Kamis, 24 Mei 2012
Manusia Paku (Chapter 4)
Selagi Kim So Eun masih termangu mendengarkan penuturan gurunya, Song Seung Hun kembali meneguk dengan lahap arak dalam bumbung bambu.
“Apa yang ada dalam benakmu Kim So Eun?”
“Penuturanmu mengerikan sekali guru,” jawab Kim So Eun. “Kalau Jung Yong Hwa bisa membunuh gurunya sendiri semudah membalik telapak tangan, apa lagi membunuh orang lain!”
“Justru itulah yang ditakutkan orang rimba persilatan. Belasan tokoh tingkat tinggi dalam dunia persilatan telah dihabisinya. Pada saatnya mungkin aku juga akan menjadi korbannya... Aku dan kawan-kawan sudah siap menjaga segala kemungkinan. Di luar terdengar kabar bahwa paku baja putih dikuasai seorang pemuda sakti bernama Jang Geun Suk. Orang itu kabarnya tinggal di Gunung Jirisan. Celakanya Jang Geun Suk mencari kesempatan dalam kesulitan. Dia menggunakan paku-paku itu untuk kepentingannya sendiri. Kenyataannya dia telah berhasil mengumpulkan sebagian besar harta kekayaan dan membunuh tokoh yang menginginkan paku itu. Di luaran tersiar kabar bahwa siapa pun yang berhasil menguasai Jung Yong Hwa maka ia akan menguasai rimba persilatan...”
“Berarti kejahatan akan berlangsung terus...”
“Mungkin begitu muridku. Namun siapa pun yang menguasai Jung Yong Hwa akan lebih baik dari pada saat ini dia dikuasai Park Shin Hye. Lagi pula orang lain itu mungkin lebih bisa ditumpas daripada Park Shin Hye.”
“Aku teringat pada senjata rahasia yang dulu guru berikan,” kata Kim So Eun sambil meraba pinggang pakaiannya di mana tergantung sebuah kantong berisi senjata rahasia berbetuk paku terbuat dari perak.
“Justru benda itu yang menjadi salah satu alasanku memanggilmu kemari. Ada selentingan bahwa beberapa tokoh silat menganggap paku itu adalah paku sakti keramat yang bisa melumpuhkan Jung Yong Hwa lalu menguasainya. Berarti kau harus hati-hati Kim So Eun. Salah duga bisa menjadi malapetaka bagimu.”
Ucapan Song Seung Hun membuat Kim So Eun merasa tidak enak.
“Lalu apa yang harus kuperbuat guru?” tanya gadis itu.
“Aku minta kau segera mencari Kim Bum...” Song Seung Hun menghentikan katra-katanya ketika dilihatnya wajah sang murid tiba-tiba memerah. “Eh, ada sesuatu dalam benakmu?”
“Guru, aku lebih suka kau menyuruhku melakukan sesuatu yang lain dari pada mencari pemuda itu...”
“Hmm... aku tahu mengapa kau bicara begitu,” kata Song Seung Hun sambil tertawa tergelak. “Kau kecewa padanya karena baik dia maupun gurunya belum selesai membahas soal perjodohan kalian.”
“Aku tidak pernah kecewa!” jawab Kim So Eun tegas walau diam-diam hati sanubarinya memelas. “Aku hanya ingin mengatakan ini kepadamu guru. Jika orang tidak suka, mengapa harus memaksa?”
“Hmm…” Song Seung Hun bergumam sambil mengelus-elus bumbung di pangkuannya. “Tidak ada yang tidak suka. Tidak ada yang memaksa. Tapi... sudahlah. Urusan perjodohanmu sudah kubicarakan lagi dengan Kim Tae Hee beberapa waktu lalu sewaktu aku menyambanginya di puncak Gunung Gyeryongsan. Urusan sekarang yang lebih penting adalah soal Jung Yong Hwa. Sudah diketahui bahwa hanya paku baja putih itu yang sanggup melumpuhkannya. Di tangan siapa paku itu sekarang juga sudah diketahui. Yang belum diketahui adalah kapan Jung Yong Hwa tidur. Dia hanya mampu ditundukkan pada saat tidur. Dalam setahun tidurnya hanya sekali. Itupun tidak lama. Jadi kau harus mencari tahu kapan dan dimana tidurnya. Kau juga harus mendapatkan paku sakti itu agar tidak jatuh ke tangan orang yang jahat seperti Park Shin Hye...”
“Aku seperti mencari sebutir kelapa di tengah samudera luas…”
Song Seung Hun tertawa mendengar jawaban muridnya. “Itu sebabnya aku minta kau segera mencari Kim Bum. Kalau sudah ketemu, segera hubungi Lee Min Ho, pasti pemuda itu bisa menjelaskan yang kau perlukan.”
“Kalau begitu pesan guru segera aku lakukan. Bolehkah aku minta diri sekarang?”
“Tentu saja, tapi tidak perlu buru-buru. Kita masih ada sedikit waktu untuk berbincang-bincang. Apa kau tidak ingin menikmati arak khayangan ini beberapa teguk?” Song Seung Hun menutup ucapannya dengan melemparkan bumbung bambu ke arah muridnya.
Lemparan itu bukan sembarang lemparan karena ujung bumbung bambu melesat menyambar ke arah dada Kim So Eun. Maklum sang guru lagi-lagi sedang menjajaki kemampuan Kim So Eun.
Kim So Eun dengan cepat menggeser kakinya, dan tubuhnya dimiringkan ke kanan, tangan kirinya diangkat sedikit. Dan sesaat kemudian, bumbung yang dilempar Song Seung Hun itu sudah berada di tangan kirinya!
Bersambung…
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar