Selasa, 08 Mei 2012

Gladiator (Chapter 5)


Kedatangan Kim Bum ke Sungkyunkwan disambut hangat oleh masyarakat Sungkyunkwan. Wilayah yang tak begitu luas itu menjadi gempar dengan adanya berita tentang Yoon Eun Hye pulang membawa Kim Bum. Mereka bersorak kegirangan mengelilingi Kim Bum.

Mereka yang bersorak dan melonjak pada umumnya adalah masyarakat awam yang terlalu sering berandai-andai membayangkan kehebatan Kim Bum. Sedangkan bagi mereka yang berilmu, hanya menyambut dengan senyum keramahan dan tegur sapa penuh persahabatan.

Yoon Eun Hye pun mendapat pujian dari masyarakat Sungkyunkwan. Karena dari sekian banyak orang yang mencoba mencari Kim Bum, justru Yoon Eun Hye yang berhasil membawa pulang si pendekar tampan dan gagah perkasa itu. Rupanya Kim Bum merupakan sosok pendekar yang menjadi Idola mereka, sehingga kehadirannya di Sungkyunkwan bagaikan seorang aktor terkenal singgah di sebuah perkampungan kumuh.

Seperti halnya pemuda tampan jika berkunjung ke sebuah kota selalu dikerumuni penggemar wanita, demikian pula Kim Bum yang lebih banyak dikerumuni para gadis daripada para pemuda. Maklum, para pemudanya banyak yang diculik oleh pihak Istana Kematian.

Hati Yoon Eun Hye, menjadi kesal melihat banyak gadis dan kaum wanita lainnya mengerumuni Kim Bum. Bahkan ada yang mencolek-colek lengan atau pinggang Kim Bum dengan maksud menggelitik dalam canda. Yoon Eun Hye bagaikan seorang bodyguard yang selalu memberi batasan kepada kaumnya agar tak berlebihan meluapkan kegembiraannya kepada Kim Bum.

Kegembiraan mereka menjadi surut ketika Kim Bum menceritakan nasib Jung Yong Hwa. Malam itu mereka membuat api unggun dan membentuk lingkaran. Kim Bum menceritakan pertemuannya dengan Jung Yong Hwa sampai hilangnya pemuda yang menjadi utusan mereka itu.

“Tapi percayalah, aku akan membebaskan Jung Yong Hwa secepatnya! Esok aku akan berangkat ke Istana Daehan Minguk dan menantang pertarungan antar pribadi dengan Ratu Park Ji Yeon!”

Suara gemuruh terdengar bagai pasukan lebah. Mereka berkasak-kusuk dengan suara gemuruh. Ada yang memuji keberanian Kim Bum, ada yang mengungkapkan rasa kagumnya, ada pula yang mencemaskan rencana Kim Bum itu.

“Tetapi aku butuh seorang pemandu untuk sampai ke Istana Daehan Minguk! Pemandu itu tak perlu harus ikut sampai ke Istana Daehan Minguk, cukup sampai di perjalanan saja. Asal tempat itu sudah kuketahui, maka aku akan datang sendiri menemui Ratu Park Ji Yeon dan pemandu itu boleh pulang atau menunggu di tempat yang jauh dan tersembunyi!” ujar Kim Bum membuat suara gemuruh itu terhenti seketika.

“Kurasa itu akan berbahaya!” ujar Uhm Tae Woong, seorang ahli siasat pertempuran di Sungkyunkwan. “Ratu Park Ji Yeon itu bukan perempuan lemah yang mudah dilumpuhkan, ia cukup tangguh dan sukar ditumbangkan, karena ilmunya termasuk tinggi juga.”

“Sebaiknya,” kata Bae Soo Bin, ahli siasat pertempuran di Sungkyunkwan yang lain. “Beberapa orang kita mendampingi Kim Bum dari belakang dan secara sembunyi-sembunyi. Panah, pisau, jarum, bisa dijadikan senjata yang bersifat melumpuhkan mereka dari kejauhan. Ratu Park Ji Yeon tak mungkin turun tangan sendiri. Pasti mengajukan prajurit-prajuritnya.”

Kim Bum menyahut, “Aku ingin menantang pertarungan pribadi. Kurasa Ratu Park Ji Yeon mengerti arti pertarungan pribadi. Jika ia menolak, maka ia akan malu di hadapan para prajuritnya. Harga dirinya, martabatnya, akan jatuh di depan anak buahnya jika ia menolak pertarungan pribadi denganku.”

Banyak yang tidak setuju dengan rencana pertarungan duel antar pribadi itu. Mereka tidak setuju karena pertarungan itu dianggap sangat membahayakan jiwa Kim Bum. Sedangkan mereka tidak ingin Kim Bum binasa dengan hanya melakukan pertarungan pribadi.

Sementara itu, hati Kim Bum sendiri tak setuju jika harus melakukan penyerangan bersama. Karena hal itu akan menimbulkan korban baru bagi masyarakat Sungkyunkwan, ia ingin melumpuhkan pihak Istana Daehan Minguk tanpa menimbulkan korban baru bagi Sungkyunkwan. Karenanya, pertarungan duel antar pribadi merupakan alternatif yang diandaikan dan dianggapnya baik.

“Beri kami waktu untuk berunding. Sekarang sudah malam. Kami persilakan kau beristirahat dulu. Esok kita sambung lagi perundingan ini,” ujar Uhm Tae Woong.

Kim Bum dibawa ke rumah Yoon Eun Hye. Sebuah kamar telah disiapkan oleh Yoon Eun Hye yang ternyata sudah menjanda selama tiga tahun itu. Rupanya para ahli siasat pertempuran di Sungkyunkwan pun tak keberatan jika Kim Bum beristirahat di rumah Yoon Eun Hye, karena hal itu dianggap sesuatu yang menyenangkan bagi Yoon Eun Hye yang telah berhasil mendapat bantuan dari Kim Bum.

“Aku belum ingin tidur, Yoon Eun Hye,” ujar Kim Bum yang dibawa masuk ke sebuah kamar tidur.

“Kau harus beristirahat jika esok ingin pergi ke Istana Daehan Minguk,” ujar Yoon Eun Hye. “Kau harus menjaga tubuhmu agar tak lelah dan tetap segar.”

“Arakku cukup mampu mengatasi hal itu, Yoon Eun Hye.”

“Jangan membantah. Ini demi kesehatanmu,” sergah Yoon Eun Hye sambil merapikan seprai penutup ranjang berkasur itu.

“Selamat beristirahat, Pendekar Tampan!” ucap Yoon Eun Hye, lalu melangkah keluar kamar. Tapi langkahnya terhenti di pintu kamar begitu mendengar seruan Kim Bum.

“Mau kemana kau?”

“Aku tidur di kamar adikku, di sebelah!”

“Dan aku tidur sendirian?”

“Aku juga tidur sendirian. Tak usah takut, rumah warisan ini bukan rumah angker.”

“Barangkali keangkerannya bukan dalam bentuk kengerian,” ujar Kim Bum sambil tersenyum menggoda, karena senyuman wanita cantik itu juga sejak tadi sudah menggoda.

“Kalau bukan angker kengerian, lalu angker bagaimana?”

“Kesepian,” jawab Kim Bum semakin menebarkan senyum. Mata Yoon Eun Hye semakin berbinar-binar, ia tahu maksud Kim Bum, tapi ia tak mau mudah terpikat oleh kenakalan seperti itu.

Yoon Eun Hye baru saja ingin berbalik untuk melangkah keluar, tapi Kim Bum sudah lebih dulu maju mendekatinya. Kini mereka saling pandang dalam jarak satu jengkal. Aroma wangi mawar tercium Kim Bum. Aroma wangi mawar itu menyebar dari tubuh Yoon Eun Hye. Dan aroma wangi mawar itu menggoda hati, membangkitkan hasrat kemesraan Kim Bum.

Ketika mata indah Yoon Eun Hye mulai meredup, Kim Bum segera mendekatkan wajah dan bibir wanita itu dikecupnya dengan sejuta kelembutan. Namun akhirnya napas mereka mulai memberat. Mereka harus melepas kecupan, entah sesaat atau sekian lama. Yoon Eun Hye dan Kim Bum sama-sama menghembuskan napas panjang, saling menatap, lalu saling tersenyum. Yoon Eun Hye tampak malu. Mencubit hidung Kim Bum sambil mendesahkan sepatah kata. “Tidurlah...!” kemudian ia buru-buru melepaskan pelukannya dan bergegas keluar tanpa mempedulikan Kim Bum yang tertegun di tempat, kejap kemudian ia baru tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Yoon Eun Hye merasa tak yakin dengan apa yang telah dilakukannya dengan pemuda tampan itu. Bahkan hatinya bertanya-tanya dalam keadaan berbaring di ranjangnya.

“Benarkah itu tadi Kim Bum yang kesohor sebagai pendekar penakluk hati wanita itu?! Jangan-jangan dia Kim Bum palsu?! Andai benar ia Kim Bum asli, ooh... alangkah beruntungnya aku pada malam ini?! Aku diciumnya, dipeluk, dan... dan... ahh, indah sekali kecupan bibirnya. Sungguh tak bisa kupercaya bahwa diriku ternyata berhasil mendapat kecupan hangat dan menggelora dari seorang pendekar yang namanya sangat dikenal di seluruh pelosok penjuru dunia ini!”

Kesan indah yang sangat membanggakan hati itulah yang akhirnya membuat Yoon Eun Hye mendukung rencana Kim Bum, ia sendiri yang akan menjadi pemandu perjalanan Kim Bum menuju ke Istana Daehan Minguk. Dalam benaknya terbayang akan selalu bersama Kim Bum dengan segala keindahannya jika ia menjadi pemandu tunggal Kim Bum. Perjalanan yang memakan waktu cukup lama dapat membuat kemungkinan terulangnya keindahan seperti malam itu.

Di balik debar-debar kebahagiaan berjalan bersama Kim Bum, ternyata Yoon Eun Hye masih menyelipkan kecemasan di relung hatinya. Kecemasan itu tak bisa hilang, karena ia tahu siapa orang yang akan ditantang oleh Kim Bum, ia khawatir jika Kim Bum tewas di tangan Ratu Park Ji Yeon. Karena jika hal itu terjadi, maka keindahan yang baru malam itu didapatkan sepanjang hidupnya, tentu akan lenyap pula dan tak mungkin diperolehnya lagi. Yoon Eun Hye yakin, tak akan ada keindahan seperti malam itu yang dapat diperolehnya dari lelaki lain.

Tiba-tiba ingatan Yoon Eun Hye terlempar kembali ke wajah adiknya, Jung Yong Hwa, setelah ia mendengar Kim Bum berkata kepadanya.

“Pertama-tama akan kulihat dulu apakah Jung Yong Hwa dan tawanan lainnya dalam keadaan selamat. Jika mereka masih dalam keadaan selamat, maka aku akan melakukan tantangan pribadi dengan sang Ratu. Tapi jika para tawanan telah tewas, termasuk Jung Yong Hwa pun tewas, maka Istana Daehan Minguk itu akan kuhancurkan tanpa peduli siapa pun yang menjadi korban kehancuran itu!”

Kekhawatiran akan keselamatan jiwa adiknya membuat Yoon Eun Hye kehilangan keceriaan. Alangkah pedih dan menderitanya hati yang telah ditinggal kedua orangtua jika harus ditinggalkan oleh seorang adik tunggalnya itu? Yoon Eun Hye tak ingin hal itu terjadi, sehingga ia sangat menaruh harap kepada Kim Bum agar mengutamakan menyelamatkan Jung Yong Hwa begitu tiba di Istana Daehan Minguk.

Padahal saat itu Jung Yong Hwa berada di dalam gua keindahan bersama Park Shin Hye. Setelah mereka menikmati pelayaran cinta, akhirnya Jung Yong Hwa mengajukan ide kepada Park Shin Hye.

“Kita harus pulang ke Sungkyunkwan dan menyusun kekuatan dari sana!”

“Aku... aku tak berani! Karena orang-orangmu akan membunuhku. Mereka tahu kalau aku prajurit Istana Daehan Minguk,” ujar Park Shin Hye dengan polos.

“Nyawamu adalah nyawaku, Park Shin Hye! Kau tak perlu takut,” Jung Yong Hwa berkata dengan suara lirih sambil mencium pipi Park Shin Hye. Gadis itu menerima ciuman tersebut dengan hati bertaburan bunga indah. Tangannya ikut mengusap lembut kepala si pemuda yang dicintainya.

“Jika mereka akan membunuhmu, mereka harus membunuhku lebih dulu, Park Shin Hye!

“Benarkah kau siap mati untuk membelaku, Jung Yong Hwa?!”

“Bukan kau yang kubela, tapi cintamu yang kurasakan begitu tulus padaku, namun kau sembunyikan sekian lamanya. Tekadku hanya satu, pulang ke Sungkyunkwan bersamamu, dan menyusun rencana penyerangan!”

Park Shin Hye meraih wajah Jung Yong Hwa. Wajah itu sengaja dihadapkan kepadanya, ditatap dalam-dalam. Lalu, sebaris kata diucapkan penuh ketegasan, “Aku siap mati bersamamu, sekalipun mati di tangan ratuku sendiri!”

Hati Jung Yong Hwa kian berbunga indah. Lalu gadis itu pun dipeluknya kuat-kuat, seakan ia ingin membenamkan dirinya menjadi satu raga dengan Park Shin Hye.

Bersambung…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar