Kamis, 24 Mei 2012

Manusia Paku (Chapter 3)


Puncak Gunung Seoraksan. Langit tampak mendung sejak pagi. Sang surya sama sekali tidak kelihatan menyembul. Keadaan saat itu seolah menjelang malam hari. Sementara hujan turun rintik-rintik dan udara terasa sangat dingin.

Di tempat persemadiannya Kang Ji Hwan duduk bersila di lantai, hanya beralaskan sehelai kulit kambing. Kedua tangannya diletakkan di atas paha. Mata terpejam, tubuh tak bergerak sedikit pun. Kalau saja tidak ada hembusan nafas yang menimbulkan asap tipis akibat dinginnya udara, orang itu tidak ada bedanya seperti sebuah patung. Ia memiliki tubuh tegap dan wajah segar. Semua tu akibat latihan jasmani dan kekuatan rohani serta hawa sakti yang sudah mencapai tingkat tinggi dan jarang orang menguasainya.

Di hadapan Kang Ji Hwan saat itu duduk seorang pemuda yang dari tubuhnya membersitkan sinar aneh berwarna kehijau-hijauan. Pemuda itu menatap Kang Ji Hwan yang ada di hadapannya. Dia sudah berada di tempat itu sejak malam tadi. Dan Kang Ji Hwan masih saja bersemadi. Sampai kapan dia harus menunggu? Kalau dengan orang lain mungkin dia berani mengganggu semadi itu atau meninggalkan orang itu begitu saja. Tapi terhadap sang guru tentu saja dia tak berani berbuat begitu.

Waktu berjalan terus. Siang pun datang. Udara terang sedikit tetapi sang surya masih belum kelihatan. Sepasang mata hijau pemuda itu melihat gerakan pada urat nadi di leher Kang Ji Hwan. Hatinya menjadi lega. Ini satu pertanda bahwa lelaki itu akan mengakhiri semadinya. Benar saja. Tak lama kemudian terlihat getaran-getaran teratur pada bagian dada orang itu. Setelah itu kepalanya bergerak sedikit. Menyusul dengan terbukanya kedua matanya sedikit demi sedikit.

Begitu melihat mata sang guru membuka, pemuda tadi segera membungkuk dalam-dalam. Kepalanya hampir menyentuh kaki sang guru. Dan dia tetap dalam keadaan seperti itu sampai dia mendengar suara Kang Ji Hwan berkata. “Jung Yong Hwa, kau boleh mengangkat tubuhmu.”

Pemuda itu dengan cepat mengangkat tubuhnya, duduk dengan sikap tegak dan memandang lelaki di hadapannya. Dua mata bening Kang Ji Hwan serta merta melihat perubahan besar telah terjadi dengan diri muridnya. Hatinya memelas sedih.

“Dua puluh tahun lebih aku mendidiknya untuk menjadi manusia berbudi pendekar sejati. Ternyata semua itu sia-sia belaka. Ya Tuhan, apa dosaku pada-Mu hingga kau turunkan malapetaka ini pada muridku? Jika dia yang berdosa biar aku yang menampung semua dosanya. Jangan dia. Diriku akan segera datang menghadap-Mu, tapi dia masih muda, jalan hidupnya masih panjang. Ya Tuhan, aku mohon petunjuk-Mu…”

“Guru, aku datang menghadap Guru. Semoga kedatanganku berkenan di hati Guru…”

“Jung Yong Hwa, aku senang melihat kau datang. Tapi hatiku juga sangat sedih melihat keadaanmu seperti ini…” ucap Kang Ji Hwan dengan suara tersendat.

“Aku tahu bagaimana perasaan Guru, namun mungkin semua ini sudah jalan nasibku. Semua yang terjadi adalah kelalaian dan kesalahanku. Biarlah kelak aku yang menanggung hukuman atas segala dosa...”

“Jung Yong Hwa, apa yang sudah terjadi memang sudah tidak bisa diperbaiki lagi. Mungkin suatu ketika ada suatu kekuatan atau mukjizat yang bisa mengembalikan dirimu seperti dulu lagi. Namun yang sangat aku sesalkan adalah karena kau tidak mendengarkan nasihatku. Ketika kau kulepas tahun lalu aku sudah berpesan, jangan sekali-sekali kau dekati apalagi berhubungan dengan perempuan jahat bernama Park Shin Hye itu. Sejak kau berada di sini, aku tahu secara diam-diam dia datang mengintai dan memperhatikan dirimu. Dia terpikat pada dirimu. Ternyata kau bukan saja masuk pada perangkapnya tapi juga jatuh cinta padanya...!”

“Guru, aku tahu dosa dan kesalahanku. Ketika Guru melepasku setahun lalu walau memiliki kepandaian tinggi, tapi aku masih buta pengalaman. Dunia luar serba asing bagiku. Sampai akhirnya aku masuk dalam perangkap Park Shin Hye... Aku tidak mampu mencegahnya. Aku berada di bawah kekuasaannya, tak mampu keluar dari genggamannya...”

Lelaki di hadapan Jung Yong Hwa menarik nafas panjang. “Jangankan kau, orang yang berkepandaian tinggi seratus kali darimu pun sekali berciuman dengan Park Shin Hye, seumur hidup tak akan sanggup membebaskan diri dari cengkeramannya. Seumur hidup akan jadi budaknya. Cairan dalam tubuh Park Shin Hye telah mengalir dalam darahmu. Tak mungkin dibersihkan lagi...!”

Lama Jung Yong Hwa termenung mendengar kata-kata gurunya itu. Apa yang diucapkan lelaki itu memang benar adanya. Sejak dia terpikat dengan Park Shin Hye dan mencium gadis itu, sejak itu pula dia tak mampu membebaskan diri dari kekuasaan perempuan itu. Dia melakukan apa saja yang diperintahkan tanpa berpikir apakah hal itu baik atau buruk.

“Guru, kalau memang begini keadaanku, aku bersedia menerima hukuman apa pun.”

“Hukuman bisa saja dilakukan atas dirimu. Tidak olehku, mungkin oleh orang lain. Mungkin juga oleh dirimu sendiri...”

“Maksud Guru, aku sebaiknya bunuh diri saja?” tanya Jung Yong Hwa.

Lelaki itu tersenyum pahit. Dia melihat ada kilatan aneh pada sepasang mata muridnya.

“Aku tidak menganjurkanmu melakukan bunuh diri. Ketahuilah, tidak ada satu kekuatan pun di dunia ini yang sanggup membunuhmu! Kecuali kekuatan Tuhan atau atas petunjuk dari-Nya. Hanya saja, aku melihat masih ada satu jalan. Ada penyakit dalam tubuhmu. Untuk mengobatinya, harus melenyapkan sumbernya...”

“Maksud Guru?”

“Sanggupkah kau membunuh Park Shin Hye?”

Paras Jung Yong Hwa tidak berubah. Tapi sang guru lagi-lagi melihat ada kilatan cahaya mengerikan di kedua mata muridnya.

“Jung Yong Hwa, coba kau perhatikan dirimu. Dari sekujur tubuhmu terbersit sinar aneh berwarna kehijau-hijauan. Pengaruh cairan tubuh beracun Park Shin Hye membuatmu hanya bisa tidur satu tahun sekali. Itu pun tidak bisa lama dan tak diketahui kapan kau bisa tidur. Dua bola matamu hijau juga akibat pengaruh cairan dari tubuh Park Shin Hye. Di situ kekuatanmu terpusat. Kau dijadikan budaknya untuk melakukan apa saja yang dimintanya. Coba kau ingat, sudah berapa banyak orang-orang persilatan yang menjadi korbanmu atas perintah Park Shin Hye... ”

Kang Ji Hwan menghentikan ucapannya. Dia melihat tubuh muridnya bergetar lalu kulit tubuh sampai ke leher terus ke wajah perlahan-lahan berubah kehijau-hijauan. Di dalam diri Jung Yong Hwa, tiba-tiba saja ada suara iblis menggelegar. “Lelaki ini harus kubunuh! Harus kubunuh! Tapi dia guruku! Dia guruku! Persetan siapapun dia adanya! Harus kubunuh sekarang juga!”

Jung Yong Hwa berdiri.

“Kau mau ke mana muridku?” Tanya Kang Ji Hwan.

“Aku terpaksa harus mem...” Jung Yong Hwa tidak meneruskan ucapannya, sepertinya dia masih bisa menguasai diri. “Aku harus pergi sekarang juga Guru,” Dia memutar tubuhnya cepat-cepat.

“Tunggu dulu Jung Yong Hwa. Masih ada satu hal yang mau aku bicarakan. Ini sangat penting karena masih menyangkut kehidupan masa depanmu...”

“Aku sudah tidak punya masa depan Guru....” Jung Yong Hwa segera hendak beranjak pergi.

“Dengarkan dulu apa yang akan kukatakan, baru kau boleh pergi...”

“Jika Guru memaksa, aku terpaksa... ”

“Membunuhku?” ujar Kang Ji Hwan dengan senyum kecut. “Kau boleh membunuhku setelah mendengar penuturanku... ”

Warna kulit dan bola mata Jung Yong Hwa semakin menghijau. Badannya menggeletar tanda dia berusaha keras menahan gejolak keinginan untuk membunuh yang membakar dirinya.

“Kalau begitu, cepat katakan saja apa yang mau kau katakana, Guru...!”

“Ketika aku masih kecil, guruku pernah bercerita tentang tigapuluh buah paku sakti terbuat dari baja murni. Paku ini dibuat oleh seorang sakti yang bermukim di daratan Tiongkok selatan. Konon paku ini punya kekuatan daya penyembuhan luar biasa. Aku mempunyai firasat paku sakti itulah yang sanggup membersihkan darah dalam tubuhmu. Caranya, tigapuluh buah paku itu harus dipantekkan ke tubuhmu. Mulai dari ubun-ubun sampai ke kaki. Namun ada satu akibat yang tidak dapat dielakkan. Walau pengaruh Park Shin Hye akan pupus dari dirimu, tetapi kau kelak akan berada di bawah kekuasaan baru yang mungkin lebih dahsyat...”

Ucapan Kang Ji Hwan terhenti ketika tiba-tiba ruangan semadi itu bergetar oleh berkelebatnya suatu bayangan hijau yang mengeluarkan angin mengandung hawa aneh. Lalu terdengar suara orang berkata. “Jung Yong Hwa! Lama aku mencarimu! Tak tahunya kau berada di sini, membicarakan hal-hal omong kosong!”

Seorang gadis berwajah cantik luar biasa, mengenakan pakaian yang terbuat dari sutera halus berwarna hijau, tiba-tiba tegak berdiri di samping Kang Ji Hwan. Bau tubuhnya yang harum, menebar di ruangan itu. Di atas kepalanya ada sebuah mahkota kecil berbentuk kepala ular terbuat dari emas, memiliki sepasang mata terbuat dari permata berwarna hijau.

“Park Shin Hye...!” seru Jung Yong Hwa lalu cepat bangkit mendatangi perempuan itu.

“Kekasihku...!” jawab Park Shin Hye seraya mengembangkan kedua tangannya. Begitu Jung Yong Hwa sampai di hadapannya, langsung dipeluknya pemuda itu. Jung Yong Hwa membalasnya dengan penuh cinta.

Wajah Kang Ji Hwan tampak merah mengelam. Dia membentak marah. “Keluar kalian dari tempat ini! Jangan kalian berani lagi menginjakkan kaki di puncak Gunung Seoraksan ini!”

Park Shin Hye tertawa tinggi. Sambil merangkul lengan pemuda itu, Park Shin Hye berkata. “Jung Yong Hwa kekasihku, kau tadi mendengar semua ucapannya? Benar begitu...?”

“Aku memang mendengarnya Park Shin Hye, tapi aku tidak peduli!”

Park Shin Hye kembali tertawa panjang. “Kurasa lelaki ini hanya satu rongsokan tak berguna. Apa pendapatmu Jung Yong Hwa? ”

“Memang aku juga merasa begitu...” jawab Jung Yong Hwa.

Wajah Kang Ji Hwan kaku membesi. “Jung Yong Hwa! Sebut nama Tuhanmu! Bebaskan dirimu dari pengaruh jahat perempuan iblis ini!”

Park Shin Hye hanya tertawa mendengar ucapan Kang Ji Hwan. “Apa tindakan kita terhadap manusia-manusia tidak berguna di atas dunia ini Jung Yong Hwa?” Park Shin Hye kembali berucap.

“Harus dibasmi. Harus disingkirkan karena Bumi tidak layak dihuni oleh orang-orang semacam dia!”

“Jung Yong Hwa!” seru Kang Ji Hwan.

“Kekasihku, aku senang mendengar ucapanmu! Sekarang lakukan apa yang harus kau lakukan! Bunuh lelaki tak berguna itu!”

Kang Ji Hwan cepat berdiri ketika dilihatnya Jung Yong Hwa maju dua langkah mendekatinya. Dua bola matanya menjadi sangat hijau. Ketika lelaki itu mengedipkan kedua matanya, dua larik sinar hijau menderu menyambar ke arah kepala dan dada sang guru.

Kang Ji Hwan membentak keras. Sambil menyingkir ke samping, dia cepat membentengi diri dengan dua buah pukulan tangan kosong mengandung hawa sakti. Angin yang keluar dari dua telapak tangan Kang Ji Hwan itu laksana deru topan dan mengeluarkan sinar kelabu.

“Bummmmmm! Bummmmm!”

Dua ledakan menggelegar. Asap kelabu dan hijau menutupi pemandangan. Atap dan dinding ruangan runtuh. Lantai mencuat hancur berantakan. Jung Yong Hwa dan Park Shin Hye terlempar jauh, lalu jatuh di tanah saling menindih. Ketika asap hijau dan kelabu pupus, kelihatanlah tubuh Kang Ji Hwan terkapar di antara reruntuhan bangunan. Kepalanya hancur dan sekujur badannya remuk. Seluruh sosoknya kelihatan hijau gelap.

Jung Yong Hwa merasakan dadanya mendenyut sakit. Nafasnya memburu.

“Kau tak apa-apa...?” bisik Park Shin Hye.

“Hanya merasa sesak sedikit...” jawab Jung Yong Hwa. Dia memandang ke arah mayat gurunya, lalu berkata, “Guruku... dia tewas...”

“Lelaki itu bukan gurumu!” tukas Park Shin Hye. “Dia tak lebih dari seorang lelaki bodoh! Tak ada gunanya! Kau telah melakukan sesuatu yang benar. Membunuhnya! Aku bangga punya kekasih sepertimu!” Park Shin Hye lalu memeluk dan mencium Jung Yong Hwa.

Bersambung…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar