Sabtu, 26 Mei 2012
Manusia Paku (Chapter 9)
Begitu orang yang memekik menampakkan diri, Jung Yong Hwa segera melompat ke hadapannya.
Ternyata yang muncul adalah Park Shin Hye. “Jung Yong Hwa! Apa yang terjadi dengan dirimu! Celaka!” Park Shin Hye berteriak keras dan mundur beberapa langkah ketika melihat keadaan Jung Yong Hwa yang ditancapi paku baja putih murni mulai dari kepala sampai ke kaki serta penuh gelimangan darah.
“Kekasihku...” ujar Park Shin Hye seraya mendekati Jung Yong Hwa sambil membuat gerakan hendak merangkul pemuda itu. “Kau dalam bahaya. Cepat ikut aku. Tinggalkan tempat ini...”
“Jung Yong Hwa!” Jang Geun Suk berteriak. “Cepat bunuh perempuan di hadapanmu! Jangan biarkan dia memelukmu!”
“Jung Yong Hwa!” Park Shin Hye balas berteriak . “Jangan dengarkan ucapannya! Kau adalah kekasihku! Kau harus tunduk dan patuh padaku! Ayo cepat pergi dari sini!”
Park Shin Hye yang hendak memeluk Jung Yong Hwa tertahan gerakannya ketika melihat bagaimana sepasang mata Jung Yong Hwa memancarkan sinar hijau berkilat. Wajah dan tubuhnya yang berpaku-paku dan tertutup darah ikut memancarkan sinar kehijauan. Itulah hawa dan tanda pembunuhan!
“Celaka! Paku-paku keparat itu benar-benar telah melumpuhkan otaknya! Kini dia hanya patuh pada perintah lelaki bertangan buntung itu! Sebaiknya kuhabisi dulu lelaki keparat itu!” Park Shin Hye mengebutkan lengan baju hijaunya.
Dua gelombang angin sedahsyat topan prahara menderu ke arah Jang Geun Suk. Jang Geun Suk cepat menyingkir. Namun lawan menyusul pukulan tangan kosong dengan satu hantaman jarak pendek. Baru saja dia mampu menghindar, tiba-tiba Park Shin Hye sudah berada di sampingnya melancarkan pukulan ke pelipis kirinya.
Jang Geun Suk mengumbar tawa. Berkelahi jarak dekat, justru ini maunya. Dia seperti membiarkan kepalanya dihantam pukulan lawan. Namun diam-diam tangan kanannya melesat ke perut Park Shin Hye, siap merobek dan mengeluarkan isi perut perempuan itu.
Park Shin Hye yang sudah tahu keganasan ilmu Jang Geun Suk tidak berlaku ayal. Dia menekankan kedua tumitnya ke tanah. Sesaat kemudian tubuhnya melayang ke atas. Dari rongga bawah pakaian hijaunya melesat keluar dua ekor ular hijau. Dua binatang jejadian itu langsung melesat ke arah Jang Geun Suk.
“Desss! Prakkk!”
Kepala ular hijau sebelah kanan hancur dihantam tangan sakti Jang Geun Suk. Namun dia tidak mampu menghantam ular kedua ataupun menghindar. Binatang itu mematuk ke arah matanya. Sesaat lagi mata kiri lelaki itu akan hancur menjadi satu lubang yang mengerikan, tiba-tiba dari samping ada dua larik sinar hijau menyambar. Ular hijau yang hendak mematuk mata Jang Geun Suk hancur berkeping-keping.
Park Shin Hye terpekik dan cepat bertindak mundur. Dadanya mendenyut. Dia memandang ke kiri dimana Jung Yong Hwa tegak dengan pandangan mata angker. Park Shin Hye tahu pemuda itulah yang barusan menyelamatkan Jang Geun Suk dengan semburan cahaya hijau sakti dari kedua matanya.
“Sialan! Aku tak mungkin bisa melawannya. Apalagi ada lelaki keparat itu di sini. Hari ini aku terpaksa mengalah. Aku terpaksa menyingkir! Kurang ajar!”
“Jung Yong Hwa! Cepat kau habisi perempuan itu!” teriak Jang Geun Suk ketika dilihatnya gelagat Park Shin Hye hendak melarikan diri.
Jang Geun Suk yang kini berada di bawah pengaruh dan kekuasaan Jang Geun Suk menggereng keras. Dengan satu kali lompatan saja dia sudah berada di hadapan Park Shin Hye.
Dia mengedipkan kedua matanya. Dua larik sinar hijau menyambar. Park Shin Hye melompat ke balik sebatang pohon seraya menghantam dengan tangan kanan.
“Wusss!”
“Braaak!”
Batang pohon besar hancur berantakan. Pohon tumbang dengan suara bergemuruh. Seluruh kulit sampai ke ranting serta daun-daunnya berubah hijau kehitaman.
“Kejar dia Jung Yong Hwa! Jangan sampai lari! Dia harus mati di tanganmu!” teriak Jang Geun Suk.
Di balik pohon yang tumbang, Park Shin Hye merobek pakaiannya di bagian perut. Ketika Jung Yong Hwa muncul di depan sana untuk mengejarnya, Park Shin Hye menggerakkan perutnya. Seekor ular hitam berkepala putih melesat keluar dari perut perempuan itu. Binatang jejadian itu kelihatannya memiliki panjang yang tidak terbatas karena tubuhnya terus memanjang sampai akhirnya mencapai tempat Jung Yong Hwa berada, sementara ekornya masih berada dalam perut Park Shin Hye!
“Wuuuuutttt!”
Kepala ular putih menyambar. Mulutnya mematuk ke wajah Jung Yong Hwa. Pemuda itu merunduk lalu membalik. Tangan kanannya berhasil menyambar tubuh hitam ular jejadian itu dan langsung mencengkeramnya. Ular hitam kepala putih menggeliat dan membalikkan kepalanya. Saat itulah Jung Yong Hwa mengedipkan kedua matanya.
“Wusss! Wussss!” Dua larik sinar hijau keluar.
Park Shin Hye menjerit panjang ketika melihat ular hitam kepala putihnya hancur lebur. Perutnya terasa panas. Ia memegangi perutnya. Sebelum Jung Yong Hwa datang mengejar, perempuan itu berkelebat lenyap meninggalkan tempat itu.
“Kejar dia Jung Yong Hwa! Cepat! Jangan biarkan dia lolos!” teriak Jang Geun Suk. Jung Yong Hwa segera berkelebat.
Namun saat itu ada dua bayangan menghadangnya. Satu seorang wanita. Satunya lagi seorang pemuda mengenakan pakaian berwarna putih. Kedua orang itu tak lain adalah Kim Tae Hee wanita sakti dari Gunung Gyeryongsan, dan Kim Bum.
“Jang Geun Suk! Ada yang coba menghadangku!” kata Jung Yong Hwa.
Jang Geun Suk telah melihat kehadiran kedua orang itu. Dia segera mengenali sang wanita, tapi tak mampu mengenali Kim Bum. Tanpa pikir panjang dia berteriak memberi perintah. “Singkirkan mereka, Jung Yong Hwa! Bunuh mereka!”
Jung Yong Hwa menggerang.
“Kim Bum! Cepat kau hantam dia dengan salah satu dari dua paku emas itu!” Kim Tae Hee berbisik.
“Aku memang sudah siap melakukannya, Guru! Tapi, bagaimana caranya aku menancapkan paku emas ini di telapak kakinya!” sahut Kim Bum sementara paku emas sudah berada dalam genggamannya.
“Kau pikirkan saja sendiri!” kata Kim Tae Hee setengah berteriak.
“Guru, aku minta kau menyerang lelaki buntung yang menguasai pemuda itu. Jung Yong Hwa pasti bertindak menolongnya. Aku akan cari kesempatan untuk menancapkan paku emas ini saat ia mengangkat kakinya...”
“Idemu kuterima!” jawab Kim Tae Hee sambil tertawa lalu dengan tongkat di tangannya dia menyerbu Jang Geun Suk.
“Wanita bodoh! Jauh-jauh dari Gunung Gyeryongsan kau datang hanya mencari mati!” teriak Jang Geun Suk seraya mengebutkan lengan baju kanannya.
Ujung tongkat di tangan Kim Tae Hee bergetar keras ketika dihantam angin tangkisan lawan. Kim Tae Hee ganda tertawa. Dia sengaja melepaskan tongkatnya. Selagi tongkat itu melayang ke atas, dia mencabut dua buah tusuk kondenya yang terbuat dari perak, yang merupakan senjata ampuh miliknya.
“Wutttt! Wuuuuut!”
Dua tusuk konde melesat ke arah Jang Geun Suk. Dari samping, Jung Yong Hwa berkelebat menghadang serangan Kim Tae Hee. Dengan tangan kirinya, tusuk konde yang pertama dihantamnya sampai mental. Tusuk konde kedua dengan tenang diterimanya dengan tubuhnya. Tusuk konde itu menancap dalam di dada kanan Jung Yong Hwa. Sambil menyeringai, Jung Yong Hwa mencabut tusuk konde itu lalu meremasnya hingga hancur.
Saat itu tongkat yang melayang ke atas telah turun dan ditangkap oleh Kim Tae Hee. Begitu tongkat berada dalam genggamannya, dia kembali menyerbu Jang Geun Suk. Kali ini Kim Tae Hee menyerang bukan hanya dengan tongkat. Tangan kirinya ikut bergerak dan menghantam dengan “Pukulan Sinar Matahari” yang dahsyat.
Jang Geun Suk mendorongkan lima jari tangannya sambil membuat gerakan mencengkeram. Biasanya sekali jari-jari tangannya menyentuh bagian tubuh lawan, pasti langsung bisa dibuat hancur. Tapi kali ini bagaimanapun dia mengerahkan tenaga luar dan dalam, jari tangannya tidak mampu menghancurkannya.
Kim Tae Hee tertawa berlagak. “Bagaimana Jang Geun Suk…? Kau tak sanggup menembus tubuhku? Mustahil!! Kau manusia sakti luar biasa. Tangan saktimu ditakuti rimba persilatan. Tapi menembus perut tipis seperti ini saja kau tidak sanggup?!”
“Jahanam!” maki Jang Geun Suk. Mulutnya komat-kamit seperti merapal sesuatu.
Kim Tae Hee hanya tertawa.
“Ilmu siluman apa yang mau kau keluarkan, Jang Geun Suk?” ejek Kim Tae Hee. Dia menahan nafas. Tangan Jang Geun Suk lengket dan tersedot. Bagaimanapun Jang Geun Suk mengerahkan tenaga berkutat untuk melepaskan tangan itu namun sia-sia saja. Malah rasa panas tiba-tiba menjalar dari perut Kim Tae Hee, terus mengalir ke tangan, lengan dan sekujur tubuhnya.
“Jang Geun Suk! Saat kematianmu sudah dekat. Kau memang sial tidak kesampaian menjadi raja diraja rimba persilatan. Namun di masa lalu kejahatanmu sudah terkenal. Kau membunuh orang-orang persilatan tanpa sebab! Lihatlah ke atas. Malaikat maut sudah turun mendatangimu!”
“Kurang ajar! Aku memilih mati bersama!” teriak Jang Geun Suk. Mulutnya didekatkan ke leher Kim Tae Hee. Maksudnya dia hendak menggigit putus urat leher Kim Tae Hee. Tapi gerakan Kim Tae Hee lebih cepat dari gerakan Jang Geun Suk, dua tangan Kim Tae Hee berkelebat ke atas kepalanya mencabut dua buah tusuk konde perak. Lalu secepat kilat tusuk konde itu ditancapkan ke mata kiri dan kanan Jang Geun Suk.
“Crass!”
“Crass!”
Dua bola mata Jang Geun Suk pecah. Darah muncrat. Jang Geun Suk menjerit setinggi langit!
“Sialan!” maki Kim Tae Hee ketika muncratan darah membasahi wajahnya. Tangan kanannya diarahkan ke kepala Jang Geun Suk.
Saat itu Jung Yong Hwa meloncat dan berseru. “Jangan bunuh! Beri aku kesempatan untuk membalaskan dendam sakit hatiku!”
Kim Tae Hee menghentikan gerakannya. Dia menatap wajah dan tubuh berpaku-paku Jung Yong Hwa, lalu menyeringai. “Jung Yong Hwa aku luluskan permintaanmu! Silahkan lakukan apa yang kau mau!” kata Kim Tae Hee sambil tetap saja merekatkan tangan Jang Geun Suk ke perutnya.
Jung Yong Hwa mendekat. Semula Kim Tae Hee mengira Jung Yong Hwa akan memukul hancur kepala atau mematahkan batang leher Jang Geun Suk. Ternyata kedua tangannya mencengkram kedua kaki Jang Geun Suk. Terdengar sesuatu hancur dalam remasan Jung Yong Hwa. Jang Geun Suk kembali menjerit setinggi langit ketika kedua kakinya diremas hancur oleh Jung Yong Hwa.
Kim Tae Hee merinding mendengar suara berderak hancur. Segera ia melepaskan tangan Jang Geun Suk dari sedotan perutnya. Dalam keadaan limbung Jang Geun Suk akhirnya jatuh terkapar di tanah, menjerit dan melejang-lejang tiada henti.
“Kau tidak membunuhnya?” tanya Kim Tae Hee.
“Kematian terlalu mudah baginya. Biarkan dia hidup seperti itu. Hidup cacat tanpa kedua kaki,” jawab Jung Yong Hwa.
Bersambung…
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar