuek itu sudah mengakhiri gencatan senjatanya dengan Dodit.

"Saya udah capek musuhan," Vanya membela diri.

Eko melongo takjub.

"Kamu apa-apaan sih, Nya? Diapain lagi kamu?" pekik Eko lantang.

"Jangan-jangan disantet!" tambah Yadi ikutan heran. "Coba dirontgen, jangan-jangan di perut kamu udah ada pohon kaktusnya!"

"Disantet?" Vanya ketawa geli. "Enak aja! Nggak dong! Saya cuma minjemin dia uang."

"Apa?!!" teriak Yadi dan Eko bareng.

Vanya ketawa lagi.

"Gitu aja kaget! Saya juga sering kok pinjem-pinjeman uang sama anak kos. Namanya juga temen."

"Tapi dia Dodit, Nya!" Eko semakin kesal,

"So what?" Vanya tetap kalem.

Giliran Eko, yang ngotot, "Hampir semua anak tau, tu anak kalo pinjem uang nggak pernah ngembaliin. Kamu jangan terpengaruh sama cerita-cerita sedihnya. Dia udah biasa mengobral cerita sedih. Ya neneknya sakit lah, ibunya dioperasi lah. pokoknya anak satu itu penipu kelas berat."

"Tapi waktu pinjem uang ekspresinya sedih beneran kok. Saya nggak tega," ujar Vanya.

"Dia kan aktor, Nya!" sambar Yadi. "Dustin Hoffmann juga kalah dalam hal penghayatan peran sedih!"

"Saya yakin, dia pasti bayar. Soalnya saya menolong dengan tulus...," Vanya kekeuh bersikeras.

Yadi ber-ck-ck-ck sambil geleng-geleng kepala.

"Saya nggak tau lagi deh, mau ngomong apa, Vanya yang saya kenal udah jadi bidaiari!" Yadi putus asa.

"Lho, dari dulu, kan?" balas Vanya.

Kemudian Yadi mengajak Eko meninggalkan Vanya.

Cewek kecil itu senyum-senyum. Ternyata susah juga ya jadi orang cuek. Mau berbuat baik sedikit sudah dicurigai. Vanya lalu bicara sendiri, "Tuhan, saya tuh memang jarang berbuat baik. Tapi kalo minjemin uang ke Dodit Engkau anggap perbuatan baik, mohon dicatat, ya, Tuhan......

***



Karena cemas akan sobatnya yang bakal terus kena perdaya Dodit, Yadi dan Eko pada suatu malam yang udah diatur kerahasiaannya, menemui teman-teman Vanya di kos: Ita, Dani, Iril, dan Via. Tentunya udah direncanain, mereka datang ke kos pas Vanya nggak ada. Seperti biasa, Vanya kelayapan sendirian di BIP. Eko yang ngatur kepergian Vanya dengan mengumbar kabar burung, "Bayangin, Nya, di BIP ada sale Esprit besar-besaran, sampe 75% off!"

"Ah, masa?" Vanya yang maniak kaus Esprit jadi tertarik. Dan itu Eko udah apal betul.

"Betu1!" ujar Eko mantep banget.

Meski rada-rada nggak percaya, abis mana ada sih sale sampe 75% off, tapi Vanya berangkat juga. Paling nggak, Eko kan nggak bakal bohong 100%. Mungkin 50% off. Itu juga udah lumayan banget.

Maka menjelang malam, Yadi dan Eko udah mengintai dari balik puun akasia yang ada di dekat tempat kos Vanya. Lama betul Vanya nggak keluar-keluar kamar. Sampe Yadi dan Eko hampir nyerah gara-gara kakinya digigitin semut.

"Aduh, lagi ngapain tuh anak!" ujar Eko sambil menggaruk kakinya dari gigitan semut.

"Tau. Lama beeng dandannya!" Yadi memaki.

Nggak berapa lama setelah kedua cowok itu hampir nyerah, makhluk mungil yang diintai tampak keluar kamar sambil langsung mengunci pintu. Vanya pake kaus kuning dan celana jins belel. Eko dan Yadi langsung bersorak, "Yes!"

Dengan tas ransel kecil di punggung, Vanya pamit sama Ita, Dani, Via, dan Iril yang lagi asyik duduk di teras sambil ngerumpi.

"Daaaag! Oleh-oleh, ya?" ujar mereka serempak membalas lambaian Vanya.

Vanya hanya nyengir. Lalu berjalan.

Setelah dirasa Vanya udah berjalan cukup jauh, Eko dan Yadi buru-buru keluar dari persembunyian. Langsung nyamperin teman-teman Vanya. Iril yang pertama kali melihat.

"Eeeeh, Yadi... Eko... nyari Vanya, ya? Barusan aja dia pergi. Apa kalian nggak papasan di jalan?" teriak Iril sambil berdiri.

"Ssst!" Eko langsung menyuruh mereka tenang. "Kita justru mau ketemu kalian...."

Iril, Dani, Ita, dan Via bengong. "lho, ada apa? Kalian musuhan..."

Belum abis omongan Via, tiba-tiba dari jauh terdengar lengkingan suara Vanya,

"Sialaaaaaan!!!"

Eko dan Yadi kaget setengah mati. Mereka langsung serabutan menyelamatkan diri. Eko langsung masuk kolong meja, berlindung di balik taplak yang menjuntai ke lantai, sedang Yadi melompat ke gentong plastik tempat menampung air.

Iril cs. makin kaget.

Vanya berjalan masuk sambil bersungut-sungut.

"Dari tadi diinget-inget jangan sampe lupa, ternyata lupa juga," gerutu Vanya sambil melangkah ke kamarnya.

"Lupa apa, Nya?" tanya Ita kaku. Sambil matanya melirik ke balik taplak meja yang menonjol bagian sisinya.

"Dompet!"

"Dompet?"

Vanya masuk kamar. Tak lama keluar lagi. Ia heran melihat teman-temannya pada masang tampang tegang begitu.

"Ada apa? Kok tegang amat? Belum pernah liat orang ketinggalan dompet, ya?" Vanya berkata keras. "Waktu Iril ketinggalan koper aja kalian pada cuek!"

Tak ada yang komentar.

Vanya mengangkat bahu, lalu pergi.

Tak lama, Iril cs. memberitahu Yadi dan Eko kalo Vanya udah jauh.

"Keluar kalian! Ada apa sih?"

"Bener nih Vanya udah jauh?" tanya Eko dari kolong meja.

"Bener!"

Eko dan Yadi keluar. Lalu cerita panjang-lebar soal maksud kedatangannya. Yaitu tentang kegelisahan mereka akan nasib Vanya.

"Kayaknya Vanya udah nggak bisa dikasih tau lagi sama kita-kita. Jadi tolong aja deh kalian kasih tau Vanya. Kasihan kalo Vanya kena tipu terus sama makhluk sialan itu," ujar Yadi lemas setelah sebelumnya dapet tugas menceritakan kasus yang menimpa diri Vanya.

Semua terdiam memikirkan nasib malang yang menimpa diri Vanya.

"Dodit tu yang mana sih anaknya?" tanya Via memecahkan kesunyian.

"Kan pernah ke sini dulu, yang rambutnya agak keriting itu," ujar Yadi.

"O, yang keriting kayak mi? Yang item?" sahut Ita.

"Itu mah Boim. Bukan itu dong. Tapi itu Iho, yang ke sini bawa bebek!" kata Eko.

"Bebek? Oh, dia jualan bebek?" Dani lebih bego lagi.

"Bukan! Ngaco! Maksudnya motor bebek!"

"O ya, inget. Yang kumisnya tipis kayak semut baris itu?" ujar Via.

"Nah, kamu yang paling pinter," puji Yadi sambil menarik napas lega.

Yang lain diem lagi. Mikir bagaimana caranya ngasih tau Vanya. Soalnya kecil-kecil anak itu keras kepala banget.

Eko bangkit.

"Ya udah, kalian pikir-pikir dulu deh gimana caranya. Yang pasti, Vanya harus kita selamatkan. Rasanya si Dodit itu pengen kuhajar saja biar kapok."

''Jangan! Serahkan saja pada kita-kita," ujar Via tersenyum tipis. Kayaknya dia udah punya akal.

"Ya udah, terserah. Kami pulang dulu, ya. Takut Vanya muncul lagi. Nanti kepergok nggak enak...."

Yadi dan Eko pun buru-buru minggat.

BegItu mereka pergi, Via langsung mengumpulkan teman-temannya. Sambil bisik-bisik, Via membeberkan rencananya untuk membalas dendam pada Dodit. Setelah mendengar rencana Via, anak -anak yang lain langsung pada setuju.

"Ya, kalo Vanya nggak bisa, kita yang harus membalaskan dendam Vanya!" teriak Dani bersemangat.

Bubarlah mereka ke kamar masing-masing.

***

Esok harinya, tampak Dodit sedang duduk sendirian di sebuah rumah makan. Ia menunggu pesanan sambil membaca-baca majalah yang dibawanya.

Tiba-tiba Via muncul. Gadis itu langsung duduk di depan Dodit. Dodit terkejut. Dandanan Via nampak aneh. Pake anting, rambut disasak, dan jaket kulit. Kesannya liar sekali.

"Boleh numpang duduk?" tanya Via tenang.

Dodit memperhatikan Via. Rasa-rasanya dia pernah kenal cewek ini. Tapi agak-agak lupa di mana.

"Boleh minta rokoknya?" Via berkata sambil langsung mengambil rokok di dekat Dodit. Tanpa nunggu jawaban Dodit, Via langsung menyulut rokok dengan gaya macho sekali.

Uhuk! Via terbatuk sedikit. Tapi langsung pura-pura normal kembali. Asep yang sudah dihirup, malah ditelen biar nggak bikin batuk... hihihi.

Dodit makin melongo. Lalu ia sedikit bisa mengingat siapa cewek syerem yang duduk di depannya itu. "Kamu teman kosnya Vanya, ya?" tanya Dodit.

"Iya. Sendirian?" suara Via digalak-galakin.

Dodit mengangguk.

Via langsung melihat ke arah pintu masuk. Dari sana bermunculan Iril, Dani, dan Ita. Dandanan mereka nggak kalah ajaib. Ada yang pake kalung tulang ala orang kanibal, pake rompi koboi, dan pake iket pinggang segedejengkol.

"Hei, Iril, Dani, Ita... come here!!!" teriak Via keras.

Mereka menghampiri dan langsung duduk di meja Dodit.

Dodit jelas kaget. Karena mejanya sempit, ia hampir terdesak ke pojok.

"Eh, kok pada duduk di sini? Sempit, kan?" protes Dodit.

"Dunia emang semakin sempit. Nggak usah protes!" ujar Dani judesnya minta ampun.

Dodit mengeret.

Lalu Via sengaja bicara dengan keras, "Hei, kenapa temen kita si Vanya belum datang juga?"

Dodit curiga memandang ke arah Via.

Ita dengan tampang digalak-galakin, berbicara sambil menatap tajam ke arah Dodit,

"Katanya ada seseorang yang pinjam duit sama dia dan belum dibayar-bayar. Mungkin dia sedang sibuk nagih-nagih utang...."

Dodit terkejut. Dan makin terpojok. "K-kalian mau apa?"

Iril langsung menggulung tangannya, dan dengan suara bariton berkata, "Kamu tau, saya sahabatnya Vanya yang paling mudah tersinggung! Kalo Vanya sakit hati, kita siap membela sampai mati! Kebetulan saya ini debtcollector-nya Vanya yang paling tangguh!"

Via nggak mau kalah, "Saya paling ditakuti di tempat kos, karena meski cewek, saya ikut taekwondo udah ban item! Jangankan bikin patah leher orang, leher ayam goreng pun gue suka banget, eh!" Via sadar salah omong.

Ia langsung menutup mulutnya.

Ita buru-buru ikut bicara, "Saya sobatnya yang paling ulet dan tahan banting!"

Wajah Dodit jadi pucat. Ia ngeper juga melihat kenekatan jagoan-jagoan cewek di depannya. Dengan takut-takut, Dodit memandang Dani yang dari tadi belum mengancam.

"Kalo kamu siapa?" tanya Dodit takut-takut sambil menunjuk ke arah Dani.

"Saya sahabatnya Vanya. Mantan okem Terminal Kebun Klapa!"

Dani langsung mengambil tempat lada dan kemudian mengocok-ngocoknya dengan keras.

Dodit makin mengeret.

Via langsung berkata lantang, hingga para pembeli lainnya pada menoleh. "Sekarang kamu sudah tau apa dan siapa kami, kan?"

"I-iya, saya tau." Suara Dodit terdengar gemetar. "T-tapi saya belum bisa bayar sekarang. Uangnya sudah abis untuk nraktir teman-teman. "

Semua cewek liar itu langsung melotot ke Dodit.

"Itu problem kamu!"

Kemudian pelayan datang mengantarkan makanan yang dipesan Dodit. Tapi makanan itu langsung diambil Dani.

"Ayo, kita makan!" ajak Dani sambil menatap tajam ke arah Dodit. "Mumpung ada bos. Bos yang suka ngutangin duit orang!"

Tanpa menunggu perintah selanjutnya, Via, Iril, dan Ita langsung pesan makanan. Ini mah emang kebetulan. Mumpung tanggal tua! Maka semuanya pesan makanan yang mahal-mahal.

Sedang Dodit makin bingung.

***

Beberapa hari kemudian...

Setelah bubaran kuliah geologi dasar, Vanya sedang berjalan dengan Yadi dan Eko.

"Mana, Nya? Dodit sampai sekarang belum bayar utang, kan?" ujar Yadi sambil jalan.

"Bentar lagi juga bayar," ujar Vanya kalem.

"Sampai kapan? Ini udah hampir sebulan. Dia belum juga bayar!" tandas Eko.

Vanya diam. Dia sendiri juga udah yakin Dodit memang nggak bakal bayar. Tapi dasar nggak mau kalah, dia nggak mau mengakui.

"Percayalah, Nya. Nggak ada gunanya berbuat baik pada orang kayak dia. Buang-buang energi. Kamu kok nggak mau dengar nasihat sahabat sih?" Yadi mulai nggak tahan untuk tidak memenetrasikan pengaruhnya kepada sobat mungilnya.

Vanya diem.

"Begini aja, Nya. Kalo kamu masih nggak yakin, kita taruhan. Kalau sampai akhir bulan Dodit belum bayar utang, kamu kalah. Kamu harus nraktir kita berdua sepuasnya. Tapi kalo Dodit ternyata bayar, kita traktir kamu sepuasnya. Gimana?" Yadi makin nekat.

Vanya mengangguk pasrah.

Belum abis anggukannya, tiba-tiba ia mendengar namanya dipanggil-panggil.

Ketika menoleh dilihatnya Dodit berlari-lari mengejarnya. Melihat adegan tersebut, Eko dan Yadi langsung menjauhi Vanya. Vanya jadi agak tersinggung juga dengan ulah kedua sahabatnya itu. Memangnya Dodit itu virus menular?

"Nya, ini janji saya dulu...." Dodit menarik lembaran sepuIuh ribuan dari dompetnya.

"Saya kembaliin."

Yadi dan Eko terperanjat.

Vanya langsung tersenyum kecil, sambil melirik penuh kemenangan ke arah Eko dan Yadi.

"O, mo bayar utang, ya? Nggak usah, Dit.... Makasih." Suara Vanya dikeras-kerasin biar Eko dan Yadi denger.

"Harus! Saya udah janji!" Dodit memaksa.

"Kamu yang janji, saya nggak," sahut Vanya kalem sambil meneruskan langkahnya. Dodit menjajarinya.

"Tapi kamu harus nerima uang ini!" Dodit ikutan ngotot sambil menggenggamkan uangnya pada tangan Vanya. "Saya nggak mau tambah rugi Iagi!"

Vanya heran. "Tambah rugi? Kenapa?"

Dodit sadar. Ia udah keceplosan. Padahal Iril cs. itu udah ngancem, kalo Dodit masih ngadu, hidupnya bakal nggak lama lagi. Ia pun langsung mengalihkan, "Eh, a-anu. Itu. Nanti kan bunganya tambah gede...."

Vanya teriak, "Enak aja, emangnya saya lintah darat?"

Vanya mau pergi.

"Dengar dulu , Nya." Tangan Dodit menahan langkah Vanya. Sementara Eko dan Yadi yang dari kejauhan mengawasi, makin penasaran.

Vanya terdiam menunggu Dodit melanjutkan bicaranya.

“Mungkin buat kamu sepuluh ribu ini nggak ada artinya, Nya. Tapi buat saya sangat berarti. Uang ini hasil kerja saya kasih les matematik anak SMA.”

“Kamu, Dit? Kamu ngasih les matematik?” Vanya mulai kagum.

Dodit tersenyum mengangguk.

“Wah pasang tarif berapa kamu?” goda Vanya.

“Lima ribu perjam.”

“Jadi itu hasil kerja kamu selama dua jam?”

Dodit manggut-manggut.

Vanya menyambar lembaran sepuluh ribuan dari tangan Dodit.

“Beneran kamu rela?”

Lagi-lagi Dodit mengangguk mantap.

“Berhubung saya percaya kamu mendapatkan uang ini secara baik-baik, saya menerima deh. Terima kasih. Tapi dengan satu syarat...,” kata Vanya sok tuba banget.

“Apa, Nya?” potong Dodit penasaran.

“Sekarang juga kamu harus ikut saya ditraktir!” Vanya nyengir-nyengir.

Dodit menaikkan alisnya. “Siapa yang mau nratir?”

“Yadi dan Eko.”

“Yadi dan Eko?”

“Jangan takut, Dit... mereka sudah jinak kok!”

Kemudian Vanya berteriak pada Yadi dan Eko, “Halo, Eko dan Yadi, jangan kabur. Kita-kita siap ditraktir lho!”

Eko dan Yadi menghampiri Vanya dan Dodit sambil ngomel-ngomel.

Sungguh, setelah diteror Via cs., Dodit benar-benar tobat jadi anak licik. Sayangnya Yadi dan Eko nggak tau rencana Via...

Bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar