Senin, 28 Mei 2012

Manusia Paku (Chapter 10)


Tempat itu sunyi seketika. Kim Tae Hee bangkit dari peti yang didudukinya. Dia berpaling kepada muridnya. “Kurasa tugasku sudah selesai. Selanjutnya kuserahkan kepadamu. Park Shin Hye masih hidup. Kau tahu apa yang harus dilakukan…”

Dengan ujung tongkat, Kim Tae Hee mengetuk-ngetuk peti besi di dekatnya. “Aku yakin ada sesuatu yang sangat berharga dalam peti ini. Kalau kau tidak berkesempatan mengurusnya, serahkan kepada Kim So Eun untuk membantu!” Lalu Kim Tae Hee berpaling kepada Kim So Eun. “Sampaikan salam hormatku kepada gurumu. Katakan aku tidak dapat menyambanginya. Aku harus cepat-cepat kembali ke puncak Gunung Gyeryongsan. Dunia luar ini menyesakkan nafas dan dadaku karena sudah terlalu kotor!”

Kim So Eun hanya menunduk tidak berani menatap wajah Kim Tae Hee dan menjawab dengan anggukan kepala.

“Aku pergi sekarang…”

“Guru! Ada yang mau aku tanyakan…” Kim Bum cepat berkata.

Kim So Eun ikut menimpali. “Benar, aku pun ada sesuatu yang ingin dipertanyakan. Sekalian menyampaikan pesan dari guruku….”

Kim Tae Hee seperti sudah tahu apa yang akan ditanyakan oleh kedua anak muda itu, yakni menyangkut perjodohan mereka yang terkatung-katung sejak lama. Setelah batuk beberapa kali Kim Tae Hee berkata. “Kalian semua dengarlah. Aku sudah tahu apa yang mau kalian sampaikan. Saat ini sebaiknya menyelesaikan urusan besar daripada membicarakan masalah ini. Biar aku sendiri yang akan menemui Song Seung Hun untuk menuntaskan persoalan kalian!” Setelah berkata seperti itu Kim Tae Hee berkelebat pergi.

Kim So Eun berpaling pada Kim Bum dan berkata. “Kau dengar, dia akan menemui guruku untuk membicarakan kita? Aku yakin sampai sepuluh tahun ke depan, ia tidak akan melakukannya. Kalaupun bertemu guru pasti ada saja alasannya untuk tidak membicarakannya!”

Kim Bum tidak bisa memberi jawaban apa-apa. Kemudian baik Kim So Eun dan Kim Bum sama-sama menyadari Jung Yong Hwa tidak ada lagi di tempat itu.

“Kemana dia?”

“Kurasa mengejar Park Shin Hye,” jawab Kim So Eun.

“Bagaimana kau bisa tahu?”

“Dendam kesumatnya kepada perempuan iblis itu setinggi langit sedalam lautan. Dia membunuh calon istrinya sendiri akibat pengaruh jahat Park Shin Hye. Yang di sana itu makamnya….”

“Dia pantas membalas dendam, tapi aku rasa ilmu kesaktiannya tidak sehebat dulu lagi. Dia akan dibunuh oleh Park Shin Hye semudah membalik telapak tangan. Aku harus mengejar dan menolongnya, tapi kemana?”

“Ke tempat kau pernah disekap dulu,” ujar Kim So Eun.

“Tempat itu sudah hancur porak poranda….”

Kim So Eun berpikir sebentar. “Jung Yong Hwa pernah bercerita bahwa Park Shin Hye punya tempat di sebuah pegunungan Batu Pualam di Laut Selatan. Tempatnya tidak jauh dari Mokpo….”

“Mokpo, aku tahu tempatnya. Aku akan mengejar ke sana!” Kim Bum mengambil keputusan.

“Tunggu dulu! Bagaimana dengan peti itu?” tanya Kim So Eun.

“Peti itu? Eh, itu menjadi urusanmu!” jawab Kim Bum.

“Enak saja! Dari pada berat-berat membawanya lebih baik ditinggal saja…”

Kim Bum memandang peti itu. Dia lalu melangkah mendekati peti itu. Dengan sebuah batu gembok pengunci peti dibukanya. Ketika tutup peti terbuka, terlihat tumpukan batangan emas memancarkan sinar kuning benderang. “Setelah tahu isinya, kau masih mau meninggalkan peti besi ini di sini?” tanya Kim Bum sambil tertawa, lalu tanpa menunggu jawaban Kim So Eun dia berkelebat cepat ke arah barat.

Bersambung…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar