Kamis, 24 Mei 2012
Manusia Paku (Chapter 1)
Gerobak yang ditarik kuda cokelat tinggi besar itu meluncur kencang di jalan kecil menurun berbatu-batu. Lelaki berbaju cokelat dan memiliki satu mata itu, menarik tali kekang kuda kuat-kuat. Tapi kuda itu tidak bisa dikendalikan lagi. Semakin ditahan tali kekang, semakin kencang kuda menggerakkan kakinya. Di sebuah tikungan, gerobak hampir terbalik, pengemudinya nyaris terlempar.
“Kuda jahanam! Aku memang ingin cepat sampai! Tapi tidak mau celaka!” teriak lelaki bermata satu. Kembali dia menarik tali kekang. Kepala kuda penarik gerobak tersentak ke belakang. Dari hidungnya dan mulutnya keluar cairan berbusa. Binatang itu meringkik keras. Tapi sama sekali tidak berhenti.
Di balik tikungan, jalan semakin menurun, semakin sempit dan batu-batu besar bergelimpangan menyembul ke permukaan tanah. Beberapa puluh meter di bawah tampak Waduk Ulsan. Di musim kemarau panjang waduk itu tak lebih dari sebuah lembah dalam berlumpur ditumbuhi semak belukar dan pepohonan liar serta tebing batu.
“Binatang jahanam ini benar-benar tidak mau berhenti! Sebentar lagi gerobak pasti meluncur ke lembah. Aku tidak mau celaka!”
Lelaki di atas gerobak menggunakan tangan kirinya untuk membuka tali yang mengikat sebuah peti besi ke tiang gerobak. Hanya sesaat lagi gerobak itu akan tercebur ke dalam waduk, dia menyambar peti besi lalu melompat dari atas gerobak. Peti besi yang dipegang dengan tangan kirinya cukup berat. Tapi hebatnya, begitu melompat ke udara dia mampu membuat gerakan jungkir balik dan ketika turun kedua kakinya tepat menjejak sebuah batu besar di bibir waduk.
Dari atas batu itu dia melihat kuda dan gerobak menghambur masuk ke waduk. Salah satu rodanya mental, meloncat ke udara di hantam batu besar. Kuda besar itu meringkik keras beberapa kali lalu amblas ke dalam lumpur di dasar lembah. Hanya sesaat kakinya tersembul melejang-lejang, sebelum akhirnya lenyap dari pandangan!
Lelaki berbaju cokelat yang tidak memiliki mata kiri itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Setelah menarik nafas panjang peti besi diletakannya di batu lalu dia duduk di atas peti itu.
“Pemandangan hebat!” tiba-tiba ada orang berucap di belakang lelaki bermata satu. Lalu terdengar tawa. Dia cepat berpaling dan cepat melengak kaget. Dia memiliki kepandaian luar biasa tinggi, bagaimana mungkin dia tidak mengetahui kemunculan orang itu? Jawabnya hanya satu. Orang itu pasti memiliki kepandaian lebih tinggi! Lelaki berbaju cokelat itu segera berdiri.
“Aku sudah menunggu lama! Kukira kau tidak muncul! Turunlah dari atas batu!” orang yang bicara kembali tertawa. Dia adalah seorang laki-laki yang mengenakan baju berwarna merah. Pada keningnya terikat secarik kain merah. Di tangan kirinya dia memegang sebuah kantong kain tebal yang isinya cukup berat karena kantong itu tampak membuyut ke bawah.
Lelaki di atas batu melompat turun, tapi dia tidak mau terlalu jauh dari peti besi yang diletakkan di atas batu itu. “Apakah aku berhadapan dengan manusia sakti penguasa tunggal kawasan timur yang dikenal bernama, Jang Geun Suk dari Gunung Jirisan?”
Lelaki berbaju merah menyeringai. “Kalau sudah tahu kenapa tidak segera memberikan penghormatan padaku?” ujarnya.
“Ah!” lelaki berbaju cokelat menyeringai. Dia mengusap dagunya lalu memberikan penghormatan.
Laki-laki yang dipanggil Jang Geun Suk itu tertawa panjang. “Aku sendiri apakah sedang berhadapan dengan raja diraja rampok besar kawasan utara selatan bernama Ok Taecyeon Penguasa Rimba Belantara Utara Selatan?!”
Lelaki bermata satu menyerangai. “Nama yang barusan kau sebut itu memang aku orangnya, Jang Geun Suk!”
“Ah! Akhirnya kita bertemu juga. Kabarnya matamu yang tinggal satu punya kesaktian yang tiada tandingan. Mampu melelehkan besi dan menghancurkan batu! Apakah kau bisa mempertunjukkan kehebatanmu di hadapanku?!”
“Jang Geun Suk, waktu kita sempit sekali, Mengapa membuang percuma dengan segala pertunjukan yang tidak-tidak?!”
“Kau betul, Ok Taecyeon! Tapi bagaimana aku bisa tahu bahwa yang dihadapanku ini benar-benar Ok Taecyeon, orang yang membuat perjanjian denganku, yang akan menyerahkan sejumlah batang emas untuk kumiliki dan tengah menjadi incaran puluhan tokoh dunia persilatan!?” Pada akhir ucapannya, lelaki berbaju merah itu menggerakkan sedikit tangan kirinya yang memegang kantong tebal.
Lelaki bermata satupun berkata. “Kalau itu maumu, harap lihat batu di seberang sana...” katanya sambil menunjuk ke arah sebuah batu besar di pinggiran waduk sebelah kiri. Batu itu terletak sekitar tiga meter dari tempat mereka berdiri.
Lelaki berbaju merah memutar kepalanya ke arah batu besar. Perlahan-lahan lelaki bermata satu itu mengarahkan pandangan mata kanannya pada batu besar. Bibirnya tampak bergetar. Mata kanan itu mengeluarkan suatu kilauan aneh. Terdengar suara “Wusss” disertai membersitnya sebuah sinar berwarna hitam.
“Kraaakk! Byaaarr!”
Batu besar di sebelah sana retak di sembilan tempat lalu hancur berkeping-keping.
“Luar biasa! Benar-benar luar biasa! Tak percuma kau jadi raja diraja rampok utara selatan!” Lelaki berbaju merah memuji sambil mengeleng-gelengkan kepalanya.
“Sekarang giliranku. Buktikan bahwa kau memang Jang Geun Suk. Manusia sakti yang mampu menjebol tembok batu dengan tangan kosong!”
Lelaki berbaju merah tertawa panjang mendengar kata-kata Ok Taecyeon itu. “Rupanya kau masih kurang percaya kalau aku memang Jang Geun Suk!” katanya. Lalu ia melangkah mendekati sebuah batu besar yang tingginya hampir sama dengan tinggi kepalanya.
“Perhatikan baik-baik apa yang akan aku lakukan!” kata lelaki berbaju merah. “aku tidak akan mengulang kedua kali. Apapun yang akan aku lakukan ini jarang kuperbuat dan berlangsung hanya sekejapan mata!” Setelah berkata begitu sampai di depan batu tinggi, lelaki berbaju merah itu menggerakkan tangan kanannya. Terdengar suara “rrrrtttt.” Tangan kanan lelaki berbaju merah itu amblas masuk ke dalam batu. Ketika tangan itu ditarik kembali pada batu tinggi kelihatan lubang besar yang tembus dari satu sisi ke sisi lainnya!
“Hebat sekali!” puji Ok Taecyeon. Dia lalu menunjuk pada peti besi di atas batu di sampingnya. “Sesuai perjanjian, aku sudah membawa barang untukmu. Apakah isi kantong itu barang untukku?!”
Jang Geun Suk menelan ludahnya lalu mengangguk.
“Boleh aku melihat isi peti ini?” tanya Jang Geun Suk.
Ok Taecyeon membuka dua buah gembok besar pengunci peti. Begitu pintu besi dibuka, membersitlah sinar kekuningan dari batangan-batangan emas yang ada di dalam peti.
“Semua berjumlah duapuluh batang...” kata Ok Taecyeon.
Jang Geun Suk menyeringai. Matanya memandang sekilas ke dalam peti. Lidahnya berulang kali dijulurkan membasahi bibir. Ok Taecyeon menutup peti dan memasang gemboknya kembali.
“Boleh aku melihat isi kantong itu?” tanyanya.
“Silahkan lihat sendiri!” ujar Jang Geun Suk. Kantong kain tebal di tangan kirinya dilemparkannya pada Ok Taecyeon. Lelaki itu menyambutnya lalu membuka ikatan tali yang melilit kantong.
Begitu kantong dibuka, dia melihat setumpuk paku besar panjang lebih dari setengah sejengkal. Paku-paku itu terbuat dari baja yang mengeluarkan sinar putih benderang.
“Ada tiga puluh paku didalam kantong itu. Kau sudah melihat. Apakah kau kini percaya dan puas?!” tanya Jang Geun Suk seraya melangkah mendekati.
Ok Taecyeon mengangguk. “Aku ambil paku-paku ini, kau boleh ambil emas dalam peti!” katanya.
Jang Geun Suk mengangguk. “Sekarang kau baru jadi raja diraja rampok utara selatan. Kelak jika kau sudah menjadi raja diraja rimba persilatan, kuharap saja kau tidak lupa padaku!” katanya sambil menyeringai. “Sekarang bantu aku menurunkan peti itu. Kau meletakkannya terlalu tinggi di atas batu!”
Ok Taecyeon mengikat tali penutup kantong berisi paku lalu mengikatkan benda itu ke sabuk besar di pinggangnya. Dengan dua tangannya yang kukuh, ditariknya peti besi berisi duapuluh batangan emas. Untuk menarik peti, Ok Taecyeon terpaksa membelakangi Jang Geun Suk. Pada saat itulah tiba-tiba tangan kanan Jang Geun Suk melesat ke pinggangnya.
Ok Taecyeon menjerit dahsyat ketika tangan kanan Jang Geun Suk menghancurkan tulang pinggangnya terus menembus perut. Ketika tangan itu ditarik, sebagian usus besar Ok Taecyeon ikut terbetot dan menyembul di bagian belakang tubuhnya bersamaan dengan kucuran darah!
Jang Geun Suk tertawa tinggi. “Manusia tidak tahu diuntung! Manusia sepertimu bercita-cita gila hendak jadi raja diraja dunia persilatan! Huh!” Dia meludah ke tanah, lalu sekali renggut saja dia merampas kantong berisi paku yang tergantung di sabuk Ok Taecyeon. Benda itu dengan cepat disimpannya di balik baju merahnya. Kemudian sekali berkelebat dia sudah berada di atas batu. Peti besi yang berat itu, seperti menjinjing keranjang kosong dengan mudah ditentengnya. Sebelum melompat turun, dia berpaling pada Ok Taecyeon dan mengumbar tawa.
“Dasar bodoh! Mana ada rampok yang menjadi penguasa tunggal dunia persilatan! Ha... ha... ha...! Selamat tinggal Ok Taecyeon! Selamat menghadap penguasa akhirat! Mungkin disana kau bisa jadi raja diraja akhirat! Ha... ha... ha...!”
Saat itu Ok Taecyeon berada dalam keadaan sekarat. Tubuhnya bersimbah darah dan isi perutnya semakin banyak memburai melalui lubang besar di pinggang dan di perutnya. Tersandar pada sebuah batu di belakangnya, dia masih bisa mengeluarkan ucapan. “Lelaki keparat... Kau kira kau bisa kabur begitu saja...”
Mata kanan Ok Taecyeon mengeluarkan kilauan aneh. Mata itu memandang lurus ke arah sosok Jang Geun Suk yang meninggalkan tempat itu dengan cepat. Jang Geun Suk rupanya tidak bodoh. Dia sengaja mengambil jalan lari satu garis lurus dengan batu-batu besar yang ada di tempat itu. Dengan demikian tubuhnya terhalang dari pandangan mata Ok Taecyeon yang berbahaya itu. Akan tetapi di satu tempat Ok Taecyeon masih sempat melihat sosok kiri Jang Geun Suk keluar dari garis lurus yang menghalangi dirinya dari batu-batu besar. Bibirnya bergetar. “Wusss!” sinar hitam melesat.
Di depan sana terdengar jeritan Jang Geun Suk. Bahu kirinya hancur disambar sinar sakti yang keluar dari mata kanan Ok Taecyeon. Tangan kirinya putus dan hancur berantakan di udara. Lelaki itu jatuh ke tanah, mengerang kesakitan, sementara darah mulai membasahi baju merahnya. Sekujur tubuhnya mengginggil dan mulai terasa panas. Dengan dua jari tangan kanannya, Jang Geun Suk cepat menotok dada kirinya. Lalu dengan terseok-seok ia meninggalkan tempat itu. Peti besi dijinjingnya erat-erat di tangan kanan. Nafasnya tak karuan.
Di tepi waduk, Ok Taecyeon berusaha mencari sosok Jang Geun Suk dengan pandangan mata kanannya. Dia maju beberapa langkah, namun tak bisa berbuat banyak. Di satu tempat lututnya menekuk. Tubuhnya ambruk ke bawah lalu tergelimpang di tebing waduk Ulsan.
Bersambung…
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar