Selasa, 08 Mei 2012
Gladiator (Chapter 4)
Wanita cantik itu akhirnya tertolong juga. Arak yang dituangkan ke mulut wanita itu secara sedikit demi sedikit membuat kesembuhan yang mujarab. Wanita cantik itu kebingungan dan terheran-heran ketika menyadari badannya menjadi segar, lebih segar daripada sebelum melakukan pertarungan. Ia pun terperanjat memandang seraut wajah seorang pemuda tampan yang punya senyum mendebarkan itu.
Ketika wanita itu bebas dari maut akibat luka dalamnya, Kim Bum berada di bawah pohon teduh, menyandarkan pundak kirinya sambil kedua tangan terlipat di dada. Bumbung araknya menggantung di pundak kanan. Senyumnya mekar indah dengan tatapan mata yang lembut. Tak heran jika wanita cantik itu sempat terbengong menatap Kim Bum.
“Siapa dia?!” pikirnya, mencoba mengingat-ingat masa sebelum pingsan tadi. “Seingatku... seingatku... orang Istana Daehan Minguk tadi menyerangku dengan tendangan yang luar biasa beratnya. Kemudian... kemudian aku jatuh, darahku keluar dari mulut dan... dan... dan kulihat samar-samar orang Istana Daehan Minguk tadi ingin mengakhiri hidupku dengan satu lompatan. Lalu... lalu bagaimana, ya?”
Wanita itu masih diam mengingat-ingat pertarungannya tadi. “O, iya... kemudian lawanku tiba-tiba terpental sebelum pedangnya menghujam ke tubuhku. Dan... kalau tak salah, aku sempat melihat sekelebat bayangan melompati kepalaku, lalu berdiri di depanku, setelah itu... aku pingsan. Hmmm.... Lalu ke mana prajurit tadi? Tak ada bangkainya di sini. Berarti prajurit tadi melarikan diri setelah pemuda itu membelaku. Hmmm... begitukah kejadiannya?!”
Kim Bum tetap tidak menyapa lebih dulu. Ia ingin tahu, seperti apa sikap wanita cantik itu setelah lolos dari maut. Kim Bum hanya memandanginya dengan seulas senyum indah tetap menghiasi bibirnya.
Wanita cantik masih membatin, “Jangan-jangan pemuda ini berkomplot dengan prajurit itu?! Lalu ia pura-pura... eh, tapi dia membawa bambu panjang. Apakah itu bumbung arak?! O, ya... ia mengenakan baju cokelat! Bukankah... bukankah itu ciri-ciri pendekar bernama Kim Bum yang sering kudengar dari mulut orang-orang? Apa benar dia Kim Bum?! Kalau melihat ketampanannya, baju yang dikenakannya, bumbung arak yang dibawanya, memang dia sesuai dengan cirri-ciri Kim Bum. Tapi siapa tahu dia hanya seorang penjual arak dalam bumbung yang kebetulan lewat disini?!”
Dengan lagak membetulkan letak pakaian, membersihkan tanah dan memasukkan pedangnya ke sarung pedang, wanita cantik itu masih berkecamuk dalam hatinya. Setelah itu, ia pun segera menentukan sikap untuk menyapanya lebih dulu. Wajah ketus dan angkuh dipasang agar tidak dinilai sebagai wanita murahan.
“Mengapa kau memandangiku terus?!”
Kim Bum semakin melebarkan senyum, ia tahu wanita tersebut sedang salah tingkah dan tak mengerti harus berbuat apa. Karena sudah ada teguran pertama, Kim Bum akhirnya mendekati wanita cantik itu.
“Kebetulan aku lewat daerah sini. Aku sedang mencari sahabat baruku yang dibawa lari oleh seseorang.”
“Aku tidak membawa lari sahabatmu!” ketus si wanita cantik.
“Memang bukan kau orangnya. Orang itu mengenakan pakaian merah tembaga. Oh, ya...?!” tiba-tiba Kim Bum ingat sesuatu. Hatinya pun mulai bicara sendiri. “Pakaian merah tembaga seperti pakaian besi para prajurit Istana Daehan Minguk! Orang yang tadi melawan perempuan ini juga mengenakan rompi anti senjata tajam yang berwarna merah tembaga. Kalau begitu, Jung Yong Hwa memang dibawa lari oleh prajurit Istana Daehan Minguk! Atau... atau orang tadikah yang membawanya lari?!”
Dengan ketegangan sedikit membias di wajah tampannya, Kim Bum buru-buru mengajukan pertanyaan kepada wanita cantik itu. “Apakah... apakah kau tadi melihat prajurit itu memanggul seseorang?”
“Tidak!” jawabnya tegas. “Aku hanya melihat dia menenteng pedangnya. Ketika berpapasan denganku, dia segera menyerangku, karena dia tahu aku adalah orang Sungkyunkwan.”
“Ooh...?!” Kim Bum terkejut mendengar si wanita cantik adalah orang Sungkyunkwan. Tapi wanita itu semakin mengangkat dagu menampakkan kesombongannya. Kesombongan itu bukan asli dari dalam jiwanya, melainkan sengaja dipaksakan timbul untuk menjaga harga dirinya di depan pemuda tampan itu.
“Benarkah kau orang Sungkyunkwan?!”
“Ya! Kenapa?!” ia melirik sinis. “Kau mau menangkapku seperti orang-orang Istana Daehan Minguk itu?! Tangkaplah kalau kau bisa!” tantangnya sambil tangannya mulai meraih gagang pedang, namun belum mencabutnya.
Kim Bum buru-buru tersenyum. “Hmmm, bukan begitu maksudku. Hmmm... begini, aku sendiri sedang... sedang mencari sahabatku. Dia orang Sungkyunkwan juga dan....”
“Siapa namanya?!” potong wanita cantik itu dengan pandangan mata tertuju tegas ke wajah Kim Bum.
“Namaku... Kim Bum dan aku....”
“Yang kutanyakan siapa nama sahabatmu itu?!” sergah si wanita.
“Oh, nama sahabatku?! Hmmm... dia mengaku bernama Jung Yong Hwa! Kami baru saja....”
“Siapa...?!” wanita itu terbelalak. “Jung Yong Hwa?! Benarkah kau telah bertemu dengan adikku, Jung Yong Hwa itu?!”
Kini mata Kim Bum juga menatap tajam pada wajah wanita cantik itu.
“Adikmu...?!” gumam Kim Bum dengan nada sangsi.
“Jung Yong Hwa adalah adikku! Dia mengenakan baju berwarna biru, memakai kalung berbentuk bintang, dengan bandul batu ungu di tengah bintang logam putih itu?!”
“Benar! Tepat sekali!” sahut Kim Bum bersemangat. “Apakah kau melihatnya?!”
“Justru aku sedang mencarinya! Sudah tujuh hari dia tak pulang karena tugas mencari Kim Bum. Aku mencemaskan keselamatannya, maka kususul dia. Namun sudah dua hari ini aku tak bisa menemukan Jung Yong Hwa! Aku khawatir ia telah ditangkap oleh orang Istana Daehan Minguk!”
Wanita itu mulai menampakkan kecemasan aslinya. Matanya memandang ke sana-sini, seakan tak sabar ingin segera bertemu dengan Jung Yong Hwa.
“Pantas kecantikan wajahnya sedikit mirip dengan Jung Yong Hwa, ,” ujar Kim Bum dalam hati setelah membandingkan wajah wanita itu dengan wajah Jung Yong Hwa.
“Siapa kau sebenarnya?” tanya wanita cantik itu.
“Bukankah tadi sudah kusebutkan namaku?!”
Gadis itu bingung mengingatnya. Kim Bum menyambung lagi, “Namaku adalah Kim Bum....”
“Oh, tak kuhiraukan nama itu tadi disebutkannya?” pikir si wanita. Lalu ia memandang Kim Bum dengan sorot mata berbinar-binar.
“Kalau begitu... kalau begitu kaukah pendekar yang dicari-cari Jung Yong Hwa itu?!”
“Jung Yong Hwa saja mengenaliku. Mengapa kau tak mengenaliku?”
“Hmmm, eeh, hmmm, eehh...!” wanita cantik itu salah tingkah sendiri dengan senyum yang serba salah juga. Ia merasa malu karena tak merasa kalah cerdas dengan adiknya. Untuk menutupi rasa malunya, ia justru memperkenalkan namanya sendiri. “Hmmm, ehh, iya... Hmm, namaku... namaku… Yoon Eun Hye.”
“Nama yang bagus sekali,” gumam Kim Bum lirih, sampai di telinga wanita cantik itu. Tetapi di dalam hati Kim Bum ada gerutu yang tersembunyi. “Sial! Jung Yong Hwa tak pernah bilang kalau punya kakak secantik ini?! Apa dia takut kalau kakaknya kubawa kabur?! Hmmm... kurasa Jung Yong Hwa belum tahu kalau aku adalah calon suami Ratu Kerajaan Namchoseon yang bernama Baek Suzy itu! Calon istriku juga cantik, tapi... tapi Yoon Eun Hye punya kecantikan yang berbeda dengan Baek Suzy. Nilai kecantikannya sama, hanya coraknya yang berbeda....”
Gerutuan yang hanyut ke dalam sebuah renungan panjang itu segera buyar, karena Yoon Eun Hye segera memperdengarkan suaranya yang sudah tak seangkuh tadi, namun masih punya nada-nada tegas. Mungkin nada tegas itu sudah menjadi bagian dari sifatnya sebagai wanita cantik yang punya keberanian cukup besar. Terbukti ia berani melawan prajurit Istana Daehan Minguk tadi.
“Mengapa adikku bisa dibawa lari orang?! Apakah kau tidak bersamanya?”
“Kami sedang dalam perjalanan ke Sungkyunkwan. Tiba-tiba ada orang yang menguntit kami...,” ujar Kim Bum, kemudian menceritakan peristiwa yang membuat hatinya kesal sekali itu.
Yoon Eun Hye menarik napas, menekan kesedihan ke dasar hatinya. Wajah cantiknya memang tampak bersedih, namun tak begitu kentara jika tak diperhatikan dengan cermat.
“Dugaanku, salah satu dari prajurit Istana Daehan Minguk yang punya ilmu lebih tinggi dari prajurit yang melawanmu tadi, telah melarikan Jung Yong Hwa ke Istana Daehan Minguk,” ujar Kim Bum. “Karenanya, aku ingin menuju ke Istana Daehan Minguk, tapi aku tak tahu di mana tempat itu berada!”
Yoon Eun Hye memandang ke arah selatan dengan mata sedikit menyipit karena menyimpan kemarahan membayangkan adiknya menjadi tawanan Ratu Park Ji Yeon. Mulut wanita itu tetap terkatup rapat, membuat Kim Bum terpaksa memperdengarkan suaranya lagi setelah meneguk araknya beberapa kali.
“Maukah kau menjadi pemanduku menuju Istana Daehan Minguk itu?!”
Kejap berikut terdengar suara Yoon Eun Hye yang sedikit datar itu. “Terlalu berbahaya jika hanya berdua!”
“Oh, jangan khawatir. Aku bukan pemuda kurang ajar. Kujamin kau tak akan terganggu oleh keusilanku, baik tanganku maupun mataku. Aku sangat....”
“Yang kumaksud, berbahaya dalam menghadapi orang-orang Istana Daehan Minguk itu!” potong Yoon Eun Hye sedikit kesal kepada Kim Bum karena salah sangka.
“Ooo...,” Kim Bum tersenyum malu. Pandangan matanya dibuang ke arah lain.
“Ratu Park Ji Yeon mempunyai prajurit-prajurit pilihan. Jika kita hanya berdua dan terkepung para prajurit pilihan itu, maka nyawa kita tak akan lama di tangan mereka!”
“Kalau begitu, kau sebagai penunjuk jalan saja. Setelah dekat dengan Istana Daehan Minguk, aku akan masuk sendiri ke istana itu untuk membebaskan Jung Yong Hwa, dan membebaskan para tawanan lainnya. Kau bisa langsung pulang sebelum aku mendekati istana itu!”
“Kau akan masuk ke sana sendirian?!” ujar Yoon Eun Hye bernada tak percaya. “Itu sama saja kau mengantarkan nyawa secara cuma-cuma, Kim Bum. Mereka tak bisa diserang dengan satu orang saja! Mereka harus diserang secara serentak dari berbagai penjuru! Menembus benteng pertahanannya saja sangat sulit, apalagi sampai membongkar tembok-tembok penjara?!”
Kim Bum menarik napas, ia mencoba memaklumi pendapat Yoon Eun Hye yang belum tahu persis setinggi apa ilmu yang dimiliki Kim Bum. Sekalipun Kim Bum merasa mampu menghadapi orang-orang Istana Daehan Minguk dengan hanya seorang diri, tapi wanita cantik itu tak bisa dipaksa untuk percaya. Mau tak mau Kim Bum menyimpan rencana itu di dalam hatinya, dan akan bertindak sendiri setelah tahu di mana letak Istana Daehan Minguk itu.
“Lalu, sekarang apa yang harus kita lakukan, Yoon Eun Hye?!”
“Kita menyusun rencana dengan rekan-rekanku di Sungkyunkwan!” jawab Yoon Eun Hye dengan mata memandang tegas kepada Kim Bum.
Rasa-rasanya tak ada jeleknya jika mengikuti ide Yoon Eun Hye itu. Kim Bum juga memperhitungkan waktu. Sebentar lagi matahari akan tenggelam. Setidaknya ia butuh tempat untuk beristirahat sambil menyusun rencana untuk gerakannya sendiri. Maka ia pun mengikuti langkah Yoon Eun Hye yang menuju ke Sungkyunkwan.
Untuk sementara, masalah Jung Yong Hwa mereka singkirkan dulu. Yoon Eun Hye merasa yakin bahwa adiknya masih hidup, hanya saja di bawah pengaruh dan kekuasaan hukum Ratu Park Ji Yeon. Jika kesepakatan hasil rundingan orang-orangnya dengan Kim Bum sudah didapatkan, Yoon Eun Hye pun yakin adiknya akan berhasil dibebaskan.
Ia tak tahu bahwa Jung Yong Hwa bukan berada di dalam Istana Daehan Minguk, melainkan berada di dalam sebuah gua. Seseorang yang membawanya lari ke dalam gua tersebut ternyata seorang perempuan cantik bernama Park Shin Hye. Ia mengenakan baju berwarna merah tembaga yang terbuat dari serat besi anti senjata tajam. Baju itu dilengkapi dengan pisau-pisau kecil yang sewaktu-waktu dapat dicabut dan dilemparkan. Karena pada umumnya prajurit Istana Daehan Minguk dilengkapi dengan pedang dan pisau beracun berukuran kira-kira satu jengkal.
Park Shin Hye memang prajurit wanita dari Istana Daehan Minguk. Ilmunya lumayan tinggi, karena sejak usia tujuh tahun ia sudah berguru pada seorang Pendekar dari Cina. Ditambah lagi, ia memperoleh beberapa ilmu dari Ratu Park Ji Yeon dan berhasil diangkat menjadi prajurit pilihan sang Ratu.
Dari pandangan matanya, seseorang dapat menilai, Park Shin Hye adalah gadis cantik yang punya keberanian tinggi dan tahan banting. Karenanya, ia berani berhasil melumpuhkan pemuda tangguh dan berhasil membawanya lari. Sepertinya memang Jung Yong Hwa yang diincarnya, bukan Kim Bum. Sebab ia belum tahu siapa orang yang berjalan bersama Jung Yong Hwa. Tetapi terhadap Jung Yong Hwa, ia sudah mengenalnya.
Park Shin Hye melepaskan totokannya tanpa merasa takut dengan datangnya perlawanan dari Jung Yong Hwa. Ketika totokan itu sudah dibebaskan, Jung Yong Hwa sedikit tegang memandangi wajah cantik Park Shin Hye itu. Napasnya terengah-engah dan pemuda itu mencoba untuk segera bangkit dengan penuh waspada.
“Kau.... Park Shin Hye...?!” ucap Jung Yong Hwa dengan suara sedikit bergetar, ia melangkah mundur menjauhi gadis itu.
Si gadis tetap tenang. Seulas senyum tipis tersungging di bibirnya. Senyum tersebut memang berkesan sinis, tapi begitulah senyum yang dimiliki Park Shin Hye sebagai seorang prajurit pilihan sang Ratu.
“Sreet...!” Jung Yong Hwa mencabut pedangnya.
Park Shin Hye tidak mencabut pedangnya, ia justru melemparkan pedang yang masih bersarung itu ke tanah samping di susunan ilalang kering itu. “Prrang...!”
Wajahnya tetap memandang lurus dan tajam ke arah Jung Yong Hwa. Tapi senyumnya semakin menampakkan sikapnya yang tidak akan melakukan perlawanan apa-apa jika Jung Yong Hwa menyerang dengan pedangnya.
Sikap itu membuat Jung Yong Hwa heran dan berkerut dahi tajam-tajam. Tubuh yang sedikit membungkuk, otot lengan yang mengeras, kedua tangan yang terangkat penuh siaga, akhirnya mengendur sedikit demi sedikit. Badan pemuda itu menjadi tegak kembali, kedua tangannya diturunkan, otot lengannya tampak tak sekeras tadi. Tapi pandangan mata Jung Yong Hwa masih setajam tadi.
“Ambil pedangmu, Park Shin Hye! Kita tentukan siapa yang mati di antara kita berdua, selagi tak ada pihak yang membantuku dan tak ada pihak yang membantumu!” ujar Jung Yong Hwa dengan suara menggeram. Napasnya masih memburu, dadanya naik turun, semua itu akibat ia menaruh dendam kepada pihak Istana Daehan Minguk, dan ia tahu bahwa Park Shin Hye adalah orang Istana Daehan Minguk.
Tetapi tantangan itu tidak dilayani oleh Park Shin Hye. Gadis itu melangkah ke sisi lain, mendekati batu setinggi pinggul, ia pun duduk di tepian batu setinggi pinggul dengan kaki kirinya dinaikkan ke batu sampingnya yang setinggi betis itu. Ia duduk dengan tegak dan gagah, seperti seorang lelaki. Satu tangannya bertolak pinggang, sedangkan tangan yang satunya lagi jatuh di pahanya.
“Kalau aku mau, kau sudah mati sejak tadi, Jung Yong Hwa! Tak perlu kulepaskan totokanku, langsung saja kupenggal lehermu. Apa susahnya?! Dan kau tak perlu kubawa ke gua ini. Mayatmu yang tanpa kepala itu akan kubuang di sembarang tempat, kalau bisa di jalanan yang kau lewati tadi setelah kugoreskan namaku di dadamu dengan ujung pedang. Dengan begitu, orang-orang Sungkyunkwan yang menemukan mayatmu akan tahu bahwa Park Shin Hye adalah orang yang memenggal kepalamu!”
“Mengapa tak kau lakukan?!”
“Carilah jawabannya dalam hatimu!” tegas Park Shin Hye sambil menatap tajam tak berkedip.
Kejap berikut, Park Shin Hye melangkah ke satu sisi lagi. Ia mendekati tiga batu besar berhimpitan, ia ke belakang batu besar itu. Sesaat kemudian kembali ke tempat ilalang kering yang disusun dijadikan alas tidur itu. Dari balik batu tadi, ia membawa sebuah tempat minum dari kulit binatang. Tempat minum itu berisi air bening, ia menenggaknya sedikit, sebagai pembasah kerongkongannya.
“Minum...?!” ia menawarkan kepada Jung Yong Hwa. Pemuda itu hanya menghembuskan napas panjang sambil memasukkan pedangnya ke sarung pedang. Karena tak ada jawaban dari Jung Yong Hwa, maka tempat minum itu ditutup dan diletakkan di samping kanannya.
Jung Yong Hwa memandang ke arah pintu gua. Ia mendekati pintu itu. Park Shin Hye diam saja. Hanya memandang sekilas, lalu menundukkan kepala dengan posisi duduk sedikit melebarkan kaki, seperti duduknya seorang lelaki.
Jung Yong Hwa menghentikan langkah sampai di pintu gua. Sebenarnya ia bisa saja lolos, melarikan diri. Tapi kesempatan itu tak dilakukan, karena Park Shin Hye sendiri tampak tidak berusaha menahannya.
“Sepertinya kalau aku lari, dia tak akan mengejarku,” ujar Jung Yong Hwa dalam hati. “Lalu, apa maksudnya membawaku ke gua ini?!”
Akhirnya pemuda itu kembali mendekati Park Shin Hye. Ia berdiri di depan Park Shin Hye dengan kedua kaki sedikit merenggang dan posisi tubuh tegak. Tampak gagah dan perkasa. Jaraknya yang hanya empat langkah dari Park Shin Hye membuatnya dapat menatap wajah cantik Park Shin Hye yang datar tanpa senyum dan tanpa kemarahan sedikit pun.
Sesaat setelah mereka saling bungkam, dan Jung Yong Hwa cukup lama memandangi Park Shin Hye, prajurit wanita itu segera mengangkat wajahnya dan menatap Jung Yong Hwa dengan mata mulai berisi, tidak sehampa saat merenung tadi.
“Mengapa kau tidak melarikan diri?! Mengapa kau kembali menemuiku?!”
Jung Yong Hwa tak bisa menjawab, karena ia sendiri tak tahu, mengapa ia tidak melarikan diri, padahal kesempatan itu sangat memungkinkan. Kini Jung Yong Hwa justru duduk di tanah bertangga yang dipakai membaringkannya tadi. Ia duduk di samping kiri Park Shin Hye dalam jarak satu setengah jangkauan. Jarak itu sengaja dijaga agar sewaktu-waktu ada bahaya dari Park Shin Hye, ia dapat segera menghindarinya.
“Masih ingat pertempuran di Pantai Pyeongtaek?” tanya Park Shin Hye dengan nada datar, sepertinya ia bicara pada diri sendiri. Tapi Jung Yong Hwa tahu, kata-kata itu ditujukan padanya.
“Ya, aku ingat kala itu kita berhadapan saling beradu pedang. Kau melukai lenganku. Tapi segera meninggalkan diriku, padahal kau punya kesempatan membunuhku saat aku jatuh tersungkur!”
Sambil berkata demikian, Jung Yong Hwa teringat pertempuran di Pantai Pyeongtaek. Ketika itu, Jung Yong Hwa dan tiga orang kawannya sedang mengejar seorang pencuri pusaka yang bernama Im Seulong. Mereka berpapasan dengan orang-orang Istana Daehan Minguk, lalu terjadilah pertarungan antara empat orang Sungkyunkwan melawan tujuh orang Istana Daehan Minguk, termasuk Park Shin Hye sendiri. Karena pada saat itu, Im Seulong meminta perlindungan kepada kakaknya yang menjadi prajurit Ratu Park Ji Yeon.
Dua orang Sungkyunkwan itu tewas di ujung pedang mereka. Tetapi Jung Yong Hwa dan seorang temannya lagi, berhasil meloloskan diri setelah membunuh Im Seulong dan merampas kembali pedang pusaka yang dicurinya. Padahal waktu itu Park Shin Hye punya kesempatan emas untuk membunuh Jung Yong Hwa, namun gadis itu justru meninggalkannya dengan alasan menyelamatkan Im Seulong yang terluka parah, walau akhirnya Im Seulong tewas setelah diangkat oleh kakaknya sendiri.
Lamunan masa lalu itu terputus, karena Park Shin Hye segera memperdengarkan suaranya lagi sambil melirik ke arah kirinya, menatap Jung Yong Hwa yang sedang menerawang itu.
“Apakah kau juga masih ingat peristiwa di Bukit Seogwipo?”
Ingatan pemuda itu segera melayang ke masa dua tahun yang lalu, ketika terjadi pertarungan di Bukit Seogwipo. Pertarungan itu terjadi antara Jung Yong Hwa dengan sang penantang bernama Jang Geun Suk. Dendam Jang Geun Suk kepada keluarga Jung Yong Hwa akan berakhir jika salah satu dari anggota keluarga tersebut melayani tantangan pertarungan di Bukit Seogwipo. Semula Yoon Eun Hye yang akan tampil sebagai lawan Jang Geun Suk. Tetapi segera digantikan Jung Yong Hwa, karena Yoon Eun Hye sedang sakit.
Pertarungan itu disaksikan dari berbagai pihak, termasuk orang yang tidak berkepentingan. Beberapa tokoh rimba persilatan pun hadir di Bukit Seogwipo, dan Park Shin Hye ada di sana juga bersama seorang teman, sesama prajurit wanita juga.
Waktu itu, Jung Yong Hwa nyaris tewas di tangan Jang Geun Suk, karena pedangnya terpental dan jatuh di depan kaki Park Shin Hye. Pedang Jang Geun Suk juga telah lepas dari tangannya. Jung Yong Hwa terpental jatuh akibat tendangan lawan.
Lawan segera menerkam dengan pisau simpanannya. Pada saat itu, pedang Jung Yong Hwa meluncur mendekati tangannya. Pedang itu segera disambar, dan segera dihujamkan ke perut lawan. Tanpa pedang itu, Jung Yong Hwa kemungkinan sudah mati di tangan lawannya. Pedang itu meluncur akibat ditendang oleh Park Shin Hye yang berpura-pura didorong temannya.
Jung Yong Hwa menarik napas panjang setelah membayangkan pertarungan di Bukit Seogwipo itu. Hatinya mulai menyadari tentang sikap Park Shin Hye yang mempunyai maksud-maksud tertentu padanya. Dengan tanpa menatap Park Shin Hye, pemuda itu mulai memperdengarkan suaranya kembali yang juga bernada datar.
“Sudah dua kali kau biarkan aku punya kesempatan hidup. Sekarang ketiga kalinya. Kau tak membunuhku selagi aku tertotok olehmu. Padahal kau adalah musuhku dan aku musuhmu!”
“Adakah seorang musuh yang membiarkan lawannya tetap hidup?” suara Park Shin Hye agak parau, walaupun ia bicara juga tanpa memandang Jung Yong Hwa.
Tapi kali ini pemuda itu sengaja berpaling menatap Park Shin Hye. Tatapan itu membuat Park Shin Hye tertarik dan ikut berpaling melemparkan pandangan matanya yang tidak berkesan bermusuhan. Pandangan mata itu dirasakan Jung Yong Hwa sebagai pandangan seorang sahabat, bahkan lebih dari seorang sahabat.
Gadis itu berkata lirih, namun masih bernada tegas. “Sekarang kuberi kau kesempatan untuk membunuhku.”
Jung Yong Hwa diam saja, masih memandang.
“Lakukanlah sekarang juga!” desak Park Shin Hye.
“Aku tak sanggup,” jawab Jung Yong Hwa dengan suara pelan.
“Mengapa tak sanggup? Bukankah aku musuhmu dan kau lawanku?!” kata Park Shin Hye sambil bergeser mendekat, kini jaraknya tinggal setengah jangkauan lagi. Adu pandangan mata itu semakin lekat, namun punya ketajaman tersendiri. Seakan ketajaman itu tidak menggores hati, melainkan menciptakan desir-desir aneh yang terasa indah untuk dinikmati.
“Mengapa kau menatapku seperti itu?” tanya Jung Yong Hwa dengan suara lirih.
Park Shin Hye juga menjawab dengan lirih, “Inilah gunanya kuberi kesempatan hidup padamu. Aku ingin dapat memandangmu.”
Jung Yong Hwa mulai menyunggingkan senyum walau canggung, ia tak tahan beradu pandang, kemudian mengalihkan pandangan matanya ke arah pintu gua. Park Shin Hye akhirnya ikut-ikutan mengalihkan pandangan mata ke arah pedangnya yang masih tergeletak di tanah.
“Aku memang seorang prajurit,” suara Park Shin Hye memecah kebisuan mereka. “Tapi kali ini aku terpaksa memberontak terhadap ratuku yang gila darah itu.”
“Gila darah?!” Jung Yong Hwa melirik Park Shin Hye.
“Melihat pertarungan berdarah hingga salah satu ada yang mati, merupakan hiburan yang sangat disenangi Ratu Park Ji Yeon. Kami diperintahkan untuk menculik para pemuda Lembah Chuncheon, termasuk kaum lelakinya yang perkasa. Mereka diadu dalam satu arena. Salah satu harus ada yang mati, tak peduli mereka sahabat atau saudara. Mau tidak mau mereka saling bunuh. Kematian salah satu dari mereka merupakan kepuasan tersendiri bagi Ratu Park Ji Yeon.” Park Shin Hye menuturkannya dengan pandangan mata menerawang, seakan membayangkan pertarungan berdarah yang hampir setiap hari terjadi di Istana Daehan Minguk itu. Jung Yong Hwa sengaja diam, tanpa tanya sedikit pun, karena ia ingin menyimak apa sebenarnya yang terjadi di dalam Istana Daehan Minguk itu.
“Orang-orang Lembah Chuncheon akhirnya habis, terutama kaum lelakinya. Mereka mati semua dalam arena pertarungan. Saling bunuh sesama teman sendiri. Demikian pula nasib orang-orang Bukit Ulsan. Kaum lelakinya nyaris habis diadu, dipakai tontonan untuk menghibur hati sang Ratu.”
Park Shin Hye menarik napas. Kini pandangan matanya lurus ke arah di depannya.
“Namun ketika tiba giliran orang-orang Sungkyunkwan yang dijadikan mangsa Ratu Park Ji Yeon, aku mulai berpikir untuk memberontak. Tapi itu tak mungkin kulakukan. Apalah artinya diriku yang sendiri jika harus memberontak menentang perintah sang Ratu. Akhirnya aku melarikan diri dari Istana Daehan Minguk.”
“Mengapa kau melarikan diri?” sela Jung Yong Hwa.
“Karena aku tak setuju jika orang Sungkyunkwan dijadikan korban pemuas hati sang Ratu. Aku tak setuju jika orang Sungkyunkwan diculik dan mereka diadu di arena sampai salah satu ada yang mati.”
“Mengapa kau tak setuju?” kejar Jung Yong Hwa.
“Karena di Sungkyunkwan ada seseorang yang menggetarkan hatiku dan membuatku ingin sekali memilikinya. Pemuda itu, cepat atau lambat akan tertangkap dan diadu di arena sampai akhirnya ia akan mati juga. Daripada aku melihat kematiannya, lebih baik aku lari dari pemerintahan sang Ratu. Aku harus menyelamatkan pemuda itu, sebelum darahnya dijadikan pemuas hati Ratu berhati Iblis itu!”
“Siapa pemuda yang kau maksud itu?”
“Kau...!” tegas Park Shin Hye tanpa ragu-ragu, dan pandangan matanya pun segera menatap ke arah mata Jung Yong Hwa.
“Untuk apa kubiarkan dua kali kau hidup kalau akhirnya kematianmu dijadikan hiburan bagi ratuku?! Untuk apa aku mengabdi penuh kesetiaan kepada Ratu Park Ji Yeon, kalau akhirnya pemuda yang menjadi buah impianku harus mati demi kepuasan batin sang Ratu? Lebih baik aku keluar dari pemerintahannya, bergabung dengan orang yang kucintai untuk melakukan pemberontakan terhadap kekuasaan di Istana Daehan Minguk Itu?!”
Jung Yong Hwa diam membisu. Hatinya seakan semakin terbuka oleh ketukan-ketukan halus yang nyaris tak didengarnya, ia sama sekali tak menduga kalau dirinya diperhatikan oleh seorang gadis dan gadis itu adalah lawannya sendiri. Sekerat hati yang keras seperti baja sedang menaruh harapan pada dirinya. Jung Yong Hwa merasakan harapan itu lebih murni daripada datang dari seorang gadis berhati lembut dan menyukai rayuan. Park Shin Hye perdengarkan suaranya kembali.
“Sejak sang Ratu mengeluarkan perintah pertama kali kepada para prajurit untuk pindah sasaran ke Sungkyunkwan, aku sudah lari darinya dan hidup di dalam gua ini. Aku tak berani bergabung dengan orang-orangmu, karena mereka tahu aku adalah musuh mereka. Ucapanku tak akan mudah dipercaya. Bisa-bisa justru aku mati di Sungkyunkwan tanpa dapat menyelamatkan dirimu dari keganasan Ratu Park Ji Yeon! Karenanya, setelah kupertimbangkan beberapa hari di dalam gua ini, maka kuputuskan untuk menculikmu demi kepentinganku sendiri. Lebih baik aku kehilangan ratuku, jabatanku, kesejahteraanku, daripada aku harus kehilangan impianku.”
Jung Yong Hwa menatap Park Shin Hye lagi. Mereka saling beradu pandang kembali. Sorot pandangan mata Park Shin Hye semakin menguasai hati Jung Yong Hwa. Ingin rasanya tak mudah mempercayai kata-kata itu. Tapi hati kecil Jung Yong Hwa tak bisa mengingkari rasa percayanya kepada Park Shin Hye. Sorot pandangan mata itu merupakan sebentuk ketulusan yang tak bisa dibantah lagi.
Jung Yong Hwa akhirnya menyentuhkan jemarinya di pipi Park Shin Hye. Sentuhan itu merayap hingga ke tepian rambut di kening si gadis. Mata si gadis tampak berkaca-kaca. Ada tangis di hatinya. Ada haru di kalbunya. Park Shin Hye akhirnya memejamkan mata, meresapi sentuhan lembut yang menggetarkan seluruh tubuhnya itu. Pada saat kelembutan itu hadir menguasai dirinya, seakan ketangguhannya sebagai prajurit wanita lumpuh seketika. Park Shin Hye tak ubahnya seperti gadis tanpa senjata dan ilmu apa-apa. Ia hanya bisa menahan debar-debar kebahagiaan yang selama ini hanya ada dalam impiannya.
Sebagai seorang wanita, akhirnya mata yang terpejam itu melelehkan butiran air bening. Air mata itu semakin menghancurkan darah permusuhan Jung Yong Hwa. Rasa iba dan haru menimbulkan rasa kasih di hati Jung Yong Hwaa. Sebagai ungkapan rasa kasihnya, pemuda itu akhirnya mencium kening si gadis dengan pelan-pelan.
“Cuup...!”
Ciuman itu membekas sampai di dasar hati Park Shin Hye. Tangan gadis itu pun mulai meraih lengan Jung Yong Hwa. Diremasnya lengan itu ketika bibir Jung Yong Hwa merayapi batang hidung si gadis, kemudian menyentuh bibirnya. Dikecupnya bibir Park Shin Hye dengan pagutan pelan sekali. Terasa deras darah Park Shin Hye mengalir di seluruh tubuhnya.
Kerinduan yang selama ini hadir dalam impian, ternyata mampu terwujud dalam kenyataan. Park Shin Hye ingin mewujudkan mimpinya tentang cumbuan hangat dengan Jung Yong Hwa. Maka, seperti yang dilakukannya dalam mimpi, kecupan bibir Jung Yong Hwa dibalasnya sebagai curahan rasa rindu dan hasrat yang menggebu.
Bersambung…
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar