Kamis, 10 Januari 2013

Kenduri Karet (Chapter 2)


Chapter 2
Saat Kuliah Inggris

SUDAH beberapa bulan Vanya tinggal di Bandung. Dan mata kuliah dasar umum adalah jenis-jenis mata kuliah yang paling diminati warga Geologi. Terutama oleh makhluk cowok yang mendominasi jurusan ini. Dan tentu saja Vanya sebagai pengecualiannya. Siapa yang nggak suka kuliah bersama jurusan lain? Apalagi bersama warga Biologi! Tidak akan mengecewakan. Tampang-tampang manis cewek Bio selalu membuat makhluk Geo betah berlama-lama duduk menekuni kuliah bahasa Inggris yang sebetulnya cukup membosankan itu. Grammar melulu! Tidak terlalu susah, tapi ya itulah, membosankan! Jadi biar diulang-ulang setiap saat, tetap aja pada nggak ngerti!

Yang bernasib agak malang ya para cowok Bio. Mereka ini paling keki menyaksikan teman-teman ceweknya saling lirik dengan cowok-cowok Geo. Padahal cowok Bio yang "bagus-bagus" nggak satu-dua lho! Tapi ya namanya juga manusia, biar di sampingnya ada orang kece, yang dipandang tetap saja yang jauh di mata. Mungkin perumpamaannya seperti "rumput di kebun tetangga selalu kelihatan lebih hijau". (Eh, betul nggak sih?)

Vanya duduk diapit Eko dan Yadi, cowok-cowok Geo yang berwajah not bad. Pertama kenal mereka, Vanya agak bangga juga. Soalnya kedua sahabatnya ini tergolong cowok-cowok berwajah coverboy. Keren dan enak dilihat. Tapi lama-kelamaan Vanya jadi terbiasa. Dan lagi Vanya nggak berminat sama mereka. Soalnya tiap hari yang dilihat dia-dia juga.

Nggak bikin penasaran lagi. Vanya sudah tahu persis "kartu mati" mereka! Berapa uang jajannya, gimana buasnya kalo ada yang nraktir, dan laen-laen.

"Nya, liat itu, Nya!" Eko memulai aksi pengecengannya.

Sejak pindah ke Bandung, Vanya emang mengembalikan nama panggilannya jadi "Anya" lagi. Soalnya kalo pake "Aya", suka diledekin anak-anak Bandung, "Aya naon, Neng?"

Mata Vanya jelalatan menelusuri deretan cewek Biologi yang asyik arisan sendiri. Memang kalo cewek-cewek sudah bergerombol bawaannya pasti arisan. Ngerumpi. Ngomongin apa lagi kalo bukan cowok dan sebangsanya. Vanya sudah maklum banget. Soalnya selama tiga tahun di SMA swasta, dia berada di lingkungan seperti itu. Namanya juga SMA cewek.

"Kece ngak, Nya?" Yadi ikutan minta pendapat.

Vanya ketawa.

"Lumayanlah!"

Eko jadi penasaran.

"Selevel nggak sama Winona Ryder?"

Lagi-lagi Vanya ketawa.

"Ya nggak dong! Eh, tapi dia beberapa level kok di atas..."

"Siapa, Nya?" tanya Eko dan Yadi penuh semangat.

"Inah, pembantu tetangga!"

Habislah Vanya ditinju dua makhluk cowok yang suka lupa kodrat temannya. Vanya cuma bisa pasrah. Cengar-cengir menahan sakit. Salah Vanya sendiri kelewat berbaur dengan para cowok penggemar batu. Akibatnya dia selalu mendapat perlakuan "adil" dari teman-temannya.

Bu Dosen Inggris yang centil (karena hobinya pakai baju ala ikan duyung. Itu Iho, gaun model terusan dengan rumbai-rumbai panjang di bagian bawahnya. Memang kebangetan deh Bu Dosen yang satu ini. Penampilannya selalu mengundang komentar para mahasiswanya. Kalo nggak pake rok mini, ya pake gaun aneh-aneh kayak ikan duyung. Rasanya gaun ikan duyung ini favoritnya. Soalnya dia punya lima biji dengan warna berbeda) memasuki ruangan sambil melempar senyum kanan-kiri. Wauww... serasa artis! Tapi awas jangan coba-coba senyam-senyum saat dia mulai mengajar! Bisa langsung nggak lulus!

Seperti nggak memedulikan Bu Dosen, Eko menarik-narik tangan Vanya. "Pindah dekat si kece yuk!" Yang ditarik sebenarnya agak sebel juga. Tapi Vanya cepat maklum, temannya itu sedang berburu "barang bagus". Jadi Vanya mesti toleran. Soalnya kalo teman-teman cowoknya itu ketemu cowok keren, mereka selalu kasih informasi lengkap ke Vanya. Pokoknya simbiosis mutualisme la yaaow! Dan lagi, senang juga kok dia menyaksikan teman-temannya berburu. Gaya mereka "norak-norak bergembira"! Norak tapi kocak!

Dan setelah dijanjiin bakal dipijit kakinya sepulang kuliah nanti, Vanya mau ikutan Eko pindah ngedeketin si Bio kece. Yadi diem-diem, bak Hunter mau mergokin penjahat, ngikutin dari belakang. Hihihi, lucu. Mereka jadi iring-iringan kayak upacara di Bali. Tapi karena takut ketauan Bu Dosen, kepala mereka jadi timbul-tenggelam di antara lautan mahasiswa yang lagi tekun ngedengerin kuliah. Semenit muncul di ujung sana, menit berikutnya udah di tengah-tengah. Vanya ngeluarin jurus gerilyanya yang ia pelajari waktu ikut jerit malam di SMA dulu.

Seru juga berburu cewek bareng-bareng begitu. Kalo sama-sama ditolak, sakitnya nggak terasa.Tapi kalo salah satu dapet respons, biasanya mereka buru-buru mencari sasaran baru lagi. Yang kasian ceweknya. Pertama-tama dikejar, pas udah ge-er dicuekin. Tapi konon itulah seninya berburu cewek.

"Hai," tegur Eko sok akrab pas udah nyampe di belakang si Bio. Si Bio tersenyum dikit. Tapi itu aja sempet bikin Eko menggelepar-gelepar. "Saya disenyumin, Nya! Kamu liat, kan?" bisik Eko dengan perasaan selangit.

"Nggak!" jawab Vanya singkat.

"Ah, tepu! Ayo, akuilah kalo gue disenyumin!"

Vanya akhirnya mengangguk. Soalnya Eko udah siap-siap mau mentung.

Giliran Yadi yang cemberut. Soalnya dia kalah set sama Eko. Vanya jadi geli memandang wajah Yadi yang merengut. Langsung aja Vanya menyulut, "Gimana tuh, Di? Masa kalah?"

Merasa tertantang, Yadi dengan nekatnya langsung main colek plus kitik-kitik si gadis Bio yang duduk tepat di depannya. "Eh, abis kuliah nanti saya pinjem, ya, catetannya? Minggu lalu saya nggak masuk sih!"

Si Bio sempet melongo menyaksikan kenekatan Yadi. Untung anaknya ramah. Buru-buru dia mengangguk sebelum Bu Dosen menimpuknya dengan kapur. Emang agak keterlaluan juga Bu Dosen itu. Hobinya main timpuk-timpukan kapur. Gimana mahasiswanya mau dewasa? Kuliah kayak perang kapur.

Ngeliat Yadi sukses, giliran Eko yang manyun.,

"Yaaa, Ko, keduluan deh sama Yadi," ledek Vanya.

"Siapa bilang?!" Eko melotot. Buru-buru ia menulis sesuatu pada secarik kertas kecil. Lalu dengan gerakan maling, dilemparkannya kertas itu ke arah si Bio. Tuk! Tepat kena kepala si Bio. Si Bio langsung menoleh dengan muka galak. Eko pucat karena kaget. Yadi dan Vanya cekikikan.

"Eeh, i-itu tadi surat...," ujar Eko ketakutan.

Berkat tampang Eko yang innocent dan lumayan imut, si Bio jadi urung marah. Malahan ia mengambil surat yang dilempar Eko dengan perasaan sedikit ge-er. Iyalah. Jangan-jangan itu surat cinta. Tapi perasaan ge-er-nya cepat ilang begitu membaca tulisan cakar ayam di dalamnya. “Anak manis, saya boleh ikutan pinjem catetan kamu?” Si Bio tersenyum kecil, lalu menulis di bawah tulisan Eko: Boleh, cakar ayam!

Lalu si Bio melempar surat itu tanpa menoleh ke belakang. Walhasil tepat masuk ke mulut Vanya yang menguap karena kantuk.

Vanya langsung terbatuk-batuk. Giliran Yadi dan Eko yang ketawa-ketawa.

"Sial! Sial! Kalian yang mulai, aku yang ketiban sial!" omel Vanya.

Eko bukannya prihatin, malah buru-buru merebut gulungan surat si Bio dad tangan Vanya. Lalu membaca. Lalu hatinya berbunga-bunga. Langsung aja ia menyobek kertas lagi.

Vanya melotot melihat kenekatan Eko.

"Ko, udah dong. Jangan keterusan noraknya. Nanti saya lagi jadi korban. Lagian kalo ketauan Bu Dosen, malunya amit-amit. Saya nggak bakal mau ngaku jadi temen kamu!"

"Iya niiih! Eko sih pengen malu. Biar ngetop tuuuh!" sahut Yadi merasa dapat angin dari Vanya. Dia sewot banget melihat kesuksesan rivalnya.

Eko merobek kertas kecil yang udah siap dia tulis dengan dongkol.

Vanya jadi ingat zaman dia penataran. Surat-suratan sama Java, si kece dari Peternakan. Awalnya hampir sama. Norak-norak konyol! Tapi belakangan malah bikin Vanya terharu. Iya, soal Judith yang naksir Java dari SMA tapi dicuekin. Kasian Judith. Sementara Java sendiri termasuk cowok yang nggak tegaan. Gara-gara Vanya persoalan mereka bisa selesai. Secara nggak sengaja Vanya telah membukakan mata hati Judith. Menyadarkan dia bahwa cinta nggak bisa dipaksakan. Soal dia yang jadi suka sama Vanya, sempat bikin bingung juga. Tapi untungnya Java cowok yang baik. Dia juga nggak mau memaksa Vanya menyukainya.. Karena Java sendiri sudah mengalami betapa perasaan itu nggak bisa dipaksakan.

Itu soal surat-suratan sama Java. Tapi ketika acara kuliah Inggris minggu lalu, Vanya betul-betul puas ngerjain Wisnu. Wisnu itu ketua Ikatan Mahasiswa Teknik Fisika. Anaknya superkalem. Pendiam sekaligus pemalu. Lucunya, dari gosip-gosip yang beredar di antara anak Fisika, Wisnu naksir Vanya! Ketika ditanya komentarnya, Vanya cuma ketawa. Dia bilang, "Nggak mau, ah, sama Wisnu! Kalo saya ngomong sendiri, nanti dibilang nggak waras...."

Kisahnya, saat kuliah Inggris minggu lalu gerombolan Geologi terlambat datang. Tempat strategis buat ngobrol dan nggak ketahuan dosen sudah diduduki jurusan lain. Yang masih lowong adalah bangku-bangku deretan agak depan. Di belakang gerombolan Fisika.

Begitu Vanya duduk, terdengar suara bisik-bisik di sekitarnya. Rupanya anak Fisika yang ribut lihat Vanya duduk tepat di belakang bangku Wisnu. Eko, Yadi, dan gerombolan Geo lainnya ikutan ribut "mengompori" Vanya. "Ayo, Nya! Kapan lagi ada kesempatan emas kayak begini! Kamu aja yang mulai duluan.... Sekarang kan zaman emansipasi!"

Vanya senyum-senyum. Dia memang paling nggak tahan dipanas-panasi kayak begitu. Jiwa jailnya mendadak kumat. Dituliskannya beberapa kata pada sepotong kertas kecil. Lalu dilemparkannya ke depan. Jatuh tepat di sebelah buku catatan Wisnu.

"Waduh, Nu! Masa keduluan sama cewek?" goda teman-teman Wisnu. "Ayo dong, Nu, dibales!" Wisnu hanya tersenyum tipis. Kemudian pura-pura menyibukkan diri dengan catatan-catatannya. Kertas Vanya sama sekali nggak disentuhnya. Gerombolan Geo jadi lepas kontrol, mereka ketawa keras-keras meledek Vanya, "Yah, dicuekin, Nya! Patah hati deh kita...." Sampai akhirnya sebuah timpukan kapur menghentikan tawa mereka.

"Ya, deretan itu, semuanya maju! Kerjakan soal!" teriak Bu Dosen galak.

Gerombolan Geo langsung terdiam. Tak satu pun yang bergerak maju.

"Ayo, cepat! Kalian yang jemur gigi itu!!!"

Akhirnya sederetan anak Geo maju ke depan mengerjakan soal. Nggak terkecuali Vanya. Malahan Vanya mendapat bonus omelan panjang dalam bahasa Inggris. Untung Vanya nggak begitu pintar bahasa Inggris. Jadi omelan Bu Dosen nggak dimengertinya. Coba kalo Vanya ngerti, bisa ngamuk! Soalnya Bu Dosen bawa- bawa nama ibu Vanya segala. Katanya, kalo ibu Vanya tahu anak perempuannya jadi liar begini, lebih baik dulu nggak usah dilahirkan. Nggak perlu disekolahkan tinggi-tinggi. Percuma saja. Lalu dia juga mencurigai, jangan-jangan Ibu Vanya juga liar seperti anaknya. Wah, kalo saja Vanya mengerti!

Selesai menjalankan hukuman, Vanya dan teman-temannya kembali ke tempat duduk. Bu Dosen mulai memeriksa pekerjaan mereka satu per satu. Dan Bu Dosen kelihatan begitu senang kalo menemukan suatu kesalahan. Kesalahan-kesalahan itu jadi sasaran empuknya sebagai alasan untuk mengomel panjang-lebar. Tapi betapa kesalnya dia ketika nggak menjumpai satu kesalahan pun pada pekerjaan Vanya. Tiba-tiba matanya berbinar-binar gembira setelah meneliti kalimat yang dibuat Vanya ternyata nggak diberi titik. Mulailah dia berkhotbah panjang-lebar mengenai titik. Yus Badudu aja lewat!

Gerombolan Geo mulai ribut lagi. Tapi nggak seribut sebelum ditimpuk kapur. Vanya betul-betul geli melihat gaya Wisnu yang pura-pura cuek pada gulungan kertas di sebelah bukunya. Dibaca nggak, dibuang juga nggak! Sampai kuliah berakhir Wisnu tetap nggak menyentuh kertas Vanya. Tapi begitu akan keluar ruangan, sekilas Vanya sempat melihat Wisnu menyelipkan gulungan kertas itu ke dalam buku catatannya. Vanya jadi nggak enak sendiri. Dia geli sekaligus kasihan sama Wisnu. Soalnya di kertas kecil itu Vanya cuma menulis, ,

“Wisnu yang baik, tolong buangin kertas lnl,

ya? Makasih!

Vanya”

Vanya masih ingat, waktu dia menceritakan tingkahnya mempermainkan Wisnu, reaksi yang paling sengit diperlihatkan Iril. Iril bilang, Vanya nggak boleh seenaknya saja mempermainkan hati Wisnu. Itu namanya pelecehan seksual. Bisa kualat. Suatu saat nanti bisa berbalik. Vanya yang dipermainkan hatinya oleh orang lain. Vanya jadi tersenyum sendiri mengingat semuanya.

Sementara Vanya melamun, dua cowok di sebelahnya nggak sabar menunggu kuliah berakhir. Dan begitu Bu Dosen turun dari mimbar, buru-buru mereka mencegat si Bio manis.

"Catetan kamu lengkap, ya?" Eko berbasa-basi.

Si Bio tersenyum kecil. Lalu mengangsurkan catatannya pada Yadi.

"I.G.A. Indrawati. Wah, I Gusti Ayu! Orang Bali, ya?" tanya Yadi.

Dia cuma mengangguk sedikit. Bikin gemes!

"Kita mesti panggil apa nih? Gusti, Ayu, Indra, atau Wati?" cerocos Eko betul-betul sok akrab.

"Indra aja!"

"O iya, In, minggu depan kita kayaknya mau bolos nih! Kembaliin bukunya ke mana, ya?"

Yadi mulai memasang jerat. Sementara Eko terkagum-kagum menyaksikan gaya temannya mencari informasi langsung alamat Indra.

Indra kelihatan heran sekaligus bingung. Dia sama sekali nggak menyangka cowok-cowok di depannya merencanakan bolos minggu depan. Masih terbingung-bingung, tiba-tiba Vanya yang sejak tadi diam mengikuti semua pembicaraan nyeletuk dengan polosnya,

"Titip ke saya aja, Di.... Saya masuk kok minggu depan!"

Mau rasanya Eko dan Yadi menimpuki Vanya. Tapi berhubung Indra masih di depan mereka, niat itu nggak tercapai. Setelah berbasa-basi sebentar, Indra berlalu. Yadi dan Eko langsung bersikap cuek Serasa nggak ada makhluk yang berjudul Vanya di dekat mereka. Dengan tenangnya mereka meninggalkan Vanya yang terbengong-bengong. Mendadak Vanya sadar telah membuat kesalahan besar. Buru-buru dia menyusul Eko dan Yadi sambil menjerit-jerit,

"Diii! Koo...!! Maafin saya! Saya bener-bener nggak tau! Saya nggak sengaja!!! Itu trik kalian, ya? Bilang-bilang kek. Saya kan masih polooos!"

Tapi dua cowok itu tetap cuek dan menjalankan aksi tutup mulut selama tiga hari. Iih, tega!

Bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar