Kamis, 24 Mei 2012
Manusia Paku (Chapter 2)
Gadis berbaju ungu itu memacu kudanya sepanjang pesisir selatan lalu membelok tajam memasuki kawasan luas ditumbuhi pohon kelapa. Pita ungu yang mengikat rambutnya melambai-lambai ditiup angin. Jauh didepannya membujur deretan bukit-bukit. Tujuannya adalah salah satu dari puncak bukit itu.
Sepertinya dia tidak akan sampai ke tujuan dalam waktu dekat. Kuda tunggangannya sudah terkuras seluruh tenaganya karena dipacu sejak pagi buta tadi.
Semakin jauh dia masuk ke pedalaman semakin tak terdengar deru ombak yang memecah di pantai. Udara pesisir yang tadinya panas menyengat kini mulai menyejuk karena hembusan angin dari bebukitan. Semakin dekat ke arah bukit-bukit itu, udara terasa lebih sejuk.
Menjelang petang, kuda dan penunggangnya akhirnya sampai juga di kaki bebukitan. Namun justru di situlah kuda itu melepas sisa tenaganya yang terakhir. Dia tak sanggup lagi berlari. Langkah keempat kakinya gemetaran. Sebelum binatang itu tersungkur, gadis berbaju ungu melompat. Dengan cepat ia memegang leher kuda agar tidak terjerembab keras.
“Binatang hebat! Aku tak akan memaksamu naik ke atas puncak bukit sana. Aku terpaksa meninggalkanmu di tempat ini. Aku dikejar waktu...” si gadis memandang berkeliling.
Hatinya merasa lega ketika dia melihat tak jauh dari sana ada sebuah telaga. Walau airnya tidak terlalu bening, namun cukup menolong kuda yang sudah setengah mati kepayahan itu.
Dipetiknya beberapa helai daun, dengan cepat dibentuknya seperti mangkuk kecil. Lalu dengan benda itu diambilnya air telaga dan disiramkannya ke mulut serta kepala kuda yang terbujur di tanah. Sampai delapan kali memberi minum baru si gadis berhenti.
“Aku harus pergi sekarang... Kuharap kau mau menunggu di sini satu malam...” setelah mengusap leher dan kepala binatang itu beberapa kali, gadis berpakaian serba ungu itu segera berkelebat meninggalkan tempat itu.
Tepat pada saat matahari tenggelam, gadis itu sampai di puncak bukit. Dalam keremangan, dia berlari menuju bagian timur hingga akhirnya tiba di sebuah bangunan batu yang pintunya tertutup oleh sejenis pohon merambat. Si gadis tak berani menyibakkan daun-daun pepohonan itu, apalagi masuk ke dalam. Setelah menarik nafas panjang, dia berseru. “Guru, aku datang!”
Tak ada sahutan.
“Guru, aku Kim So Eun muridmu datang sesuai pesan!” ia berseru lebih keras.
Dari dalam bangunan batu terdengar suara batuk-batuk beberapa kali. “Jangan-jangan ia sedang sakit,” pikir si gadis. Dia memberanikan diri melangkah mendekati pintu bangunan.
Tiba-tiba ada suara seperti orang menyembur dari dalam bangunan. Bersamaan dengan itu menebar bau arak harum sekali. Gadis berbaju ungu menghentikan langkahnya.
“Ah, dia ada di dalam rupanya,” kata si gadis lega, dan kini tampak tersenyum. Kembali dia melangkah maju. Mendadak, “Wusss!” Ada kilatan api. Lalu daun-daun pohon jalar yang bergelantungan menutupi pintu bangunan batu tenggelam dalam kobaran api.
“Muridku, masuklah! Aku memang sudah lama dan penat menunggumu!”
Kim So Eun sang murid tentu saja jadi terkesiap. Bagaimana dia bisa masuk dalam bangunan sementara satu-satunya jalan masuk tertutup oleh kobaran api?
“Hey! Apakah kau sudah tuli, Kim So Eun?! Apa kau tidak dengar, aku menyuruhmu masuk?!” terdengar suara orang di dalam bangunan agak gusar.
“Guru...”
“Jangan bicara saja, masuklah!” orang di dalam bangunan batu akhirnya membentak hilang kesabaran. Sesaat si gadis masih terkesima. Namun sesaat kemudian, ia menggerakkan tangannya ke belakang membuka Pita Ungu yang mengikat rambutnya lalu melompat ke arah pintu seraya mengibaskan pita itu tiga kali berturut-turut.
Tiga gelombang angin menderu dahsyat, menerbangkan pasir dan batu-batu kecil. Melabrak daun-daun pohon jalar yang dikobari api. Api yang membakar pohon serta merta padam sementara pohonnya sendiri tidak patah atau remuk dihantam tiga gelombang angin tadi.
Ketika sang gadis melompat masuk ke dalam, pita ungunya sudah melingkar kembali di rambutnya.
Di dalam bangunan kini terdengar suara tawa bergelak. Lalu, “gluk-gluk-gluk” menyusul suara seperti seseorang tengah meneguk minuman dengan lahap. Di dalam bangunan, Kim So Eun sempat terkesiap.
“Ah, belum berubah juga dia rupanya...” lalu gadis itu cepat-cepat membungkuk memberi hormat lalu duduk bersimpuh di lantai.
“Hebat...! Jurus “Dewa Memagut Naga Membungkam Matahari” yang kau mainkan tadi sungguh sempurna! Kalau tidak kubegitukan tadi, mana kau mau memperlihatkan kepandaianmu! Ha...ha...ha...!”
“Guru, harap maafkan aku. Aku tak tahu kalau guru bermaksud mencoba kepandaianku yang rendah!”
Orang di hadapan si gadis tertawa. Lalu, “gluk-gluk-gluk” ia meneguk sejenis minuman keras yang harum dari bibir sebuah tabung bambu. Orang itu adalah seorang laki-laki yang mengenakan pakaian berwarna biru. Saat itu ia duduk di atas sebuah bumbung bambu yang ditegakkan di lantai. Di pangkuannya melintang sebuah tabung bambu lagi. Bumbung itu berisi arak murni luar biasa harumnya yang disebut dengan “Arak Khayangan”. Dan laki-laki itu tak lain adalah Song Seung Hun, salah seorang pemimpin rimba persilatan di masa itu!
“Guru, apakah kau selama ini sehat dan baik-baik saja?” Tanya Kim So Eun.
“Ya… ya. Aku selalu sehat dan baik-baik saja. Berkat ini!” jawab Song Seung Hun sambil menepuk bumbung-bumbung bambu di pangkuannya.
“Aku gembira mendengar hal itu....” kata sang murid. Dia diam sesaat lalu baru meneruskan ucapannya. “Sesuai pesan yang aku terima, aku sudah datang dan berada di hadapan guru. Gerangan apakah guru memanggilku?”
“Ah, kau rupanya tak mau berbasa-basi. Ingin langsung pada tujuan.” Song Seung Hun tersenyum lebar. Dia mengusap-usap dagunya beberapa kali lalu meneruskan ucapannya.
“Baiklah, aku memang perlu bicara padamu. Kim So Eun muridku, ketahuilah dunia persilatan dalam waktu dekat ini akan dilanda malapetaka besar kalau orang-orang sepertiku ini tidak cepat-cepat mengambil tindak pencegahan...”
“Rupanya ada tokoh-tokoh sesat golongan hitam hendak berbuat ulah?” tanya Kim So Eun.
“Bisa dikatakan begitu. Tapi pangkal bahayanya adalah seperti yang akan aku tuturkan padamu...”
Bersambung…
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar