Kamis, 10 Januari 2013

Kenduri Karet (Chapter 9)


Chapter 9
Kangen Bajaj

TERMINAL KEBON KLAPA pagi itu masih agak sepi meskipun para calo bus sudah giat merayu-rayu calon penumpang. Vanya menyandang ransel bututnya sambil berjalan cuek, nggak menaruh perhatian sedikit pun pada orang-orang di sekitarnya. Sesekali ada juga calo yang menarik-narik tangan Vanya. "Mau ke mana, Teh? Jakarta, ya? Jakarta naik bus yang itu, Teh.... Sebentar lagi berangkat, Teh!"

"Bus yang ini aja, Teh, lewat Puncak," ujar calo lainnya.

"Yang ini, Teh, langsung lewat tol, nggak pake ngetem-ngetem lagi!" yang satu lagi nggak mau kalah.

"Wah, anu pang sip-na mah ngiring kandaraan kuring, pul ase, pul kamar kecil, pul pideo, pul karaoke, pul dorong... eh, pokoknya layar tancep mah kalah!" calo lain ikutan narik urat.

"Ah, eta mah teu sabarapa! Upami ngiring bus kuring, Neng bakal enjoi pisano Sebab kursinya bisa dipakein ayunan. Jadi sepanjang jalan Neng bisa main ayun-ayunan."

Vanya melotot. Mentang-mentang badannya kecil, ditawarin ayunan.

Sebetulnya kalo nggak pake acara narik-narik tangan, Vanya nggak keberatan naik bus yang dipromosikan para calo itu. Tapi narik-narik tangan, colak-colek bahu, bikin dia naik darah. Pernah Vanya nyaris berkelahi dengan seorang calo bus gara-gara percolekan ini. Untung saat itu dia bersama Via, teman satu kosnya. Vanya nggak tega lihat Via panik ketakutan.

"Udah deh, Nya, biarin aja! Nggak usah diladenin. Ntar dia malah suka...," kata Via gemeteran.

Kalo waktu itu Vanya nggak bersama Via, pasti dia sudah menjadi tontonan orang. Untuk masalah pembelaan "harga diri" semacam itu, bagi Vanya istilah malu nggak berlaku. Sebaliknya, teman-teman kos Vanya menganggap perbuatan Vanya itu malu-maluin. Makanya mereka suka males pulang ke Jakarta naik bus bersama Vanya. Payah... Vanya anaknya panasan! Suka cari masalah! kata mereka.

"Teh, Teteh, ada temennya tuh.... Di bus itu!"

Ah, siasat kuno! Biar Vanya berbalik menaiki bus biasa yang kerjaannya berhenti-berhenti di setiap terminal. Maaf saja! Vanya kapok harus bersebelahan dengan ayam dan kacang panjang! Iya, ini kejadian yang betul-betul dialami Vanya. Serasa naik bus pasar! Biarlah naik bus cepat yang agak mahalan sedikit. Pokoknya nggak terlalu makan hati!

Vanya tetap berjalan cuek menuju sebuah bus cepat. Tiba-tiba saja ranselnya ditarik dari belakang. Dengan cepat Vanya mengambil ancang-ncang siap berkelahi. Tapi nggak jadi! Vanya jadi ketawa lihat Yoyok, salah satu teman mainnya di Jakarta yang juga kuliah di Bandung, menatapnya sambil cemberut.

"Dari dulu cueknya nggak ilang-ilang!" maki Yoyok.

Vanya masih ketawa-ketawa.

"Kamu tau sendiri, Yok! Calo-calo itu muka tipu semua! Gimana mau percaya?!"

"Ayo dong bareng saya di bus itu!" ajak Yoyok setengah memaksa.

"Ogah! Biar dibayarin, saya nggak mau!"

Lalu Vanya buru-buru menjelaskan alasan dia nggak tertarik naik bus biasa. Sebelum Yoyok meledeknya dengan kata-kata sok kaya, borjuis, nggak bisa diajak hidup prihatin, dan sebagainya.

"Inget pengalaman pahit sebangku sama ayam?” Yoyo nggak bisa menahan tawanya. “Oke, saya yang ngalah! Saya pindah deh ke bus cepat bareng kamu...."

Akhirnya jadi juga mereka satu bus. Sepanjang jalan Yoyok ngocol melulu. Cerita tentang Dini, ceweknya di Jakarta.

"Nya, saya kangen sama Dini! Kamu tau, dulu zaman SMA saya nggak bisa hidup sehari tanpa liat dia...."

"Duilee... segitu romantisnya! Ehh, sekarang kok kamu nggak mati-mati, nggak liat dia begitu lama?!!"

"Kan ada ini!" Yoyok mencabut selembar foto dari dalam dompetnya. Foto Dini sedang tersenyum. Manis, memang.

Vanya cengar-cengir saja.

"Kalo kamu gimana, Nya? Kok betah amat bersolo karier? Kan nggak enak tuh... nggak ada yang dikangenin!"

"Eh, siapa bilang saya nggak kangen.!" Vanya sewot.

Yoyok jadi kaget.

"Wah, Vanya udah punya pacar? Kok nggak bilang-bilang? Ihh, saya ketinggalan zaman niih!"

"Saya kangen sama..." Vanya senyam-senyum.

"Siapa, Nya? Siapa nama cowok kamu?!" Yoyok penasaran banget.

"Bajaj!"

"Norak!"

"Ehh, sumpah, Yok!! Saya kangen banget sama bajaj! Di Bandung pantat saya tebel, pindah dari satu Honda ke Honda lain. Dari satu Kijang ke Kijang lain. Amit-amit... nggak ada bajaj! Paling cuma ada becak, itu juga di tempat-tempat tertentu!" cerocos Vanya membela diri. Wajahnya begitu serius!

Yoyok cuma bisa geleng-geleng kepala saja mendengarkan Vanya ngomong. Temannya yang satu ini memang selalu penuh keanehan. Aneh dan norak. Tapi justru itulah yang bikin Vanya kelihatan begitu menarik. Enak buat dijadikan teman.

Vanya lalu cerita-cerita tentang Tante Ela, adik ibu Vanya di Bandung yang rumahnya sempat disinggahi Vanya selama seminggu. Tante Ela sebenarnya cukup menyenangkan. Orangnya masih muda dan gesit. Di rumah Tante Ela apa-apa sudah tersedia. Mau makan tinggal ambil, mau tidur... tinggal masuk kandang (he he he). Semuanya gratis tanpa dipungut bayaran!

"Iya, Yok, segalanya gratis! Tapi kalo saya sedang tidur, Tante Ela teriak-teriak, minta dibantuin bikin kue. Kalo saya belajar, dua tuyul kembar anak Tante itu masuk kamar seenaknya. Ngacak-ngacak tempat tidur yang baru diberesin! Lalu teriak, 'Mbak Vanya, kita main perang-perangan yuk!' Dan yang paling nyebelin, catatan saya disobek-sobek! Seperti nyobek bungkus kacang, terus dibuat kapal-kapalan.... Semua gara-gara yang gratis itu! Ya jelas dong saya nggak bisa protes. Lha wong gratis kok protes!" omel Vanya panjang-lebar.

Tanpa memperhatikan Yoyok yang mulai bosan mendengar omelannya, cerita Vanya malah berlanjut. Vanya lalu cerita tentang tempat kos dan penghuninya yang sempat ngerjain dia.

"Saya dikerjain, Yok! Disuruh nyetrika baju-baju mereka tiap hari!" Vanya manyun mengenang masa-masa itu. Rasanya waktu itu Vanya mau banget kembali ke rumah Tante Ela. Biar diteriak-teriakin, tapi nggak pernah dipekerjakan menyetrika baju sebelas anak setiap hari. Vanya mesti bangun pagi-pagi sekali untuk mengerjakan semua itu, kalo nggak mau kuliahnya terlambat! Dan hal ini harus dia lakukan setiap hari selama dua minggu! Setelah hampir dua minggu, Nana, tetuanya tempat kos, memanggil Vanya. Nana bilang, Vanya mulai besok nggak usah nyetrika lagi. Acara perpeloncoannya dipercepat beberapa hari berhubung Vanya kelihatan begitu giat menyetrika. Keesokan harinya, antrean panjang di kamar setrika penuh dengan omelan-omelan.

"Nana payah! Bikin keputusan nggak bilang-bilang!"

"Iya niih! Saya udah bangun telat, baju masih kucel!"

"Nya, kok nggak laporan sih kalo dipercepat?!"

"Ehh, gue nambah sehari, Nya! Gue bayar deh...!"

Vanya pengen ketawa menyaksikan kepanikan teman-teman kosnya. Siapa bilang jadi "pekerja paksa" enak? Tiap hari badan pegel linu! Tiap kuliah tampang kucel! Kan menurunkan pasaran, pikir Vanya. Untung saja semua itu sudah berlalu.

Kalo ingat kejadian itu Vanya jadi heran sendiri. Kok dia mau-maunya ya, diperlakukan seperti itu. Dana saja terkagum-kagum mendengar cerita Vanya. "Kamu, Nya? Kamu bisa nyetrika? Yang bener aja! Kasian banget temen-temen kamu, pasti selama kamu yang nyetrika, baju-baju mereka nggak ada yang beres!" ledek Dana sambil nggak berhenti ketawa.

Berkat acara ngobrolnya dengan Yoyok (tepatnya siih ngobrol sepihak, karena kebanyakan Vanya sendiri yang ngomong, sedang Yoyok cuma sesekali ngomong, "O, ya?", "Masa?", "Lalu?", "Terus?", dan kata-kata sejenisnya sambil manggut-manggut terkantuk-kantuk), Vanya yang biasanya menghabiskan waktu dengan bengong, sekarang merasakan perjalanan begitu cepat. Mereka sudah sampai di Terminal Kampung Rambutan, Jakarta.

"Awas dompet, Nya...," bisik Yoyok. Vanya mengangguk, meraba ranselnya untuk memastikan dompetnya masih berada di tempat yang aman, kemudian membuntuti Yoyok menuju temp at bus PPD 45 yang ke arah Blok M.

"Itu 45, Yok!" teriak Vanya bersemangat. Dia sudah lama nggak naik bus kota. Maklum, di Bandung yang namanya bus termasuk barang langka. Selain itu rute-rutenya juga amat terbatas. Sehingga Vanya hampir nggak pernah naik bus selama di Bandung. Jadi, ya harap maklum saja kalo Vanya mendadak kalap dan bertingkah sedikit norak.

Seperti anak kecil yang terlepas dari ibunya, Vanya berlari-larian menaiki bus 45 yang diparkir paling buntut. "Ayo, Yok! Masih kosong niih!" ajaknya.

Yoyok ngakak memandangi tampang Vanya yang innocent. ..

"Vanya, Vanya...! Kita naik yang depanan aja, ya? Yang ini mah berangkatnya besok pagi! Atau kamu emang mau sampe rumah besok?"

Wajah Vanya langsung semburat merah, menyadari ketololannya. Iih, malunya!

Sampai di Blok M, Vanya nggak bisa tenang menyaksikan pasukan bajaj yang siap mengangkut penumpang. Dia ingin cepat-cepat melampiaskan rasa kangennya terguncang-guncang dalam kendaraan roda tiga itu.

"Yok, saya mau naik bajaj.... Mau ikut?"

Yoyok tentu saja nggak menyia-nyiakan kesempatan numpang gratis. Kebetulan rumahnya searah dengan rumah Vanya.

Acara tawar-menawar nggak berlangsung lama karena Vanya memang nggak berbakat seperti Ibu-lbu RT, yang harus pinter nawar serendah-rendahnya. Biarpun risikonya dipelototin.

"Kemang berapa, Bang?"

"Tiga ribu."

"Dua ribu, ya?"

"Nggak bisa!"

"Ya udah, 2.500 deh...."

"Nggak bisa!"

"Kalo gitu tiga ribu aja, ya?"

Si abang bajaj bengong. Yoyok juga bengong. Tapi Yoyok nggak banyak komentar, buru-buru menguntit Vanya masuk ke dalam bajaj. Baru saja pintu bajaj ditutup, sebuah teriakan menyaingi deru bajaj terdengar tepat di kuping Yoyok.

"Mas Yoyok, ya?!!"

Bagai melihat hantu, Yoyok menyahut gugup, "Eh, iya... iya... iyaa...."

"Mbak Dini tau Mas Yok pulang? Eee... itu siapa?" tuding cewek tadi ke arah Vanya.

"Anu... temen! Temen di Bandung!"

"Gimana niih? Ngobrolnya mau diterusin apa saya cari penumpang lain?" tanya si abang bajaj setengah mengancam.

Dengan diiringi tatapan curiga cewek yang menyapa Yoyok, bajaj itu berlalu juga. Vanya menatap Yoyok, penasaran.

"Siapa, Y ok?"

"Pake tanya siapa! Itu kan adiknya Dini!!!" bentak Yoyok.

"Duilee galaknya! Takut diputusin Dini, ya?"

Yoyok diam saja.

Vanya mulai sebel

"Awas, Yok! Galak-galak saya turunin di jalan!"

Yoyok masih ngomel-ngomel nggak jelas ketika Vanya teriak, "Bang, brenti sebentar! Ada yang mau turun!"

Dan betul juga, Yoyok diturunkan dengan muka terlipat sembilan. Tega betul! Tapi itulah Vanya! Kalo ngomong betul-betul terbukti, bukan sekadar ancaman kosong.

***

Setelah kembali ke Bandung, setiap kali ketemu Vanya, Yoyok nggak mau menegur. Ngambek ceritanya. Vanya sendiri nggak merasa dirugikan. Toh teman Vanya segudang. Nggak cuma Yoyok seorang. Apalagi sekarang dia di geologi yang isinya cowok melulu. Kece-kece lagi!

Akhirnya goyah juga pertahanan Yoyok. Dia yang nggak tahan, mulai duluan menegur Vanya.

"Nya, saya sebel sama kamu!"

Vanya ketawa geli.

"Gara-gara diturunin dari bajaj? Iya?!"

"Bukan!" Yoyok manyun.

"Lalu kenapa?"

"Gara-gara kamu saya dipecat Dini!"

Vanya tambah ngakak.

"Lho? Dini kan kenal saya! Masa kamu nggak cerita kalo waktu itu bareng saya dari Bandung!"

"Udah! Udah mati-matian saya membela diri. Saya hilang nggak ada apa-apa sama kamu. Kebetulan aja pulang ke Jakartanya satu bus. Tapi percuma, Nya, Dini nggak mau tau! Dia tetap ngotot minta putus!"

"Kalo gitu dia aja yang udah bosen sama kamu, Yok!" sahut Vanya kalem.

"Setan!"

"Iih, bener! Kalo dia waras harusnya kan bisa maklum! Buat apa sih cemburu sama saya? Iya sih, saya sedikit lebih manis daripada Dini, tapi saya kan nggak naksir kamu, Yok! Ngapain amat naksir kamu. Buang-buang waktu!"

"Setan!" maki Yoyok lagi.

Vanya tersenyum geli.

"Tapi nggak apa deh putus, Yok... Kan cewek bukan Dini seorang!"

"Setan!"

"Yok, kamu nggak kreatif, ah! Kata lain selain setan apa?" Vanya cekakakan. "Eh, Yok, cewek Bandung manis-manis Iho...."

"Iblis!"

"Hahahahahaa...!!!"

Bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar