Selasa, 08 Mei 2012

Gladiator (Chapter 6-End)


Pada mulanya orang-orang Sungkyunkwan memandang Park Shin Hye penuh kebencian. Salah seorang pemuda mulai mencabut pedang ketika melihat Park Shin Hye hendak memasuki pintu gerbang Sungkyunkwan itu.

“Sreet...!”

Jung Yong Hwa mencabut pedangnya juga. “Sreet...!” Pemuda temannya sendiri itu dipandang dengan sorot mata yang tajam. “Apa maumu, Lee Ki Kwang?!” seru Jung Yong Hwa.

“Apakah kau tak sadar telah membawa penyakit sebesar itu, Jung Yong Hwa?! Dia harus dimusnahkan! Dibunuh!”

“Silakan! Tapi kau harus membunuhku lebih dulu!” tegas Jung Yong Hwa.

Orang-orang mulai berkumpul dengan tegang. Park Shin Hye tetap berada di belakang Jung Yong Hwa. Gadis itu tidak menunjukkan sikap perlawanan, ia diam, tak mencabut senjata, namun tetap penuh kewaspadaan.

Uhm Tae Woong muncul dan berseru kepada Jung Yong Hwa. “Apa yang kau lakukan, Jung Yong Hwa?! Kau ingin membunuh kami semua dengan membawa perempuan itu?!”

“Paman! Park Shin Hye bukan musuh kita. Dia ingin bergabung untuk melawan Ratu Park Ji Yeon!”

“Tapi dia orang Istana Daehan Minguk, Jung Yong Hwa! Tidakkah hal itu kau sadari?!”

“Dia sudah keluar dari Istana Daehan Minguk sejak keluarnya perintah penangkapan orang-orang kita. Dia satu-satunya prajurit yang tidak ingin orang Sungkyunkwan dijadikan pemuas hati sang Ratu! Dia mencintaiku, Paman! Karenanya dia lebih baik meninggalkan segala yang dimilikinya di Istana Daehan Minguk itu!”

Suasana sempat ricuh sesaat. Mereka saling berkasak-kusuk dan sepakat untuk membunuh Park Shin Hye. Para ahli siasat pertempuran di Sungkyunkwan pun sepertinya terbagi menjadi dua kelompok.

Kelompok pertama setuju untuk menghabisi nyawa Park Shin Hye, kelompok kedua tidak setuju. Lee Ki Kwang, wakil Jung Yong Hwa selama Jung Yong Hwa tidak berada di tempat, tampak bernafsu sekali untuk membunuh Park Shin Hye. Dengan pedangnya ia menuding Park Shin Hye sambil berseru kepada Jung Yong Hwa. “Jung Yong Hwa! Kalau kau ingin mati bersama perempuan itu, dengan sangat terpaksa kami merelakan kematianmu!”

“Baik! Bunuhlah kami berdua!” seru Jung Yong Hwa lalu membuang pedangnya. Park Shin Hye pun mencabut pedang bersama sarungnya, lalu pedang itu dibuang ke tanah. “Praang...!” Mereka berdua saling berpegangan tangan, saling menggenggam, dan saling menatap ke arah Lee Ki Kwang.

“Bunuhlah kami bersama-sama, Lee Ki Kwang! Kami sudah tidak membawa senjata lagi!” seru Jung Yong Hwa.

Ahli siasat pertempuran di Sungkyunkwan bernama Bae Soo Bin berseru, “Tunggu...!” Lelaki itu maju ke pertengahan Lee Ki Kwang dan Jung Yong Hwa. “Apalah artinya nyawa perempuan itu jika dibandingkan nyawa Jung Yong Hwa?! Kematian Jung Yong Hwa sama halnya kematian sepuluh orang kita! Lalu apakah seimbang jika diganti dengan nyawa perempuan itu?!”

“Apa maksudmu, Paman?!” seru seorang pemuda lain yang juga sudah menghunus pedang.

“Cinta dapat mengalahkan pedang setajam apa pun! Cinta dapat memadamkan kobaran api gunung berapi! Layakkah sebuah cinta hancur karena kepicikan kita semua?!”

Suasana menjadi sepi. Sepi sekali. Suara napas pun tak terdengar.

Bae Soo Bin berkata lagi, “Beri dia kesempatan untuk membuktikan cintanya kepada Jung Yong Hwa! Jika benar perempuan itu mencintai Jung Yong Hwa, maka ia akan berangkat sekarang juga untuk membunuh Ratu Park Ji Yeon!”

Park Shin Hye cepat menyahut dengan suara keras, “Akan kulakukan sekarang juga!”

Pedangnya segera disambar dan ia bergegas pergi tanpa Jung Yong Hwa. Tetapi pemuda itu segera berseru dan mengejarnya. “Park Shin Hye! Kau tak bisa mati sendirian, baik di sini maupun di sana! Kita akan hadapi ratumu bersama-sama!”

“Jung Yong Hwa!” bentak Lee Ki Kwang yang tak setuju jika Jung Yong HwaBatara ikut ke Istana Daehan Minguk.

“Kalian hanya punya dendam!” teriak Jung Yong Hwa. “Kalian hanya punya murka, tapi tak punya nyali! Tak ada yang berani menyerang Istana Daehan Minguk sampai saat ini juga! Tapi aku dan Park Shin Hye akan menunjukkan bahwa kami lebih punya nyali daripada kalian!”

“Siapa bilang tak ada yang punya nyali?!” seru Lee Ki Kwang. “Salah satu dari kami sudah ada yang berangkat ke Istana Daehan Minguk!”

“Siapa?!” sentak Jung Yong Hwa.

“Yoon Eun Hye, kakakmu!”

“Hahh...?!” Jung Yong Hwa mendelik. Tegang sekali. “Mengapa tak ada yang melarang kakakku berangkat ke sana?! Kalian ingin mengorbankan kakak perempuanku itu, hah?!”

Bae Soo Bin segera mendekati Jung Yong Hwa dan menepuk pundak pemuda itu. “Kakakmu pergi bersama Kim Bum!”

“Kalau begitu, aku dan Park Shin Hye pamit sekarang juga!”

Sungguh merupakan kabar yang benar-benar mengejutkan bagi Jung Yong Hwa, ia sama sekali tak pernah berpikir bahwa Kim Bum akhirnya sampai juga di Sungkyunkwan, bahkan menjadi akrab dengan kakak perempuannya. Sepanjang perjalanan menuju Istana Daehan Minguk, tiada habisnya Jung Yong Hwa bercerita tentang Kim Bum dan Yoon Eun Hye kepada Park Shin Hye.

“Kita harus bisa menyusul mereka sebelum mereka tiba di perbatasan Lembah Deoksugung!” ujar Park Shin Hye, karena Istana Daehan Minguk itu berada dalam wilayah Lembah Deoksugung.

Park Shin Hye berkata lagi, “Temanmu, Kim Bum itu, harus diberi tahu bahwa Ratu Park Ji Yeon mempunyai banyak jebakan yang sulit ditebak di dalam istananya. Setiap orang tak dikenal mencoba masuk ke Istana Daehan Minguk, maka ia akan kehilangan nyawa, termakan jebakan itu!”

“Kim Bum mempunyai kecepatan yang sulit dikejar! Aku pernah melihat kecepatan geraknya yang membuatku hanya bisa tercengang.”

“Kalau begitu aku harus menotokmu supaya mudah kubawa lari! Huup...!”

“Eh, eh, eeh...! Jangan main totok sembarangan!” sentak Jung Yong Hwa sambil melompat mundur, ia tertawa geli ketika Park Shin Hye pun akhirnya tersenyum. “Sekarang aku ada di tanah, bukan di atas pohon! Jadi kau tak boleh menotokku, Park Shin Hye!”

“Kalau begitu, naiklah ke atas pohon!” ujar Park Shin Hye menggoda. Kemudian ia menyerang dengan jurus totokan.

“Hei, hei...! Park Shin Hye! Aku tak mau, Park Shin Hye...!” Jung Yong Hwa melarikan diri, Park Shin Hye mengejar. Begitu seterusnya, sehingga tanpa sadar mereka saling kejar dan saling beradu kecepatan lari. Sebenarnya Park Shin Hye dapat menangkap Jung Yong Hwa dengan mudah, karena ia mempunyai jurus “Meringankan Tubuh” yang dapat berlari lebih cepat lagi jika tenaga dalamnya dipusatkan ke kakinya. Tapi Park Shin Hye tetap berlagak tak bisa menyusul Jung Yong Hwa, supaya pemuda itu tetap berlari lebih cepat dan lebih cepat lagi.

“Wees, wees, wees, wees...!”

“Zlaaap...!” Sebuah bayangan melintas di depan Jung Yong Hwa. Langkah pelarian Jung Yong Hwa terhenti karena kaget. Park Shin Hye sendiri juga menghentikan langkahnya dan matanya memandang sekeliling dengan curiga.

“Kita sudah berada di perbatasan wilayah Lembah Deoksugung,” bisik Park Shin Hye. “Kurasa sekelebat bayangan tadi adalah gerakan Kim Hyun Joong, penjaga perbatasan!”

“Kalau begitu, bersiaplah menghadapi Kim Hyun Joong! Kau lebih tahu tentang dia.”

“Zlaap...! Brruus...!”

Bayangan itu tiba-tiba berkelebat lagi dan menerjang Jung Yong Hwa. Pemuda tersebut terpental dengan berguling-guling di tanah. Park Shin Hye terperanjat dan segera mencabut pedangnya untuk membuat pembalasan kepada bayangan cepat tadi.

“Jung Yong Hwa...?! Jung Yong Hwa, kau cedera?!” Park Shin Hye segera menolong kekasihnya dengan mata liar mulai menampakkan keganasannya.

“Tidak. Aku tidak cedera apa-apa. Lenganku yang tersambar dan ditendangnya. Tapi... tapi kurasa tendangannya tidak terlalu berat, ia tidak menggunakan tenaga dalam saat menendangku!”

“Jaga dirimu! Akan kucari orang itu!” geram Park Shin Hye sambil membungkuk, memegangi pedang dengan kedua tangan, matanya penuh kewaspadaan.

“Setan! Iblis! Keluar dari persembunyianmu! Hadapi aku!” teriak Park Shin Hye dengan berang.

“Zlaap...! Jleeg...!”

Bayangan itu muncul dari balik semak di belakang Jung Yong Hwa dan Park Shin Hye. Ternyata dia adalah seorang pemuda yang tampan, gagah, dan perkasa. Senyumnya segera mekar setelah Jung Yong Hwa dan Park Shin Hye memandangnya.

“Kim Bum...?!” sentak Jung Yong Hwa sambil melebarkan senyum juga.

“Heeeaaat...!” Park Shin Hye memekik dengan pedang ingin diayunkan ke tubuh Kim Bum. Tapi tangan Jung Yong Hwa segera mencekal lengan gadis itu.

“Tahan! Dia temanku, Kim Bum!”

Park Shin Hye segera menghembuskan napas panjang dan mengendurkan ketegangannya. Tapi hatinya masih merasa kesal karena sempat naik darah melihat Jung Yong Hwa tadi terjungkal.

“Kalian masih kurang waspada!” ujar Kim Bum.

“Terbukti aku masih bisa membuatmu jungkir balik, Jung Yong Hwa!”

“Tentu saja, sebab kau punya gerakan gila!” geram Jung Yong Hwa sambil menahan senyum.

“Mengapa kau melakukan itu pada kekasihku?! Salah-salah kau bisa kehilangan nyawamu, Kim Bum!” ketus Park Shin Hye melampiaskan kekesalannya. Kim Bum hanya tertawa. Namun dari semak-semak seberang terdengar suara yang segera berseru dengan lantang.

“Aku yang menyuruhnya menyerang adikku!”

“Noona...?!” sapa Jung Yong Hwa dengan wajah berseri melihat kakaknya dalam keadaan sehat. Tetapi sang kakak menatap benci kepada Park Shin Hye, dan Park Shin Hye sendiri juga memandang sinis kepada Yoon Eun Hye.

“Siapa perempuan itu, Jung Yong Hwa?!”

“Park Shin Hye! Prajurit pilihan Ratu Park Ji Yeon yang keluar dari Istana Daehan Minguk hanya untuk menyelamatkan nyawaku! Sekarang dia ada di pihak kita dan siap membantu kita.”

“Jangan mudah tergiur oleh mulut manis perempuan! Lidah perempuan bisa berubah menjadi pedang yang memenggal lehermu, Jung Yong Hwa!”

Kim Bum segera menyahut. “Kalau begitu, aku pun harus hati-hati terhadapmu, Yoon Eun Hye! Jangan-jangan karena terlalu percaya dengan kata-katamu, leherku menjadi buntung mendadak!”

Jung Yong Hwa dan Kim Bum sama-sama tertawa. Yoon Eun Hye dan Park Shin Hye masih bersitegang dalam beradu pandangan. Akhirnya Kim Bum berhasil meredam permusuhan batin di antara kedua perempuan itu, terutama setelah Jung Yong Hwa menceritakan alas an Park Shin Hye menculiknya saat berjalan bersama Kim Bum.

“Park Shin Hye mendesakku agar menyusul kalian,” kata Jung Yong Hwa. “Karena Park Shin Hye tak ingin Kim Bum masuk ke dalam Istana Daehan Minguk sebelum mendapat penjelasan tentang jebakan-jebakan yang ada disana!”

“Terlalu sulitkah mempelajari jebakan-jebakan itu, Park Shin Hye?!” tanya Kim Bum.

“Cukup sulit! Yang jelas butuh waktu untuk mempelajarinya. Tergantung kecerdasanmu dalam mengingat dan mengatasi jebakan tersebut,” jawab Park Shin Hye dengan nada sudah tidak bermusuhan lagi.

“Bagaimana kalau sang Ratu kupancing keluar?!” tanya Kim Bum. “Aku akan meledakkan Istana Daehan Minguk itu dari luar benteng!”

“Bagaimana nasib para tawanan yang masih hidup?” sela Yoon Eun Hye.

Park Shin Hye segera berkata, “Kalau begitu, alihkan perhatian mereka ke bagian depan. Aku akan masuk lewat belakang dan menjebol pintu rahasia. Para tawanan yang ada di ruang bawah tanah akan kubebaskan dan kubawa lari keluar istana lewat pintu rahasia itu! Setelah para tawanan kubawa menjauhi benteng istana, aku akan bergabung denganmu dan meledakkan semua bangunan yang ada di sana!”

Jung Yong Hwa menimpali, “Itu ide yang bagus!”

“Ya, kurasa memang harus begitu!” gumam Kim Bum.

“Jika berhadapan dengan Ratu Park Ji Yeon jangan memandang di bagian tengah keningnya, diantara kedua alisnya itu.”

“Mengapa harus kuhindari?”

“Bagian di antara kedua alisnya itu dapat mengeluarkan cahaya merah kecil, seukuran benang jahit. Jika kau terkena sinar merah kecil itu, kau akan bertekuk lutut kepada sang Ratu. Kau akan terkena hipnotisnya!” ujar Park Shin Hye.

Yoon Eun Hye memandang ke arah lain sambil berkata, “Aku ingin punya cahaya merah itu. Bagaimana caranya?”

Jung Yong Hwa menjawab dengan bersungut-sungut, “Rendam tubuhmu di kawah gunung berapi selama delapan tahun!”

“Dasar bodoh! Jangan bercanda!” Yoon Eun Hye cemberut.

Park Shin Hye dan Kim Bum menyunggingkan senyum geli. Mereka pun akhirnya bergegas menuju ke benteng Istana Daehan Minguk. Tanpa setahu Yoon Eun Hye dan Jung Yong Hwa, Park Shin Hye dan Kim Bum bersepakat untuk menotok kedua orang itu. Ketika keduanya sudah tertotok dan menjadi lemas, Park Shin Hye memanggul Jung Yong Hwa dan Kim Bum memanggul Yoon Eun Hye.

“Wees, wess...! Zlaaaap...!”

Mereka berkelebat dengan kecepatan tinggi. Walaupun Park Shin Hye masih kalah cepat dibanding gerakan Kim Bum, namun ia tertinggal tak terlalu jauh. Mereka bahkan mampu menerobos pertahanan Kim Hyun Joong dengan kecepatan tinggi masing-masing, sehingga Kim Hyun Joong dan anak buahnya yang mengetahui gerakan mereka tak dapat mengejarnya. Kim Hyun Joong dan anak buahnya tertinggal jauh di belakang Park Shin Hye.

Benteng batu hitam akhirnya terlihat dari kejauhan. Saat itulah Park Shin Hye dan Kim Bum sepakat untuk melepaskan totokan kakak-beradik itu.

“Kurang ajar! Kau apakan aku, hah?!” bentak Jung Yong Hwa kepada Park Shin Hye.

Park Shin Hye hanya menjawab, “Kim Bum yang menyuruhku melakukannya. Marahlah kepadanya!”

Yoon Eun Hye pun menggerutu berkepanjangan. Namun Kim Bum segera memutus gerutuan itu.

“Lihat, benteng hitam itu sudah berada di depan kita. Bersiaplah menghadapi bahaya sewaktu-waktu. Aku akan melepaskan pukulan jarak jauhku untuk menghancurkan pintu gerbang dan bagian depan Istana!”

“Tunggu, biarkan aku sampai ketiga pohon cemara berjajar itu. Aku akan menghancurkan pintu rahasia di belakang benteng! Setelah aku tiba di tiga pohon cemara, segeralah lakukan penghancuran di bagian depan, supaya perhatian mereka beralih ke depan!” ujar Park Shin Hye, lalu ia bergegas pergi setelah Kim Bum menganggukkan kepala.

“Noona, bantulah dia! Aku akan membantu Kim Bum di bagian depan!” ujar Jung Yong Hwa.

Yoon Eun Hye kurang setuju dengan usul adiknya. Tapi karena Kim Bum membenarkan usul itu, mau tak mau Yoon Eun Hye berlari mengikuti Park Shin Hye, membayang-bayangi gadis itu. Karena ia tahu, jika gadis itu celaka, maka Jung Yong Hwa akan marah besar kepadanya.

“Kita maju sampai di batu tinggi itu sebelum Park Shin Hye tiba di tiga pohon cemara itu!” Jung Yong Hwa mengajukan usul lagi. Kim Bum setuju, kemudian mereka bergegas maju sampai ke batu besar yang menjulang tinggi melebihi tinggi tubuh mereka.

“Kau punya jurus penghancur?!” tanya Kim Bum.

“Ya, tentu saja aku punya!”

“Pergunakan jurus penghancur itu! Arahkan ke pintu gerbang. Aku akan mengarahkan jurus “Pecah Raga”ku ke atap bangunan istana itu. Jika para prajurit berhamburan keluar, hantam terus dengan jurus penghancurmu!”

“Baik! Tapi bagaimana dengan para penjaga di menara sudut benteng itu?!”

Baru saja kedua pemuda itu memandang ke arah menara di sudut benteng, tiba-tiba menara yang kiri meledak karena sinar kuning berkelok-kelok dari bawah.

“Blegaaarr...!”

“Sial! Siapa yang menghancurkan menara itu?!” gerutu Kim Bum.
“Itu jurus “Surya Kencana” milik Yoon Eun Hye!” ujar Jung Yong Hwa.

“Berarti Park Shin Hye sudah sampai di belakang benteng! Kita bergerak sekarang juga, Jung Yong Hwa!”

“Zlaaap...! Wuuus...!”

Kedua pemuda itu berkelebat ke arah tanah lapang di depan benteng. Pada saat itu, beberapa prajurit keluar dari gerbang yang pintunya segera dibuka. Tetapi sinar biru dari tangan Jung Yong Hwa menyerang mereka bertubi-tubi.

“Claaap, claap, claap, claap...!”

“Blegaar...! Blaaar...! Jegaaar...! Glaaarr...!”

Kim Bum menyentakkan tangannya dan dari tangan itu keluar sinar hijau yang dapat memecahkan raga lawan, karenanya dinamakan jurus “Pecah Raga”. Sinar hijau itu mengarah ke bagian atap istana yang tampak mencuat melebihi tembok benteng.

“Clralap...! Bleggggaaarrr...!”

Istana itu hancur bagian depannya. Kim Bum melepaskan jurus yang sama lagi. Kali ini diarahkan ke menara sebelah kiri.

“Clraaap...! Bleggaaarrr...!!”

Suasana menjadi gempar, kacau balau. Para prajurit berpakaian anti senjata tajam itu menyebar kemana-mana dalam keadaan tidak bernyawa. Namun sebagian besar tampak panik dan saling tabrak sendiri karena dihujani sinar biru milik Jung Yong Hwa. Ledakan dahsyat terjadi berkali-kali membuat tanah disekitar mereka bergetar terus, sampai akhirnya benteng depan roboh dalam keadaan hancur terhantam jurus “Pecah Raga” milik Kim Bum.

Beberapa prajurit menyerang dari arah samping dengan pedangnya. Jung Yong Hwa menghadapi dengan tebasan pedangnya yang dapat mengeluarkan cahaya putih berkilauan dan menghanguskan lawan yang terkena cahaya tersebut. Kim Bum juga menghadapi serangan lawan dengan bumbung araknya. Sesekali tangannya menyentak dan mengeluarkan sinar penghancur ke arah munculnya para prajurit itu.

Tiba-tiba di sela ledakan demi ledakan, terdengar suara perempuan yang menjerit melengking dan menggeram ke mana-mana. Suara itu jelas dilontarkan dengan bantuan tenaga dalamnya.

“Hentikaaaaaann...!! Hentikaaaaann...!!”

Para prajurit mundur walau tetap bersiaga melakukan penyerangan sewaktu-waktu. Kim Bum dan Jung Yong Hwa saling beradu punggung.

Tiba-tiba angin panas datang menerjang mereka tanpa diduga-duga. Angin panas itu datang dari arah samping mereka. Kim Bum terlambat menghadang angina panas itu dengan kibasan bumbung araknya. Akibatnya ia pun terhempas dan menjerit kepanasan. Demikian juga Jung Yong Hwa yang memekik bagai tersiram cairan besi panah. “Aaaaaa...!!”

Kim Bum jatuh berguling-guling dalam keadaan tubuhnya menjadi merah matang. Rasa panas menyelimuti seluruh tubuhnya, ia buru-buru menyempatkan diri menenggak araknya walau hanya satu teguk.

“Jung Yong Hwa, cepat minum arak ini!” kata Kim Bum sambil menyodorkan bumbung arak ke mulut Jung Yong Hwa.

Dengan gerakan cepat dan terburu-buru, Jung Yong Hwa akhirnya berhasil meneguk arak tersebut, sehingga rasa panas dan luka bakarnya pun lenyap dalam beberapa kejap kemudian.

“Wuuus...! Jleeeg...!”

Seorang perempuan muncul dari kobaran api yang membakar bagian depan istana serta pintu gerbangnya. Perempuan itu mengenakan baju berwarna merah jambu dengan parasnya yang cantik menawan hati. Tetapi kedua bola matanya memandang tajam penuh dendam dan murka.

“Siapa kalian, hah?!” bentaknya dengan suara nyaring.

“Dia yang bernama Ratu Park Ji Yeon!” bisik Jung Yong Hwa.

“Menjauhlah!” sahut Kim Bum, lalu segera maju beberapa langkah.

“Aku Kim Bum, sengaja datang mewakili orang-orang Sungkyunkwan untuk membuat perhitungan sendiri denganmu! Aku menantang pertarungan satu lawan satu denganmu, Ratu!”

Beberapa saat setelah mata sang Ratu memandangi Kim Bum, terdengarlah suara tawanya.

“Ooh...?! Hebat sekali tantanganmu! Tapi coba dulu hadapi pengawalku!”

“Tidak!” sergah Kim Bum. “Pertarungan dengan pengawalmu hanya membuang-buang waktu saja! Kalau kau tak maumenghadapi tantanganku, berarti kau adalah seorang Ratu yang tak punya nyali! Kau hanya berani mengajukan prajuritmu, tapi kau sendiri tidak punya keberanian menghadapi pertarungan! Mungkin juga dengan orang lain kau tak akan berani melakukan pertarungan! Sungguh seorang Ratu pengecut kau sebenarnya, Park Ji Yeon!” Hinaan tersebut sengaja dilontarkan oleh Kim Bum untuk memancing kemarahan Ratu Park Ji Yeon. Ternyata pancingan Kim Bum berhasil. Sang Ratu menggeram dengan menampakkan wajah bengisnya.

“Mulut lancanganmu harus kurobek sampai ke tengkuk! Jika kau ingin menantangku, terimalah dulu jawaban dariku ini! Hiaaah...!” Ratu Park Ji Yeon melakukan lompatan ke atas. Tangan kirinya menyentak ke depan dan mengeluarkan cahaya Jingga menyerupai pedang pemenggal leher.

“Wuuus...!” Cahaya Jingga itu menyerang Kim Bum, semakin dekat semakin besar, dan ketika ditangkis dengan bumbung arak, cahaya Jingga itu sudah berubah tiga kali lebih besar dari pedang milik Park Shin Hye.

“Blegaaaarrr...!” Benturan itu menimbulkan ledakan yang sangat dahsyat. Kim Bum terlempar dan jatuh berguling-guling dalam jarak sepuluh langkah. Tetapi bumbung araknya masih utuh, tak mengalami lecet sedikit pun. Hanya saja, wajah Kim Bum menjadi memar membiru dengan sudut mata mengeluarkan cairan merah kental. Darah.

“Tenaganya besar sekali!!” gerutu hati Kim Bum sambil menahan rasa sakit di seluruh wajah dan dadanya. Rupanya dada Kim Bum pun menjadi biru legam akibat gelombang ledakan dahsyat tadi.

“Hupp, haap, hiaaah...!” Ratu Park Ji Yeon memainkan jurusnya, lalu satu kakinya menghentak ke bumi.

“Bruuus...!” Tubuh perempuan itu lenyap bagaikan ditelan bumi. Kim Bum kebingungan mengarahkan pukulan jarak jauhnya.

Namun tiba-tiba dari dalam tanah yang dipijak Kim Bum, keluar sepasang tangan yang menyentak dan menarik kedua kaki Kim Bum.

“Bruuuusss...! Zruuuubb...!”

“Aaaahk...!” Kim Bum bagai ditenggelamkan ke bumi. Tarikan kedua tangan Ratu Park Ji Yeon itu cukup keras dan kuat. Kim Bum akhirnya terbenam sebatas perut. Tapi bumbung araknya masih di atas dan menjadi penyangga tubuh.

“Aaahk...!” Kim Bum mengerang dengan wajah menyeringai kuat-kuat.

Sesuatu yang menarik tubuh Kim Bum dari dalam tanah itu nyaris sukar dilawan. Bahkan pergelangan kaki Kim Bum terasa dijepit dengan tang besi sangat kuat.

“Heeahh...!” Akhirnya Kim Bum menyentakkan bumbung araknya ke tanah.

“Duughhh...!” Sentakan itu mengeluarkan tenaga besar yang mendorong tubuh Kim Bum melesat ke atas dengan kecepatan tinggi. “Wuuus...! Brruull...!”

Ternyata tubuh Ratu Park Ji Yeon ikut terbawa terbang ke atas dalam keadaan kedua tangan berpegangan pada kedua kaki Kim Bum. Semua mata yang memandangnya menjadi kagum.

“Heeeeaaahhh...!!” teriak Ratu Park Ji Yeon mengencangkan kedua genggamannya.

“Aaaaahk...!” Kim Bum memekik keras, karena tulang kakinya terasa menjadi remuk oleh genggaman kedua tangan bertenaga dalam itu.

Tubuh mereka melayang turun. Pada saat itu Kim Bum memutarkan bumbung araknya dan menyabet ke bawah kakinya dalam keadaan membungkuk.

“Wuuus...! Prrraak...!” Suara berderak keras terdengar oleh semua prajurit yang menyaksikan pertarungan itu. Suara tersebut datang dari benturan bumbung arak dengan kepala Ratu Park Ji Yeon. Kepala itu berhasil dihantam dengan bumbung arak. Kepala tersebut pecah, menyemburkan darah ke mana-mana. Genggaman kedua tangan itu pun terlepas, dan Kim Bum jatuh terjungkal karena tak mampu lagi menjaga keseimbangan dan rasa sakit. Kedua kakinya tak bisa dipakai berdiri lagi.

“Bruuuk...!”

“Aaaaaaaaahhhkk... !” Kim Bum meraung panjang, ia buru-buru menenggak araknya untuk mengatasi rasa sakit.

Tapi keadaan Ratu Park Ji Yeon sudah terkapar tak bernyawa lagi karena kepalanya pecah dihantam bumbung arak yang kerasnya melebihi besi baja.

“Ratu tewas...! Ratu tewaaass...!” teriak seorang prajurit, lalu prajurit yang lain pun berhamburan melarikan diri. Mereka takut menghadapi Kim Bum, tak ingin mengalami nasib seperti ratunya.

“Heeeaaah...!!” Teriakan itu berasal dari Park Shin Hye yang baru saja muncul bersama Yoon Eun Hye, ia menyerang para prajurit dengan pedangnya secara membabi-buta.

Yoon Eun Hye melepaskan cahaya penghancur ke arah para prajurit yang bertebaran. Tapi tindakan mereka buru-buru dicegah Kim Bum, hingga tak telanjur memakan korban.

Kemudian Istana Daehan Minguk pun segera dihancurkan oleh Kim Bum dengan jurus-jurus maut bersinar warna-warni itu, pada saat sudah ditinggal oleh para prajurit.

“Bleggaaaaarrrrrr...!!” Istana Daehan Minguk itu meledak dan api berkobar membubung tinggi sebagai pertanda berakhirnya masa kekejaman Ratu Park Ji Yeon. Suara ledakan itu menggema sampai ke mana-mana dan mengguncangkan tanah dengan keras, seakan bumi akan kiamat dalam waktu dekat.

“Park Shin Hye!” seru Jung Yong Hwa, lalu ia segera berlari menghampiri gadis itu dan memeluknya.

Yoon Eun Hye berharap Kim Bum berseru seperti adiknya. Tapi ternyata Kim Bum hanya menyunggingkan senyum sambil melangkah mendekati Yoon Eun Hye. Langkahnya masih sedikit pincang karena proses penyembuhan pada tulang kaki belum sempurna.

“Kita harus segera pulang. Ada beberapa tawanan yang menderita sakit akibat tebasan pedang temannya sendiri,” ujar Yoon Eun Hye.

“Aku setuju dengan usulmu!”

Maka mereka pun bergegas pulang ke Sungkyunkwan. Ternyata dari sekian pemuda yang diculik oleh pihak Ratu Park Ji Yeon, hanya tujuh orang yang masih selamat. Tiga di antaranya terluka akibat pertarungan di arena.

“Kami dipaksa bertarung dengan teman sendiri sampai ada yang mati. Darah kami merupakan hiburan dan kepuasan bagi Ratu Park Ji Yeon itu!” tutur salah seorang tawanan. “Jika kami tidak mau membunuh lawan yang sudah kalah, kami berdua akan dibunuh oleh para pengawal Ratu. Jadi mau tidak mau kami membunuh teman sendiri demi mempertahankan nyawa kami masing-masing.”

“Menyedihkan sekali!” gumam Kim Bum dengan lirih, lalu la pun menundukkan kepala.

Ternyata ketika mereka tiba di Sungkyunkwan, dua orang tamu sedang berada di sana. Mereka adalah Kim So Eun dan Lee Hong Ki. Walau kedatangan Kim So Eun termasuk terlambat, tapi Kim Bum tetap menyambutnya dengan senyum kemenangan. Senyum itu membuat Yoon Eun Hye cemberut dan tak mau menatap Kim Bum yang telah berada dalam genggaman tangan Kim So Eun.

“Serba salah kalau begini jadinya!” gumam Kim Bum dalam hatinya dengan mata sesekali melirik Yoon Eun Hye, sesekali melirik Kim So Eun yang sudah terang-terangan menyimpan cinta kepadanya.


Tamat
Copyright Sweety Qliquers

Tidak ada komentar:

Posting Komentar