Selasa, 08 Mei 2012
Gladiator (Chapter 1)
Dari ketinggian sebuah tebing cadas, tampak sekelebat bayangan melintas di sela-sela pepohonan. Bayang itu bukan tanpa sosok, tapi mempunyai sosok yang sedang berlari ketakutan. Sosok orang yang berlari ketakutan itu mengenakan baju berwarna kuning. Pemuda itu adalah salah satu dari sahabat Kim Bum. Kemahirannya adalah membual, pemuda itu tak lain adalah Lee Hong Ki.
Sepasang mata yang mengikuti pelariannya dari atas tebing cadas bertanya-tanya dalam hati, “Apa yang membuat Lee Hong Ki berlari ketakutan seperti itu?”
Beberapa kejap setelah Lee Hong Ki melewati gerumbulan semak berduri, tampak seorang pemuda berbaju abu-abu berlari pula sambil berseru keras. “Berhenti! Hey...! Berhenti kau, Lee Hong Ki!”
Seruan pemuda berbaju abu-abu itu membuat Lee Hong Ki menambah kecepatan larinya. Namun pemuda berbaju abu-abu itu juga menambah kecepatan larinya, seolah-olah ia tak ingin kehilangan buronannya.
“Lee Hong Kiiiii...! Berhenti kau! Apa kau tuli?!” teriak pemuda berbaju abu-abu itu.
Melihat Lee Hong Ki membelok ke kiri, pemuda berbaju abu-abu itu memotong jalan dengan menerabas ilalang, ia segera melakukan lompatan dari ketinggian tanah di bawah tebing itu.
“Wuuut...! Jleeg...!”
Tiba-tiba ia sudah menghadang di depan Lee Hong Ki.
“Haahh...?!!” Lee Hong Ki terpekik kaget dengan mata mendelik, wajah menegang, mulut terbuka dan langkah terhenti. Jantungnya terasa kempes seketika.
“Wuuus...!”
Pemuda berbaju abu-abu itu menyambar baju Lee Hong Ki pada saat pemuda itu berbalik dan ingin melarikan diri lagi. Lee Hong Ki semakin ketakutan. Maka ia pun berteriak ntuk melampiaskan rasa takutnya.
“Toloong...! Toloong...! Ada yang mau membunuhku! Tolooong...!” teriak Lee Hong Ki sambil menggerak-gerakan kakinya seakan sedang berlari, tapi sebenarnya menggantung di tempat karena pemuda berbaju abu-abu itu menjinjing baju Lee Hong Ki, hingga tubuh Lee Hong Ki terangkat seperti anak kucing.
Sepasang mata yang ada di atas tebing cadas tak seberapa tinggi itu melihat jelas adegan tersebut. Sepasang mata itu milik pemuda tampan berbaju cokelat. Di punggungnya terdapat bambu yang dipakai untuk bumbung tempat arak. Pemuda itu tak lain adalah Kim Bum.
Melihat Lee Hong Ki dicekal pemuda berbaju abu-abu, Kim Bum segera mengirimkan sentilan jarak jauhnya yang dinamakan jurus “Jari Guntur” itu.
“Tees...!”
Satu sentilan mempunyai kekuatan tenaga dalam seukuran tendangan kuda jantan. Dan hawa padat yang berasal dari sentilan jurus “Jari Guntur” itu tepat mengenai pinggang kanan pemuda berbaju abu-abu.
“Beehk...!”
“Aaahkk...!” Pemuda berbaju abu-abu memekik keras, tubuhnya terlempar ke samping dalam jarak lima langkah. Sentakan tubuh yang merasa seperti ditendang kuda jantan itu membuat genggaman pada baju Lee Hong Ki terlepas. “Breet...!” Baju itu sempat robek di bagian tepian tengkuknya. Lee Hong Ki sendiri juga jatuh terpental terbawa hempasan tubuh pemuda berbaju abu-abu.
“Zlaaap...!” Kim Bum berkelebat turun dari atas tebing yang tak seberapa tinggi itu. Dalam sekejap ia sudah berdiri di depan pemuda berbaju abu-abu yang masih menyeringai kesakitan dengan suara raungan kecilnya.
“Kim Bum...?! Kim Bum?! Oooh... kebetulan sekali!” seru Lee Hong Ki. Ia segera berlari menghampiri Kim Bum.
“Kim Bum, tolong aku! Orang itu mengejarku dari kemarin!” kata Lee Hong Ki sambil mengguncang-guncang lengan Kim Bum. Pemuda tampan itu hanya diam dengan kalem dan memandangi Lee Hong Ki. Hatinya tak percaya dengan pengakuan Lee Hong Ki tadi yang mengatakan kalau dirinya dikejar pemuda berbaju abu-abu dari kemarin.
“Tolong selamatkan aku, Kim Bum! Selamatkan nyawaku dari orang itu!” Lee Hong Ki memohon-mohon dengan wajahnya yang pucat menandakan sangat ketakutan. Suaranya yang beruntun menandakan bahwa ia sangat mengharap pembelaan dari Kim Bum.
“Mundurlah ke pohon itu. Aku akan menghadapi orang ini!” ujar Kim Bum dengan suara tegas namun berkesan kalem.
Tepat pada saat Lee Hong Ki mundur ke bawah pohon yang berjarak lima langkah dari tempat Kim Bum berdiri, Pemuda berbaju abu-abu itu bangkit dari jatuhnya. Rupanya ia mulai bisa mengatasi rasa sakit di pinggangnya akibat terkena sentilan jarak jauh tadi. Pinggangnya sempat memar membiru, namun dengan napas berat ia menahannya.
“Kurang ajar! Kaukah yang menyerangku tadi?!” bentaknya.
“Ya, memang aku yang menyerangmu dari jauh!” jawab Kim Bum tegas dan tetap tenang. Bumbung araknya sudah dipindahkan, kini menggantung di pundak kanannya.
Pemuda berbaju abu-abu sangat berang, matanya melotot, suaranya sengaja dikeraskan agar tampak galak.
“Mengapa kau menyerangku, hah?!” bentak pemuda berbaju abu-abu kepada Kim Bum, ia belum tahu siapa yang dihadapinya saat itu.
Kim Bum tidak menjawab, tapi justru balik bertanya, “Mengapa kau mengejar-ngejar Lee Hong Ki, sahabatku itu?!”
“Kalau kau tidak tahu persoalannya, mengapa kau menyerangku dari jarak jauh?! Apakah kau tak tahu kalau mendapat serangan seperti itu sangat sakit?! Lihat, pinggangku sampai memar membiru seperti ini!” Ia menyingkapkan bajunya dan memperlihatkan pinggangnya yang memar sebesar telapak tangan orang dewasa itu.
“Tadi kudengar teriakan Lee Hong Ki yang mengatakan dirinya akan kau bunuh?!”
“Bohong! Untuk apa aku membunuhnya?!”
Kim Bum segera sadar. “Lee Hong Ki pandai menipu, pandai berbohong, dan mahir mengarang cerita yang bukan-bukan. Jangan-jangan aku termakan tipuan Lee Hong Ki seperti dulu?!”
Kim Bum segera memanggil Lee Hong Ki. Yang dipanggil mendekat pelan-pelan dengan rasa takut. Sebentar-sebentar melirik ke arah pemuda berbaju abu-abu yang napasnya masih ngos-ngosan dan wajahnya masih tampak berang. Lee Hong Ki tak berani berdiri sejajar dengan Kim Bum. Ia berhenti di belakang Kim Bum, berlindung di sana jika sewaktu-waktu pemuda berbaju abu-abu menyerangnya.
Kim Bum tetap di tempat, berpaling ke kanan dengan mata melirik ke arah Lee Hong Ki sambil mengajukan pertanyaan, “Kau mengenal orang itu, Lee Hong Ki?!”
“Ya. Hmmm... orang itu bernama Ok Taecyeon!”
“Benarkah kau mau dibunuh oleh orang bernama Ok Taecyeon itu?!” tanya Kim Bum, dan Lee Hong Ki gelagapan sesaat.
“Hmmm... dia... dia anak buah Kepala Desa Song Seung Hun.”
“Yang kutanyakan, benarkah kau mau dibunuhya, seperti apa yang kau serukan tadi?!” Kim Bum agak menyentak dan Lee Hong Ki semakin grogi, ia menundukkan kepala dengan cemberut, sebagai tanda bahwa pengakuannya tadi tidak benar.
Ok Taecyeon segera menyahut, “Aku memang pesuruh Kepala Desa Song Seung Hun!”
“Hmm...!” Kim Bum mengangguk-anggukkan kepalanya memandang tak berkedip namun punya seulas senyum tipis yang membuat wajahnya tampak simpatik.
“Aku diperintahkan Kepala Desa Song Seung Hun untuk mencari Lee Hong Ki.”
“Ada perlu apa Kepala Desa Song Seung Hun menyuruhmu mencari Lee Hong Ki?!”
“Menyerahkan hadiah untuk Lee Hong Ki berupa sejumlah uang!” kata Ok Taecyeon sambil mengeluarkan kantong merah dari lilitan ikat pinggangnya.
Kantong merah bertali ditimang-timang dengan tangan kanannya. Gemerincing suara uang logam di dalam kantong merah terdengar, menandakan jumlahnya tidak sedikit.
Kim Bum buru-buru memandang Lee Hong Ki. Yang dipandang terbelalak tak berkedip menatap kantong merah di tangan Ok Taecyeon.
Pesuruh Kepala Desa Song Seung Hun itu segera menjelaskan masalah sebenarnya kepada Kim Bum. Wajahnya masih cemberut menahan kedongkolan karena memar di pinggangnya masih terasa nyeri.
“Kepala Desa Song Seung Hun sangat berterima kasih kepada Lee Hong Ki yang telah menemukan kotak perhiasan dan mengembalikannya kepada beliau.”
Kim Bum mengajukan pertanyaan dengan suara pelan, “Benarkah kau telah menemukan kotak perhiasan itu?!”
“Hemm... iyy... iya,” jawab Lee Hong Ki dengan kaku.
Kim Bum sempat berbisik sambil tersenyum, “Tumben kau jujur!”
“Kemarin malam aku menginap di rumah Kepala Desa Song Seung Hun,” tutur Lee Hong Ki. “Lalu, malam itu ada pencuri yang menggasak beberapa barang termasuk kotak perhiasan itu. Paginya kotak itu kutemukan tergeletak di tepi sungai. Maka kukembalikan kepada Kepala Desa Song Seung Hun. Tapi... tapi isinya sudah tak ada. Aku hanya menemukan kotaknya saja, Aku berani bersumpah! Aku tak mengambil isinya!” Lee Hong Ki tampak ngotot, seakan tak ingin dituduh sebagai orang yang mengambil isi kotak perhiasan itu.
Lalu, Ok Taecyeon segera berkata, “Kotak itu memang hanya berisi sebuah cincin emas yang harganya tak seberapa. Cincin itu adalah cincin perkawinan Kepala Desa Song Seung Hun dengan mendiang istrinya yang pertama. Kepala Desa sendiri mengiklaskan cincin itu, yang tentunya sudah diambil pencurinya dan kotaknya dibuang di tepi sungai. Namun ada benda paling berharga yang tersimpan di lapisan bawah dari kotak tersebut.”
“Benda...?! Aku tak melihat benda apa?!” ujar Lee Hong Ki dengan ngotot.
“Kotak itu terdiri dari dua lapis. Lapisan teratas berisi cincin kawin, tapi lapisan yang kedua berisi benda berharga yang belum sempat diurus oleh Kepala Desa Song Seung Hun!”
“Ooh...?!” Lee Hong Ki terperangah.
“Benda itu peninggalan mendiang ayah Kepala Desa Song Seung Hun yang pernah menghancurkan kapal bajak laut dan menemukan benda tersebut di kapal itu. Tapi karena beliau masih banyak kesibukan, maka beliau tak sempat mengurus benda tersebut.”
“Maksudmu peta harta karun?” tanya Kim Bum menebak.
“Hmm.... Hmm... bukan. Pokoknya ya... sebuah... benda berharga.. Ya seperti itulah.” Orang itu jadi gugup, karena tebakan Kim Bum sebenarnya memang betul.
Lee Hong Ki sempat tertegun bengong. Kini raut wajahnya tampak menyimpan penyesalan. Rupanya cincin yang ada dalam kotak perhiasan itu diambil sendiri oleh Lee Hong Ki sesaat setelah menemukan kotak perhiasan yang jatuh dari bungkusan si pencuri. Karena rasa takut dicurigai sebagai orang yang mengambil cincin emas itu, maka Lee Hong Ki buru-buru pamit dari rumah Kepala Desa Song Seung Hun. Sampai sekarang cincin itu masih berada di selipan ikat pinggang Lee Hong Ki. Ia tidak tahu kalau kotak itu terdiri dari dua lapis dan berisi peta harta karun.
Ketika ia melihat Ok Taecyeon menyusulnya, ia menyangka sedang dikejar-kejar karena persoalan cincin itu. Lee Hong Ki mengira akan dihajar oleh Ok Taecyeon, sehingga ia berlari sejadinya dan berteriak asal saja. Rupanya ia dibayang-bayangi oleh kesalahannya sendiri, sehingga batinnya sangat tersiksa ketika rasa takut itu mencekamnya.
“Lee Hong Ki, terimalah hadiah dari Kepala Desa Song Seung Hun ini! Ia berpesan, kapan-kapan jika kau lewat di desa kami, singgahlah walau hanya sebentar,” ujar Ok Taecyeon yang sudah kehilangan rasa kesalnya kepada Lee Hong Ki. Ia pun menyerahkan kantong merah kecil bertali yang berisi uang kepada Lee Hong Ki. Pemuda berwajah penuh sesal itu menerimanya tanpa senyum keceriaan.
“Kalau tahu begitu, lebih baik kuserahkan kotak itu bersama cincinnya. Karena dengan panduan peta itu aku bisa menemukan harta karun tersebut dan aku bisa menjadi orang kaya!” gerutu hati Lee Hong Ki.
Ok Taecyeon pamit pulang ke desanya setelah diberi minum arak sakti milik Kim Bum. Arak itu mempunyai khasiat ajaib, yaitu menghilangkan rasa sakit dan warna biru memar di pinggang Ok Taecyeon.
“Mengapa kau masih tampak murung, Lee Hong Ki?” tegur Kim Bum setelah Ok Taecyeon tak ada di antara mereka berdua.
Lee Hong Ki diam saja. Ia menyelipkan kantong merah berisi uang itu ke kain ikat pinggangnya. Pada saat itu, tanpa disengaja cincin yang tersimpan di ikat pinggang itu jatuh ke tanah.
“Pluuk...!”
Kim Bum terperanjat dan segera memungutnya. Lee Hong Ki mulai salah tingkah dan waswas.
“Cincin siapa ini, Lee Hong Ki?” tanya Kim Bum sambil mengamati cincin tersebut.
“Hmm, eeh... cincin... cincin nenekku yang... yang....”
“Oooo... sekarang aku tahu...!” Kim Bum mengangguk-anggukkan kepalanya sambil memandangi Lee Hong Ki. Yang dipandang semakin salah tingkah lagi.
“Rupanya kau salah pengertian tadi. Kau menyangka Ok Taecyeon ingin menangkapmu, karena kau merasa bersalah telah mengambil cincin dalam kotak itu. Dan sekarang kau sangat menyesal setelah tahu kotak perhiasan itu ternyata berisi peta harta karun?! Hmm, ya, ya, ya... pantas kau cemberut terus sejak tadi!”
Lee Hong Ki semakin tak bisa bicara. Malu sekali. Dalam sekejap ia sudah bisa tersenyum dan segera mengalihkan pembicaraan ke masalah lain.
“Aku disuruh Kim So Eun untuk mencarimu, Kim Bum!”
“Jangan mengalihkan pembicaraan dulu!” sergah Kim Bum dengan hati kesal. “Bereskan dulu masalah cincin ini!”
Lee Hong Ki takut, ia menunduk dengan wajah murung.
“Baiklah. Kuakui... aku memang mengambil cincin itu sebelum kotak tersebut kuserahkan kepada Kepala Desa Song Seung Hun,” ujarnya lirih.
“Kembalikan cincin ini!” kata Kim Bum seraya menyerahkan cincin itu kepada Lee Hong Ki. “Kuantar kau ke rumah Kepala Desa Song Seung Hun, dan mintalah maaf kepada beliau!”
“Tapi... tapi Kim So Eun ingin bertemu denganmu, Kim Bum! Dia sangat membutuhkan dirimu!”
“Persoalan Kim So Eun adalah persoalan kedua. Persoalan yang pertama, kau harus mengembalikan cincin itu dan meminta maaf kepada Kepala Desa Song Seung Hun!” tegas Kim Bum.
Wajah si pembual itu semakin mendung. “Aku takut kalau....”
“Kutemani kau ke sana!” potong Kim Bum.
Lee Hong Ki tak punya pilihan lain. Akhirnya ia kembali ke desa tempat Kepala Desa Song Seung Hun dipercaya oleh penduduk sebagai sang kepala desa.
Dalam perjalanan ke desa tersebut, ingatan Kim Bum menerawang ke wajah cantik milik Kim So Eun. Gadis itu sudah lama tak dijumpainya. Namun benak Kim Bum masih ingat tentang segala sesuatunya yang ada pada diri si Kim So Eun itu.
“Mengapa Kim So Eun ingin bertemu denganku, hingga ia menyuruhmu mencariku?!” tanya Kim Bum sambil melangkah.
Namun sebelum Lee Hong Ki menjawab pertanyaan itu, tiba-tiba langkah mereka terhenti secara mendadak. Mereka dikejutkan oleh kemunculan seseorang yang turun dari atas pohon, melayang bagaikan seekor burung perkasa.
“Wuuut...! Jleeg...!”
Kim Bum memandang dengan mata sedikit mengecil karena merasa asing dengan orang tersebut. Sedangkan Lee Hong Ki hanya terbengong sambil mengusap dadanya yang nyaris kehilangan jantung karena rasa kagetnya tadi.
Bersambung…
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar