Kamis, 24 Mei 2012
Manusia Paku (Chapter 5)
Sosok dalam gelap itu menyelinap mendekati pintu bangunan di puncak bukit. Tanpa suara seperti setan bergerak. Sesaat dia berhenti. Ada keraguan dalam hatinya.
“Jangan-jangan dia tidak berada di sini. Bagaimana aku harus menyampaikan pesan? Di tengah jalan ada seekor kuda hampir mati kecapaian. Pasti ada orang yang baru datang berkunjung sebelum aku ke tempat ini. Berarti ada satu atau dua orang dalam bangunan batu itu. Tapi mengapa keadaan sunyi? Tak ada lampu menyala. Aku tahu betul kebiasaan lelaki itu. Tidak bisa tidur kalau tidak ada lampu…”
Baru saja orang di depan pintu bangunan batu membatin seperti itu, tiba-tiba ada suara menegur. “Hanya manusia jahat biasanya menyelinap ke tempat orang!” Lalu, “Wutt!!” orang di depan pintu merasakan sambaran angin di bagian belakang kepalanya.
“Hmm... hanya manusia licik yang menyerang dari belakang!” Orang itu membalik dengan cepat seraya mengangkat tangannya melidungi kepala. “Bukk” Dua lengan beradu keras dalam kegelapan. Si penyerang terpental sampai tiga langkah dan mengeluarkan pekikan keras. Yang menangkis terjajar satu langkah.
“Aku seperti mengenali suara itu!” kata penangkis sambil menahan bahu kanannya yang terasa mendenyut. Dia membesarkan kedua bola matanya. Tapi malam begitu gelap. Dia tidak bisa mengenali wajah itu. Yang jelas suaranya adalah suara perempuan. Dia tidak bisa berpikir panjang karena sosok di depannya kembali menyerang dengan cepat.
“Gila! jurus-jurus serangannya ganas dan menyerang bagian yang mematikan!” batin yang diserang.
Karena mengalah dan hanya mengambil sikap bertahan, beberapa serangan lawan berhasil mendarat di tubuh dan lengannya. Dan orang itu pun berseru. “Hentikan serangan. Antara kita mungkin sudah saling kenal!”
“Seorang kenalan tidak akan menyusup seperti seorang pencuri!”
“Hey, aku bukan pencuri!”
“Kalau begitu pembunuh!”
“Juga bukan. Aku kemari mencari seseorang!”
“Lalu kau siapa?”
“Katakan dulu siapa kau?”
“Kurang ajar!” si perempuan memaki lalu kembali hendak menyerbu. Kali ini dia melepaskan pita yang sejak tadi mengikat rambutnya. Hal ini dilihat orang di hadapannya.
Sehelai pita berwarna ungu!
“Astaga! Benar dugaanku! Kau pasti Kim So Eun! Murid tokoh silat Song Seung Hun yang aku segani!” Si penyerang terkesiap. Bukan saja menghentikan serangan tapi malah mundur beberapa langkah sambil memandang dengan mata dibesarkan, berusaha mengenali orang di depannya.
“Kim Bum…!”
“Kim So Eun..!”
Dari dalam bangunan terdengar suara tawa disusul… “gluk… gluk…gluk” suara orang minum dengan lahap. Tidak lama kemudian keluarlah sosok tubuh laki-laki.
“Guru Song Seung Hun...” Orang di depan Kim So Eun memanggil lalu memberi hormat.
Song Seung Hun tertawa sambil membolang-balingkan bumbung bambu berisi arak di depan dadanya, sementara Kim So Eun tegak tidak bergerak dengan hati diliputi berbagai rasa.
“Kim Bum! Kau datang pada saat yang tepat! Hingga muridku tidak susah mencarimu!” kata Song Seung Hun sambil berpaling kepada muridnya lalu berkata. “Aneh, kenapa kau seperti patung dan membisu? Apakah kau tidak senang bertemu dengan kakakmu ini, Kim So Eun?”
Kalau saja tidak gelap, Kim Bum dan Song Seung Hun niscaya melihat pipi Kim So Eun yang bersemu merah karena jengah.
“Tentu… tentu saja kami senang guru. Lama sekali kami tidak bertemu….” ujar Kim So Eun.
“Benar…,” sahut murid Kim Tae Hee itu. “Kalau tidak salah hampir tiga tahun….”
“Rejeki…, pertemuan, maut dan langkah, memang bukan keinginan manusia. Itu semua kekuasaan Tuhan. Tapi kalau aku boleh bertanya, gerangan apa yang membawamu kemari, Kim Bum?” setelah bertanya, Song Seung Hun mendekatkan bibir ke bumbung dan mendongak... “Gluk… Gluk… Gluk…!” Lahap sekali dia meneguk arak kayangan yang beraroma harum itu.
“Aku diminta Guru Kim Tae Hee menemuimu.”
“Hmmm, pesan apa yang kau bawa?”
“Menyangkut masalah besar yang kini tengah berlangsung di rimba persilatan di tanah Korea ini... Munculnya pemuda berkesaktian luar biasa bernama Jung Yong Hwa, budak Park Shin Hye.”
“Apa saja yang diketahui gurumu tentang orang itu?”
“Park Shin Hye akan mempergunakan Jung Yong Hwa untuk menguasai rimba persilatan. Beberapa tokoh silat tingkat tinggi telah dihabisinya secara keji. Di puncak Gunung Bukhansan beberapa waktu lalu pendekar silat dari timur bergabung dengan jago dari selatan. Mereka berjumlah empat belas orang. Mereka berhasil menjebak dan mengurung Jung Yong Hwa di sebuah lereng. Namun semua disapu habis! Sulit dipercaya ada orang memiliki kepandaian seperti itu…. ”
“Jung Yong Hwa bukanlah manusia lagi,” kata Song Seung Hun. “Dia berubah menjadi mahluk setengah iblis setengah dewa! Sulit mengalahkannya. Pengaruh cairan Park Shin Hye yang mengalir dalam tubuhnya begitu hebat hingga tidak mempan pukulan maupun senjata tajam. Selama tidak bisa dibersihkan dari pengaruh cairan itu, selama itu pula dia akan merajalela menuruti perintah Park Shin Hye….”
“Aku dengar dia bahkan sudah membunuh gurunya sendiri, Kang Ji Hwan...”
Song Seung Hun mengangguk membenarkan ucapan Kim Bum itu. “Siang tadi aku baru menceritakannya kepada Kim So Eun. Rimba persilatan benar-benar dalam cengkeraman mengerikan.”
Sesaat bangunan batu itu dalam kesunyian, lalu terdengar suara Kim Bum bertanya pada Song Seung Hun. “Menurutmu, apakah ada satu cara menghentikan malapetaka besar ini?”
“Saat ini aku hanya mengetahui satu cara. Jung Yong Hwa bisa dilumpuhkan dengan jalan memantek tubuhnya dengan 30 paku sakti terbuat dari baja putih murni. Benda itu kini justru menjadi rebutan di kalangan persilatan. Yang bisa memaku Jung Yong Hwa akan menguasai dirinya. Kalau dia dari golongan hitam, kejadian buruk akan terulang. Seperti Park Shin Hye, orang itu akan menguasai Jung Yong Hwa untuk berbuat apa saja. Hanya saja Jung Yong Hwa tidak akan sehebat berada dibawah pengaruh cairan Park Shin Hye…”
“Rumit juga masalah ini,” ujar Kim Bum. “Guru Song, apakah sudah diketahui siapa pemilik paku sakti itu atau dimana keberadanya?”
“Tiga puluh paku baja putih murni itu berada di tangan seorang pendekar bernama Jang Geun Suk dari Gunung Jirisan…”
“Jang Geun Suk?” ulang Kim Bum.
“Ya, kau kenal dia?”
“Siapa yang tidak kenal dengan pemuda sakti itu.” sahut Kim Bum.
“Kalau begitu, Jang Geun Suk harus dikuasai lebih dahulu, lalu merampas paku sakti itu dari tangannya…” kata Kim So Eun.
Song Seung Hun mengangguk-angguk. “Itu benar. Caranya memang harus seperti itu. Tapi tentu saja tidak mudah menyiasati Jang Geun Suk. Di samping puluhan orang lain juga menghendaki paku itu, sudah belasan orang mati sebelum maksud mereka kesampaian. Kalaupun paku bisa dikuasai, tidak mudah memantek tubuh Jung Yong Hwa. Ada kabar pemuda itu tidur hanya sekali dalam setahun. Pada saat itulah pemantekan bisa dilakukan. Tapi gilanya, siapa yang tahu kapan dan dimana dia tidur?”
“Memang banyak sekali kesulitan dan bahayanya. Itu sebabnya Guru Kim Tae Hee berpesan, sehabis dari sini harus mencari Lee Min Ho…”
“Ah, pemuda itu! Lama aku tidak mendengar kabarnya, apakah dia masih hidup atau bagaimana? Kalian harus mencarinya.”
Kim Bum melirik ke Kim So Eun. “Apakah yang dimaksud Guru dengan kalian adalah aku dan Kim So Eun?”
“Ya betul, kau dan Kim So Eun harus segera pergi mencari pemuda itu. Harus cepat agar tidak terlambat!”
“Aku mau saja…,” kata Kim Bum dalam hati. “Tapi aku lihat gadis itu biasa-biasa saja dan sikapnya acuh tak acuh. Tadi dia bilang senang bertemu denganku. Mulutnya bilang begitu, hatinya dia mendekam satu ganjalan. Dia seperti benci kepadaku….”
“Hey,” seru Song Seung Hun. “Kalian berdua mengapa berdiam saja? Tidak dengar aku bilang apa?”
“Aku dengar, dan aku akan melakukan pesanmu itu,” kata Kim Bum.
“Kim So Eun?!” ujar Song Seung Hun tanpa berpaling pada muridnya.
“Aku juga dengar guru, aku juga akan melakukan pesanmu!”
“Aku senang mendengar ucapan kalian berdua. Lalu, sekarang kalian tunggu apa lagi?”
“Maksud guru?” tanya Kim Bum dan Kim So Eun.
“Kalian berdua ini sama bodohnya! Cepat tinggalkan tempat ini dan cari Lee Min Ho, pemuda Segala Tahu itu!”
Kim So Eun melengak tapi tidak berani membuka mulut. Sebaliknya Kim Bum langsung berkata. “Pergi malam-malam begini?”
“Lalu apa kalian harus menunggu pagi baru berangkat?” sentak Song Seung Hun.
“Maksudku mungkin kau masih rindu dengan muridmu dan ingin mengobrol…”
“Obrolanku sudah habis. Sekarang kalian saja yang mengobrol satu sama lain dalam perjalanan. Lagipula kalian kan sudah lama tidak bertemu. Tentu banyak yang harus kalian bicarakan. Aku mau tidur…” Song Seung Hun meneguk lagi minuman dalam bumbung bambu itu lalu tanpa peduli lagi dia berpaling lalu melangkah menuju pintu bangunan batu.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Kim Bum pada Kim So Eun.
“Kalau guruku sudah bilang begitu, tidak satu pun yang bisa merubahnya! Dia mau kita segera pergi!”
“Mungkin ucapan gurumu benar. Dia menyuruh kita segera pergi dan mengobrol dalam perjalanan...” sahut Kim Bum.
Maksud Song Seung Hun meminta keduanya itu lekas pergi dan melakukan perjalanan bersama, selain memang untuk mencari Lee Min Ho, sebenarnya ada tujuan tersembunyi dari Song Seung Hun. Seperti diketahui, sejak lama Song Seung Hun ingin menjodohkan Kim So Eun dengan Kim Bum. Malah sudah beberapa kali permintaan itu disampaikan kepada Kim Tae Hee. Namun baik guru sang pendekar maupun Kim Bum sendiri tidak terlalu tertarik. Kim Tae Hee pernah bilang biar urusan jodoh itu anak-anak sendiri yang mengatur. Jika mereka suka sama suka tentu ikatan jodoh itu akan terjalin dengan sendirinya.
Di pihak Kim So Eun memang diam-diam mencintai Kim Bum, namun sebaliknya Kim Bum lebih menganggap Kim So Eun sebagai adiknya sendiri, walau terus terang dia sangat mengagumi kebaikan perilaku dan hati Kim So Eun, di samping wajahnya yang cantik.
Tidak seperti yang diinginkan Song Seung Hun ataupun kedua muda mudi itu, ternyata dalam perjalanan menuruni bukit mereka lebih suka diam membisu. Kim Bum yang lama-lama salah tingkah akhirnya membuka pembicaraan.
“Lama kita tidak bertemu. Apakah kau selama ini baik-baik saja Kim So Eun?”
“Ya, mau dibilang baik kenyataannya semua kesulitan kuhadapi, walau semua bisa kulalui. Yang jelas aku bisa melihat dunia ini apa adanya dan menambah pengalaman. Kau sendiri bagaimana?” Kim So Eun balik bertanya.
“Tidak beda denganmu. Kesulitan dan bahaya menghadang dimana-mana. Buktinya sekarang ini kita menghadapi kesulitan besar. Selain kita harus mencari Lee Min Ho, menurutmu apa yang harus kita lakukan?”
“Kau lebih berpengalaman dan pandai. Ilmumu lebih tinggi dariku. Seharusnya kau yang mencari jalan,” jawab Kim So Eun.
“Aku rasa kita perlu membagi pekerjaan… waktu kita sempit sekali.”
“Hmm... membagi pekerjaan bagaimana?” tanya Kim So Eun.
“Kau mencari tahu di mana sarangnya Park Shin Hye. Jika kau merasa sanggup menghadapi sendiri lakukanlah, kalau tidak, minta bantuan sahabat dari golongan putih. Apapun yang kau lakukan, paling tidak sudah diketahui keberadaan perempuan itu…”
“Lalu kau sendiri melakukan apa?”
“Aku akan mencari Jang Geun Suk, berusaha merampas paku sakti itu dari tangannya. Aku juga akan mencari Lee Min Ho…”
Kim So Eun yang berjalan cepat di samping Kim Bum berpikir sejenak. Kemudian dia berkata. “Bagaimana kalau aku yang mencari Lee Min Ho dan Jang Geun Suk, kau yang mencari Park Shin Hye…”
“Heh!” Kim Bum agak tercekat mendengar ucapan Kim So Eun. Dia berjalan lebih cepat hingga selangkah di depan Kim So Eun. Dia berpaling dan memperhatikan wajah gadis itu. Dilihatnya sang gadis tersenyum. Senyum yang sulit diartikan Kim Bum.
“Setahuku Jang Geun Suk memiliki kemampuan tinggi dan berhati sejahat iblis. Aku tidak merendahkan kepandaianmu sendiri, namun rasanya lebih baik... ”
“Rupanya kau takut bertemu dan menghadapi Park Shin Hye?” potong Kim So Eun lalu tertawa lebar. “Dia hanya seorang perempuan cantik, apa yang ditakutkan? Lagipula, siapapun dia, aku yakin tidak akan bisa mengalahkanmu.”
“Ah, dia memojokkanku...” ujar Kim Bum dalam hati. “Atau sengaja menjebakku. Tapi kenapa? Karena aku tidak pernah memberikan jawaban atas perjodohan itu?” dia melangkah terus.
“Bagaimana?” Tanya Kim So Eun. “Jadi benar kan apa kataku, kau mau mencari Lee Min Ho dan Jang Geun Suk karena takut menghindari pertemuan dengan si cantik Park Shin Hye itu?”
“Siapa yang takut padanya!” Kim Bum kesal dan menjawab agak keras.
“Bagus! Pekerjaan sudah dibagi, di kaki bukit kita berpisah. Kau mencari Park Shin Hye, aku mencari Lee Min Ho dan Jang Geun Suk…”
“Hmmm… Kalau begitu maumu aku terpaksa ikut saja...” sahut Kim Bum pasrah.
“Jangan bilang terpaksa. Katakan iya atau tidak. Itu saja!”
Dalam gelap, sambil berjalan cepat, Kim Bum memalingkan kepalanya menatap wajah Kim So Eun. Gadis itu balas memandang. “Ucapannya tegas dan air mukanya keras. Ada apa sebenarnya dengan gadis ini?” tanya Kim Bum dalam hati.
“Kim So Eun kau tidak suka padaku…” Kim Bum akhirnya bertanya.
Kim So Eun tertawa kecil. “Kenapa kau bertanya begitu?”
Kim Bum lagi-lagi terpojok. Tapi karena hatinya mulai panas, maka dia bicara apa adanya saja. “Mungkin soal perjodohan itu…?”
Kim So Eun mendongak ke atas. Dalam bayangan kegelapan malam, wajahnya tampak anggun sekali. “Apa perlunya menyebut dan menghubung-hubungkan hal itu. Kalau tidak suka, siapa yang bisa memaksa!”
Mendengar kata-kata itu Kim Bum menghentikan langkahnya sementara Kim So Eun berjalan terus.
“Kim So Eun tunggu! Mungkin kau salah menduga….” Gadis itu berjalan terus. Kim Bum lalu menyusul dan memegang lengannya. “Kim So Eun kita perlu bicara agar tidak ada lagi ganjalan di hati kita masing-masing…”
Tapi gadis itu menarik tangannya kuat-kuat hingga terlepas dari pegangan Kim Bum. “Aku rasa tidak ada yang perlu dibicarakan. Semua sudah jelas. Para guru kita juga sama-sama tahu. Ada ganjalan atau tidak, bagiku tidak ada masalah.”
“Dengar Kim So Eun, kita harus bicara dulu dengan tenang,” Kim Bum berusaha membujuk sambil memegang bahu setengah memeluk.
Kim So Eun mendorong tubuhnya dengan halus. “Ingat kita sedang menghadapi masalah besar! Jangan habiskan waktu dengan pembicaraan yang tidak ada artinya….”
“Katamu tidak ada artinya. Bagiku ini sangat berarti!” jawab Kim Bum.
“Kalau bagimu sangat berarti, apa saja yang sudah kau lakukan pada diriku? Adakah kau memberi sedikit saja kejelasan pada guru ataupun padaku?”
“Ah, kau memang mempersoalkan masalah perjodohan itu. Aku minta maaf. Mungkin aku dan guruku berlaku alpa dan buta…”
“Kalian orang-orang pandai yang tidak pernah alpa dan buta. Bukankah begitu? Sebaliknya aku dan guruku adalah manusia biasa yang alpa dan buta! Tidak tahu diri! Tidak tahu malu!” tukas Kim So Eun.
Kim Bum merasa dadanya mendenyut seperti tertusuk mendengar ucapan murid Song Seung Hun itu.
“Kim So Eun… masalah ini bisa kita selesaikan secara baik…”
“Jadi benar kataku tidak perlu dibicarakan saat ini!”
Langkah Kim Bum kembali terhenti. Kim So Eun berjalan terus. Kim Bum menarik nafas panjang. Dadanya teras bergolak. Dia melompat mengejar, sampai di hadapan gadis itu dia berkata. “Kau kubebaskan dari segala urusan. Biar aku sendiri yang mencari Lee Min Ho, Jang Geun Suk dan Park Shin Hye!” kata Kim Bum dengan suara keras.
Tak kalah lantangnya Kim So Eun menyahut. “Baik, lakukan semua itu olehmu karena kau seorang pendekar hebat! Aku akan mencari Jung Yong Hwa!” setelah berkata seperti itu Kim So Eun memutar tubuhnya dan berkelebat pergi.
Kim Bum jadi terkesima. “Gila! Kenapa masalah ini jadi berantakan seperti ini?!” ujarnya. Dia membanting kaki kanannya ke tanah, lalu berkelabat ke jurusan lain. Tapi setelah beberapa lama berlalu dia menghentikan langkahnya, berputar ke arah tadi dia datang. “Gadis itu, ah… bagaimana ini? Biar kubujuk dia sekali lagi. Kalau tidak mau, ya sudah!” Kim Bum segera mengejar ke arah perginya Kim So Eun.
Setelah lari dalam gelap menuruni lereng bukit beberapa waktu lamanya, selintas pikiran muncul dalam benak gadis itu. Hatinya ikut berkata. “Hampir tiga tahun aku tidak melihatnya. Setelah bertemu, mengapa aku bersikap begitu kasar padanya? Aku telah berlaku bodoh. Memojokkannya soal perjodohan itu. Mungkin semua itu bukan salahnya! Kini dia memikul beban berat mencari Jang Geun Suk, Lee Min Ho dan Park Shin Hye. Bagaimana kalau dia juga sampai jatuh ke tangan perempuan iblis itu?”
Karena pikirannya kacau balau, Kim So Eun menghentikan larinya. Sesaat dia tegak terdiam termangu-mangu. Di depannya ada sebuah pohon besar dengan beberapa cabang menjulur kokoh.
“Sebaiknya aku duduk saja dulu di atas pohon sana, menunggu sampai hari pagi. Tiba-tiba saja tubuhku terasa letih, aku perlu istirahat. Mungkin tidur beberapa saat.”
Berpikir sampai di situ, murid Song Seung Hun itu segera melesat ke atas pohon. Dia merebahkan tubuhnya di atas salah satu cabang besar. Tapi sulit baginya untuk segera memicingkan mata. Ingatannya masih tertuju pada Kim Bum. Lalu dia sadar akan apa yang dikatakannya pada pemuda itu, bahwa dia akan mencari Jung Yong Hwa. “sungguh aku telah berlaku bodoh!” katanya dalam hati. “Kalau guru tahu apa yang terjadi ini, pasti dia akan marah besar, Uh...!”
Selagi gadis itu berpikir dan bicara dalam hati seperti itu, telinganya tiba-tiba menangkap sebuah suara di bawah pohon. Suara langkah-langkah kaki yang sangat perlahan. “Kim Bum...?” ujar Kim So Eun lalu memandang ke bawah.
Pada saat yang sama, dua bayangan berkelebat dalam kegelapan. Di lain kejap dua sosok tubuh melayang ke atas pohon. Yang pertama langsung tegak di atas cabang tempat dia berbaring. Satunya berdiri di cabang sebelah atas. Meski di atas pohon begitu gelap, tapi karena sangat dekat, Kim So Eun masih dapat melihat siapa adanya dua orang itu.
Yang berdiri di atas cabang pohon tempatnya berbaring adalah seorang lelaki berbaju hitam. Di tangan kirinya, ia memegang sebuah tongkat aneh yang ketika diperhatikan ternyata adalah seekor ular kuning hitam yang telah dikeringkan. Lelaki itu memandangi Kim So Eun sambil tiada hentinya tersenyum.
Kim So Eun melirik ke atas. Pada cabang di atas kepalanya duduk berjuntai seorang pemuda.Mulutnya tiada henti menyunggingkan tawa. Murid Song Seung Hun itu mencium bahaya. Dengan cepat dia bangkit dan tegak di atas cabang pohon.
“Kalian siapa?!” tanya Kim So Eun.
“Lee Hong Ki!” Lelaki berbaju hitam membuka mulut sambil melambaikan tangannya pada pemuda yang duduk menjuntai di cabang pohon sebelah atas. “Dia bisa bicara! Kau dengar tidak?!”
Pemuda di atas pohon tertawa lebar lalu menjawab. “Tentu saja aku dengar, Guru! Suaranya merdu! Ha... ha... ha!”
“Suara merdu, paras cantik! Apa lagi?!” si pemuda lalu menggerak-gerakan kedua kakinya.
“Siapa sebenarnya mereka?!” tanya Kim So Eun dalam hati.
“Kau tak salah memilihkan jodoh untukku, Guru!” kata si pemuda lagi. Lelaki berbaju hitam tertawa, sementara Kim So Eun seperti disentakkan mendengar ucapan pemuda itu.
“Kalian ini siapa dan bicara apa?!” bentak Kim So Eun. “Jangan membuatku marah!”
“Ah! Gadis cantik rupanya bisa juga marah!!” kata lelaki berbaju hitam.
“Kalau marah seperti itu, kau jadi terlihat lebih cantik,” ujar si pemuda pula.
Kim So Eun kehilangan kesabarannya. “Manusia-manusia aneh! Cepat turun dari atas pohon ini! Kalau tidak jangan salahkan aku, kalau aku akan menghajar kalian!”
“Heh, tidak kusangka calon istrimu ini galak juga rupanya Lee Hong Ki!” kata lelaki berbaju hitam sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan tertawa.
“Kurang ajar!” teriak Kim So Eun marah. Dia melepaskan pita ungu yang mengikat rambutnya.
Melihat itu, lelaki berbaju hitam dengan cepat mengangkat kedua tangannya seraya berkata. “Tunggu, sabar dulu gadis cantik. Aku kenal kau sejak lama. Namamu Kim So Eun dan kau adalah murid lelaki sakti bernama Song Seung Hun, benar kan...?”
Diam-diam Kim So Eun jadi heran bagaimana orang tidak dikenal itu tahu akan dirinya.
“Kalau kau tidak segera memberi tahu siapa dirimu dan mengatakan apa keperluanmu, aku benar-benar akan menghajarmu!”
“Kau mengancam! Baiklah aku jelaskan. Namaku Ryu Soo Young. Pemuda itu bernama Lee Hong Ki, dia muridku! Ketahuilah, aku mencarimu dan sengaja membawa serta muridku karena aku ingin menjodohkanmu dengannya...!”
“Gila! Kalian berdua benar-benar sinting!”
“Boleh-boleh saja kau berkata begitu gadis cantik!” pemuda bernama Lee Hong Ki menyeletuk. “Sikap dan tutur bicaramu membuatku ingin segera menikahimu! Guru, bagaimana ini? Aku sudah tidak tahan, ingin segera menikah dengannya!”
“Kurang ajar!” teriak Kim So Eun marah. Pita ungu di tangan kanannya berkelebat ke atas.
“Wuttt!”
“Kraak!”
Cabang pohon tempat pemuda bernama Lee Hong Ki itu patah. Tubuhnya tak ampun lagi melayang jatuh ke bawah. Tapi setengah jalan dia berjungkir balik lalu melesat dan tiba-tiba dia sudah duduk di atas bahu lelaki bernama Ryu Soo Young yang saat itu masih berdiri di atas cabang pohon di hadapan Kim So Eun. Dua orang itu lalu tertawa tergelak.
“Gadis cantik, jangan marah dulu. Dengar dulu lanjutan ucapanku. Aku sudah berniat dan memutuskan bahwa kau harus jadi istri muridku!”
“Gila! Siapa sudi!” teriak Kim So Eun.
“Sudi atau tidak itu urusan nanti! Yang jelas aku saat ini juga akan melamarmu agar menjadi istri Lee Hong Ki. Ha... ha...ha!”
“Benar-benar gila!” teriak murid Song Seung Hun itu. Pita ungu yang memang menjadi senjata andalannya kembali dihantamkan ke depan. Ujung pita menyambar ke arah wajah Ryu Soo Young. Walau pita itu terbuat dari sutera halus, namun di tangan Kim So Eun benda itu telah berubah menjadi sekeras besi. Sesaat lagi ujung pita siap menghancurkan wajah Ryu Soo Young, tiba-tiba pemuda yang duduk di atas bahu Ryu Soo Young menggerakkan kaki kanannya.
“Wuttt!” Satu gelombang angin dengan deras menerpa ke arah Kim So Eun. Murid Song Seung Hun itu terkejut ketika dia merasakan laksana didorong sebuah tembok yang tidak kelihatan. Bukan saja ujung pitanya terhempas ke samping, tapi tubuhnya ikut bergoyang keras hingga kedua kakinya bergetar.
Dengan mengandalkan ilmu meringankan tubuhnya, gadis itu dengan cepat mengimbangi diri dan balas menghantam dengan tangan kanan. Serangkum angin panas menderu ke arah dada Ryu Soo Young. Setengah jalan, Kim So Eun menjentikkan telunjuk dan ibu jari tangan kanannya. Angin serangannya secara aneh mendadak sontak memecah dua. Satu menyambar ke perut Ryu Soo Young, dan satunya lagi menghantam ke arah tenggorokan pemuda bernama Lee Hong Ki! Inilah jurus serangan sakti yang disebut “Memecah Angin Meruntuh Mentari Menghancurkan Bulan”.
Kini dua lawan ganti terkejut. Kim So Eun menyeringai. “Rasakan oleh kalian!” kata gadis itu dalam hati. Namun apa yang dilihatnya kemudian membuat dia tercekat. Sesaat lagi serangannya akan menghantam dada Ryu Soo Young, lelaki itu tiba-tiba menjatuhkan dirinya ke kiri. Tubuh sang murid yang ada di atas bahunya ikut miring ke kiri. Dua sosok tubuh mendadak kaku seolah berubah jadi kayu. Ryu Soo Young melingkarkan kedua kakinya pada cabang pohon tempat dia berdiri. Sesaat kemudian dua sosok tubuh kaku itu berputar dengan deras hingga mengeluarkan deru angin yang keras.
Selagi Kim So Eun terkesiap melihat apa yang dilakukan kedua orang itu, tiba-tiba tubuh-tubuh yang berputar kencang berpisah. Satu melesat ke kiri, satu lagi ke kanan. Sebelum tahu apa yang terjadi Kim So Eun merasakan tangan kiri dan kanannya dicekal orang. Dia berusaha meronta melepaskan diri tapi lengannya seolah dibelenggu dua batang besi.
“Aku sudah memegangnya, Guru!” terdengar suara Lee Hong Ki berseru.
“Ayo kita bawa dia ke bawah!” jawab Ryu Soo Young.
Kim So Eun merasakan tubuhnya dibawa melayang ke tanah tanpa dia sanggup berbuat sesuatu apapun. Dua tangannya yang dicekal kini terasa kaku tak bisa digerakkan. Pitanya jatuh entah kemana!
Satu sosok bayangan berkelebat cepat di bawah pohon. Tanpa melihat, telinga dan nalurinya mengetahui kalau di atas pohon ada tiga orang berkelahi. Bayangan itu berlari terus namun mendadak berhenti ketika menyadari ada sebuah benda bergelung di lehernya. Di ambilnya benda itu. “Sehelai pita ungu...” Orang itu berucap perlahan sambil memainkan pita sutera yang lembut itu dalam genggamannya. “Ada bau harumnya, pertanda milik seorang perempuan... Mungkin salah satu dari mereka yang tengah bergulat di atas pohon?!” Diperhatikannya lagi pita itu. Pada salah satu ujungnya tertera dua buah huruf, KB. Lalu dia berpaling ke arah dari mana tadi dia datang. Di kejauhan dia mendengar suara dua orang tertawa tergelak, lalu suara ketiga suara perempuan memaki marah.
“Guru, apa yang akan kita lakukan padanya sekarang?”
“Terserah kau saja! Aku tidak peduli, Lee Hong Ki! Tapi yang penting cari dulu benda sakti itu. Aku yakin dia selalu membawanya kemana pun dia pergi!”
“Kurang ajar! Angkat tanganmu dari tubuhku!”
“Diamlah, jangan banyak bicara!”
“Bedebah jahanam! Aku bersumpah akan mematahkan lehermu!”
“Aku rela mati di tanganmu, gadis cantik! Ha... ha... ha...!” Diam sejenak. Lalu, “Guru! Aku menemukan benda itu!”
“Bagus! Cepat serahkan padaku dan tinggalkan tempat ini!”
“Apa!? Bukankah...”
“Ya... ya! Terserah padamu kau mau berbuat apa! Aku sudah dapat paku sakti ini! Aku pergi duluan!”
“Aku takkan lama, Guru! Apa kau tak mau menunggu dulu! Mungkin juga mau melihat bagaimana aku bersenang-senang dengan gadis cantik jelita ini?!”
“Aku sudah lebih dari puas mendapatkan benda ini! Kau boleh mengurusi gadis itu sesukamu. Tapi ingat, dua malam ke depan, kau harus menemuiku di tempat yang sudah ditentukan!” Yang bicara itu, Ryu Soo Young, ia membalikkan tubuhnya dan berkelebat pergi membawa kantong kain milik Kim So Eun yang di dalamnya tersimpan lebih dari tiga lusin senjata rahasia berupa paku perak.
Lee Hong Ki memutar tubuhnya lalu melangkah mendekati Kim So Eun yang saat itu tertegak kaku dengan kedua tangan terentang ke samping.
“Pemuda keparat! Apa yang hendak kau lakukan! Berani kau menyentuh tubuhku...!”
“Mengapa aku tidak berani!” jawab Lee Hong Ki lalu tangan kanannya bergerak menarik robek pakaian ungu Kim So Eun tepat di bagian dada. Gadis itu terpekik. Lee Hong Ki mengeluarkan suara menggeru melihat dada yang tersingkap polos itu.
Namun dia tak bisa menikmati apa yang dilakukannya itu lebih lama. Dua larik cahaya hijau menyambar ke arah kepala Lee Hong Ki. Murid Ryu Soo Young itu tak terdengar menjerit dan tak sempat mengetahui apa yang membunuhnya. Kepalanya hancur berkeping-keping! Darah dan kepingan tulang serta daging muncrat. Sebagian mengenai wajah dan pakaian Kim So Eun, membuat gadis ini menjerit ngeri setengah mati.
Lee Hong Ki yang kini tanpa kepala mengepulkan asap di bagaian lehernya yang putus. Tubuh yang kini menjadi kehijauan itu jatuh tergelimpang. Dalam keadaan kesakitan dan wajah masih pucat seperti mayat, tiba-tiba Kim So Eun melihat sosok seorang pemuda yang memandang tepat ke arahnya dengan sepasang matanya yang hijau. Ada kilatan cahaya aneh dalam dua mata itu, yang kemudian perlahan-lahan meredup lalu lenyap.
“Kau... kau tak apa-apa...?” pemuda itu bertanya. Suaranya serak bergetar. Sepertinya dia tengah menahan gejolak yang ada dalam tubuhnya.
“Kau...” Kim So Eun merasa lidahnya kelu. “Kau menolongku, terima kasih...” Gadis itu diam sebentar, berpikir. “Ciri-ciri manusia ini sepertinya...”
“Apa yang ada dalam benakmu?” tiba-tiba pemuda itu bertanya.
“Kau... kau... Bukankah kau pemuda bernama Jung Yong Hwa itu...?”
Kilatan sinar aneh kembali membersit di sepasang mata hijau si pemuda. “Kita tidak pernah kenal. Tidak pernah bertemu sebelumnya. Mengapa kau bisa tahu namaku...?”
“Orang-orang rimba persilatan banyak membicarakan dirimu...”
“Aku sudah tahu hal itu...” kata pemuda yang memang adalah Jung Yong Hwa, pemuda yang menjadi budak Park Shin Hye itu. “Ini punyamu...?” Jung Yong Hwa mengulurkan pita ungu yang dipegangnya.
Kim So Eun mengangguk. Dia tak bisa menggerakkan tangan untuk mengambil pita itu.
Jung Yong Hwa mengulurkan tangannya lalu melingkarkan pita ungu itu di leher Kim So Eun. Sepasang mata hijau si pemuda tiba-tiba menatap ke arah dada yang tersingkap. Dua bola matanya menyorotkan sinar aneh, membuat Kim So Eun jadi bergeming. Tiba-tiba dua tangan Jung Yong Hwa bergerak ke arah dada gadis itu. Kim So Eun semula hendak berteriak mengancam. Namun ketika dilihatnya Jung Yong Hwa hanya menarik ujung bajunya dan merapatkannya hingga dadanya tertutup, diam-diam gadis itu menjadi lega. “Aneh, dia tidak sejahat yang dipergunjingkan orang...”
“Apa yang ada dalam benakmu?” tanya Jung Yong Hwa yang membuat Kim So Eun jadi tercekat.
“Tidak... tidak ada apa-apa...”
“Aku tahu kau memikirkan sesuatu...” kata si pemuda. Lalu dia berpaling pada mayat tanpa kepala yang tergeletak di tanah. “Siapa manusia itu? Kenapa dia hendak berlaku jahat padamu?”
“Namanya Lee Hong Ki. Dia murid seorang lelaki yang mengaku bernama Ryu Soo Young. Dia merampas barang milikku... Kini sudah dilarikan oleh gurunya itu.”
“Barang apa?”
“Senjata rahasiaku. Sekantung paku...”
Jung Yong Hwa mundur dua langkah. Sepasang matanya kelihatan menyala hijau. Tampangnya jadi sangat seram yang membuat Kim So Eun kembali bergidik. “Paku terbuat dari baja murni?!”
Murid Song Seung Hun itu menggeleng. “Paku itu terbuat dari perak putih...”
Wajah Jung Yong Hwa perlahan-lahan tampak berubah tenang. “Mengapa mereka merampas benda itu darimu?”
“Aku tidak tahu... Mungkin ada sangkut pautnya dengan dirimu...”
“Kau tahu banyak tentang keadaanku! Siapa namamu?”
“Kim So Eun...”
“Kurasa aku bisa berteman denganmu. Jadi kau harus ikut denganku...”
Kim So Eun menggeleng dan cepat berkata. “Kau telah menolongku. Aku berterima kasih. Itu sudah cukup. Jangan kau bawa diriku...”
“Kau takut padaku?”
“Kau... kau mungkin orang baik. Tapi kau berada di bawah suatu kekuatan jahat...”
Dua bola mata Jung Yong Hwa membesar. “Maksudmu Park Shin Hye...” tanyanya dengan suara bergetar. Kim So Eun tak menjawab “Aku perlu teman untuk bertukar pikiran. Kurasa kau orangnya. Kau harus ikut aku Kim So Eun!”
“Tidak, kau pergi saja sendiri!”
Jung Yong Hwa membuka mulutnya lebar-lebar. “Kau menguap!” ujar Kim So Eun.
“Sudah setahun aku tak pernah tidur. Kurasa waktunya sudah hampir tiba. Mungkin satu atau dua hari kedepan. Jika aku tidur, harus ada seseorang menjaga diriku... ”
“Park Shin Hye-mu bisa melakukan itu...” kata Kim So Eun kemudian.
“Ada sesuatu yang tidak beres dalam diriku. Setiap kali aku menyadari hal ini, timbul dendam besar terhadap perempuan itu... ”
“Di hadapanku kau berkata begitu. Aku mencium maksud jahat tersembunyi terhadap diriku dalam otakmu... Bukankah kau kekasih Park Shin Hye?”
“Dia suka padaku. Aku memang tergila-gila padanya. Tetapi tetap saja aku merasa ada yang tidak beres. Belum selang berapa lama aku bahkan telah membunuh guruku sendiri atas perintahnya...”
“Berarti kau juga bisa membunuh siapa saja atas kemauan perempuan itu, termasuk diriku!”
Jung Yong Hwa menyeringai. “Kalau itu memang terjadi, angap saja itu sudah suratan takdirmu!”
“Gila!” teriak Kim So Eun. Jung Yong Hwa kembali menyeringai. Dia merundukkan tubuhnya sedikit. Di lain saat Kim So Eun sudah berada di atas panggulan bahu kirinya. “Turunkan! Lepaskan diriku! ” teriak Kim So Eun. Jung Yong Hwa tertawa lebar.
Ketika dia hendak berkelebat meninggalkan tempat itu, tiba-tiba satu bayangan berkelebat menghadangnya disusul suara membentak keras.
“Turunkan gadis itu!”
Kim So Eun mengenali suara orang yang membentak. Dia segera berseru, “Kim Bum!”
Dua bola mata hijau Jung Yong Hwa memandang ke depan. Enam langkah di depannya berdiri seorang pemuda berpakaian serba putih.
“Lepaskan gadis itu!” murid Kim Tae Hee itu kembali membentak.
Jung Yong Hwa menyeringai. “Kalau kau merasa sanggup mengambilnya, silakan coba!” Sepasang mata pemuda itu mengeluarkan kilauan aneh. Dua mata itu mengedip. “Wussss! Wussss!”
Dua sinar hijau menyambar dengan dahsyat ke arah Kim Bum. Kim Bum berseru kaget. Dia cepat menyingkir seraya menangkis dengan menghantamkan tangan kanan ke depan. Sinar putih menyilaukan merambas menghantam dua larik sinar hijau maut yang keluar dari sepasang mata Jung Yong Hwa.
“Bummmmm!”
Kim Bum terbanting ke tanah. Sekujur tubuhnya seperti kaku dan panas. Terhuyung-huyung dia berdiri. Dadanya berdenyut sakit. Kepalanya seperti ditusuk-tusuk. Jung Yong Hwa dan Kim So Eun tak kelihatan lagi bayangannya. Tengkuknya merinding ketika melihat bagaimana pakaian putihnya telah berubah menjadi kehijau-hijauan! Dia memandang berkeliling. Dan lebih merinding lagi melihat bagaimana beberapa pohon di sekitarnya hancur mengepulkan asap kehijauan!
“Celaka... mengapa jalan nafasku mendadak menjadi sesak...?” Kim Bum memegang dadanya. Dengan cepat ia mengerahkan tenaga dalam. Tapi terlambat. Dia mengeluh tinggi ketika kepalanya serasa dipalu. Lalu perlahan-lahan pemandangannya menjadi gelap. Bersamaan dengan itu wajahnya jadi kehijauan. Sesaat lagi dia akan roboh tak sadarkan diri ketika tiba-tiba ada suara mengiang di dua liang telinganya. Dia mengenali suara itu tapi hanya bisa berdesah. “Ah Guru... aku yang muda terpaksa mendahuluimu...”
Murid Kim Tae Hee itu mengeluarkan suara mengerang panjang. Sebelum tubuhnya tersungkur ke tanah, tiba-tiba ada satu bayangan berkelebat. bersamaan dengan itu ujung sebuah tongkat menotok dengan telak urat besar di lehernya sebelah kanan. Lalu ada suara orang menarik nafas panjang. “Sekejap saja aku terlambat menotok jalan darahnya, nyawa pemuda ini pasti tak akan tertolong!” Lalu di tempat itu kembali menggema sebuah suara yang dapat merobekkan gendang telinga.
Bersambung…
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar