Senin, 28 Mei 2012

Manusia Paku (Chapter 10)


Tempat itu sunyi seketika. Kim Tae Hee bangkit dari peti yang didudukinya. Dia berpaling kepada muridnya. “Kurasa tugasku sudah selesai. Selanjutnya kuserahkan kepadamu. Park Shin Hye masih hidup. Kau tahu apa yang harus dilakukan…”

Dengan ujung tongkat, Kim Tae Hee mengetuk-ngetuk peti besi di dekatnya. “Aku yakin ada sesuatu yang sangat berharga dalam peti ini. Kalau kau tidak berkesempatan mengurusnya, serahkan kepada Kim So Eun untuk membantu!” Lalu Kim Tae Hee berpaling kepada Kim So Eun. “Sampaikan salam hormatku kepada gurumu. Katakan aku tidak dapat menyambanginya. Aku harus cepat-cepat kembali ke puncak Gunung Gyeryongsan. Dunia luar ini menyesakkan nafas dan dadaku karena sudah terlalu kotor!”

Kim So Eun hanya menunduk tidak berani menatap wajah Kim Tae Hee dan menjawab dengan anggukan kepala.

“Aku pergi sekarang…”

“Guru! Ada yang mau aku tanyakan…” Kim Bum cepat berkata.

Kim So Eun ikut menimpali. “Benar, aku pun ada sesuatu yang ingin dipertanyakan. Sekalian menyampaikan pesan dari guruku….”

Kim Tae Hee seperti sudah tahu apa yang akan ditanyakan oleh kedua anak muda itu, yakni menyangkut perjodohan mereka yang terkatung-katung sejak lama. Setelah batuk beberapa kali Kim Tae Hee berkata. “Kalian semua dengarlah. Aku sudah tahu apa yang mau kalian sampaikan. Saat ini sebaiknya menyelesaikan urusan besar daripada membicarakan masalah ini. Biar aku sendiri yang akan menemui Song Seung Hun untuk menuntaskan persoalan kalian!” Setelah berkata seperti itu Kim Tae Hee berkelebat pergi.

Kim So Eun berpaling pada Kim Bum dan berkata. “Kau dengar, dia akan menemui guruku untuk membicarakan kita? Aku yakin sampai sepuluh tahun ke depan, ia tidak akan melakukannya. Kalaupun bertemu guru pasti ada saja alasannya untuk tidak membicarakannya!”

Kim Bum tidak bisa memberi jawaban apa-apa. Kemudian baik Kim So Eun dan Kim Bum sama-sama menyadari Jung Yong Hwa tidak ada lagi di tempat itu.

“Kemana dia?”

“Kurasa mengejar Park Shin Hye,” jawab Kim So Eun.

“Bagaimana kau bisa tahu?”

“Dendam kesumatnya kepada perempuan iblis itu setinggi langit sedalam lautan. Dia membunuh calon istrinya sendiri akibat pengaruh jahat Park Shin Hye. Yang di sana itu makamnya….”

“Dia pantas membalas dendam, tapi aku rasa ilmu kesaktiannya tidak sehebat dulu lagi. Dia akan dibunuh oleh Park Shin Hye semudah membalik telapak tangan. Aku harus mengejar dan menolongnya, tapi kemana?”

“Ke tempat kau pernah disekap dulu,” ujar Kim So Eun.

“Tempat itu sudah hancur porak poranda….”

Kim So Eun berpikir sebentar. “Jung Yong Hwa pernah bercerita bahwa Park Shin Hye punya tempat di sebuah pegunungan Batu Pualam di Laut Selatan. Tempatnya tidak jauh dari Mokpo….”

“Mokpo, aku tahu tempatnya. Aku akan mengejar ke sana!” Kim Bum mengambil keputusan.

“Tunggu dulu! Bagaimana dengan peti itu?” tanya Kim So Eun.

“Peti itu? Eh, itu menjadi urusanmu!” jawab Kim Bum.

“Enak saja! Dari pada berat-berat membawanya lebih baik ditinggal saja…”

Kim Bum memandang peti itu. Dia lalu melangkah mendekati peti itu. Dengan sebuah batu gembok pengunci peti dibukanya. Ketika tutup peti terbuka, terlihat tumpukan batangan emas memancarkan sinar kuning benderang. “Setelah tahu isinya, kau masih mau meninggalkan peti besi ini di sini?” tanya Kim Bum sambil tertawa, lalu tanpa menunggu jawaban Kim So Eun dia berkelebat cepat ke arah barat.

Bersambung…

Sabtu, 26 Mei 2012

Manusia Paku (Chapter 9)


Begitu orang yang memekik menampakkan diri, Jung Yong Hwa segera melompat ke hadapannya.

Ternyata yang muncul adalah Park Shin Hye. “Jung Yong Hwa! Apa yang terjadi dengan dirimu! Celaka!” Park Shin Hye berteriak keras dan mundur beberapa langkah ketika melihat keadaan Jung Yong Hwa yang ditancapi paku baja putih murni mulai dari kepala sampai ke kaki serta penuh gelimangan darah.

“Kekasihku...” ujar Park Shin Hye seraya mendekati Jung Yong Hwa sambil membuat gerakan hendak merangkul pemuda itu. “Kau dalam bahaya. Cepat ikut aku. Tinggalkan tempat ini...”

“Jung Yong Hwa!” Jang Geun Suk berteriak. “Cepat bunuh perempuan di hadapanmu! Jangan biarkan dia memelukmu!”

“Jung Yong Hwa!” Park Shin Hye balas berteriak . “Jangan dengarkan ucapannya! Kau adalah kekasihku! Kau harus tunduk dan patuh padaku! Ayo cepat pergi dari sini!”

Park Shin Hye yang hendak memeluk Jung Yong Hwa tertahan gerakannya ketika melihat bagaimana sepasang mata Jung Yong Hwa memancarkan sinar hijau berkilat. Wajah dan tubuhnya yang berpaku-paku dan tertutup darah ikut memancarkan sinar kehijauan. Itulah hawa dan tanda pembunuhan!

“Celaka! Paku-paku keparat itu benar-benar telah melumpuhkan otaknya! Kini dia hanya patuh pada perintah lelaki bertangan buntung itu! Sebaiknya kuhabisi dulu lelaki keparat itu!” Park Shin Hye mengebutkan lengan baju hijaunya.

Dua gelombang angin sedahsyat topan prahara menderu ke arah Jang Geun Suk. Jang Geun Suk cepat menyingkir. Namun lawan menyusul pukulan tangan kosong dengan satu hantaman jarak pendek. Baru saja dia mampu menghindar, tiba-tiba Park Shin Hye sudah berada di sampingnya melancarkan pukulan ke pelipis kirinya.

Jang Geun Suk mengumbar tawa. Berkelahi jarak dekat, justru ini maunya. Dia seperti membiarkan kepalanya dihantam pukulan lawan. Namun diam-diam tangan kanannya melesat ke perut Park Shin Hye, siap merobek dan mengeluarkan isi perut perempuan itu.

Park Shin Hye yang sudah tahu keganasan ilmu Jang Geun Suk tidak berlaku ayal. Dia menekankan kedua tumitnya ke tanah. Sesaat kemudian tubuhnya melayang ke atas. Dari rongga bawah pakaian hijaunya melesat keluar dua ekor ular hijau. Dua binatang jejadian itu langsung melesat ke arah Jang Geun Suk.

“Desss! Prakkk!”

Kepala ular hijau sebelah kanan hancur dihantam tangan sakti Jang Geun Suk. Namun dia tidak mampu menghantam ular kedua ataupun menghindar. Binatang itu mematuk ke arah matanya. Sesaat lagi mata kiri lelaki itu akan hancur menjadi satu lubang yang mengerikan, tiba-tiba dari samping ada dua larik sinar hijau menyambar. Ular hijau yang hendak mematuk mata Jang Geun Suk hancur berkeping-keping.

Park Shin Hye terpekik dan cepat bertindak mundur. Dadanya mendenyut. Dia memandang ke kiri dimana Jung Yong Hwa tegak dengan pandangan mata angker. Park Shin Hye tahu pemuda itulah yang barusan menyelamatkan Jang Geun Suk dengan semburan cahaya hijau sakti dari kedua matanya.

“Sialan! Aku tak mungkin bisa melawannya. Apalagi ada lelaki keparat itu di sini. Hari ini aku terpaksa mengalah. Aku terpaksa menyingkir! Kurang ajar!”

“Jung Yong Hwa! Cepat kau habisi perempuan itu!” teriak Jang Geun Suk ketika dilihatnya gelagat Park Shin Hye hendak melarikan diri.

Jang Geun Suk yang kini berada di bawah pengaruh dan kekuasaan Jang Geun Suk menggereng keras. Dengan satu kali lompatan saja dia sudah berada di hadapan Park Shin Hye.

Dia mengedipkan kedua matanya. Dua larik sinar hijau menyambar. Park Shin Hye melompat ke balik sebatang pohon seraya menghantam dengan tangan kanan.

“Wusss!”

“Braaak!”

Batang pohon besar hancur berantakan. Pohon tumbang dengan suara bergemuruh. Seluruh kulit sampai ke ranting serta daun-daunnya berubah hijau kehitaman.

“Kejar dia Jung Yong Hwa! Jangan sampai lari! Dia harus mati di tanganmu!” teriak Jang Geun Suk.

Di balik pohon yang tumbang, Park Shin Hye merobek pakaiannya di bagian perut. Ketika Jung Yong Hwa muncul di depan sana untuk mengejarnya, Park Shin Hye menggerakkan perutnya. Seekor ular hitam berkepala putih melesat keluar dari perut perempuan itu. Binatang jejadian itu kelihatannya memiliki panjang yang tidak terbatas karena tubuhnya terus memanjang sampai akhirnya mencapai tempat Jung Yong Hwa berada, sementara ekornya masih berada dalam perut Park Shin Hye!

“Wuuuuutttt!”

Kepala ular putih menyambar. Mulutnya mematuk ke wajah Jung Yong Hwa. Pemuda itu merunduk lalu membalik. Tangan kanannya berhasil menyambar tubuh hitam ular jejadian itu dan langsung mencengkeramnya. Ular hitam kepala putih menggeliat dan membalikkan kepalanya. Saat itulah Jung Yong Hwa mengedipkan kedua matanya.

“Wusss! Wussss!” Dua larik sinar hijau keluar.

Park Shin Hye menjerit panjang ketika melihat ular hitam kepala putihnya hancur lebur. Perutnya terasa panas. Ia memegangi perutnya. Sebelum Jung Yong Hwa datang mengejar, perempuan itu berkelebat lenyap meninggalkan tempat itu.

“Kejar dia Jung Yong Hwa! Cepat! Jangan biarkan dia lolos!” teriak Jang Geun Suk. Jung Yong Hwa segera berkelebat.

Namun saat itu ada dua bayangan menghadangnya. Satu seorang wanita. Satunya lagi seorang pemuda mengenakan pakaian berwarna putih. Kedua orang itu tak lain adalah Kim Tae Hee wanita sakti dari Gunung Gyeryongsan, dan Kim Bum.

“Jang Geun Suk! Ada yang coba menghadangku!” kata Jung Yong Hwa.

Jang Geun Suk telah melihat kehadiran kedua orang itu. Dia segera mengenali sang wanita, tapi tak mampu mengenali Kim Bum. Tanpa pikir panjang dia berteriak memberi perintah. “Singkirkan mereka, Jung Yong Hwa! Bunuh mereka!”

Jung Yong Hwa menggerang.

“Kim Bum! Cepat kau hantam dia dengan salah satu dari dua paku emas itu!” Kim Tae Hee berbisik.

“Aku memang sudah siap melakukannya, Guru! Tapi, bagaimana caranya aku menancapkan paku emas ini di telapak kakinya!” sahut Kim Bum sementara paku emas sudah berada dalam genggamannya.

“Kau pikirkan saja sendiri!” kata Kim Tae Hee setengah berteriak.

“Guru, aku minta kau menyerang lelaki buntung yang menguasai pemuda itu. Jung Yong Hwa pasti bertindak menolongnya. Aku akan cari kesempatan untuk menancapkan paku emas ini saat ia mengangkat kakinya...”

“Idemu kuterima!” jawab Kim Tae Hee sambil tertawa lalu dengan tongkat di tangannya dia menyerbu Jang Geun Suk.

“Wanita bodoh! Jauh-jauh dari Gunung Gyeryongsan kau datang hanya mencari mati!” teriak Jang Geun Suk seraya mengebutkan lengan baju kanannya.

Ujung tongkat di tangan Kim Tae Hee bergetar keras ketika dihantam angin tangkisan lawan. Kim Tae Hee ganda tertawa. Dia sengaja melepaskan tongkatnya. Selagi tongkat itu melayang ke atas, dia mencabut dua buah tusuk kondenya yang terbuat dari perak, yang merupakan senjata ampuh miliknya.

“Wutttt! Wuuuuut!”

Dua tusuk konde melesat ke arah Jang Geun Suk. Dari samping, Jung Yong Hwa berkelebat menghadang serangan Kim Tae Hee. Dengan tangan kirinya, tusuk konde yang pertama dihantamnya sampai mental. Tusuk konde kedua dengan tenang diterimanya dengan tubuhnya. Tusuk konde itu menancap dalam di dada kanan Jung Yong Hwa. Sambil menyeringai, Jung Yong Hwa mencabut tusuk konde itu lalu meremasnya hingga hancur.

Saat itu tongkat yang melayang ke atas telah turun dan ditangkap oleh Kim Tae Hee. Begitu tongkat berada dalam genggamannya, dia kembali menyerbu Jang Geun Suk. Kali ini Kim Tae Hee menyerang bukan hanya dengan tongkat. Tangan kirinya ikut bergerak dan menghantam dengan “Pukulan Sinar Matahari” yang dahsyat.

Jang Geun Suk mendorongkan lima jari tangannya sambil membuat gerakan mencengkeram. Biasanya sekali jari-jari tangannya menyentuh bagian tubuh lawan, pasti langsung bisa dibuat hancur. Tapi kali ini bagaimanapun dia mengerahkan tenaga luar dan dalam, jari tangannya tidak mampu menghancurkannya.

Kim Tae Hee tertawa berlagak. “Bagaimana Jang Geun Suk…? Kau tak sanggup menembus tubuhku? Mustahil!! Kau manusia sakti luar biasa. Tangan saktimu ditakuti rimba persilatan. Tapi menembus perut tipis seperti ini saja kau tidak sanggup?!”

“Jahanam!” maki Jang Geun Suk. Mulutnya komat-kamit seperti merapal sesuatu.

Kim Tae Hee hanya tertawa.

“Ilmu siluman apa yang mau kau keluarkan, Jang Geun Suk?” ejek Kim Tae Hee. Dia menahan nafas. Tangan Jang Geun Suk lengket dan tersedot. Bagaimanapun Jang Geun Suk mengerahkan tenaga berkutat untuk melepaskan tangan itu namun sia-sia saja. Malah rasa panas tiba-tiba menjalar dari perut Kim Tae Hee, terus mengalir ke tangan, lengan dan sekujur tubuhnya.

“Jang Geun Suk! Saat kematianmu sudah dekat. Kau memang sial tidak kesampaian menjadi raja diraja rimba persilatan. Namun di masa lalu kejahatanmu sudah terkenal. Kau membunuh orang-orang persilatan tanpa sebab! Lihatlah ke atas. Malaikat maut sudah turun mendatangimu!”

“Kurang ajar! Aku memilih mati bersama!” teriak Jang Geun Suk. Mulutnya didekatkan ke leher Kim Tae Hee. Maksudnya dia hendak menggigit putus urat leher Kim Tae Hee. Tapi gerakan Kim Tae Hee lebih cepat dari gerakan Jang Geun Suk, dua tangan Kim Tae Hee berkelebat ke atas kepalanya mencabut dua buah tusuk konde perak. Lalu secepat kilat tusuk konde itu ditancapkan ke mata kiri dan kanan Jang Geun Suk.

“Crass!”

“Crass!”
Dua bola mata Jang Geun Suk pecah. Darah muncrat. Jang Geun Suk menjerit setinggi langit!

“Sialan!” maki Kim Tae Hee ketika muncratan darah membasahi wajahnya. Tangan kanannya diarahkan ke kepala Jang Geun Suk.

Saat itu Jung Yong Hwa meloncat dan berseru. “Jangan bunuh! Beri aku kesempatan untuk membalaskan dendam sakit hatiku!”

Kim Tae Hee menghentikan gerakannya. Dia menatap wajah dan tubuh berpaku-paku Jung Yong Hwa, lalu menyeringai. “Jung Yong Hwa aku luluskan permintaanmu! Silahkan lakukan apa yang kau mau!” kata Kim Tae Hee sambil tetap saja merekatkan tangan Jang Geun Suk ke perutnya.

Jung Yong Hwa mendekat. Semula Kim Tae Hee mengira Jung Yong Hwa akan memukul hancur kepala atau mematahkan batang leher Jang Geun Suk. Ternyata kedua tangannya mencengkram kedua kaki Jang Geun Suk. Terdengar sesuatu hancur dalam remasan Jung Yong Hwa. Jang Geun Suk kembali menjerit setinggi langit ketika kedua kakinya diremas hancur oleh Jung Yong Hwa.

Kim Tae Hee merinding mendengar suara berderak hancur. Segera ia melepaskan tangan Jang Geun Suk dari sedotan perutnya. Dalam keadaan limbung Jang Geun Suk akhirnya jatuh terkapar di tanah, menjerit dan melejang-lejang tiada henti.

“Kau tidak membunuhnya?” tanya Kim Tae Hee.

“Kematian terlalu mudah baginya. Biarkan dia hidup seperti itu. Hidup cacat tanpa kedua kaki,” jawab Jung Yong Hwa.

Bersambung…

Manusia Paku (Chapter 8)


Ketika siuman, Kim Bum mendapati dirinya berbaring di atas sebuah tempat tidur berkasur empuk dilapisi kain penutup indah berbunga-bunga. Dia mengenakan sehelai baju terbuat dari kain hijau.

“Siapa yang memberiku pakaian ini...?” pikir Kim Bum seraya memandang berkeliling. Dia berada dalam sebuah kamar bagus sekali. Udara sekelilingnya menebar bau harum semerbak menyegarkan.

“Aneh...” Kata Kim Bum dalam hati. “Kamar sebagus ini tetapi mengapa sama sekali tidak ada jendela dan pintunya?” Lalu dia berpikir lagi. “Berapa lama aku berada di tempat ini? Mungkin belum lama. Buktinya perutku tidak terasa lapar dan aku tidak kehausan...”

Kim Bum bangkit. Sesaat dia duduk di tepi tempat tidur. Otaknya mulai bekerja. Dia ingat apa yang telah dialaminya. Dia dan Lee Min Ho berkelahi melawan Park Shin Hye. Lee Min Ho roboh akibat racun dua ekor ular iblis peliharaan Park Shin Hye. Entah bagaimana keadaan pemuda itu sekarang. Jangan-jangan sudah menemui ajalnya. Dia sendiri juga jatuh ke tangan Park Shin Hye setelah dipatuk oleh ular hitam kepala putih yang keluar dari perut perempuan itu.

Setelah ingatannya sampai di situ, Kim Bum menyingkap bajunya di bagian dada, tempat ular mematuknya.

“Aneh, tak ada tanda apa-apa. Tubuhku malah sehat-sehat saja, malah segar bugar. Siapa yang mengobatiku... Siapa yang membawaku kemari? Tak pelak lagi, pasti perempuan iblis itu!” Kim Bum memandangi seputar kamar. Pada empat sudut kamar terdapat masing-masing sebuah tiang besar dari kayu berukir sangat indah. Kebanyakan dari ukiran-ukiran itu menampilkan sosok ular berbagai rupa, mulai dari yang kecil sampai yang besar.

“Park Shin Hye membawaku ke tempat ini. Pasti dia punya maksud jahat seperti yang dikatakannya padaku. Dia ingin mempergunakan diriku untuk membunuh beberapa tokoh silat. Lee Seung Gi, bahkan guruku Kim Tae Hee! Gila! Aku harus mencari jalan keluar dari sini! Tapi kamar ini sama sekali tak berpintu tak berjendela!” Kim Bum memperhatikan lagi seputar kamar. “Sepertinya aku harus menjebol dinding ruangan dengan pukulan sakti!” Maka Kim Bum segera menyalurkan tenaga dalam ke tangan kanannya.

Pada saat itulah tiba-tiba ada suara halus merdu menegur. “Kekasihku Kim Bum, rupanya kau sudah sadar? Aku senang melihat kau baik-baik saja...”

Kim Bum terkejut. Dia membuka mata lebar-lebar sambil memandang sekeliling ruangan. Sama sekali dia tidak melihat sosok orang yang berbicara itu. “Eh, siapa yang barusan bicara menyebutku sebagai kekasih?!” ujar Kim Bum dengan suara dikeraskan.

Terdengar suara tawa merdu. “Akan kita lihat apakah kau menolak jadi kekasihku setelah aku menampakkan diri...”

Sepasang telinga Kim Bum menangkap ada suara desiran halus, seperti sesuatu meluncur. Dia berpaling ke belakang. "Astaga!" Kejut murid Kim Tae Hee itu bukan kepalang. Tadi dia tidak melihat binatang itu di sana. Kini mengapa tiba-tiba ada di situ?

Di salah satu tiang kayu besar meluncur turun seekor ular hijau besar dan panjang luar biasa. Bersamaan dengan itu bau harum semerbak semakin tercium. Sampai di lantai ruangan binatang itu menggelungkan tubuhnya. Lalu perlahan-lahan ular hijau itu menaikkan kepala hingga mencapai ketinggian kepala manusia. Kim Bum tegak di sudut kamar dengan dada berdebar dan siap mencabut “Pedang Iljimae” seandainya ular raksasa itu menyerangnya. Malah tiba-tiba secara anehnya wujudnya yang berbentuk ular perlahan-lahan sirna membentuk bayang-bayang. Bayang-bayang itu kemudian menjelma menjadi sosok tubuh seorang perempuan mengenakan pakaian hijau, tegak membelakangi Kim Bum. Perlahan-lahan tubuh yang membelakangi itu berputar.

Kim Bum merasakan jantungnya seperti mau copot. Perempuan di hadapannya ternyata memiliki wajah cantik luar biasa. Di kepalanya, ada sebuah mahkota kecil berbentuk kepala ular.

“Park Shin Hye...” desis Kim Bum tercekat. Matanya hampir tak berkedip memandangi wajah Park Shin Hye.

“Kau mengenaliku, aku senang sekali. Akulah kekasihmu dan kau kekasihku. Apa kau tidak merasa bahagia?”

Kim Bum terdiam sesaat. Lalu dia berkata. “Kau membunuh pemuda yang sudah kuanggap seperti kakakku sendiri, pemuda bernama Lee Min Ho itu...”

“Ah, rupanya pikiranmu masih pada pemuda itu! Tak perlu kau merisaukannya. Racun-racun ularku tidak sampai membuatnya mati...”

“Kau merencanakan menguasai dunia persilatan secara keji! Kau memperbudak manusia bernama Jung Yong Hwa itu. Kau hendak memanfaatkan diriku untuk membunuh tokoh silat Lee Seung Gi dan guruku sendiri Kim Tae Hee...!”

Park Shin Hye tertawa perlahan.“Aku tidak membantah bahwa aku memang ingin menguasai dunia persilatan dan merencanakan pembunuhan atas diri beberapa tokoh silat, termasuk gurumu sendiri! Aku juga tidak menyangkal telah memperbudak dan memperalat pemuda bernama Jung Yong Hwa itu. Aku juga tidak menolak tuduhanmu bahwa aku akan memanfaatkan dirimu. Sebagai sepasang kekasih, saling bantu adalah lumrah saja. Bukankah begitu?”

“Siapa bilang aku kekasihmu? Aku justru punya tugas untuk melenyapkanmu dari muka Bumi ini!”

Park Shin Hye tertawa panjang. “Kim Bum, sebentar lagi kita akan lihat, apa kau lebih hebat dari Jung Yong Hwa...”

Lalu tiba-tiba saja Park Shin Hye sudah merangkul Kim Bum dan menciumnya.

“Manusia tidak berguna! Kenapa kau diam saja?! Apa kau tidak tertarik padaku?”

Kim Bum hanya diam terpaku ditempatnya.“Aneh... kenapa aku sama sekali tidak tertarik padanya...” batin Kim Bum.

“Manusia tidak berguna! Rupanya kau hanya pantas menjadi santapan ular-ularku di Sumur Seratus Ular!” sahut Park Shin Hye.

Tiba-tiba di salah satu dinding ruangan kamar muncul cahaya kehijauan yang secara perlahan berubah menjadi kemerahan lalu membentuk lingkaran yang berkelip-kelip. Paras Park Shin Hye tampak berubah ketika melihat lingkaran merah itu. Lalu ia mendekati salah satu tiang kayu di dalam kamar itu. Sepasang tangan dan kedua kakinya digelungkan pada tiang itu. Perlahan-lahan tubuhnya menjadi samar lalu berubah menjadi ular besar hijau. Binatang itu menjalar cepat ke atas langit-langit kamar lalu menghilang dari pemandangan.

Begitu sosok ular lenyap, terdengar suara. “Manusia tak berguna! Kau beruntung umurmu masih kuperpanjang beberapa waktu. Kalau tidak ada urusan mendesak niscaya saat ini juga sudah kumasukkan kau ke Sumur Seratus Ular.”

Kim Bum menghantamkan tangan kanannya ke arah tiang dimana tadi sosok Park Shin Hye berubah jadi ular hijau dan lenyap. Suara angin laksana topan prahara melanda kamar itu. Tempat tidur dan semua benda yang ada dalam kamar hancur berantakan. Tapi tiang kayu dan dinding kamar serta atap ruangan sama sekali tak lecet sedikitpun! Kim Bum sendiri jatuh jungkir balik di lantai akibat terpaan angin pukulan yang berbalik menghantamnya. Kepalanya terasa pening dan pemandangannya berkunang-kunang.

“Keparat! Bagaimana aku bisa keluar dari ruangan ini?!” keluh Kim Bum. “Apa yang terjadi hingga perempuan iblis itu tiba-tiba meninggalkan tempat ini?!”

Kim Bum duduk terkulai di lantai, tak tahu apa lagi yang akan dikerjakannya. Kalau dia menghantam lagi ruangan dengan pukulan sakti lainnya, bukan mustahil dia sendiri bisa celaka bahkan mati konyol di tempat itu. Selagi dia berpikir seperti itu, sekilas dia teringat apa yang barusan dialaminya.

“Aneh, kenapa aku sama sekali tidak tertarik pada perempuan secantik dia? Aneh... Benar-benar aneh!” Kim Bum menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Jangan-jangan... Eh, jangan-jangan ini perbuatan Lee Min Ho yang memberikan obat pahit itu padaku. Membuatku jadi tidak tertarik pada perempuan secantik Park Shin Hye. Berarti aku diselamatkan dari cairan tubuh perempuan terkutuk itu! Kalau tidak, nasibku akan sama dengan Jung Yong Hwa! Tapi... Ya Tuhan! Gila! Sampai berapa lama aku akan tidak tertarik pada perempuan seperti ini? Seumur hidupku?! Celaka! Benar-benar celaka! Aku harus mencari Lee Min Ho. Kuharap saja dia benar-benar belum menemui ajal. Tapi bagaimana mungkin! Keluar dari tempat ini saja aku tidak mampu! ”

Selagi Kim Bum terhenyak duduk tak berdaya seperti itu, tiba-tiba terdengar suara halus entah datang dari mana. “Anak bodoh! Kalau kau ingin keluar dari dalam ruangan terkutuk itu, cepat keluarkan “Pedang Iljimae” dan batu hitam pasangannya. Hantam salah satu tiang kamar dengan api sakti! Dinding dan atap ruangan serta kayu-kayu penyanggahnya rapuh terhadap api! Aku akan membantumu dari luar sini!”

Kim Bum berdiri. “Eh, siapa yang barusan bicara?!” dia berseru.

“Turuti saja apa yang aku katakan! Kalau kau buang waktu, semua urusan bisa jadi berantakan! Dunia persilatan tak akan bisa diselamatkan!” kembali terdengar suara halus.

Kim Bum kembali menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Eh, yang bicara ini apakah... Guru! Guru! Kaukah itu, Guru?!”

“Anak bodoh! Cepat kau lakukan apa yang aku perintahkan!”

Kim Bum tertawa lega. “Pasti itu Guru Kim Tae Hee...” serunya. Lalu segera saja dia mengeluarkan “Pedang Iljimae” dan batu hitam sakti. Sekali mata pedang dan batu hitam diadu satu sama lain, satu lidah api menyembur ke arah tiang besar di sebelah kiri. Sesaat kemudian kamar itu sudah dibuncah api. Terdengar suara berkereketan. “Celaka! Aku bisa terpanggang hidup-hidup di tempat ini!” teriak Kim Bum.

Tiba-tiba di atas kepalanya terdengar suara berdentum. Atap ruangan hancur berantakan. Ada angin merambat masuk. Di sebelah atas, Kim Bum dapat melihat langit malam. Lalu muncul sesosok wanita. Di kepalanya ada lima buah tusuk konde berwarna perak. “Guru! Benar kau rupanya!” seru Kim Bum seraya hendak membungkuk memberi hormat.

“Anak bodoh! Bukan saatnya memakai segala peradatan! Cepat melompat keluar dari dalam kamar itu! Atau kau memang sudah ingin mati dilalap api?!”

“Guru! Terima kasih kau telah menolongku!” seru Kim Bum lalu sekali dia menggenjot tubuhnya melayang ke atas. Begitu dia menginjakkan kaki di tanah. Kim Tae Hee sudah tegak di hadapannya.

“Kita harus segera mengejar ke arah lenyapnya Park Shin Hye. Dan ini!” Kim Tae Hee menunjukkan dua buah benda yang dipegangnya di ujung-ujung jari tangan kirinya. Benda itu berwarna kuning seperti terbuat dari emas.

“Benda apa itu Guru?” tanya Kim Bum.

“Dua buah paku emas!”

“Paku emas?!”

“Ya, ini satu-satunya benda yang mampu menolong pemuda bernama Jung Yong Hwa itu untuk lepas dari kekuatan jahat yang menguasai dirinya. Paku ini pula yang sanggup membunuh Park Shin Hye, makhluk setengah manusia setengah ular iblis itu. Paku ini hanya ada dua di dunia. Kalau salah atau meleset memakainya, maka akan celaka seluruh manusia di muka bumi ini. Memakainya juga tidak bisa sembarangan. Untuk melumpuhkan Jung Yong Hwa, paku harus menancap di telapak kakinya... ”

“Bagaimana aku bisa melakukannya?!”

“Aku tidak mau susah payah memikirkannya. Itu tugasmu melakukannya!” bentak Kim Tae Hee.

“Lalu bagaimana cara menggunakan paku yang satu lagi pada Park Shin Hye?” tanya Kim Bum lagi.

“Paku emas itu harus ditancapkan tepat di perut perempuan iblis itu! Jangan tanya bagaimana melakukannya! Itu juga tugasmu! ”

Kim Bum terdiam. Sebenarnya dia mau bertanya lagi tapi tak berani.

“Ayo cepat kita pergi dari sini! Kita tak punya waktu banyak!” kata Kim Tae Hee.

Kim Bum segera bergerak. “Tunggu!” seru Kim Tae Hee. Dia mengeluarkan sebuah benda bulat hitam seujung kelingking. “Cepat kau telan ini!”

“Apa itu, Guru?” tanya Kim Bum.

“Sebelumnya aku telah bertemu dengan Lee Min Ho...”

“Ah, bagaimana keadaannya? Park Shin Hye telah...”

“Dia tak kurang suatu apapun. Untung keburu kutemui, dan sebelumnya dia juga telah menjaga diri dengan obat penolak racun. Dia kutinggal di sebuah pondok di tengah hutan. Saat ini mungkin dia masih tertidur...” terang Kim Tae Hee. “Aku mendapat penjelasan darinya bahwa kau diberikan obat penangkal nafsu... Kalau tidak, darah di tubuhmu masti sudah dirusak dan diracuni cairan tubuh Park Shin Hye...”

“Astaga!” kejut Kim Bum dengan wajah berubah. “Jadi itu rupanya kekuatan obat yang diberikannya padaku. Pantas saja aku tadi sama sekali tidak tertarik pada Park Shin Hye...” Kim Bum mengangguk-anggukan kepalanya.

“Nah ini! Cepat telan obat ini!” Kim Tae Hee menyerahkan obat hitam bulat itu pada Kim Bum.

Tanpa ragu Kim Bum segera menelannya. Lalu dia bertanya. “Guru, obat yang barusan aku telan ini untuk apa?”

“Obat itu untuk meyakinkan Park Shin Hye bahwa kau benar-benar seorang lelaki jantan!”

“Jadi... jadi Guru sengaja hendak menyuruhku bermesraan dengan perempuan itu lalu dia mencelakaiku?”

“Kau harus punya kemampuan untuk menahan diri. Tugasmu, hanya menusukkan paku emas itu ke perut Park Shin Hye...”

“Itu berat, Guru! Kalau akau tak sanggup menahan diri bagaimana?” tanya Kim Bum.

“Kalau begitu lebih baik kau bunuh diri saja sekarang!” sahut Kim Tae Hee. Lalu tanpa banyak bicara lagi dia berkelebat pergi.

Bersambung…

Jumat, 25 Mei 2012

Manusia Paku (Chapter 6)


Sinar terang sang surya yang baru terbit membuat kelopak mata yang tertutup itu bergerakgerak lalu perlahan membuka.

“Kau sudah siuman rupanya!” Itu suara pertama yang ditangkap Kim Bum sebelum dia mendengar suara yang seperti hendak merobek-robek gendang telinganya. Dia menopangkan kedua sikunya ke tanah. Dengan susah payah dia mencoba bangkit sambil membuka mata. Di hadapannya terpampang wajah seorang lelaki di bawah caping lebar menyeringai padanya. “Bersyukurlah pada Tuhan! Kau tak sampai mati oleh racun mata Jung Yong Hwa...”

Agak lama murid Kim Tae Hee itu memahami ucapan orang di hadapannya. Lalu dia ingat apa yang terjadi. Sebelum dia jatuh pingsan, ada totokan melanda urat besar di lehernya. Totokan itulah yang menolongnya.

“Tuhan memang Maha Besar dan Maha Penolong! Tapi kalau kau tidak muncul tepat pada saatnya dan menotok jalan darahku, mana mungkin saat ini aku masih bisa bernafas! Aku berterima kasih padamu, Hyung...!”

“Kau berterima kasih padaku! Apa kau kira Song Seung Hun akan berterima kasih padamu anak bodoh?!” ujar lelaki bercaping itu.

“Eh, apa maksudmu?” tanya Kim Bum bingung. Tiba-tiba ingatannya pulih menyeluruh. “Astaga! Kim So Eun!” katanya setengah berseru dengan wajah berubah. “Pemuda itu! Jung Yong Hwa! Dia menculik Kim So Eun!”

Lelaki itu menggelengkan kepalanya dengan wajah rawan. “Bebanmu jadi bertambah berat, aku tak tahu kenapa sampai jadi begini. Tapi aku melihat ada satu ganjalan antara kau dan gadis itu...”

Kim Bum menarik nafas dalam. “Aku merasa bersalah. Aku minta petunjukmu, Hyung. Apa yang harus aku lakukan?”

“Menurut penglihatanku, untuk beberapa waktu gadis itu cukup aman...”

“Cukup aman katamu? Apa kau sudah gil...” Kim Bum tak teruskan ucapannya. “Kau tahu sendiri siapa Jung Yong Hwa. Pembunuh berdarah dingin yang tak pandang bulu! Aku bukan saja mengkhawatirkan nyawa gadis itu, tapi juga kehormatannya...!”

“Menurut apa yang aku tahu, ada hari-hari di mana Jung Yong Hwa berada di luar pengaruh Park Shin Hye. Mudah-mudahan saja saat ini dia dalam keadaan seperti itu. Ini bukan berarti kita hanya berlepas tangan. Gadis itu biar aku yang mencarinya, kau tetap saja pada apa yang menjadi tugasmu...”

“Aku tahu tugasku. Mencari Park Shin Hye dan Jang Geun Suk. Tetapi sesuatu terjadi sebelum Jung Yong Hwa melarikan Kim So Eun. Ada orang yang melarikan diri dari tempat ini, meninggalkan satu sosok mayat tanpa kepala itu...” Kim Bum menunjuk pada mayat Lee Hong Ki.

Lee Min Ho menoleh pada mayat yang ditunjuk Kim Bum.

“Kau bisa melihat siapa orang itu, Hyung?” tanya Kim Bum.

“Tak dapat kupastikan siapa orangnya. Kawannya yang satu ini tak punya kepala. Mana mungkin aku mengenalinya. Tapi menurut penglihatanku, orang yang kabur itu telah mencuri sesuatu dari murid Song Seung Hun... Mungkin kau bisa menduganya?”

“Maksudmu ada hubungannya dengan kejadian besar dalam rimba persilatan saat ini?”

“Tentu, ada kaitannya dengan Jung Yong Hwa dan Park Shin Hye...”

Kim Bum termenung. Dia hampir menyerah ketika tiba-tiba dia ingat pembicaraan di tempat kediaman Song Seung Hun di puncak bukit. “Kuharap saja dugaanku tak meleset. Orang itu merampas paku perak yang menjadi senjata rahasia Kim So Eun.”

“Kau betul, Kim Bum. Tapi mengapa dia merampasnya?” tanya Lee Min Ho pula.

“Mudah saja jawabnya. Dia mengira paku itu adalah paku baja putih murni yang bisa melumpuhkan Jung Yong Hwa!”

“Kita tak punya waktu banyak. Aku akan mengejar pemuda itu. Tugasmu mencari Park Shin Hye dan Jang Geun Suk. Jang Geun Suk memiliki paku baja murni itu. Menurut penglihatanku, dia memang mempunyai keinginan menguasai rimba persilatan. Tapi dia juga ingin mencari untung sendiri. Berpura-pura menjual atau menukarkan paku sakti itu dengan benda-benda berharga. Pada gilirannya baru dia akan melumpuhkan dan menguasai Jung Yong Hwa. Hanya satu yang belum aku tahu, kapan pemuda itu akan tidur. Jang Geun Suk pasti tahu kapan Jung Yong Hwa akan tertidur...”

“Aku tak akan membuang waktu, Hyung. Aku akan segera mencari Jang Geun Suk dan Park Shin Hye...”

“Baik, kita berpisah di sini!” kata Lee MinHo. Baru saja dia hendak memutar langkahnya, tiba-tiba terdengar suara tawa melengking tinggi dan panjang di kecerahan pagi. Lee Min Ho tercekat, Kim Bum lekas bangkit berdiri.

“Aku mencium bahaya besar!” ujar Lee Min Ho. Lalu dia mengambil sebuah benda di bawah caping bambunya. Secepat kilat benda itu dilemparkannya ke dalam mulut Kim Bum seraya berbisik, “Lekas kau telan benda dalam mulutmu itu!”

“Apa ini, Hyung?”

“Tidak usah banyak bertanya! Telan saja benda yang ada dalam mulutmu itu kalau tidak mau celaka!” sentak Lee Min Ho.

Meski tidak mengerti, namun Kim Bum akhirnya menelan benda yang ada dalam mulutnya. Mulut, lidah dan tenggorokannya terasa pahit. Dia hampir muntah tapi cepat ditahan. Saat itu suara tawa terputus dan kini di hadapan Kim Bum dan Lee Min Ho berdiri seorang perempuan cantik luar biasa.

Perempuan itu tegak di atas gundukan tanah yang agak tinggi. Angin pagi meniup pakaian berwarna hijau yang membungkus tubuhnya. Dari tempatnya berdiri, Kim Bum dapat melihat sosok tubuh perempuan itu dengan jelas. Dadanya berdebar, darahnya terasa mengalir lebih cepat dan wajahnya menjadi hangat. Terlebih lagi ketika angin pagi menghembuskan bau harum yang keluar dari tubuh perempuan itu. Perempuan itu, memakai sebuah mahkota berbentuk kepala ular di kepalanya. Sepasang mata ular itu terbuat dari sepasang permata berwarna hijau memancarkan sinar berkilauan.

“Kim Bum, apa kau sudah tahu saat ini siapa yang berdiri di hadapan kita...?” Lee Min Ho berbisik.

Meski terpikat melihat kecantikan perempuan berpakaian hijau itu, namun ditanya seperti itu mau tak mau murid Kim Tae Hee itu jadi bergetar juga hatinya. Dia mengangguk dan dengan lidah agak kelu serta suara tersendat dia menjawab, “Aku sudah tahu Hyung, aku...”

Ucapan Kim Bum terputus. Perempuan cantik bermahkota di hadapan mereka membuka mulut.

“Pemuda tampan. Kudengar tadi kau berucap hendak mencariku. Peruntunganmu sedang mujur rupanya. Kau tidak perlu susah-susah mencari. Aku Park Shin Hye sudah muncul di hadapanmu...”

Kim Bum berdehem beberapa kali sementara Lee Min Ho mendongak memandang ke langit.

“Ada keperluan apa kau mencariku? Maksud buruk atau baik?!”

“Hmmm...” Kim Bum bergumam. “Bisa buruk bisa baik,” jawabnya kemudian.

“Katakan dulu yang baiknya...” ujar Park Shin Hye sambil tersenyum.

“Aku sudah lama mendengar nama besarmu. Selain sebagai orang berkepandaian tinggi, kabarnya kau juga cantik jelita. Ternyata kabar itu tidak bohong. Aku merasa beruntung bisa bertemu denganmu saat ini.”

Park Shin Hye tersenyum. “Lalu apa buruknya?”

“Nama besar dan tindakanmu telah menggegerkan rimba persilatan di Korea. Kau melakukan pembunuhan-pembunuhan keji dengan meminjam tangan seorang pemuda yang masuk ke dalam perangkapmu... Ini membuat repot dan marah semua orang...”

“Hmmm... apa kau juga ikut-ikutan repot?” tanya Park Shin Hye sambil menatap tajam pada Kim Bum namun bibirnya tersenyum.

Murid Kim Tae Hee itu tertawa. Di sebelahnya Lee Min Ho memaki. “Dasar bodoh! Kenapa kau malah tertawa?”

“Park Shin Hye, aku mendengar kabar bahwa kau ingin menguasai rimba persilatan. Tapi cara yang kau lakukan sesat dan keji... Semua orang menentang perbuatanmu itu, termasuk aku... ”

“Kalau aku menguasai dunia persilatan secara baik-baik, apakah kau mau membantu?”

Pertanyaan itu membuat mulut Kim Bum terkunci sesaat. “Mungkin saja... Hanya sayang kau terlanjur masuk ke jalan sesat. Tak mungkin keluar lagi...”

Park Shin Hye mengangkat kepalanya. Dia tertawa perlahan lalu memandang pada Kim Bum sambil mengedipkan matanya dua kali.

“Buruk dan baik, kebajikan dan kekejian di masa sekarang ini tergantung dari mana orang memandang. Kalaupun pandangannya benar maka batas antara keduanya setipis kabut pagi yang akan lenyap begitu sang surya menampakkan diri. Agar kau lebih mengenal diriku dan apa yang akan aku kerjakan, kuanggap kau perlu ikut denganku…”

“Ikut denganmu? Kemana?” tanya Kim Bum berlagak bodoh.

Park Shin Hye tertawa. “Banyak yang bisa kita kerjakan berdua... Kalau dunia persilatan bisa kukuasai, apa kau tidak merasa senang berada di sampingku, jadi orang kepercayaanku?”

“Ah, tidak sangka kau baik sekali. Tapi aku khawatir di balik kebaikan itu ada maksud terselubung. Lagi pula bukankah kau sudah punya pemuda tampan bernama Jung Yong Hwa itu?”

“Hey, tidak kusangka ternyata kau merasa cemburu pada pemuda itu. Ha... ha... ha!”

Wajah Kim Bum jadi bersemu merah. “Siapa yang cemburu padanya? Dia siapa, kau siapa dan aku ini siapa?!”

Park Shin Hye kembali tertawa. “Aku akan tetap membawamu. Suka atau tidak suka. Kalau kau berlaku baik aku pasti baik padamu. Imbalan yang akan kau dapat berlipat ganda... Jangan kau andalkan kepandaian yang kau miliki untuk melawanku... Aku butuh bantuanmu untuk menyingkirkan beberapa tokoh silat berkemampuan tinggi.”

“Coba kau tanyakan siapa saja tokoh yang dimaksudkannya itu...” bisik Lee Min Ho.

“Eh, siapa pemuda yang berbisik-bisik di sampingmu itu...?” tanya Park Shin Hye seolah baru melihat kehadiran Lee Min Ho di tempat itu.

“Tidak usah pedulikan dia. Aku hanya ingin tahu siapa-siapa tokoh silat yang hendak kau singkirkan itu?”

“Aku tidak keberatan mengatakannya,” jawab Park Shin Hye sambil tersenyum. “Pertama kita berdua akan mencari Jang Geun Suk. Bukankah kau mengincar manusia satu itu? Kau membantuku dan aku membantumu...”

“Tapi kita punya alasan berbeda!” jawab Kim Bum.

“Kau cukup cerdik!” puji Park Shin Hye sambil mengerdipkan mata kirinya. “Jelas alasan kita berbeda tapi tujuan kita sama. Mengapa perlu diributkan?”

Di sampingnya, Lee Min Ho berbisik. “Jangan berdebat dengan perempuan iblis itu. Kau punya kesempatan merampas paku baja putih dari Jang Geun Suk...”

“Siapa korbanmu selanjutnya?” Kim Bum bertanya.

“Seorang pemimpin rimba persilatan, namanya Lee Seung Gi...”

“Kurang ajar, dia sahabatku dan sudah kuanggap sebagai guru dan kakakku sendiri!” teriak Kim Bum.

Park Shin Hye tertawa panjang. “Itu anggapanmu. Tapi menurut anggapanku dia adalah penghalang besar untuk mencapai cita-citaku!”

“Benar-benar perempuan Iblis,” teriak Kim Bum dalam hati. “Siapa lagi korbanmu selanjutnya, ” tanya murid Kim Tae Hee itu.

“Seorang wanita sakti bernama Kim Tae Hee!”

“Perempuan iblis, Kim Tae Hee adalah guruku!” teriak Kim Bum.

“Kalau gurumu memangnya kenapa? Apa dia tidak boleh mati?” tukas Park Shin Hye sambil tertawa.

“Jahanam!” Kim Bum tidak dapt lagi menahan kesabarannya. Dia hendak melompati perempuan di hadapannya, tapi Lee Min Ho mengulurkan tongkatnya menahan.

“Aku sudah lama tidak menggerakkan badanku!” katanya. “Biar aku meluruskan tulangku dan mengendurkan urat-urat yang sudah kaku!” Setelah berkata seperti itu, Lee Min Ho mengarahkan tongkat di tangan kirinya. Benda itu bergetar keras dan memijarkan cahaya redup. Bersamaan dengan itu terdengar suara berisik menggelegar di tempat itu.

“Kurang ajar! Kau hanya merusak pemandangan dan pendengaranku saja!” hardik Park Shin Hye. Dia mengangkat tangan kanannya. Telapak dibuka dan dihadapkan ke arah ujung tongkat yang datang menusuk ke bagian kepalanya.

“Crasss!” Tongkat itu jelas menembus telapak tangan Park Shin Hye disertai suara mengerikan. Tapi tidak ada darah mengucur. Tapak tangan sama sekali tidak terluka apa lagi berlubang.

“Ilmu Sihir…” desis Kim Bum dalam hati.

Sementara Lee Min Ho tetap tenang saja. Tongkat di tangan kirinya kembali berkelebat. Tapi kali ini tongkat tidak dipakai untuk menyerang lawan, malah ditusukkan ke perut sendiri.

“Crasss!” Tongkat menembus perut. Perut berlubang. Tapi tidak ada darah. Malah ketika ditarik ususnya muncrat! Kim Bum mengernyitkan kening sedang Park Shin Hye sempat tercengang melihat apa yang terjadi.

“Hyung!” seru Kim Bum.

Lee Min Ho tertawa. “Ayo serang lagi! Aku pasti bisa menirukan apa yang kau lakukan!” kata Lee Min Ho.

“Sombong! Lihat seranganku!” teriak Park Shin Hye merasa direndahkan. Dua tanganya disorongkan ke depan.

“Wutt! Wutt!!”

“Sett! Sett!”

Sepasang tangan yang dipukulkan lurus ke depan itu berubah menjadi dua ekor ular. Yang di kiri berwarna hijau pekat sedang yang kanan berwarna coklat kemerahan!

“Wuttt! Bettt! Bettt!” Tongkat kayu di tangan kiri Lee Min Ho membabat di udara.

“Dess! Dess!”

“Traakkk!”

Bagian belakang kepala ular jadi-jadian hancur dan putus dihantam tongkat. Sebaliknya tongkat kayu Lee Min Ho patah menjadi dua.

Selagi Lee Min Ho terkejut melihat kejadian itu, tiba-tiba dua kepala ular yang buntung dan jatuh ke tanah melesat ke atas, menancap di leher kiri kanan.

Kim Bum berteriak kaget. Lee Min Ho menggunakan tangan kiri dan kanannya untuk melepaskan kepala ular itu dari lehernya lalu meremasnya sampai hancur! Sadar bahaya besar mengancam jiwa, pemuda itu segera mengambil dua butir obat dari balik capingnya dan segera menelannya. Tiba-tiba dia meraung. Dadanya seperti ditusuk besi panas. Dari mulutnya keluar busa darah.

“Hyung!” teriak Kim Bum seraya bergerak hendak merangkul pemuda itu. Namun dari samping Park Shin Hye mengebutkan pakaian hijaunya. Selarik cahaya hijau menyambar membuat Kim Bum terpaksa menyingkir dan melompat mundur.

“Perempuan iblis! Kau membunuh kakakku,” teriak Kim Bum marah.

“Oo, jadi dia kakakmu! Kenapa tidak bilang dari tadi? Tadi kau bilang tak usah pedulikan. Kasihan ajalnya sudah di depan mata!”

“Perempuan jahanam! Rasakan ini…” dalam marahnya, murid Kim Tae Hee itu mengerahkan semua tenaga dalamnya ke tangan kanan. Serta merta lengan sebatas siku ke bawah menjadi putih perak menyilaukan. Tangan itu kemudian dihantamkan ke arah Park Shin Hye.

“Pukulan Sinar Matahari!”

Cahaya putih yang sangat panas menyambar ke arah Park Shin Hye. Perempuan itu hanya tercekat sesaat. Kedua lututnya menekuk. Di lain kejap tubuhnya melesat ke atas. Gerakan perempuan itu luar biasa cepatnya. Pukulan Sinar Matahari lewat di bawah kedua kakinya. Dari atas Park Shin Hye mengebutkan lengan baju hijaunya. Dua larik sinar hijau yang membawa angin sederas topan prahara menyambar Kim Bum. Pukulan Sinar Matahari menghantam amblas beberapa pohon dan semak belukar yang serta merta kemudian dikobari api.

Sebaliknya, dua larik pukulan yang dilepaskan Park Shin Hye membuat Kim Bum seperti ditindih gunung. Dia berusaha bertahan sambil berusaha membalas pukulan “Tameng Sakti Menerpa Hujan” dan “Benteng Topan Melanda Samudra”.

Akibat yang terjadi luar biasa. Di udara kelihatan dua sinar hijau mencelat ke atas berbuntal-buntal disertai letusan-letusan keras. Kelihatannya dua pukulan sakti yang dilepaskan Kim Bum mampu memusnahkan serangan lawan. Nyatanya tidak, karena dikejapan berikutnya ketika tubuhnya masih melayang di udara, Park Shin Hye mendorongkan kedua telapak tangannya ke bawah. Dua pukulan sakti yang dilepaskan Kim Bum berbalik menyerang dirinya sendiri.

“Celaka! Jahanam ini ternyata luar biasa ilmu dan tenaga dalamnya!” keluh Kim Bum sambil menjauh.

“Bummmm! Bummm!” Serangan Park Shin Hye menghantam. Tanah, pasir dan batu-batuan muncrat beterbangan. Di tanah kelihatan dua buah lubang sedalam dua jengkal.

Kim Bum merasa kedua lututnya goyah ketika dia berusaha bangkit. Dari sela bibirnya kelihatan ada darah keluar. Baru sempat berdiri lurus tiba-tiba Park Shin Hye sudah berada dua langkah di depannya. Kim Bum menggertakkan rahang. Tangan kanannya bergerak ke pinggang. Siap mencabut “Pedang Iljimae”. Tapi Park Shin Hye bergerak mendahului. Kedua tangannya dipergunakan untuk menyingkap pakaian hijaunya di bagian tengah. Perut Park Shin Hye tersingkap polos dan putih. Wajahnya kelihatan menjadi kaku, pandangan matanya menyorot mengerikan.

Tiba-tiba dari perut perempuan itu melesat sebuah benda yang ternyata adalah seekor ular hitam berkepala putih. Binatang itu melesat ke arah Kim Bum dan langsung mematuk bagian dadanya. Murid Kim Tae Hee itu mengeluh tinggi. Pakaiannya yang robek tampak basah oleh darah. Kepalanya pening. Tubunya mendadak terasa sangat dingin hingga dia menggigil dan akhirnya roboh tak sadarkan diri.

Bersambung…

Kamis, 24 Mei 2012

Manusia Paku (Chapter 5)


Sosok dalam gelap itu menyelinap mendekati pintu bangunan di puncak bukit. Tanpa suara seperti setan bergerak. Sesaat dia berhenti. Ada keraguan dalam hatinya.

“Jangan-jangan dia tidak berada di sini. Bagaimana aku harus menyampaikan pesan? Di tengah jalan ada seekor kuda hampir mati kecapaian. Pasti ada orang yang baru datang berkunjung sebelum aku ke tempat ini. Berarti ada satu atau dua orang dalam bangunan batu itu. Tapi mengapa keadaan sunyi? Tak ada lampu menyala. Aku tahu betul kebiasaan lelaki itu. Tidak bisa tidur kalau tidak ada lampu…”

Baru saja orang di depan pintu bangunan batu membatin seperti itu, tiba-tiba ada suara menegur. “Hanya manusia jahat biasanya menyelinap ke tempat orang!” Lalu, “Wutt!!” orang di depan pintu merasakan sambaran angin di bagian belakang kepalanya.

“Hmm... hanya manusia licik yang menyerang dari belakang!” Orang itu membalik dengan cepat seraya mengangkat tangannya melidungi kepala. “Bukk” Dua lengan beradu keras dalam kegelapan. Si penyerang terpental sampai tiga langkah dan mengeluarkan pekikan keras. Yang menangkis terjajar satu langkah.

“Aku seperti mengenali suara itu!” kata penangkis sambil menahan bahu kanannya yang terasa mendenyut. Dia membesarkan kedua bola matanya. Tapi malam begitu gelap. Dia tidak bisa mengenali wajah itu. Yang jelas suaranya adalah suara perempuan. Dia tidak bisa berpikir panjang karena sosok di depannya kembali menyerang dengan cepat.

“Gila! jurus-jurus serangannya ganas dan menyerang bagian yang mematikan!” batin yang diserang.

Karena mengalah dan hanya mengambil sikap bertahan, beberapa serangan lawan berhasil mendarat di tubuh dan lengannya. Dan orang itu pun berseru. “Hentikan serangan. Antara kita mungkin sudah saling kenal!”

“Seorang kenalan tidak akan menyusup seperti seorang pencuri!”

“Hey, aku bukan pencuri!”

“Kalau begitu pembunuh!”

“Juga bukan. Aku kemari mencari seseorang!”

“Lalu kau siapa?”

“Katakan dulu siapa kau?”

“Kurang ajar!” si perempuan memaki lalu kembali hendak menyerbu. Kali ini dia melepaskan pita yang sejak tadi mengikat rambutnya. Hal ini dilihat orang di hadapannya.

Sehelai pita berwarna ungu!

“Astaga! Benar dugaanku! Kau pasti Kim So Eun! Murid tokoh silat Song Seung Hun yang aku segani!” Si penyerang terkesiap. Bukan saja menghentikan serangan tapi malah mundur beberapa langkah sambil memandang dengan mata dibesarkan, berusaha mengenali orang di depannya.

“Kim Bum…!”

“Kim So Eun..!”

Dari dalam bangunan terdengar suara tawa disusul… “gluk… gluk…gluk” suara orang minum dengan lahap. Tidak lama kemudian keluarlah sosok tubuh laki-laki.

“Guru Song Seung Hun...” Orang di depan Kim So Eun memanggil lalu memberi hormat.

Song Seung Hun tertawa sambil membolang-balingkan bumbung bambu berisi arak di depan dadanya, sementara Kim So Eun tegak tidak bergerak dengan hati diliputi berbagai rasa.

“Kim Bum! Kau datang pada saat yang tepat! Hingga muridku tidak susah mencarimu!” kata Song Seung Hun sambil berpaling kepada muridnya lalu berkata. “Aneh, kenapa kau seperti patung dan membisu? Apakah kau tidak senang bertemu dengan kakakmu ini, Kim So Eun?”

Kalau saja tidak gelap, Kim Bum dan Song Seung Hun niscaya melihat pipi Kim So Eun yang bersemu merah karena jengah.

“Tentu… tentu saja kami senang guru. Lama sekali kami tidak bertemu….” ujar Kim So Eun.

“Benar…,” sahut murid Kim Tae Hee itu. “Kalau tidak salah hampir tiga tahun….”

“Rejeki…, pertemuan, maut dan langkah, memang bukan keinginan manusia. Itu semua kekuasaan Tuhan. Tapi kalau aku boleh bertanya, gerangan apa yang membawamu kemari, Kim Bum?” setelah bertanya, Song Seung Hun mendekatkan bibir ke bumbung dan mendongak... “Gluk… Gluk… Gluk…!” Lahap sekali dia meneguk arak kayangan yang beraroma harum itu.

“Aku diminta Guru Kim Tae Hee menemuimu.”

“Hmmm, pesan apa yang kau bawa?”

“Menyangkut masalah besar yang kini tengah berlangsung di rimba persilatan di tanah Korea ini... Munculnya pemuda berkesaktian luar biasa bernama Jung Yong Hwa, budak Park Shin Hye.”

“Apa saja yang diketahui gurumu tentang orang itu?”

“Park Shin Hye akan mempergunakan Jung Yong Hwa untuk menguasai rimba persilatan. Beberapa tokoh silat tingkat tinggi telah dihabisinya secara keji. Di puncak Gunung Bukhansan beberapa waktu lalu pendekar silat dari timur bergabung dengan jago dari selatan. Mereka berjumlah empat belas orang. Mereka berhasil menjebak dan mengurung Jung Yong Hwa di sebuah lereng. Namun semua disapu habis! Sulit dipercaya ada orang memiliki kepandaian seperti itu…. ”

“Jung Yong Hwa bukanlah manusia lagi,” kata Song Seung Hun. “Dia berubah menjadi mahluk setengah iblis setengah dewa! Sulit mengalahkannya. Pengaruh cairan Park Shin Hye yang mengalir dalam tubuhnya begitu hebat hingga tidak mempan pukulan maupun senjata tajam. Selama tidak bisa dibersihkan dari pengaruh cairan itu, selama itu pula dia akan merajalela menuruti perintah Park Shin Hye….”

“Aku dengar dia bahkan sudah membunuh gurunya sendiri, Kang Ji Hwan...”

Song Seung Hun mengangguk membenarkan ucapan Kim Bum itu. “Siang tadi aku baru menceritakannya kepada Kim So Eun. Rimba persilatan benar-benar dalam cengkeraman mengerikan.”

Sesaat bangunan batu itu dalam kesunyian, lalu terdengar suara Kim Bum bertanya pada Song Seung Hun. “Menurutmu, apakah ada satu cara menghentikan malapetaka besar ini?”

“Saat ini aku hanya mengetahui satu cara. Jung Yong Hwa bisa dilumpuhkan dengan jalan memantek tubuhnya dengan 30 paku sakti terbuat dari baja putih murni. Benda itu kini justru menjadi rebutan di kalangan persilatan. Yang bisa memaku Jung Yong Hwa akan menguasai dirinya. Kalau dia dari golongan hitam, kejadian buruk akan terulang. Seperti Park Shin Hye, orang itu akan menguasai Jung Yong Hwa untuk berbuat apa saja. Hanya saja Jung Yong Hwa tidak akan sehebat berada dibawah pengaruh cairan Park Shin Hye…”

“Rumit juga masalah ini,” ujar Kim Bum. “Guru Song, apakah sudah diketahui siapa pemilik paku sakti itu atau dimana keberadanya?”

“Tiga puluh paku baja putih murni itu berada di tangan seorang pendekar bernama Jang Geun Suk dari Gunung Jirisan…”

“Jang Geun Suk?” ulang Kim Bum.

“Ya, kau kenal dia?”

“Siapa yang tidak kenal dengan pemuda sakti itu.” sahut Kim Bum.

“Kalau begitu, Jang Geun Suk harus dikuasai lebih dahulu, lalu merampas paku sakti itu dari tangannya…” kata Kim So Eun.

Song Seung Hun mengangguk-angguk. “Itu benar. Caranya memang harus seperti itu. Tapi tentu saja tidak mudah menyiasati Jang Geun Suk. Di samping puluhan orang lain juga menghendaki paku itu, sudah belasan orang mati sebelum maksud mereka kesampaian. Kalaupun paku bisa dikuasai, tidak mudah memantek tubuh Jung Yong Hwa. Ada kabar pemuda itu tidur hanya sekali dalam setahun. Pada saat itulah pemantekan bisa dilakukan. Tapi gilanya, siapa yang tahu kapan dan dimana dia tidur?”

“Memang banyak sekali kesulitan dan bahayanya. Itu sebabnya Guru Kim Tae Hee berpesan, sehabis dari sini harus mencari Lee Min Ho…”

“Ah, pemuda itu! Lama aku tidak mendengar kabarnya, apakah dia masih hidup atau bagaimana? Kalian harus mencarinya.”

Kim Bum melirik ke Kim So Eun. “Apakah yang dimaksud Guru dengan kalian adalah aku dan Kim So Eun?”

“Ya betul, kau dan Kim So Eun harus segera pergi mencari pemuda itu. Harus cepat agar tidak terlambat!”

“Aku mau saja…,” kata Kim Bum dalam hati. “Tapi aku lihat gadis itu biasa-biasa saja dan sikapnya acuh tak acuh. Tadi dia bilang senang bertemu denganku. Mulutnya bilang begitu, hatinya dia mendekam satu ganjalan. Dia seperti benci kepadaku….”

“Hey,” seru Song Seung Hun. “Kalian berdua mengapa berdiam saja? Tidak dengar aku bilang apa?”

“Aku dengar, dan aku akan melakukan pesanmu itu,” kata Kim Bum.

“Kim So Eun?!” ujar Song Seung Hun tanpa berpaling pada muridnya.

“Aku juga dengar guru, aku juga akan melakukan pesanmu!”

“Aku senang mendengar ucapan kalian berdua. Lalu, sekarang kalian tunggu apa lagi?”

“Maksud guru?” tanya Kim Bum dan Kim So Eun.

“Kalian berdua ini sama bodohnya! Cepat tinggalkan tempat ini dan cari Lee Min Ho, pemuda Segala Tahu itu!”

Kim So Eun melengak tapi tidak berani membuka mulut. Sebaliknya Kim Bum langsung berkata. “Pergi malam-malam begini?”

“Lalu apa kalian harus menunggu pagi baru berangkat?” sentak Song Seung Hun.

“Maksudku mungkin kau masih rindu dengan muridmu dan ingin mengobrol…”

“Obrolanku sudah habis. Sekarang kalian saja yang mengobrol satu sama lain dalam perjalanan. Lagipula kalian kan sudah lama tidak bertemu. Tentu banyak yang harus kalian bicarakan. Aku mau tidur…” Song Seung Hun meneguk lagi minuman dalam bumbung bambu itu lalu tanpa peduli lagi dia berpaling lalu melangkah menuju pintu bangunan batu.

“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Kim Bum pada Kim So Eun.

“Kalau guruku sudah bilang begitu, tidak satu pun yang bisa merubahnya! Dia mau kita segera pergi!”

“Mungkin ucapan gurumu benar. Dia menyuruh kita segera pergi dan mengobrol dalam perjalanan...” sahut Kim Bum.

Maksud Song Seung Hun meminta keduanya itu lekas pergi dan melakukan perjalanan bersama, selain memang untuk mencari Lee Min Ho, sebenarnya ada tujuan tersembunyi dari Song Seung Hun. Seperti diketahui, sejak lama Song Seung Hun ingin menjodohkan Kim So Eun dengan Kim Bum. Malah sudah beberapa kali permintaan itu disampaikan kepada Kim Tae Hee. Namun baik guru sang pendekar maupun Kim Bum sendiri tidak terlalu tertarik. Kim Tae Hee pernah bilang biar urusan jodoh itu anak-anak sendiri yang mengatur. Jika mereka suka sama suka tentu ikatan jodoh itu akan terjalin dengan sendirinya.

Di pihak Kim So Eun memang diam-diam mencintai Kim Bum, namun sebaliknya Kim Bum lebih menganggap Kim So Eun sebagai adiknya sendiri, walau terus terang dia sangat mengagumi kebaikan perilaku dan hati Kim So Eun, di samping wajahnya yang cantik.

Tidak seperti yang diinginkan Song Seung Hun ataupun kedua muda mudi itu, ternyata dalam perjalanan menuruni bukit mereka lebih suka diam membisu. Kim Bum yang lama-lama salah tingkah akhirnya membuka pembicaraan.

“Lama kita tidak bertemu. Apakah kau selama ini baik-baik saja Kim So Eun?”

“Ya, mau dibilang baik kenyataannya semua kesulitan kuhadapi, walau semua bisa kulalui. Yang jelas aku bisa melihat dunia ini apa adanya dan menambah pengalaman. Kau sendiri bagaimana?” Kim So Eun balik bertanya.

“Tidak beda denganmu. Kesulitan dan bahaya menghadang dimana-mana. Buktinya sekarang ini kita menghadapi kesulitan besar. Selain kita harus mencari Lee Min Ho, menurutmu apa yang harus kita lakukan?”

“Kau lebih berpengalaman dan pandai. Ilmumu lebih tinggi dariku. Seharusnya kau yang mencari jalan,” jawab Kim So Eun.

“Aku rasa kita perlu membagi pekerjaan… waktu kita sempit sekali.”

“Hmm... membagi pekerjaan bagaimana?” tanya Kim So Eun.

“Kau mencari tahu di mana sarangnya Park Shin Hye. Jika kau merasa sanggup menghadapi sendiri lakukanlah, kalau tidak, minta bantuan sahabat dari golongan putih. Apapun yang kau lakukan, paling tidak sudah diketahui keberadaan perempuan itu…”

“Lalu kau sendiri melakukan apa?”

“Aku akan mencari Jang Geun Suk, berusaha merampas paku sakti itu dari tangannya. Aku juga akan mencari Lee Min Ho…”

Kim So Eun yang berjalan cepat di samping Kim Bum berpikir sejenak. Kemudian dia berkata. “Bagaimana kalau aku yang mencari Lee Min Ho dan Jang Geun Suk, kau yang mencari Park Shin Hye…”

“Heh!” Kim Bum agak tercekat mendengar ucapan Kim So Eun. Dia berjalan lebih cepat hingga selangkah di depan Kim So Eun. Dia berpaling dan memperhatikan wajah gadis itu. Dilihatnya sang gadis tersenyum. Senyum yang sulit diartikan Kim Bum.

“Setahuku Jang Geun Suk memiliki kemampuan tinggi dan berhati sejahat iblis. Aku tidak merendahkan kepandaianmu sendiri, namun rasanya lebih baik... ”

“Rupanya kau takut bertemu dan menghadapi Park Shin Hye?” potong Kim So Eun lalu tertawa lebar. “Dia hanya seorang perempuan cantik, apa yang ditakutkan? Lagipula, siapapun dia, aku yakin tidak akan bisa mengalahkanmu.”

“Ah, dia memojokkanku...” ujar Kim Bum dalam hati. “Atau sengaja menjebakku. Tapi kenapa? Karena aku tidak pernah memberikan jawaban atas perjodohan itu?” dia melangkah terus.

“Bagaimana?” Tanya Kim So Eun. “Jadi benar kan apa kataku, kau mau mencari Lee Min Ho dan Jang Geun Suk karena takut menghindari pertemuan dengan si cantik Park Shin Hye itu?”

“Siapa yang takut padanya!” Kim Bum kesal dan menjawab agak keras.

“Bagus! Pekerjaan sudah dibagi, di kaki bukit kita berpisah. Kau mencari Park Shin Hye, aku mencari Lee Min Ho dan Jang Geun Suk…”

“Hmmm… Kalau begitu maumu aku terpaksa ikut saja...” sahut Kim Bum pasrah.

“Jangan bilang terpaksa. Katakan iya atau tidak. Itu saja!”

Dalam gelap, sambil berjalan cepat, Kim Bum memalingkan kepalanya menatap wajah Kim So Eun. Gadis itu balas memandang. “Ucapannya tegas dan air mukanya keras. Ada apa sebenarnya dengan gadis ini?” tanya Kim Bum dalam hati.

“Kim So Eun kau tidak suka padaku…” Kim Bum akhirnya bertanya.

Kim So Eun tertawa kecil. “Kenapa kau bertanya begitu?”

Kim Bum lagi-lagi terpojok. Tapi karena hatinya mulai panas, maka dia bicara apa adanya saja. “Mungkin soal perjodohan itu…?”

Kim So Eun mendongak ke atas. Dalam bayangan kegelapan malam, wajahnya tampak anggun sekali. “Apa perlunya menyebut dan menghubung-hubungkan hal itu. Kalau tidak suka, siapa yang bisa memaksa!”

Mendengar kata-kata itu Kim Bum menghentikan langkahnya sementara Kim So Eun berjalan terus.

“Kim So Eun tunggu! Mungkin kau salah menduga….” Gadis itu berjalan terus. Kim Bum lalu menyusul dan memegang lengannya. “Kim So Eun kita perlu bicara agar tidak ada lagi ganjalan di hati kita masing-masing…”

Tapi gadis itu menarik tangannya kuat-kuat hingga terlepas dari pegangan Kim Bum. “Aku rasa tidak ada yang perlu dibicarakan. Semua sudah jelas. Para guru kita juga sama-sama tahu. Ada ganjalan atau tidak, bagiku tidak ada masalah.”

“Dengar Kim So Eun, kita harus bicara dulu dengan tenang,” Kim Bum berusaha membujuk sambil memegang bahu setengah memeluk.

Kim So Eun mendorong tubuhnya dengan halus. “Ingat kita sedang menghadapi masalah besar! Jangan habiskan waktu dengan pembicaraan yang tidak ada artinya….”

“Katamu tidak ada artinya. Bagiku ini sangat berarti!” jawab Kim Bum.

“Kalau bagimu sangat berarti, apa saja yang sudah kau lakukan pada diriku? Adakah kau memberi sedikit saja kejelasan pada guru ataupun padaku?”

“Ah, kau memang mempersoalkan masalah perjodohan itu. Aku minta maaf. Mungkin aku dan guruku berlaku alpa dan buta…”

“Kalian orang-orang pandai yang tidak pernah alpa dan buta. Bukankah begitu? Sebaliknya aku dan guruku adalah manusia biasa yang alpa dan buta! Tidak tahu diri! Tidak tahu malu!” tukas Kim So Eun.

Kim Bum merasa dadanya mendenyut seperti tertusuk mendengar ucapan murid Song Seung Hun itu.

“Kim So Eun… masalah ini bisa kita selesaikan secara baik…”

“Jadi benar kataku tidak perlu dibicarakan saat ini!”

Langkah Kim Bum kembali terhenti. Kim So Eun berjalan terus. Kim Bum menarik nafas panjang. Dadanya teras bergolak. Dia melompat mengejar, sampai di hadapan gadis itu dia berkata. “Kau kubebaskan dari segala urusan. Biar aku sendiri yang mencari Lee Min Ho, Jang Geun Suk dan Park Shin Hye!” kata Kim Bum dengan suara keras.

Tak kalah lantangnya Kim So Eun menyahut. “Baik, lakukan semua itu olehmu karena kau seorang pendekar hebat! Aku akan mencari Jung Yong Hwa!” setelah berkata seperti itu Kim So Eun memutar tubuhnya dan berkelebat pergi.

Kim Bum jadi terkesima. “Gila! Kenapa masalah ini jadi berantakan seperti ini?!” ujarnya. Dia membanting kaki kanannya ke tanah, lalu berkelabat ke jurusan lain. Tapi setelah beberapa lama berlalu dia menghentikan langkahnya, berputar ke arah tadi dia datang. “Gadis itu, ah… bagaimana ini? Biar kubujuk dia sekali lagi. Kalau tidak mau, ya sudah!” Kim Bum segera mengejar ke arah perginya Kim So Eun.

Setelah lari dalam gelap menuruni lereng bukit beberapa waktu lamanya, selintas pikiran muncul dalam benak gadis itu. Hatinya ikut berkata. “Hampir tiga tahun aku tidak melihatnya. Setelah bertemu, mengapa aku bersikap begitu kasar padanya? Aku telah berlaku bodoh. Memojokkannya soal perjodohan itu. Mungkin semua itu bukan salahnya! Kini dia memikul beban berat mencari Jang Geun Suk, Lee Min Ho dan Park Shin Hye. Bagaimana kalau dia juga sampai jatuh ke tangan perempuan iblis itu?”

Karena pikirannya kacau balau, Kim So Eun menghentikan larinya. Sesaat dia tegak terdiam termangu-mangu. Di depannya ada sebuah pohon besar dengan beberapa cabang menjulur kokoh.

“Sebaiknya aku duduk saja dulu di atas pohon sana, menunggu sampai hari pagi. Tiba-tiba saja tubuhku terasa letih, aku perlu istirahat. Mungkin tidur beberapa saat.”

Berpikir sampai di situ, murid Song Seung Hun itu segera melesat ke atas pohon. Dia merebahkan tubuhnya di atas salah satu cabang besar. Tapi sulit baginya untuk segera memicingkan mata. Ingatannya masih tertuju pada Kim Bum. Lalu dia sadar akan apa yang dikatakannya pada pemuda itu, bahwa dia akan mencari Jung Yong Hwa. “sungguh aku telah berlaku bodoh!” katanya dalam hati. “Kalau guru tahu apa yang terjadi ini, pasti dia akan marah besar, Uh...!”

Selagi gadis itu berpikir dan bicara dalam hati seperti itu, telinganya tiba-tiba menangkap sebuah suara di bawah pohon. Suara langkah-langkah kaki yang sangat perlahan. “Kim Bum...?” ujar Kim So Eun lalu memandang ke bawah.

Pada saat yang sama, dua bayangan berkelebat dalam kegelapan. Di lain kejap dua sosok tubuh melayang ke atas pohon. Yang pertama langsung tegak di atas cabang tempat dia berbaring. Satunya berdiri di cabang sebelah atas. Meski di atas pohon begitu gelap, tapi karena sangat dekat, Kim So Eun masih dapat melihat siapa adanya dua orang itu.

Yang berdiri di atas cabang pohon tempatnya berbaring adalah seorang lelaki berbaju hitam. Di tangan kirinya, ia memegang sebuah tongkat aneh yang ketika diperhatikan ternyata adalah seekor ular kuning hitam yang telah dikeringkan. Lelaki itu memandangi Kim So Eun sambil tiada hentinya tersenyum.

Kim So Eun melirik ke atas. Pada cabang di atas kepalanya duduk berjuntai seorang pemuda.Mulutnya tiada henti menyunggingkan tawa. Murid Song Seung Hun itu mencium bahaya. Dengan cepat dia bangkit dan tegak di atas cabang pohon.

“Kalian siapa?!” tanya Kim So Eun.

“Lee Hong Ki!” Lelaki berbaju hitam membuka mulut sambil melambaikan tangannya pada pemuda yang duduk menjuntai di cabang pohon sebelah atas. “Dia bisa bicara! Kau dengar tidak?!”

Pemuda di atas pohon tertawa lebar lalu menjawab. “Tentu saja aku dengar, Guru! Suaranya merdu! Ha... ha... ha!”

“Suara merdu, paras cantik! Apa lagi?!” si pemuda lalu menggerak-gerakan kedua kakinya.

“Siapa sebenarnya mereka?!” tanya Kim So Eun dalam hati.

“Kau tak salah memilihkan jodoh untukku, Guru!” kata si pemuda lagi. Lelaki berbaju hitam tertawa, sementara Kim So Eun seperti disentakkan mendengar ucapan pemuda itu.

“Kalian ini siapa dan bicara apa?!” bentak Kim So Eun. “Jangan membuatku marah!”

“Ah! Gadis cantik rupanya bisa juga marah!!” kata lelaki berbaju hitam.

“Kalau marah seperti itu, kau jadi terlihat lebih cantik,” ujar si pemuda pula.

Kim So Eun kehilangan kesabarannya. “Manusia-manusia aneh! Cepat turun dari atas pohon ini! Kalau tidak jangan salahkan aku, kalau aku akan menghajar kalian!”

“Heh, tidak kusangka calon istrimu ini galak juga rupanya Lee Hong Ki!” kata lelaki berbaju hitam sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan tertawa.

“Kurang ajar!” teriak Kim So Eun marah. Dia melepaskan pita ungu yang mengikat rambutnya.

Melihat itu, lelaki berbaju hitam dengan cepat mengangkat kedua tangannya seraya berkata. “Tunggu, sabar dulu gadis cantik. Aku kenal kau sejak lama. Namamu Kim So Eun dan kau adalah murid lelaki sakti bernama Song Seung Hun, benar kan...?”

Diam-diam Kim So Eun jadi heran bagaimana orang tidak dikenal itu tahu akan dirinya.

“Kalau kau tidak segera memberi tahu siapa dirimu dan mengatakan apa keperluanmu, aku benar-benar akan menghajarmu!”

“Kau mengancam! Baiklah aku jelaskan. Namaku Ryu Soo Young. Pemuda itu bernama Lee Hong Ki, dia muridku! Ketahuilah, aku mencarimu dan sengaja membawa serta muridku karena aku ingin menjodohkanmu dengannya...!”

“Gila! Kalian berdua benar-benar sinting!”

“Boleh-boleh saja kau berkata begitu gadis cantik!” pemuda bernama Lee Hong Ki menyeletuk. “Sikap dan tutur bicaramu membuatku ingin segera menikahimu! Guru, bagaimana ini? Aku sudah tidak tahan, ingin segera menikah dengannya!”

“Kurang ajar!” teriak Kim So Eun marah. Pita ungu di tangan kanannya berkelebat ke atas.

“Wuttt!”

“Kraak!”

Cabang pohon tempat pemuda bernama Lee Hong Ki itu patah. Tubuhnya tak ampun lagi melayang jatuh ke bawah. Tapi setengah jalan dia berjungkir balik lalu melesat dan tiba-tiba dia sudah duduk di atas bahu lelaki bernama Ryu Soo Young yang saat itu masih berdiri di atas cabang pohon di hadapan Kim So Eun. Dua orang itu lalu tertawa tergelak.

“Gadis cantik, jangan marah dulu. Dengar dulu lanjutan ucapanku. Aku sudah berniat dan memutuskan bahwa kau harus jadi istri muridku!”

“Gila! Siapa sudi!” teriak Kim So Eun.

“Sudi atau tidak itu urusan nanti! Yang jelas aku saat ini juga akan melamarmu agar menjadi istri Lee Hong Ki. Ha... ha...ha!”

“Benar-benar gila!” teriak murid Song Seung Hun itu. Pita ungu yang memang menjadi senjata andalannya kembali dihantamkan ke depan. Ujung pita menyambar ke arah wajah Ryu Soo Young. Walau pita itu terbuat dari sutera halus, namun di tangan Kim So Eun benda itu telah berubah menjadi sekeras besi. Sesaat lagi ujung pita siap menghancurkan wajah Ryu Soo Young, tiba-tiba pemuda yang duduk di atas bahu Ryu Soo Young menggerakkan kaki kanannya.

“Wuttt!” Satu gelombang angin dengan deras menerpa ke arah Kim So Eun. Murid Song Seung Hun itu terkejut ketika dia merasakan laksana didorong sebuah tembok yang tidak kelihatan. Bukan saja ujung pitanya terhempas ke samping, tapi tubuhnya ikut bergoyang keras hingga kedua kakinya bergetar.

Dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuhnya, gadis itu dengan cepat mengimbangi diri dan balas menghantam dengan tangan kanan. Serangkum angin panas menderu ke arah dada Ryu Soo Young. Setengah jalan, Kim So Eun menjentikkan telunjuk dan ibu jari tangan kanannya. Angin serangannya secara aneh mendadak sontak memecah dua. Satu menyambar ke perut Ryu Soo Young, dan satunya lagi menghantam ke arah tenggorokan pemuda bernama Lee Hong Ki! Inilah jurus serangan sakti yang disebut “Memecah Angin Meruntuh Mentari Menghancurkan Bulan”.

Kini dua lawan ganti terkejut. Kim So Eun menyeringai. “Rasakan oleh kalian!” kata gadis itu dalam hati. Namun apa yang dilihatnya kemudian membuat dia tercekat. Sesaat lagi serangannya akan menghantam dada Ryu Soo Young, lelaki itu tiba-tiba menjatuhkan dirinya ke kiri. Tubuh sang murid yang ada di atas bahunya ikut miring ke kiri. Dua sosok tubuh mendadak kaku seolah berubah jadi kayu. Ryu Soo Young melingkarkan kedua kakinya pada cabang pohon tempat dia berdiri. Sesaat kemudian dua sosok tubuh kaku itu berputar dengan deras hingga mengeluarkan deru angin yang keras.

Selagi Kim So Eun terkesiap melihat apa yang dilakukan kedua orang itu, tiba-tiba tubuh-tubuh yang berputar kencang berpisah. Satu melesat ke kiri, satu lagi ke kanan. Sebelum tahu apa yang terjadi Kim So Eun merasakan tangan kiri dan kanannya dicekal orang. Dia berusaha meronta melepaskan diri tapi lengannya seolah dibelenggu dua batang besi.

“Aku sudah memegangnya, Guru!” terdengar suara Lee Hong Ki berseru.

“Ayo kita bawa dia ke bawah!” jawab Ryu Soo Young.

Kim So Eun merasakan tubuhnya dibawa melayang ke tanah tanpa dia sanggup berbuat sesuatu apapun. Dua tangannya yang dicekal kini terasa kaku tak bisa digerakkan. Pitanya jatuh entah kemana!

Satu sosok bayangan berkelebat cepat di bawah pohon. Tanpa melihat, telinga dan nalurinya mengetahui kalau di atas pohon ada tiga orang berkelahi. Bayangan itu berlari terus namun mendadak berhenti ketika menyadari ada sebuah benda bergelung di lehernya. Di ambilnya benda itu. “Sehelai pita ungu...” Orang itu berucap perlahan sambil memainkan pita sutera yang lembut itu dalam genggamannya. “Ada bau harumnya, pertanda milik seorang perempuan... Mungkin salah satu dari mereka yang tengah bergulat di atas pohon?!” Diperhatikannya lagi pita itu. Pada salah satu ujungnya tertera dua buah huruf, KB. Lalu dia berpaling ke arah dari mana tadi dia datang. Di kejauhan dia mendengar suara dua orang tertawa tergelak, lalu suara ketiga suara perempuan memaki marah.

“Guru, apa yang akan kita lakukan padanya sekarang?”

“Terserah kau saja! Aku tidak peduli, Lee Hong Ki! Tapi yang penting cari dulu benda sakti itu. Aku yakin dia selalu membawanya kemana pun dia pergi!”

“Kurang ajar! Angkat tanganmu dari tubuhku!”

“Diamlah, jangan banyak bicara!”

“Bedebah jahanam! Aku bersumpah akan mematahkan lehermu!”

“Aku rela mati di tanganmu, gadis cantik! Ha... ha... ha...!” Diam sejenak. Lalu, “Guru! Aku menemukan benda itu!”

“Bagus! Cepat serahkan padaku dan tinggalkan tempat ini!”

“Apa!? Bukankah...”

“Ya... ya! Terserah padamu kau mau berbuat apa! Aku sudah dapat paku sakti ini! Aku pergi duluan!”

“Aku takkan lama, Guru! Apa kau tak mau menunggu dulu! Mungkin juga mau melihat bagaimana aku bersenang-senang dengan gadis cantik jelita ini?!”

“Aku sudah lebih dari puas mendapatkan benda ini! Kau boleh mengurusi gadis itu sesukamu. Tapi ingat, dua malam ke depan, kau harus menemuiku di tempat yang sudah ditentukan!” Yang bicara itu, Ryu Soo Young, ia membalikkan tubuhnya dan berkelebat pergi membawa kantong kain milik Kim So Eun yang di dalamnya tersimpan lebih dari tiga lusin senjata rahasia berupa paku perak.

Lee Hong Ki memutar tubuhnya lalu melangkah mendekati Kim So Eun yang saat itu tertegak kaku dengan kedua tangan terentang ke samping.

“Pemuda keparat! Apa yang hendak kau lakukan! Berani kau menyentuh tubuhku...!”

“Mengapa aku tidak berani!” jawab Lee Hong Ki lalu tangan kanannya bergerak menarik robek pakaian ungu Kim So Eun tepat di bagian dada. Gadis itu terpekik. Lee Hong Ki mengeluarkan suara menggeru melihat dada yang tersingkap polos itu.

Namun dia tak bisa menikmati apa yang dilakukannya itu lebih lama. Dua larik cahaya hijau menyambar ke arah kepala Lee Hong Ki. Murid Ryu Soo Young itu tak terdengar menjerit dan tak sempat mengetahui apa yang membunuhnya. Kepalanya hancur berkeping-keping! Darah dan kepingan tulang serta daging muncrat. Sebagian mengenai wajah dan pakaian Kim So Eun, membuat gadis ini menjerit ngeri setengah mati.

Lee Hong Ki yang kini tanpa kepala mengepulkan asap di bagaian lehernya yang putus. Tubuh yang kini menjadi kehijauan itu jatuh tergelimpang. Dalam keadaan kesakitan dan wajah masih pucat seperti mayat, tiba-tiba Kim So Eun melihat sosok seorang pemuda yang memandang tepat ke arahnya dengan sepasang matanya yang hijau. Ada kilatan cahaya aneh dalam dua mata itu, yang kemudian perlahan-lahan meredup lalu lenyap.

“Kau... kau tak apa-apa...?” pemuda itu bertanya. Suaranya serak bergetar. Sepertinya dia tengah menahan gejolak yang ada dalam tubuhnya.

“Kau...” Kim So Eun merasa lidahnya kelu. “Kau menolongku, terima kasih...” Gadis itu diam sebentar, berpikir. “Ciri-ciri manusia ini sepertinya...”

“Apa yang ada dalam benakmu?” tiba-tiba pemuda itu bertanya.

“Kau... kau... Bukankah kau pemuda bernama Jung Yong Hwa itu...?”

Kilatan sinar aneh kembali membersit di sepasang mata hijau si pemuda. “Kita tidak pernah kenal. Tidak pernah bertemu sebelumnya. Mengapa kau bisa tahu namaku...?”

“Orang-orang rimba persilatan banyak membicarakan dirimu...”

“Aku sudah tahu hal itu...” kata pemuda yang memang adalah Jung Yong Hwa, pemuda yang menjadi budak Park Shin Hye itu. “Ini punyamu...?” Jung Yong Hwa mengulurkan pita ungu yang dipegangnya.

Kim So Eun mengangguk. Dia tak bisa menggerakkan tangan untuk mengambil pita itu.

Jung Yong Hwa mengulurkan tangannya lalu melingkarkan pita ungu itu di leher Kim So Eun. Sepasang mata hijau si pemuda tiba-tiba menatap ke arah dada yang tersingkap. Dua bola matanya menyorotkan sinar aneh, membuat Kim So Eun jadi bergeming. Tiba-tiba dua tangan Jung Yong Hwa bergerak ke arah dada gadis itu. Kim So Eun semula hendak berteriak mengancam. Namun ketika dilihatnya Jung Yong Hwa hanya menarik ujung bajunya dan merapatkannya hingga dadanya tertutup, diam-diam gadis itu menjadi lega. “Aneh, dia tidak sejahat yang dipergunjingkan orang...”

“Apa yang ada dalam benakmu?” tanya Jung Yong Hwa yang membuat Kim So Eun jadi tercekat.

“Tidak... tidak ada apa-apa...”

“Aku tahu kau memikirkan sesuatu...” kata si pemuda. Lalu dia berpaling pada mayat tanpa kepala yang tergeletak di tanah. “Siapa manusia itu? Kenapa dia hendak berlaku jahat padamu?”

“Namanya Lee Hong Ki. Dia murid seorang lelaki yang mengaku bernama Ryu Soo Young. Dia merampas barang milikku... Kini sudah dilarikan oleh gurunya itu.”

“Barang apa?”

“Senjata rahasiaku. Sekantung paku...”

Jung Yong Hwa mundur dua langkah. Sepasang matanya kelihatan menyala hijau. Tampangnya jadi sangat seram yang membuat Kim So Eun kembali bergidik. “Paku terbuat dari baja murni?!”

Murid Song Seung Hun itu menggeleng. “Paku itu terbuat dari perak putih...”

Wajah Jung Yong Hwa perlahan-lahan tampak berubah tenang. “Mengapa mereka merampas benda itu darimu?”

“Aku tidak tahu... Mungkin ada sangkut pautnya dengan dirimu...”

“Kau tahu banyak tentang keadaanku! Siapa namamu?”

“Kim So Eun...”

“Kurasa aku bisa berteman denganmu. Jadi kau harus ikut denganku...”

Kim So Eun menggeleng dan cepat berkata. “Kau telah menolongku. Aku berterima kasih. Itu sudah cukup. Jangan kau bawa diriku...”

“Kau takut padaku?”

“Kau... kau mungkin orang baik. Tapi kau berada di bawah suatu kekuatan jahat...”

Dua bola mata Jung Yong Hwa membesar. “Maksudmu Park Shin Hye...” tanyanya dengan suara bergetar. Kim So Eun tak menjawab “Aku perlu teman untuk bertukar pikiran. Kurasa kau orangnya. Kau harus ikut aku Kim So Eun!”

“Tidak, kau pergi saja sendiri!”

Jung Yong Hwa membuka mulutnya lebar-lebar. “Kau menguap!” ujar Kim So Eun.

“Sudah setahun aku tak pernah tidur. Kurasa waktunya sudah hampir tiba. Mungkin satu atau dua hari kedepan. Jika aku tidur, harus ada seseorang menjaga diriku... ”

“Park Shin Hye-mu bisa melakukan itu...” kata Kim So Eun kemudian.

“Ada sesuatu yang tidak beres dalam diriku. Setiap kali aku menyadari hal ini, timbul dendam besar terhadap perempuan itu... ”

“Di hadapanku kau berkata begitu. Aku mencium maksud jahat tersembunyi terhadap diriku dalam otakmu... Bukankah kau kekasih Park Shin Hye?”

“Dia suka padaku. Aku memang tergila-gila padanya. Tetapi tetap saja aku merasa ada yang tidak beres. Belum selang berapa lama aku bahkan telah membunuh guruku sendiri atas perintahnya...”

“Berarti kau juga bisa membunuh siapa saja atas kemauan perempuan itu, termasuk diriku!”

Jung Yong Hwa menyeringai. “Kalau itu memang terjadi, angap saja itu sudah suratan takdirmu!”

“Gila!” teriak Kim So Eun. Jung Yong Hwa kembali menyeringai. Dia merundukkan tubuhnya sedikit. Di lain saat Kim So Eun sudah berada di atas panggulan bahu kirinya. “Turunkan! Lepaskan diriku! ” teriak Kim So Eun. Jung Yong Hwa tertawa lebar.


Ketika dia hendak berkelebat meninggalkan tempat itu, tiba-tiba satu bayangan berkelebat menghadangnya disusul suara membentak keras.

“Turunkan gadis itu!”

Kim So Eun mengenali suara orang yang membentak. Dia segera berseru, “Kim Bum!”

Dua bola mata hijau Jung Yong Hwa memandang ke depan. Enam langkah di depannya berdiri seorang pemuda berpakaian serba putih.

“Lepaskan gadis itu!” murid Kim Tae Hee itu kembali membentak.

Jung Yong Hwa menyeringai. “Kalau kau merasa sanggup mengambilnya, silakan coba!” Sepasang mata pemuda itu mengeluarkan kilauan aneh. Dua mata itu mengedip. “Wussss! Wussss!”

Dua sinar hijau menyambar dengan dahsyat ke arah Kim Bum. Kim Bum berseru kaget. Dia cepat menyingkir seraya menangkis dengan menghantamkan tangan kanan ke depan. Sinar putih menyilaukan merambas menghantam dua larik sinar hijau maut yang keluar dari sepasang mata Jung Yong Hwa.

“Bummmmm!”

Kim Bum terbanting ke tanah. Sekujur tubuhnya seperti kaku dan panas. Terhuyung-huyung dia berdiri. Dadanya berdenyut sakit. Kepalanya seperti ditusuk-tusuk. Jung Yong Hwa dan Kim So Eun tak kelihatan lagi bayangannya. Tengkuknya merinding ketika melihat bagaimana pakaian putihnya telah berubah menjadi kehijau-hijauan! Dia memandang berkeliling. Dan lebih merinding lagi melihat bagaimana beberapa pohon di sekitarnya hancur mengepulkan asap kehijauan!

“Celaka... mengapa jalan nafasku mendadak menjadi sesak...?” Kim Bum memegang dadanya. Dengan cepat ia mengerahkan tenaga dalam. Tapi terlambat. Dia mengeluh tinggi ketika kepalanya serasa dipalu. Lalu perlahan-lahan pemandangannya menjadi gelap. Bersamaan dengan itu wajahnya jadi kehijauan. Sesaat lagi dia akan roboh tak sadarkan diri ketika tiba-tiba ada suara mengiang di dua liang telinganya. Dia mengenali suara itu tapi hanya bisa berdesah. “Ah Guru... aku yang muda terpaksa mendahuluimu...”

Murid Kim Tae Hee itu mengeluarkan suara mengerang panjang. Sebelum tubuhnya tersungkur ke tanah, tiba-tiba ada satu bayangan berkelebat. bersamaan dengan itu ujung sebuah tongkat menotok dengan telak urat besar di lehernya sebelah kanan. Lalu ada suara orang menarik nafas panjang. “Sekejap saja aku terlambat menotok jalan darahnya, nyawa pemuda ini pasti tak akan tertolong!” Lalu di tempat itu kembali menggema sebuah suara yang dapat merobekkan gendang telinga.

Bersambung…

Manusia Paku (Chapter 4)


Selagi Kim So Eun masih termangu mendengarkan penuturan gurunya, Song Seung Hun kembali meneguk dengan lahap arak dalam bumbung bambu.

“Apa yang ada dalam benakmu Kim So Eun?”

“Penuturanmu mengerikan sekali guru,” jawab Kim So Eun. “Kalau Jung Yong Hwa bisa membunuh gurunya sendiri semudah membalik telapak tangan, apa lagi membunuh orang lain!”

“Justru itulah yang ditakutkan orang rimba persilatan. Belasan tokoh tingkat tinggi dalam dunia persilatan telah dihabisinya. Pada saatnya mungkin aku juga akan menjadi korbannya... Aku dan kawan-kawan sudah siap menjaga segala kemungkinan. Di luar terdengar kabar bahwa paku baja putih dikuasai seorang pemuda sakti bernama Jang Geun Suk. Orang itu kabarnya tinggal di Gunung Jirisan. Celakanya Jang Geun Suk mencari kesempatan dalam kesulitan. Dia menggunakan paku-paku itu untuk kepentingannya sendiri. Kenyataannya dia telah berhasil mengumpulkan sebagian besar harta kekayaan dan membunuh tokoh yang menginginkan paku itu. Di luaran tersiar kabar bahwa siapa pun yang berhasil menguasai Jung Yong Hwa maka ia akan menguasai rimba persilatan...”

“Berarti kejahatan akan berlangsung terus...”

“Mungkin begitu muridku. Namun siapa pun yang menguasai Jung Yong Hwa akan lebih baik dari pada saat ini dia dikuasai Park Shin Hye. Lagi pula orang lain itu mungkin lebih bisa ditumpas daripada Park Shin Hye.”

“Aku teringat pada senjata rahasia yang dulu guru berikan,” kata Kim So Eun sambil meraba pinggang pakaiannya di mana tergantung sebuah kantong berisi senjata rahasia berbetuk paku terbuat dari perak.

“Justru benda itu yang menjadi salah satu alasanku memanggilmu kemari. Ada selentingan bahwa beberapa tokoh silat menganggap paku itu adalah paku sakti keramat yang bisa melumpuhkan Jung Yong Hwa lalu menguasainya. Berarti kau harus hati-hati Kim So Eun. Salah duga bisa menjadi malapetaka bagimu.”

Ucapan Song Seung Hun membuat Kim So Eun merasa tidak enak.

“Lalu apa yang harus kuperbuat guru?” tanya gadis itu.

“Aku minta kau segera mencari Kim Bum...” Song Seung Hun menghentikan katra-katanya ketika dilihatnya wajah sang murid tiba-tiba memerah. “Eh, ada sesuatu dalam benakmu?”

“Guru, aku lebih suka kau menyuruhku melakukan sesuatu yang lain dari pada mencari pemuda itu...”

“Hmm... aku tahu mengapa kau bicara begitu,” kata Song Seung Hun sambil tertawa tergelak. “Kau kecewa padanya karena baik dia maupun gurunya belum selesai membahas soal perjodohan kalian.”

“Aku tidak pernah kecewa!” jawab Kim So Eun tegas walau diam-diam hati sanubarinya memelas. “Aku hanya ingin mengatakan ini kepadamu guru. Jika orang tidak suka, mengapa harus memaksa?”

“Hmm…” Song Seung Hun bergumam sambil mengelus-elus bumbung di pangkuannya. “Tidak ada yang tidak suka. Tidak ada yang memaksa. Tapi... sudahlah. Urusan perjodohanmu sudah kubicarakan lagi dengan Kim Tae Hee beberapa waktu lalu sewaktu aku menyambanginya di puncak Gunung Gyeryongsan. Urusan sekarang yang lebih penting adalah soal Jung Yong Hwa. Sudah diketahui bahwa hanya paku baja putih itu yang sanggup melumpuhkannya. Di tangan siapa paku itu sekarang juga sudah diketahui. Yang belum diketahui adalah kapan Jung Yong Hwa tidur. Dia hanya mampu ditundukkan pada saat tidur. Dalam setahun tidurnya hanya sekali. Itupun tidak lama. Jadi kau harus mencari tahu kapan dan dimana tidurnya. Kau juga harus mendapatkan paku sakti itu agar tidak jatuh ke tangan orang yang jahat seperti Park Shin Hye...”

“Aku seperti mencari sebutir kelapa di tengah samudera luas…”

Song Seung Hun tertawa mendengar jawaban muridnya. “Itu sebabnya aku minta kau segera mencari Kim Bum. Kalau sudah ketemu, segera hubungi Lee Min Ho, pasti pemuda itu bisa menjelaskan yang kau perlukan.”

“Kalau begitu pesan guru segera aku lakukan. Bolehkah aku minta diri sekarang?”

“Tentu saja, tapi tidak perlu buru-buru. Kita masih ada sedikit waktu untuk berbincang-bincang. Apa kau tidak ingin menikmati arak khayangan ini beberapa teguk?” Song Seung Hun menutup ucapannya dengan melemparkan bumbung bambu ke arah muridnya.

Lemparan itu bukan sembarang lemparan karena ujung bumbung bambu melesat menyambar ke arah dada Kim So Eun. Maklum sang guru lagi-lagi sedang menjajaki kemampuan Kim So Eun.

Kim So Eun dengan cepat menggeser kakinya, dan tubuhnya dimiringkan ke kanan, tangan kirinya diangkat sedikit. Dan sesaat kemudian, bumbung yang dilempar Song Seung Hun itu sudah berada di tangan kirinya!

Bersambung…

Manusia Paku (Chapter 3)


Puncak Gunung Seoraksan. Langit tampak mendung sejak pagi. Sang surya sama sekali tidak kelihatan menyembul. Keadaan saat itu seolah menjelang malam hari. Sementara hujan turun rintik-rintik dan udara terasa sangat dingin.

Di tempat persemadiannya Kang Ji Hwan duduk bersila di lantai, hanya beralaskan sehelai kulit kambing. Kedua tangannya diletakkan di atas paha. Mata terpejam, tubuh tak bergerak sedikit pun. Kalau saja tidak ada hembusan nafas yang menimbulkan asap tipis akibat dinginnya udara, orang itu tidak ada bedanya seperti sebuah patung. Ia memiliki tubuh tegap dan wajah segar. Semua tu akibat latihan jasmani dan kekuatan rohani serta hawa sakti yang sudah mencapai tingkat tinggi dan jarang orang menguasainya.

Di hadapan Kang Ji Hwan saat itu duduk seorang pemuda yang dari tubuhnya membersitkan sinar aneh berwarna kehijau-hijauan. Pemuda itu menatap Kang Ji Hwan yang ada di hadapannya. Dia sudah berada di tempat itu sejak malam tadi. Dan Kang Ji Hwan masih saja bersemadi. Sampai kapan dia harus menunggu? Kalau dengan orang lain mungkin dia berani mengganggu semadi itu atau meninggalkan orang itu begitu saja. Tapi terhadap sang guru tentu saja dia tak berani berbuat begitu.

Waktu berjalan terus. Siang pun datang. Udara terang sedikit tetapi sang surya masih belum kelihatan. Sepasang mata hijau pemuda itu melihat gerakan pada urat nadi di leher Kang Ji Hwan. Hatinya menjadi lega. Ini satu pertanda bahwa lelaki itu akan mengakhiri semadinya. Benar saja. Tak lama kemudian terlihat getaran-getaran teratur pada bagian dada orang itu. Setelah itu kepalanya bergerak sedikit. Menyusul dengan terbukanya kedua matanya sedikit demi sedikit.

Begitu melihat mata sang guru membuka, pemuda tadi segera membungkuk dalam-dalam. Kepalanya hampir menyentuh kaki sang guru. Dan dia tetap dalam keadaan seperti itu sampai dia mendengar suara Kang Ji Hwan berkata. “Jung Yong Hwa, kau boleh mengangkat tubuhmu.”

Pemuda itu dengan cepat mengangkat tubuhnya, duduk dengan sikap tegak dan memandang lelaki di hadapannya. Dua mata bening Kang Ji Hwan serta merta melihat perubahan besar telah terjadi dengan diri muridnya. Hatinya memelas sedih.

“Dua puluh tahun lebih aku mendidiknya untuk menjadi manusia berbudi pendekar sejati. Ternyata semua itu sia-sia belaka. Ya Tuhan, apa dosaku pada-Mu hingga kau turunkan malapetaka ini pada muridku? Jika dia yang berdosa biar aku yang menampung semua dosanya. Jangan dia. Diriku akan segera datang menghadap-Mu, tapi dia masih muda, jalan hidupnya masih panjang. Ya Tuhan, aku mohon petunjuk-Mu…”

“Guru, aku datang menghadap Guru. Semoga kedatanganku berkenan di hati Guru…”

“Jung Yong Hwa, aku senang melihat kau datang. Tapi hatiku juga sangat sedih melihat keadaanmu seperti ini…” ucap Kang Ji Hwan dengan suara tersendat.

“Aku tahu bagaimana perasaan Guru, namun mungkin semua ini sudah jalan nasibku. Semua yang terjadi adalah kelalaian dan kesalahanku. Biarlah kelak aku yang menanggung hukuman atas segala dosa...”

“Jung Yong Hwa, apa yang sudah terjadi memang sudah tidak bisa diperbaiki lagi. Mungkin suatu ketika ada suatu kekuatan atau mukjizat yang bisa mengembalikan dirimu seperti dulu lagi. Namun yang sangat aku sesalkan adalah karena kau tidak mendengarkan nasihatku. Ketika kau kulepas tahun lalu aku sudah berpesan, jangan sekali-sekali kau dekati apalagi berhubungan dengan perempuan jahat bernama Park Shin Hye itu. Sejak kau berada di sini, aku tahu secara diam-diam dia datang mengintai dan memperhatikan dirimu. Dia terpikat pada dirimu. Ternyata kau bukan saja masuk pada perangkapnya tapi juga jatuh cinta padanya...!”

“Guru, aku tahu dosa dan kesalahanku. Ketika Guru melepasku setahun lalu walau memiliki kepandaian tinggi, tapi aku masih buta pengalaman. Dunia luar serba asing bagiku. Sampai akhirnya aku masuk dalam perangkap Park Shin Hye... Aku tidak mampu mencegahnya. Aku berada di bawah kekuasaannya, tak mampu keluar dari genggamannya...”

Lelaki di hadapan Jung Yong Hwa menarik nafas panjang. “Jangankan kau, orang yang berkepandaian tinggi seratus kali darimu pun sekali berciuman dengan Park Shin Hye, seumur hidup tak akan sanggup membebaskan diri dari cengkeramannya. Seumur hidup akan jadi budaknya. Cairan dalam tubuh Park Shin Hye telah mengalir dalam darahmu. Tak mungkin dibersihkan lagi...!”

Lama Jung Yong Hwa termenung mendengar kata-kata gurunya itu. Apa yang diucapkan lelaki itu memang benar adanya. Sejak dia terpikat dengan Park Shin Hye dan mencium gadis itu, sejak itu pula dia tak mampu membebaskan diri dari kekuasaan perempuan itu. Dia melakukan apa saja yang diperintahkan tanpa berpikir apakah hal itu baik atau buruk.

“Guru, kalau memang begini keadaanku, aku bersedia menerima hukuman apa pun.”

“Hukuman bisa saja dilakukan atas dirimu. Tidak olehku, mungkin oleh orang lain. Mungkin juga oleh dirimu sendiri...”

“Maksud Guru, aku sebaiknya bunuh diri saja?” tanya Jung Yong Hwa.

Lelaki itu tersenyum pahit. Dia melihat ada kilatan aneh pada sepasang mata muridnya.

“Aku tidak menganjurkanmu melakukan bunuh diri. Ketahuilah, tidak ada satu kekuatan pun di dunia ini yang sanggup membunuhmu! Kecuali kekuatan Tuhan atau atas petunjuk dari-Nya. Hanya saja, aku melihat masih ada satu jalan. Ada penyakit dalam tubuhmu. Untuk mengobatinya, harus melenyapkan sumbernya...”

“Maksud Guru?”

“Sanggupkah kau membunuh Park Shin Hye?”

Paras Jung Yong Hwa tidak berubah. Tapi sang guru lagi-lagi melihat ada kilatan cahaya mengerikan di kedua mata muridnya.

“Jung Yong Hwa, coba kau perhatikan dirimu. Dari sekujur tubuhmu terbersit sinar aneh berwarna kehijau-hijauan. Pengaruh cairan tubuh beracun Park Shin Hye membuatmu hanya bisa tidur satu tahun sekali. Itu pun tidak bisa lama dan tak diketahui kapan kau bisa tidur. Dua bola matamu hijau juga akibat pengaruh cairan dari tubuh Park Shin Hye. Di situ kekuatanmu terpusat. Kau dijadikan budaknya untuk melakukan apa saja yang dimintanya. Coba kau ingat, sudah berapa banyak orang-orang persilatan yang menjadi korbanmu atas perintah Park Shin Hye... ”

Kang Ji Hwan menghentikan ucapannya. Dia melihat tubuh muridnya bergetar lalu kulit tubuh sampai ke leher terus ke wajah perlahan-lahan berubah kehijau-hijauan. Di dalam diri Jung Yong Hwa, tiba-tiba saja ada suara iblis menggelegar. “Lelaki ini harus kubunuh! Harus kubunuh! Tapi dia guruku! Dia guruku! Persetan siapapun dia adanya! Harus kubunuh sekarang juga!”

Jung Yong Hwa berdiri.

“Kau mau ke mana muridku?” Tanya Kang Ji Hwan.

“Aku terpaksa harus mem...” Jung Yong Hwa tidak meneruskan ucapannya, sepertinya dia masih bisa menguasai diri. “Aku harus pergi sekarang juga Guru,” Dia memutar tubuhnya cepat-cepat.

“Tunggu dulu Jung Yong Hwa. Masih ada satu hal yang mau aku bicarakan. Ini sangat penting karena masih menyangkut kehidupan masa depanmu...”

“Aku sudah tidak punya masa depan Guru....” Jung Yong Hwa segera hendak beranjak pergi.

“Dengarkan dulu apa yang akan kukatakan, baru kau boleh pergi...”

“Jika Guru memaksa, aku terpaksa... ”

“Membunuhku?” ujar Kang Ji Hwan dengan senyum kecut. “Kau boleh membunuhku setelah mendengar penuturanku... ”

Warna kulit dan bola mata Jung Yong Hwa semakin menghijau. Badannya menggeletar tanda dia berusaha keras menahan gejolak keinginan untuk membunuh yang membakar dirinya.

“Kalau begitu, cepat katakan saja apa yang mau kau katakana, Guru...!”

“Ketika aku masih kecil, guruku pernah bercerita tentang tigapuluh buah paku sakti terbuat dari baja murni. Paku ini dibuat oleh seorang sakti yang bermukim di daratan Tiongkok selatan. Konon paku ini punya kekuatan daya penyembuhan luar biasa. Aku mempunyai firasat paku sakti itulah yang sanggup membersihkan darah dalam tubuhmu. Caranya, tigapuluh buah paku itu harus dipantekkan ke tubuhmu. Mulai dari ubun-ubun sampai ke kaki. Namun ada satu akibat yang tidak dapat dielakkan. Walau pengaruh Park Shin Hye akan pupus dari dirimu, tetapi kau kelak akan berada di bawah kekuasaan baru yang mungkin lebih dahsyat...”

Ucapan Kang Ji Hwan terhenti ketika tiba-tiba ruangan semadi itu bergetar oleh berkelebatnya suatu bayangan hijau yang mengeluarkan angin mengandung hawa aneh. Lalu terdengar suara orang berkata. “Jung Yong Hwa! Lama aku mencarimu! Tak tahunya kau berada di sini, membicarakan hal-hal omong kosong!”

Seorang gadis berwajah cantik luar biasa, mengenakan pakaian yang terbuat dari sutera halus berwarna hijau, tiba-tiba tegak berdiri di samping Kang Ji Hwan. Bau tubuhnya yang harum, menebar di ruangan itu. Di atas kepalanya ada sebuah mahkota kecil berbentuk kepala ular terbuat dari emas, memiliki sepasang mata terbuat dari permata berwarna hijau.

“Park Shin Hye...!” seru Jung Yong Hwa lalu cepat bangkit mendatangi perempuan itu.

“Kekasihku...!” jawab Park Shin Hye seraya mengembangkan kedua tangannya. Begitu Jung Yong Hwa sampai di hadapannya, langsung dipeluknya pemuda itu. Jung Yong Hwa membalasnya dengan penuh cinta.

Wajah Kang Ji Hwan tampak merah mengelam. Dia membentak marah. “Keluar kalian dari tempat ini! Jangan kalian berani lagi menginjakkan kaki di puncak Gunung Seoraksan ini!”

Park Shin Hye tertawa tinggi. Sambil merangkul lengan pemuda itu, Park Shin Hye berkata. “Jung Yong Hwa kekasihku, kau tadi mendengar semua ucapannya? Benar begitu...?”

“Aku memang mendengarnya Park Shin Hye, tapi aku tidak peduli!”

Park Shin Hye kembali tertawa panjang. “Kurasa lelaki ini hanya satu rongsokan tak berguna. Apa pendapatmu Jung Yong Hwa? ”

“Memang aku juga merasa begitu...” jawab Jung Yong Hwa.

Wajah Kang Ji Hwan kaku membesi. “Jung Yong Hwa! Sebut nama Tuhanmu! Bebaskan dirimu dari pengaruh jahat perempuan iblis ini!”

Park Shin Hye hanya tertawa mendengar ucapan Kang Ji Hwan. “Apa tindakan kita terhadap manusia-manusia tidak berguna di atas dunia ini Jung Yong Hwa?” Park Shin Hye kembali berucap.

“Harus dibasmi. Harus disingkirkan karena Bumi tidak layak dihuni oleh orang-orang semacam dia!”

“Jung Yong Hwa!” seru Kang Ji Hwan.

“Kekasihku, aku senang mendengar ucapanmu! Sekarang lakukan apa yang harus kau lakukan! Bunuh lelaki tak berguna itu!”

Kang Ji Hwan cepat berdiri ketika dilihatnya Jung Yong Hwa maju dua langkah mendekatinya. Dua bola matanya menjadi sangat hijau. Ketika lelaki itu mengedipkan kedua matanya, dua larik sinar hijau menderu menyambar ke arah kepala dan dada sang guru.

Kang Ji Hwan membentak keras. Sambil menyingkir ke samping, dia cepat membentengi diri dengan dua buah pukulan tangan kosong mengandung hawa sakti. Angin yang keluar dari dua telapak tangan Kang Ji Hwan itu laksana deru topan dan mengeluarkan sinar kelabu.

“Bummmmmm! Bummmmm!”

Dua ledakan menggelegar. Asap kelabu dan hijau menutupi pemandangan. Atap dan dinding ruangan runtuh. Lantai mencuat hancur berantakan. Jung Yong Hwa dan Park Shin Hye terlempar jauh, lalu jatuh di tanah saling menindih. Ketika asap hijau dan kelabu pupus, kelihatanlah tubuh Kang Ji Hwan terkapar di antara reruntuhan bangunan. Kepalanya hancur dan sekujur badannya remuk. Seluruh sosoknya kelihatan hijau gelap.

Jung Yong Hwa merasakan dadanya mendenyut sakit. Nafasnya memburu.

“Kau tak apa-apa...?” bisik Park Shin Hye.

“Hanya merasa sesak sedikit...” jawab Jung Yong Hwa. Dia memandang ke arah mayat gurunya, lalu berkata, “Guruku... dia tewas...”

“Lelaki itu bukan gurumu!” tukas Park Shin Hye. “Dia tak lebih dari seorang lelaki bodoh! Tak ada gunanya! Kau telah melakukan sesuatu yang benar. Membunuhnya! Aku bangga punya kekasih sepertimu!” Park Shin Hye lalu memeluk dan mencium Jung Yong Hwa.

Bersambung…