Selasa, 08 Mei 2012
Gladiator (Chapter 3)
Menimbang serangan enam prajurit Istana Daehan Minguk yang mengincar Jung Yong Hwa, akhirnya Kim Bum bergegas pergi ke Sungkyunkwan.
Sebelumnya ia memerintahkan Lee Hong Ki untuk menghubungi Kim So Eun, “Lee Hong Ki, cari Kim So Eun dan beri tahu bahwa aku ada di Sungkyunkwan. Suruh gadis itu menyusulku di Sungkyunkwan!”
Lee Hong Ki tak bisa menolak perintah itu, karena hanya Kim Bum dan Kim So Eun yang dapat dijadikan pelindungnya jika terjadi bahaya mengancam keselamatannya.
Kim Bum sendiri memerintahkan hal itu bukan semata-mata meminta bantuan Kim So Eun, tapi sebagai tindakan berjaga-jaga bagi dirinya sendiri. Seandainya permintaan Jung Yong Hwa itu merupakan jebakan maut yang akan merepotkan dirinya, setidaknya Kim So Eun akan segera mengetahui dan melakukan penyelamatan.
Tapi melihat wajah Jung Yong Hwa berlagak tenang, tanpa kecemasan sedikit pun, hati kecil Kim Bum mengatakan bahwa pihak Sungkyunkwan memang terancam kehancuran oleh tindakan orang-orang Istana Daehan Minguk. Jung Yong Hwa tampak berharap sekali datangnya bantuan dari Kim Bum, sehingga apa pun yang ditanyakan Kim Bum selalu dijawab apa adanya tanpa ada keraguan.
“Dulu Sungkyunkwan diperintah oleh Kang Ji Hwan. Tetapi sejak tewasnya Kang Ji Hwan di tangan Ratu Park Ji Yeon, kekuatan Sungkyunkwan menjadi lemah. Sampai sekarang kami tak punya penguasa tunggal. Kami hanya mempunyai beberapa orang yang untuk sementara ini menjadi pengatur kehidupan di Sungkyunkwan.” Jung Yong Hwa menjelaskan hal itu, karena Kim Bum mengajukan pertanyaan masalah penguasa Sungkyunkwan.
Dalam otak Kim Bum mulai mencatat nama penguasa Istana Daehan Minguk yang bernama Ratu Park Ji Yeon itu.
“Sudah berapa orang pemuda yang diculik dan dibawa ke Istana Daehan Minguk?!” tanya Kim Bum.
“Tiga belas orang,” jawab Jung Yong Hwa. “Sebetulnya mereka pemuda-pemuda tangguh. Boleh dikatakan, mereka adalah prajurit pilihan kami yang mempunyai kepandaian bertempur, berilmu tinggi, dan berjiwa ksatria. Tetapi sekalipun kami mengunggulkan mereka, toh pihak Ratu Park Ji Yeon masih bisa melumpuhkan kami satu persatu dan menculiknya, entah siang ataupun malam.”
“Ada berapa pemuda tangguh di Sungkyunkwan?!”
“Tak banyak. Sisanya hanya sedikit, termasuk aku. Dan sepertinya para penculik itu mempunyai ilmu lebih tinggi dari kami.”
“Hmmm...,” Kim Bum menggumam, lalu diam sesaat.
Ia tetap melangkah di samping Jung Yong Hwa bagai dua ksatria sedang menuju ke medan pertempuran. Mereka berdua sama gagahnya, sama tampannya, dan sama-sama berbadan tangguh. Tak heran jika langkah mereka diikuti oleh sepasang mata yang secara diam-diam mengintai dari balik celah bebatuan besar di depan mereka. Bebatuan besar itu berada di atas bukit cadas yang tak seberapa tinggi, puncaknya dapat dicapai dengan satu kali sentakan kaki Kim Bum.
“Selain para pemuda, adakah kaum wanita yang diculik mereka, Jung Yong Hwa?”
“Sejauh ini, belum ada,” jawab Jung Yong Hwa dengan kesan jujur. “Padahal kami juga punya beberapa gadis berilmu yang tergabung dalam kelompok para prajurit Sungkyunkwan.”
“Hmmm...!” Kim Bum mengangguk-anggukan kepalanya lagi.
Mereka melewati jalanan di bawah bukit cadas berbatu-batu itu. Kim Bum sempat mengajukan pertanyaan kepada Jung Yong Hwa.
“Apakah mereka yang hilang itu benar-benar dibawa ke Istana Daehan Minguk untuk dijadikan prajurit di sana?! Bagaimana jika ternyata mereka dibunuh?”
“Sejauh ini kami belum pernah menemukan mayat mereka. Jadi kami yakin mereka masih hidup dan berada dalam benteng Istana Daehan Minguk.”
“Jauhkah letak Istana Daehan Minguk dengan Sungkyunkwan itu?!”
“Jika ditempuh dengan berjalan kaki biasa, memakan waktu satu hari satu malam. Tapi jika kita berlari cepat menggunakan ilmu “Meringanankan Tubuh”, kira-kira hanya memakan waktu satu malam atau satu siang.”
“Termasuk dekat menurutku. Apakah pihakmu pernah menyerang ke Istana Daehan Minguk?”
“Belum pernah. Sebab kami sadar kekuatan kami tak seimbang jika berhadapan dengan pihak Istana Daehan Minguk.Tetapi dalam....”
“Ssst...!” Kim Bum memotong pembicaraan itu dengan mencekal lengan Jung Yong Hwa. Tindakan itu mengherankan bagi Jung Yong Hwa, sehingga ia berpaling memandang Kim Bum dengan dahi berkerut.
“Tetap saja melangkah biasa,” bisik Kim Bum.
“Ada apa sebenarnya?”
“Ada yang mengikuti kita.”
“Ada di mana orang itu?! Di belakang kita?”
Kim Bum tersenyum menahan rasa geli.
“Namanya mengikuti ya tentu dari belakang, tidak mungkin dari depan! Kalau dari depan namanya menuntun kita! Bukan mengikuti!”
Jung Yong Hwa malu dengan pertanyaan bodohnya tadi. Ia ingin menoleh ke belakang, tapi Kim Bum buru-buru melarangnya.
“Jangan menoleh. Tetap saja seperti biasa, seolah-olah kita tak tahu kalau dia mengikuti dari belakang.”
“Tapi... tapi dari mana kau tahu kalau dia mengikuti kita? Aku tak mendengar suara langkah kakinya,” bisik Jung Yong Hwa.
“Suara langkah kakinya memang tak terdengar. Kurasa dia mempunyai ilmu “Meringankan Tubuh” yang cukup lumayan, sehingga langkah kakinya bisa tak terdengar. Tapi aku mendengar detak jantungnya.”
“Ooh...?!” Jung Yong Hwa terperanjat dan merasa kagum. Baru sekarang ia tahu ada orang yang bisa mendengar suara detak jantung di kejauhan.
Jung Yong Hwa memang tak tahu bahwa Kim Bum juga mempunyai ilmu “Lacak Jantung” yang membuatnya dapat mendengar detak jantung seseorang di tempat yang tersembunyi.
Mereka akan melewati tikungan jalan. Kerimbunan pohon bambu yang tumbuh merapat dapat dijadikan tempat bersembunyi bagi kedua pemuda tersebut. Kim Bum segera membisikkan rencana kepada Jung Yong Hwa.
“Jika kita nanti sudah membelok di balik pepohonan bambu itu, cepatlah naik ke pohon. Kau bisa lakukan lompatan cepat ke atas pohon, bukan?”
“Bisa!” jawab Jung Yong Hwa.
“Bagus. Carilah tempat bersembunyi di atas pohon nanti, agar jangan sampai kau terlihat dari bawah. Aku akan berhenti dan menghadang si penguntit kita itu!”
“Baik. Hati-hatilah, Kim Bum!”
“Sekarang jangan kelihatan tegang dulu. Santai saja!” bujuk Kim Bum karena Jung Yong Hwa mulai menggenggamkan kedua tangannya. Hal itu bisa dilihat dari belakang dan tampak mereka bersiap menghadapi seseorang. Karenanya, Jung Yong Hwa segera melepaskan genggaman tangannya, ia ikut tertawa pelan ketika Kim Bum membuat lelucon lewat celotehnya. Bahkan Kim Bum menyempatkan diri menenggak araknya sesaat. Gerakan menenggak itu dimaksud juga untuk memeriksa apakah ada bahaya di atas pohon sekitar mereka.
“Aman...,” ucap Kim Bum membatin. Langkah mereka pun berlanjut, membelok di tikungan, di balik serumpun pohon bambu hijau yang tumbuh rapat. Tak jauh dari tikungan ada sebuah pohon dengan cabangnya menaungi jalanan yang dilewati mereka berdua. Kim Bum memberikan isyarat lewat angukan kepalanya. Jung Yong Hwa segera menyentakkan kaki ke tanah.
“Wuuus...!” Tubuhnyameluncur naik dan hinggap di salah satu dahan. “Jleeg...!”
Kim Bum memandang sebentar, kemudian ia tersenyum sambil menatap kearah tikungan itu. Ia sengaja berbalik arah dengan sikap menunggu datangnya si penguntit.
“Aku yakin dia berilmu tinggi, karena suara langkah kakinya tak terdengar sedikit pun,” ujar Kim Bum membatin sendiri. “Tapi ia tidak bisa menyembunyikan suara detak jantungnya, sehingga ia tak akan menduga kalau kuhadang di sini dan akan kupergoki siapa dia sebenarnya!”
Ternyata sampai beberapa saat lamanya, dari arah tikungan itu tidak muncul siapa pun juga. Padahal hati Kim Bum sudah tak sabar. Rasa penasaran ingin mengetahui siapa penguntitnya membuat Kim Bum menjadi kesal sendiri.
“Apakah dia tahu kalau sedang kujebak di sini?” piker Kim Bum, lalu segera menggunakan jurus “Lacak Jantung”-nya lagi untuk mengetahui di mana orang itu bersembunyi.
Namun sesaat setelah jurus itu dipergunakan, wajah Kim Bum mulai berubah. Dahinya berkerut dan matanya melirik sekitarnya. Ada kecemasan yang mulai dirasakan olehnya.
“Aneh! Tak ada suara detak jantungnya lagi? Apakah dia pergi ke lain arah dan jadi menguntitku? Hmm... tapi... tapi suara detak jantung Jung Yong Hwa juga tak kutangkap dengan indera pendengaran gaibku?! Aneh sekali. Yang kutangkap hanya suara detak jantungku sendiri?!”
Kim Bum semakin cemas, ia mendongak ke atas, memandang pohon berdaun rindang tempat Jung Yong Hwa bersembunyi tadi.
“Ooh...?! Tak kulihat bayangan seseorang di atas sana. Apakah Jung Yong Hwa pindah tempat?! Kenapa ia harus pindah tempat?!” ujar Kim Bum membatin.
Lalu, ia pun memanggil Jung Yong Hwa dengan suara setengah tertahan. “Jung Yong Hwa...! Hei, jawablah, Jung Yong Hwa! Jung Yong Hwa...! Jung Yong Hwa?! Ssst...! Jung Yong Hwa, kau dengar suaraku?!”
Tak ada jawab apa pun dari atas pohon. Kim Bum semakin bertambah cemas lagi.
“Wuuut...!” Ia pun menyusul naik ke atas pohon dengan satu sentakan kaki ringan. Tubuhnya melayang dengan cepat dan menerabas daun-daun kecil yang rimbun itu. “Brruuss...!”
“Kemana pemuda itu?!” geramnya dengan hati kesal, karena Jung Yong Hwa ternyata tak ada di pohon tersebut.
Tapi ketika ia memandang ke arah selatan, tampak sekelebat bayangan merah tembaga yang melesat dari pohon ke pohon. Bayangan itu sepertinya sedang memanggul sesuatu yang berwarna biru muda.
“Kurang ajar! Rupanya seseorang telah berhasil membawa lari Jung Yong Hwa dari pohon ini?!”
“Zlaaap, zlaaap...!” Kim Bum segera mengejar bayangan merah tembaga itu dengan hati semakin kesal, ia merasa telah kebobolan. Bahkan lebih parah lagi, niatnya menjebak justru balik terjebak. Hal itu membuat Kim Bum sangat kesal dan bertambah penasaran, ia harus berhasil menangkap orang itu dan membebaskan Jung Yong Hwa, karena tertangkapnya Jung Yong Hwa karena idenya sendiri.
Kim Bum tak tahu bahwa keadaan Jung Yong Hwa di atas pohon merupakan hal yang sangat menguntungkan bagi pihak si penguntit. Orang tersebut bermaksud mengikuti Kim Bum dan Jung Yong Hwa melalui atas pohon, agar tak menimbulkan kecurigaan bagi kedua pemuda tersebut. Namun ketika ia tiba di pohon berdaun rindang itu, ternyata Jung Yong Hwa muncul dan hinggap di sebuah dahan membelakangi orang tersebut.
Jung Yong Hwa sendiri tak tahu ada orang di belakangnya, ia hanya merasakan sentuhan keras di bagian tengkuknya. Sentuhan keras di bagian sekitar tengkuk itu adalah sebuah totokan dua jari tangan si penguntit.Tentu saja Jung Yong Hwa tersentak, namun tak bisa mengeluarkan suara, ia segera menjadi lemas, terkulai hampir jatuh.
Orang tersebut menyambar tubuh Jung Yong Hwa sebelum pemuda itu jatuh dari atas pohon. KeadaanJung Yong Hwa masih sadar dan mengetahui apa yang sedang terjadi atas dirinya. Hanya saja, ia kehilangan kemampuan bersuara dan bergerak. Orang tersebut agak kerepotan sebentar menahan tubuh Jung Yong Hwa. Namun dengan kekuatan tenaga dalamnya, ia berhasil meletakkan Jung Yong Hwa di pundaknya seperti handuk basah. Kemudian ia berusaha meninggalkan pohon itu tanpa suara sedikit pun. Mulanya langkah dan gerakannya dilakukan sangat pelan, setelah agak jauh baru ia berlari melompati pohon ke pohon dengan ilmu “Meringankan Tubuh”.
Orang tersebut ternyata mempunyai kecepatan gerak yang membuat Kim Bum kewalahan. Jurus “Gerak Siluman” yang digunakan Kim Bum tak berhasil memburunya, karena orang tersebut mempunyai gerakan berbelok-belok membingungkan. Bahkan Kim Bum sempat salah arah. Ia tak melihat orang tersebut membelok ke arah timur. Kim Bum masih mengejarnya ke arah selatan.
Setelah sadar ia salah arah, ia pun kembali ke arah semula. Tapi sudah terlambat, orang itu sudah membelok lagi entah ke arah mana. Kim Bum mencari ke berbagai penjuru dalam radius sekian kilometer. Tapi orang yang membawa lari Jung Yong Hwa tetap tidak berhasil ditemukan.
Kesimpulan batin Kim Bum mengatakan, “Pasti orang Istana Daehan Minguk! Entah siapa namanya, yang jelas bukan salah satu dari keenam prajurit tadi!”
Tentu saja Kim Bum tak berhasil menemukan orang tersebut, karena ia tidak melihat adanya sebuah gua kecil di salah satu lereng bukit tak jauh dari tempat ia salah arah itu.
Gua tersebut selain kecil, hanya cukup untuk masuk satu orang dalam keadaan merunduk, juga bagian depan gua tumbuh ilalang setinggi pundak orang dewasa. Ilalang itu menutupi mulut gua, sehingga tidak kelihatan jelas dari jalanan seberang semak tersebut, Orang tersebut meletakkan Jung Yong Hwa di mulut gua itu. Setelah ia masuk ke dalam gua, ia segera menarik tubuh Jung Yong Hwa hingga ikut masuk ke dalam gua tersebut. Jika bukan orang yang pernah masuk ke gua itu, tak mungkin gua itu mudah ditemukan oleh orang berpakaian merah tembaga itu.
Keadaan di dalam gua ternyata cukup lebar. Banyak bebatuan yang berserakan, tapi banyak pula tempat datar yang kering. Langit-langit gua itu mempunyai tiga lubang tembus ke atas bukit. Cahaya matahari masuk melalui tiga lubang tersebut, membuat suasana di dalam gua cukup terang tapi aman. Gua itu tidak punya jalan tembus ke mana-mana, selain celah-celah sempit pada dinding gua yang tidak bisa dipakai lewat seseorang. Celah sempit itu juga membiaskan cahaya matahari, sehingga jika matahari condong ke barat atau baru terbit dari timur, gua itu tetap mendapat penerangan cahaya.
Jung Yong Hwa dibaringkan di atas tanah datar yang dilapisi daun-daun ilalang kering. Ilalang kering itu disusun sedemikian rupa, sehingga dapat digunakan untuk tidur dengan empuk. Hal itu menandakan bahwa orang tersebut pernah tidur atau istirahat di gua itu beberapa kali.
Suara sebuah ledakan yang samar-samar mengubah arah pengejaran Kim Bum. Suara itu berasal dari utara. Tampaknya cukup jauh dari tempatnya berdiri saat itu.
“Jangan-jangan suara ledakan itu adalah pertarungan Jung Yong Hwa dengan orang berpakaian merah tembaga tadi?!” duga hati Kim Bum. Maka tak ada langkah lain bagi Kim Bum kecuali menghampiri suara ledakan tersebut.
Ternyata suara itu memang datang dari sebuah pertarungan. Pertarungan itu terjadi di hutan berpohon renggang, sehingga banyak tempat kosong yang memberi kebebasan bagi sebuah pertarungan. Pada waktu Kim Bum tiba di atas salah satu pohon, ia sempat kecewa sesaat, karena pertarungan itu bukan pertarungannya Jung Yong Hwa.
Namun hatinya segera tergugah melihat salah satu pihak yang bertarung itu adalah seorang wanita. Wanita itu mempunyai paras wajah yang cantik, mengenakan baju berwarna kuning gading dan di pinggangnya terselip pedang bergagang putih berkilauan dari logam anti karat.
“Siapa wanita cantik itu?!” tanya Kim Bum dalam hatinya.
“Gerakannya cukup gesit dan lincah. Jurus yang dimainkan... boleh juga! Ia punya gerak tipuan yang bagus. Hmmm... baru sekarang kulihat wanita bermata penuh keberanian itu. Tapi yang jelas, lawannya pasti orang Istana Daehan Minguk, sebab pakaian besi dan topi besinya sama dengan keenam prajurit yang tadi. Namun dia bukan salah satu dari mereka. Aku ingat betul, wajah mereka tak ada yang seperti lelaki ini!”
Lelaki itu kini mencabut pedangnya, lelaki itu bukan saja pandai bermain jurus pedang, namun ia juga mempunyai jurus pukulan jarak jauh bercahaya merah. Ketika pedangnya menebas dan tertangkis oleh pedang si wanita cantik, ia sempat terpental karena wanita itu segera memutar tubuh dan melayangkan tendangan kuatnya ke arah perut lawan.
Begitu lelaki itu bangkit dari jatuhnya yang berjarak delapan langkah dari tempat si wanita cantik itu berdiri, tangan kirinya segera melepaskan sinar merah bundar.
“Claaap...!”
Sinar merah dari telapak tangan kirinya itu melesat ke arah wanita berbaju kuning. Namun dengan lincah wanita itu melenting ke udara, bersalto maju dua kali dengan gerakan putar yang cepat.
“Wes, wes...!” Sinar merah itu akhirnya padam begitu saja karena menerjang rumput ilalang lebat. “Buuuss...!” Asap mengepul dari tengah kelebatan semak ilalang itu.
“Kalau ilalang itu tanahnya tidak basah, pasti akan terbakar karena sinar merah tadi,” pikir Kim Bum, namun perhatiannya segera berpindah ke pertarungan.
Wanita berbaju kuning berdiri dalam jarak empat langkah dari lawannya, ia diserang dengan jurus pedang yang berkesan membabi-buta tapi mempunyai gerakan cepat.
“Trang, trang, trang, trang...!”
Wanita itu terdesak, karena setiap tebasan pedang yang ditangkisnya berkekuatan besar dan membuat tubuhnya terdorong mundur. Rupanya orang Istana Daehan Minguk itu mempunyai tenaga cukup besar, sehingga tangkisan pedang si wanita selalu nyaris mengenai tubuhnya sendiri.
Sabetan pedang lawan di bagian bawah bisa dihindari oleh si wanita dengan lompatan. Tapi di luar dugaan, lelaki itu juga melompat dan memutar tubuhnya dengan cepat sambil melepaskan tendangannya.
“Wuuut,buuhkk...!”
“Aahk...!” wanita itu terpekik karena pinggangnya terkena tendangan kuat. Tubuhnya terpental sejauh lima langkah ke samping kanan. Ia jatuh terbanting, kepalanya nyaris pecah karena batu besar yang ada di sampingnya dalam jarak tiga jengkal itu.
“Aahhhkk.... Uuuhk...!”
Rupanya tendangan kaki tadi mengandung tenaga dalam cukup besar, sehingga si wanita akhirnya mengeluarkan darah kental dari mulutnya. Selain rasa sakit di pinggangnya, rasa panas pun bagai membakar tubuh bagian dalam. Darah itu keluar cukup banyak dan membuat wanita tersebut menjadi pucat.
“Berakhir sudah riwayatmu, Nona! Heeaah...!”
Prajurit itu melompat dengan pedang terangkat ke atas, siap memenggal leher si wanita yang sedang bersimpuh dan membungkuk.
Tetapi ketika tubuhnya melayang di udara, tiba-tiba ia merasa diterjang sesuatu yang datang dari arah depannya. Angin padat berhembus cepat dan kuat, membuat tubuh si prajurit itu terlempar ke belakang dan berjumpalitan di udara.
“Baaahk ..! Wuuusss...! Wuuk, wuuk, wuuk...! Praaang...!”
“Aahk...!” ia memekik dengan kepala terdongak karena jatuh terbanting dalam posisi tengkurap. Tersangga sebuah batu besar. Untung saja ia mengenakan rompi besi, sehingga tubuhnya tak mengalami luka, hanya saja dadanya terasa sakit sekali karena bagaikan membentur besi baja.
Angin padat yang menabraknya tadi tak lain adalah jurus “Jari Guntur” milik Kim Bum yang disentilkan dari atas pohon. Kim Bum akhirnya keluar dari persembunyiannya. “Zlaaap...!” Dalam waktu singkat ia sudah berada di depan wanita yang terluka, matanya memandang lurus ke arah prajurit itu.
“Kurang ajar! Rupanya kau mau cari mati juga, hah?!” orang itu memaksakan diri untuk berteriak, ia pun memaksakan diri untuk bangkit walau sambil menahan rasa sakit di dada.
“Heeeaah...!” teriaknya sambil mengacungkan pedang lurus ke depan dan tubuhnya meluncur di udara dengan cepat bagaikan terbang. Pedang itu tepat mengarah ke dada Kim Bum.
Dengan cepat Kim Bum pun meluncur ke depan bagaikan terbang, namun setelah bumbung araknya disodokkan. Bumbung arak itu bagaikan menarik Kim Bum hingga terbang mengikutinya. Jurus “Bangau Mabuk” digunakan oleh Kim Bum, sehingga ketika ia bertabrakan dengan prajurit itu, ujung pedang si prajurit beradu dengan ujung bumbung arak Kim Bum.
“Duaaar...!” Ledakan cukup keras terjadi. Prajurit itu terpental mundur dan melayang-layang. Pedangnya pecah patah menjadi beberapa keping, ia tak tahu bambu bumbung arak itu bukan sembarang bambu dan mempunyai kesaktian dahsyat yang sulit dilawan.
Kim Bum berdiri tegang setelah terjadinya ledakan tadi. Ia menyunggingkan senyum, memandang tajam pada si prajurit yang terbatuk-batuk dan memuntahkan darah dari mulutnya. Rupanya ledakan tadi juga menyebarkan kekuatan tenaga dalam yang menghantam leher prajurit itu.
“Celaka! Kurasa dia bukan tandinganku! Uuhkk...! Sebaiknya kutinggalkan saja mereka! Lukaku harus kusembuhkan dulu!” pikir si prajurit.
Prajurit itu segera melarikan diri dengan sisa tenaganya. Kim Bum hanya memperhatikan dengan bertolak pinggang dan tersenyum. Bumbung araknya sudah digantungkan di pundak kanan.
Setelah prajurit itu menghilang dari pandangan mata, Kim Bum segera berbalik arah dan menghampiri wanita berbaju kuning gading itu. Tetapi ia terkejut melihat wanita tersebut sudah terkapar dengan pedang tak bisa digenggamnya lagi.
“Celaka! Jangan-jangan nyawanya sudah melayang sebelum berkenalan denganku?!” ujar hati Kim Bum dengan cemas, ia pun mempercepat langkahnya untuk sampai di tempat wanita cantik itu.
Bersambung…
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar