Kamis, 10 Januari 2013

Kenduri Karet (Chapter 8)


Chapter 8
Cemburu

VANYA nggak ingat lagi bagaimana asal mulanya dia jadi sering jalan bersama Fajar, keponakan Tante Elok, tetangga tempat kosnya. Fajar statusnya pengangguran terselubung. Kuliah sipilnya sebenarnya sudah selesai, tapi nyusun skripsinya nggak beres-beres. Kesannya jadi luntang-lantung nggak ada gawe. Kuliah nggak, kerja juga nggak. Kegiatan sehari-harinya sekarang ya berkunjung ke dosen pembimbing. Sudah mencapai rumah sang dosen dengan penuh perjuangan. (Bersidesak dengan penumpang angkot lainnya. Artinya, selalu diteriaki, "Genep opat, genep opat!" Pokoknya penumpang di belakang harus sepuluh orang, enam ditambah empat plus seorang kenek.) Setiap kali datang diberi ceramah gratis yang isinya maki-maki, lalu pulangnya masih dioleh-olehi draft skripsi yang full corat-coret. Ya namanya juga mahasiswa!

Fajar di antara anak kos dikenal sebagai makhluk yang cukup ngocol. Kadar kesupelannya kelewat tinggi, hingga terkadang berkesan sok akrab. Sebetulnya dia itu lumayan kocak juga. Cuma gara-gara Fajar terlalu sering mengulangi cerita lucunya, tanggapannya jadi menyedihkan. Habis lawakannya jadi nggak lucu lagi! Garing. Tapi buat sekadar teman ngobrol, daripada nggak ada yang bisa diajak ngobrol, Fajar lumayan lah!

Biasanya kalo berkunjung ke tempat kos, Fajar nggak pernah milih-milih. Dia tinggal lihat di buku absen yang selalu tergeletak di ruang tamu. Siapa yang sedang ke luar kota, siapa yang kuliah, siapa yang nganggur. Fajar dengan sukarela berkunjung ke salah satu penghuni kos yang nganggur. Para penghuni tempat kos biasanya nggak pernah keberatan dikunjungi Fajar. Daripada terbengong-bengong sendirian, lawakan garing Fajar ternyata cukup menghibur. Bahkan Tante Kos juga sering diajaknya ngobrol. Tante Kos yang pada dasarnya baik (ibu kos Vanya ini murah senyum banget. Dia cuma sesekali cemberut rutin setiap bulan, kalo anak kosnya telat bayar kos. Makanya anak-anak kos jadi rada liar... ngelunjak siih!) menjadi semakin baik dan semakin murah senyum kalo Fajar datang. Soalnya Fajar suka membawa sogokan kue-kue kecil buatan Tante Elok. Fajar membawa kue-kue tersebut dengan harapan Tante Kos tidak merasa terusik oleh kedatangannya yang kelewat sering. Tante Kos selalu terkejut (atau pura-pura ya?) menerima kue yang dibawa Fajar. Dengan sambutan, "Aih, Nak Fajar! Pake repot-repot. Padahal yang kemaren juga belum abis Iho! Tumben pisan! aya hajat naon?" Padahal Fajar sudah rutin membawa kue-kue seperti itu.

Tante Kos nggak tahu, Tante Elok suka ngomel-ngomel karena kue yang dibuatnya terbatas untuk orang rumah, selalu diangkut Fajar ke temp at kos. Putra, anak tunggal Tante Elok sendiri, nggak pernah berbuat senekat itu. Ya jelas dong, masalahnya cowok yang digandrungi Iril ini tergolong manusia kuper. Jadi nggak mungkin banget dia berbuat sesok akrab sepupunya itu.

Hari-hari belakangan ini Fajar mulai milih-milih kalo bertamu. Penghuni kos yang bernasib malang dipilih oleh Fajar ternyata Vanya.

Hampir setiap hari Fajar datang ke tempat kos untuk sekadar ngobrol-ngobrol. Sering kali dia datang membawa cokelat-cokelat mahal buat Vanya. Fajar hafal betul kelemahan Vanya yang satu ini. Vanya nggak bisa menolak cokelat! Apalagi dapat gratis! Teman satu kosnya suka ngeledek kalo di wajah Vanya yang innocent itu nongol jerawal. "Iih, anak kecil jerawatan!" Tapi Vanya selalu cuek saja. Prinsipnya, lebih baik jerawatan daripada nggak makan cokelat!

Kalo tanggung buIan Vanya suka sedih. Soalnya dia nggak mampu membeli cokelat dan nggak ada orang yang mau berbaik hati memberinya cokelal. Itu dulu, waktu Fajar belum menjadi tamu rutin Vanya. Sekarang, biar tanggung bulan, Vanya masih bisa foya-foya makan cokelal. Iya, cokelat sogokan Fajar!

Gosip mulai melanda tempat kos, Vanya akan "jadi" sama Fajar! Anehnya yang jadi bahan gosip malah tenang-tenang saja. Cuek. Sementara anak kos sibuk menggodanya, Vanya cuma cengar-cengir. Cuma satu orang yang tahu persis bahwa di balik sikap cueknya, Vanya bingung menghadapi Fajar. Iya, cuma Tita yang tahu!

"Kamu tau, Ta, sebelumnya saya nggak pernah ketemu cowok kayak Fajar." Vanya mulai mencurahkan isi hati pada tetangga sebelah kamarnya, Tita. "Fajar anaknya biasa-biasa aja, tapi begitu baik...."

"Begitu baik, Nya? Dikasih apa aja kamu?" Suara Tita kedengaran begitu sinis.

Untung Vanya nggak tanggap. Seperti biasa, anak itu emang kelewat nggak peka sama yang berbau-bau cinta. Vanya malah langsung dengan bangganya cerita bahwa Fajar pernah dengan sukarela mengantar-jemput kuIiah. Berarti kan bisa irit ongkos. Terus menemani Vanya berburu "barang antik" di pasar loak Jatayu. Sampai seluruh toko disamperin dan diaduk-aduk. Waktu penjualnya ngomel-ngomel, karena Vanya bak tikus kecil membuat liang tanah yang membongkar-bongkar barang tanpa beban untuk membeli, Fajar menyediakan dirinya untuk jadi tumbal diomel-omelin.

Fajar juga sering mengajari Vanya gambar teknik. Dan yang paling membuat Vanya terharu, Fajar menyediakan diri untuk menjemput Vanya di Terminal Kebon Klapa! Setiap menit Fajar harus memasang mata, mencari penumpang semungil Vanya di antara berpuluh-puluh penumpang bus antarkota. Bayangkan! Ibarat mencari jarum di tumpukan jemari, eh, jerami, kan?

"Karena semua itu kamu merasa dia baik?" Tita hampir nggak bisa menahan perasaannya. "Vanya, masa kamu nggak sadar kalo Fajar begitu karena ada maunya? Dulu dia nggak pernah sebaik itu, kan? Dulu dia ngocol banget, tapi kelakuannya wajar, nggak dibuat-buat!"

Vanya jadi agak tersinggung.

"Ta, jadi kamu pikir kelakuan Fajar dibuat-buat? Iya?" sahut Vanya ketus.

Tita tersenyum.

"Itu sih terserah penilaian kamu...."

Vanya langsung membanting pintu kamar Tita. Anak kecil itu ngamuk berat! Tita jadi begitu heran menyaksikan perubahan yang terjadi pada Vanya. Tita tahu, nggak sedikit cowok yang naksir Vanya. Tapi Vanya biasanya cuek saja. Nggak pernah menanggapi. Tita ingat, Vanya pernah bilang paling sebel dapat salam dari cowok-cowok yang suka padanya, "Salam-salam melulu! Apa nggak ada kerjaan lain selain kirim salam? Kirim wesel kan bisa!" omel Vanya termanyun-manyun. Dan di kampus kalo teman-temannya mulai ngeledek, "Nya, kamu ada yang nanyain tuh!" Biasanya Vanya dengan cueknya menjawab, "0 ya? Tanyain balik deh!"

Vanya memang tergolong makhluk yang kurang menyukai basa-basi. Apalagi dalam urusan yang satu itu. Vanya bilang, teman-teman cowoknya di Jakarta jauh lebih baik dari yang sekarang. Mereka kalo naksir langsung to the point. Tanpa basa-basi. Tanpa kirim-kiriman salam. Mereka datang ke rumah Vanya sendirian. Nggak pakai acara bawa teman. Bersikap begitu jantan. Tanpa bahasa bunga, tanpa ngelantur ke mana-mana. Bicara langsung dan terus terang. Dan mereka tetap bersahabat meskipun sikap terus terangnya ditolak Vanya. Sayang memang! Tapi mau gimana lagi?

Vanya sendiri merasa belum sreg untuk berpacaran ria. Dia masih betah mengumpul-ngumpulkan teman cowok. "Biar pandangan kita dalam soal cowok nggak sempit!" kata Vanya sok tua. Prinsipnya, jangan bersikap pura-pura menerima padahal hatinya bilang nggak. Itu nantinya akan lebih menyakitkan lagi. Tapi ya ada betulnya juga. Untung teman-teman Vanya yang pernah ditolak nggak sakit hati. Paling mereka cuma ngedumel, "Yah, cinta gue ditolak Vanya!" Begitu saja. Dan paling komentar teman-temannya, "King Kong lu lawan!"

Hihihi, masa makhluk semungil Vanya disamain sama King Kong?

PukuI tujuh pagi. Masih terlalu pagi buat Vanya memulai kegiatan bangun dari tempat tidur. Apalagi hari ini nggak ada kuliah. Tapi suara ribut-ribut di depan pintu kamarnya memaksa dia turun dari singgasananya.

"Nya! Bangun, Nya! Jangan ngebo melulu!"

Dengan langkah terhuyung-huyung kayak drunken master, Vanya membuka kunci kamar. Belasan cewek berkostum daster senyam-seriyum di depan pintu Vanya.

"Ada apaan siih?" tanya Vanya kesal. Rasanya rugi berat membukakan pintu buat cewek-cewek belum mandi ini. Ehh, Vanya sendiri juga belum mandi siih! Tapi pokoknya sebel saja. Lain masalahnya kalo yang menggedor pintu kamarnya Tom Cruise. Biar si Tom belum mandi, masih bisa dimaafkan!

"Met ulang taon!" Tita mencium pipi Vanya. Diikuti Nana, Tiur, Via, Dani, Iril, dan anak-anak kos lainnya. Vanya panik menerima serbuan bertubi-tubi itu. Pada masih bau kok main selepot pipi! Tega, iih!

Nana ketawa sambil mengacak-acak rambut Vanya yang awut-awutan. Poni semua!

"Umur kamu jadi berapa, Nya?" tanya Nana geli.

"Lima belas kayaknya," sahut Vanya asal-asalan.

"Jalan sepuluh tahun, yah!" Tita memonyongkan bibirnya. "Jangan percaya, Na! Tahun lalu Vanya juga ngaku lima belas! Maunya muda terus... curang, ah!"

"Tapi saya percaya aja, Ta! Lha wong kalo dipakein rok biru tua, Vanya nggak ada bedanya sama anak SMP!" bela Dani.

"Anak SMP? Enak aja! Gurunya baru pantes!" Tita makin sewol. Tetangga kamar Vanya ini memang paling keki kalo ada yang menyinggung-nyinggung ke-babyface-an Vanya. Ngga tahu kenapa kok dia sirik bangel. Mungkin karena Tita sadar kalo wajahnya dewasa banget dibanding wajah Vanya. Tiap jalan-jalan bareng Vanya, semua orang selalu mengira Tita itu babysitter Vanya. Gimana nggak gondok?

Vanya cengar-cengir bego.

"Idiih, kok pada ngerepotin umur siih? Iya deh, saya kasih tau niih... umur saya sembilan belas. Puas?"

"Tuh kan tua!" ledek Tita dengan penuh perasaan. Anak kos lain ikutan ketawa-ketawa dengan suara serak. Wah, kalo cowok-cowok mereka mendengar bunyi nggak enak itu bisa terjadi acara putus massal! Soalnya selain penampilan mereka yang amit-amit, kor ketawanya juga nge-bass banget!

Tiba-tiba Vanya ingat sesuatu.

"Eh, kok nggak bawa kado?"

"Huuuu...!" sekali lagi kor serak itu berbunyi.

"Ge-er amat siih!" IriI sebel. "Asal tau aja, nggak ada anak yang kasih iuran buat kado kamu!"

Vanya nyengir.

"Duilee, jahat amat! Cepetan deh pada bayar iuran! Biar bendahara kita bisa beli kado buat saya."

"Sori deh, Nya, gue bokek niih!"

"Uang kos aja belon kebayar!"

"Mending nyumbang buat fakir miskin deh!"

"Nggak ada kado-kadoan!"

Dan masih banyak lagi komentar bernada menentang permintaan Vanya. Kasian Vanya terbengong-bengong mendengar protes teman-temannya.

"Ya udah deh... terserah! Nggak ada kado ya nggak ada makan-makan!" kata Vanya lalu masuk ke kamarnya lagi dan mengunci pintu.

"Vanya curang!"

"Iya niih, licik! Biasa!"

"Nya, makan-makan dong! Jahat, iih!"

Tapi Vanya cuek bebek saja. Malahan naik ke tempat tidur untuk melanjutkan acara mimpinya yang terpotong.

Sore harinya anak-anak Seni Rupa (SR), teman Vanya, datang ke tempat kos. Senimanseniman ini selalu punya kejutan manis buat Vanya. Mereka sekarang memberi kado hiasan meja dari kulit yang dipenuhi karikatur kocak bergambar Vanya. Di pojok bawah ditulisi huruf hias, Selamat ultah, Vanya manis! dari kita-kita: ari, igun, hiro.

Anak-anak SR itu kocak semua. Mereka ngobrol sambil ketawa-ketawa terus. Tita yang biasanya merasa terganggu kalo ada tamu-tamu Vanya yang ribut, kali ini tidak. Soalnya yang muncul trio SR yang nyeni dan "lucu-lucu". Tita malahan mondar-mandir keluar-masuk kamar, lalu nimbrung ngobrol begitu diajak Vanya.

Vanya penuh pengertian kok. Dia tahu betul Tita pengen punya cowok anak SR. Vanya sendiri lebih memilih temenan daripada pacaran sama anak SR. Dia sealiran sih sama mereka. Sama-sama cuek!

Sedang asyik-asyiknya ngobrol, tiba-tiba Fajar datang dengan seikat mawar merah di tangannya. Iih, romantis amat! pikir Tita. Melihat kedatangan Fajar, setelah berbasa-basi sejenak, Ari cs. pamit pulang. Tita jadi agak kesal juga sama Fajar. Soalnya dia masih betah banget ngobrol. Gara-gara Fajar, obrolan mengasyikkan itu harus berakhir. Sebel!

Vanya mengantarkan anak-anak SR itu sampai pintu pagar tempat kos. Begitu Vanya kembali buat menemani Fajar, dia sangat heran menyaksikan tampang Fajar yang terlipat tiga belas. Suntuk banget!

"Saya balik, Nya!" kata Fajar pelan. Mawar merah buat Vanya dilemparkan ke atas meja.

Vanya bengong.

"Kamu kesambet apa, Jar?"

Fajar diam saja. Dia cuma menatap Vanya sekilas. Lalu ngeloyor pergi tanpa pamit.

Vanya tambah bengong. Tita yang menyaksikan semua adegan aneh di depan matanya nggak bisa lagi menahan ketawa.

“Nya, dia cemburu!"

Seperti baru bangun tidur, Vanya melotot kaget.

"Yang bener, Ta?"

Tita mengangguk sambil terus ketawa.

Baru kemudian Vanya ngomel-ngomel sendiri, “Iih, cemburu, Ta? Amit-amit!!! Norak banget! Who does he think he is! Memangnya dia tuh siapa? Dia nggak punya hak buat cemburu! Bukan apa-apa saya kok cemburu. Kampungan!"

"Gimana kalo jadi pacar ya, Nya. Tiap saat pasti ngambek liat kamu temenan begitu akrab sama cowok-cowok di kampus.... Geologi tea! Surplus cowok!" saut Tita geli.

Vanya manggut-manggut setuJu.

"Iya, Ta!" Vanya begitu sewol. "Huhh! Nggak bakalan saya mau jadi pacarnya! Nggak akan. Enak aja! Saya nggak akan ninggalin temen-temen cuma karena dia. Saya nggak akan begitu

Bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar