Sabtu, 26 Mei 2012

Manusia Paku (Chapter 8)


Ketika siuman, Kim Bum mendapati dirinya berbaring di atas sebuah tempat tidur berkasur empuk dilapisi kain penutup indah berbunga-bunga. Dia mengenakan sehelai baju terbuat dari kain hijau.

“Siapa yang memberiku pakaian ini...?” pikir Kim Bum seraya memandang berkeliling. Dia berada dalam sebuah kamar bagus sekali. Udara sekelilingnya menebar bau harum semerbak menyegarkan.

“Aneh...” Kata Kim Bum dalam hati. “Kamar sebagus ini tetapi mengapa sama sekali tidak ada jendela dan pintunya?” Lalu dia berpikir lagi. “Berapa lama aku berada di tempat ini? Mungkin belum lama. Buktinya perutku tidak terasa lapar dan aku tidak kehausan...”

Kim Bum bangkit. Sesaat dia duduk di tepi tempat tidur. Otaknya mulai bekerja. Dia ingat apa yang telah dialaminya. Dia dan Lee Min Ho berkelahi melawan Park Shin Hye. Lee Min Ho roboh akibat racun dua ekor ular iblis peliharaan Park Shin Hye. Entah bagaimana keadaan pemuda itu sekarang. Jangan-jangan sudah menemui ajalnya. Dia sendiri juga jatuh ke tangan Park Shin Hye setelah dipatuk oleh ular hitam kepala putih yang keluar dari perut perempuan itu.

Setelah ingatannya sampai di situ, Kim Bum menyingkap bajunya di bagian dada, tempat ular mematuknya.

“Aneh, tak ada tanda apa-apa. Tubuhku malah sehat-sehat saja, malah segar bugar. Siapa yang mengobatiku... Siapa yang membawaku kemari? Tak pelak lagi, pasti perempuan iblis itu!” Kim Bum memandangi seputar kamar. Pada empat sudut kamar terdapat masing-masing sebuah tiang besar dari kayu berukir sangat indah. Kebanyakan dari ukiran-ukiran itu menampilkan sosok ular berbagai rupa, mulai dari yang kecil sampai yang besar.

“Park Shin Hye membawaku ke tempat ini. Pasti dia punya maksud jahat seperti yang dikatakannya padaku. Dia ingin mempergunakan diriku untuk membunuh beberapa tokoh silat. Lee Seung Gi, bahkan guruku Kim Tae Hee! Gila! Aku harus mencari jalan keluar dari sini! Tapi kamar ini sama sekali tak berpintu tak berjendela!” Kim Bum memperhatikan lagi seputar kamar. “Sepertinya aku harus menjebol dinding ruangan dengan pukulan sakti!” Maka Kim Bum segera menyalurkan tenaga dalam ke tangan kanannya.

Pada saat itulah tiba-tiba ada suara halus merdu menegur. “Kekasihku Kim Bum, rupanya kau sudah sadar? Aku senang melihat kau baik-baik saja...”

Kim Bum terkejut. Dia membuka mata lebar-lebar sambil memandang sekeliling ruangan. Sama sekali dia tidak melihat sosok orang yang berbicara itu. “Eh, siapa yang barusan bicara menyebutku sebagai kekasih?!” ujar Kim Bum dengan suara dikeraskan.

Terdengar suara tawa merdu. “Akan kita lihat apakah kau menolak jadi kekasihku setelah aku menampakkan diri...”

Sepasang telinga Kim Bum menangkap ada suara desiran halus, seperti sesuatu meluncur. Dia berpaling ke belakang. "Astaga!" Kejut murid Kim Tae Hee itu bukan kepalang. Tadi dia tidak melihat binatang itu di sana. Kini mengapa tiba-tiba ada di situ?

Di salah satu tiang kayu besar meluncur turun seekor ular hijau besar dan panjang luar biasa. Bersamaan dengan itu bau harum semerbak semakin tercium. Sampai di lantai ruangan binatang itu menggelungkan tubuhnya. Lalu perlahan-lahan ular hijau itu menaikkan kepala hingga mencapai ketinggian kepala manusia. Kim Bum tegak di sudut kamar dengan dada berdebar dan siap mencabut “Pedang Iljimae” seandainya ular raksasa itu menyerangnya. Malah tiba-tiba secara anehnya wujudnya yang berbentuk ular perlahan-lahan sirna membentuk bayang-bayang. Bayang-bayang itu kemudian menjelma menjadi sosok tubuh seorang perempuan mengenakan pakaian hijau, tegak membelakangi Kim Bum. Perlahan-lahan tubuh yang membelakangi itu berputar.

Kim Bum merasakan jantungnya seperti mau copot. Perempuan di hadapannya ternyata memiliki wajah cantik luar biasa. Di kepalanya, ada sebuah mahkota kecil berbentuk kepala ular.

“Park Shin Hye...” desis Kim Bum tercekat. Matanya hampir tak berkedip memandangi wajah Park Shin Hye.

“Kau mengenaliku, aku senang sekali. Akulah kekasihmu dan kau kekasihku. Apa kau tidak merasa bahagia?”

Kim Bum terdiam sesaat. Lalu dia berkata. “Kau membunuh pemuda yang sudah kuanggap seperti kakakku sendiri, pemuda bernama Lee Min Ho itu...”

“Ah, rupanya pikiranmu masih pada pemuda itu! Tak perlu kau merisaukannya. Racun-racun ularku tidak sampai membuatnya mati...”

“Kau merencanakan menguasai dunia persilatan secara keji! Kau memperbudak manusia bernama Jung Yong Hwa itu. Kau hendak memanfaatkan diriku untuk membunuh tokoh silat Lee Seung Gi dan guruku sendiri Kim Tae Hee...!”

Park Shin Hye tertawa perlahan.“Aku tidak membantah bahwa aku memang ingin menguasai dunia persilatan dan merencanakan pembunuhan atas diri beberapa tokoh silat, termasuk gurumu sendiri! Aku juga tidak menyangkal telah memperbudak dan memperalat pemuda bernama Jung Yong Hwa itu. Aku juga tidak menolak tuduhanmu bahwa aku akan memanfaatkan dirimu. Sebagai sepasang kekasih, saling bantu adalah lumrah saja. Bukankah begitu?”

“Siapa bilang aku kekasihmu? Aku justru punya tugas untuk melenyapkanmu dari muka Bumi ini!”

Park Shin Hye tertawa panjang. “Kim Bum, sebentar lagi kita akan lihat, apa kau lebih hebat dari Jung Yong Hwa...”

Lalu tiba-tiba saja Park Shin Hye sudah merangkul Kim Bum dan menciumnya.

“Manusia tidak berguna! Kenapa kau diam saja?! Apa kau tidak tertarik padaku?”

Kim Bum hanya diam terpaku ditempatnya.“Aneh... kenapa aku sama sekali tidak tertarik padanya...” batin Kim Bum.

“Manusia tidak berguna! Rupanya kau hanya pantas menjadi santapan ular-ularku di Sumur Seratus Ular!” sahut Park Shin Hye.

Tiba-tiba di salah satu dinding ruangan kamar muncul cahaya kehijauan yang secara perlahan berubah menjadi kemerahan lalu membentuk lingkaran yang berkelip-kelip. Paras Park Shin Hye tampak berubah ketika melihat lingkaran merah itu. Lalu ia mendekati salah satu tiang kayu di dalam kamar itu. Sepasang tangan dan kedua kakinya digelungkan pada tiang itu. Perlahan-lahan tubuhnya menjadi samar lalu berubah menjadi ular besar hijau. Binatang itu menjalar cepat ke atas langit-langit kamar lalu menghilang dari pemandangan.

Begitu sosok ular lenyap, terdengar suara. “Manusia tak berguna! Kau beruntung umurmu masih kuperpanjang beberapa waktu. Kalau tidak ada urusan mendesak niscaya saat ini juga sudah kumasukkan kau ke Sumur Seratus Ular.”

Kim Bum menghantamkan tangan kanannya ke arah tiang dimana tadi sosok Park Shin Hye berubah jadi ular hijau dan lenyap. Suara angin laksana topan prahara melanda kamar itu. Tempat tidur dan semua benda yang ada dalam kamar hancur berantakan. Tapi tiang kayu dan dinding kamar serta atap ruangan sama sekali tak lecet sedikitpun! Kim Bum sendiri jatuh jungkir balik di lantai akibat terpaan angin pukulan yang berbalik menghantamnya. Kepalanya terasa pening dan pemandangannya berkunang-kunang.

“Keparat! Bagaimana aku bisa keluar dari ruangan ini?!” keluh Kim Bum. “Apa yang terjadi hingga perempuan iblis itu tiba-tiba meninggalkan tempat ini?!”

Kim Bum duduk terkulai di lantai, tak tahu apa lagi yang akan dikerjakannya. Kalau dia menghantam lagi ruangan dengan pukulan sakti lainnya, bukan mustahil dia sendiri bisa celaka bahkan mati konyol di tempat itu. Selagi dia berpikir seperti itu, sekilas dia teringat apa yang barusan dialaminya.

“Aneh, kenapa aku sama sekali tidak tertarik pada perempuan secantik dia? Aneh... Benar-benar aneh!” Kim Bum menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Jangan-jangan... Eh, jangan-jangan ini perbuatan Lee Min Ho yang memberikan obat pahit itu padaku. Membuatku jadi tidak tertarik pada perempuan secantik Park Shin Hye. Berarti aku diselamatkan dari cairan tubuh perempuan terkutuk itu! Kalau tidak, nasibku akan sama dengan Jung Yong Hwa! Tapi... Ya Tuhan! Gila! Sampai berapa lama aku akan tidak tertarik pada perempuan seperti ini? Seumur hidupku?! Celaka! Benar-benar celaka! Aku harus mencari Lee Min Ho. Kuharap saja dia benar-benar belum menemui ajal. Tapi bagaimana mungkin! Keluar dari tempat ini saja aku tidak mampu! ”

Selagi Kim Bum terhenyak duduk tak berdaya seperti itu, tiba-tiba terdengar suara halus entah datang dari mana. “Anak bodoh! Kalau kau ingin keluar dari dalam ruangan terkutuk itu, cepat keluarkan “Pedang Iljimae” dan batu hitam pasangannya. Hantam salah satu tiang kamar dengan api sakti! Dinding dan atap ruangan serta kayu-kayu penyanggahnya rapuh terhadap api! Aku akan membantumu dari luar sini!”

Kim Bum berdiri. “Eh, siapa yang barusan bicara?!” dia berseru.

“Turuti saja apa yang aku katakan! Kalau kau buang waktu, semua urusan bisa jadi berantakan! Dunia persilatan tak akan bisa diselamatkan!” kembali terdengar suara halus.

Kim Bum kembali menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “Eh, yang bicara ini apakah... Guru! Guru! Kaukah itu, Guru?!”

“Anak bodoh! Cepat kau lakukan apa yang aku perintahkan!”

Kim Bum tertawa lega. “Pasti itu Guru Kim Tae Hee...” serunya. Lalu segera saja dia mengeluarkan “Pedang Iljimae” dan batu hitam sakti. Sekali mata pedang dan batu hitam diadu satu sama lain, satu lidah api menyembur ke arah tiang besar di sebelah kiri. Sesaat kemudian kamar itu sudah dibuncah api. Terdengar suara berkereketan. “Celaka! Aku bisa terpanggang hidup-hidup di tempat ini!” teriak Kim Bum.

Tiba-tiba di atas kepalanya terdengar suara berdentum. Atap ruangan hancur berantakan. Ada angin merambat masuk. Di sebelah atas, Kim Bum dapat melihat langit malam. Lalu muncul sesosok wanita. Di kepalanya ada lima buah tusuk konde berwarna perak. “Guru! Benar kau rupanya!” seru Kim Bum seraya hendak membungkuk memberi hormat.

“Anak bodoh! Bukan saatnya memakai segala peradatan! Cepat melompat keluar dari dalam kamar itu! Atau kau memang sudah ingin mati dilalap api?!”

“Guru! Terima kasih kau telah menolongku!” seru Kim Bum lalu sekali dia menggenjot tubuhnya melayang ke atas. Begitu dia menginjakkan kaki di tanah. Kim Tae Hee sudah tegak di hadapannya.

“Kita harus segera mengejar ke arah lenyapnya Park Shin Hye. Dan ini!” Kim Tae Hee menunjukkan dua buah benda yang dipegangnya di ujung-ujung jari tangan kirinya. Benda itu berwarna kuning seperti terbuat dari emas.

“Benda apa itu Guru?” tanya Kim Bum.

“Dua buah paku emas!”

“Paku emas?!”

“Ya, ini satu-satunya benda yang mampu menolong pemuda bernama Jung Yong Hwa itu untuk lepas dari kekuatan jahat yang menguasai dirinya. Paku ini pula yang sanggup membunuh Park Shin Hye, makhluk setengah manusia setengah ular iblis itu. Paku ini hanya ada dua di dunia. Kalau salah atau meleset memakainya, maka akan celaka seluruh manusia di muka bumi ini. Memakainya juga tidak bisa sembarangan. Untuk melumpuhkan Jung Yong Hwa, paku harus menancap di telapak kakinya... ”

“Bagaimana aku bisa melakukannya?!”

“Aku tidak mau susah payah memikirkannya. Itu tugasmu melakukannya!” bentak Kim Tae Hee.

“Lalu bagaimana cara menggunakan paku yang satu lagi pada Park Shin Hye?” tanya Kim Bum lagi.

“Paku emas itu harus ditancapkan tepat di perut perempuan iblis itu! Jangan tanya bagaimana melakukannya! Itu juga tugasmu! ”

Kim Bum terdiam. Sebenarnya dia mau bertanya lagi tapi tak berani.

“Ayo cepat kita pergi dari sini! Kita tak punya waktu banyak!” kata Kim Tae Hee.

Kim Bum segera bergerak. “Tunggu!” seru Kim Tae Hee. Dia mengeluarkan sebuah benda bulat hitam seujung kelingking. “Cepat kau telan ini!”

“Apa itu, Guru?” tanya Kim Bum.

“Sebelumnya aku telah bertemu dengan Lee Min Ho...”

“Ah, bagaimana keadaannya? Park Shin Hye telah...”

“Dia tak kurang suatu apapun. Untung keburu kutemui, dan sebelumnya dia juga telah menjaga diri dengan obat penolak racun. Dia kutinggal di sebuah pondok di tengah hutan. Saat ini mungkin dia masih tertidur...” terang Kim Tae Hee. “Aku mendapat penjelasan darinya bahwa kau diberikan obat penangkal nafsu... Kalau tidak, darah di tubuhmu masti sudah dirusak dan diracuni cairan tubuh Park Shin Hye...”

“Astaga!” kejut Kim Bum dengan wajah berubah. “Jadi itu rupanya kekuatan obat yang diberikannya padaku. Pantas saja aku tadi sama sekali tidak tertarik pada Park Shin Hye...” Kim Bum mengangguk-anggukan kepalanya.

“Nah ini! Cepat telan obat ini!” Kim Tae Hee menyerahkan obat hitam bulat itu pada Kim Bum.

Tanpa ragu Kim Bum segera menelannya. Lalu dia bertanya. “Guru, obat yang barusan aku telan ini untuk apa?”

“Obat itu untuk meyakinkan Park Shin Hye bahwa kau benar-benar seorang lelaki jantan!”

“Jadi... jadi Guru sengaja hendak menyuruhku bermesraan dengan perempuan itu lalu dia mencelakaiku?”

“Kau harus punya kemampuan untuk menahan diri. Tugasmu, hanya menusukkan paku emas itu ke perut Park Shin Hye...”

“Itu berat, Guru! Kalau akau tak sanggup menahan diri bagaimana?” tanya Kim Bum.

“Kalau begitu lebih baik kau bunuh diri saja sekarang!” sahut Kim Tae Hee. Lalu tanpa banyak bicara lagi dia berkelebat pergi.

Bersambung…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar