Jumat, 25 Mei 2012
Manusia Paku (Chapter 6)
Sinar terang sang surya yang baru terbit membuat kelopak mata yang tertutup itu bergerakgerak lalu perlahan membuka.
“Kau sudah siuman rupanya!” Itu suara pertama yang ditangkap Kim Bum sebelum dia mendengar suara yang seperti hendak merobek-robek gendang telinganya. Dia menopangkan kedua sikunya ke tanah. Dengan susah payah dia mencoba bangkit sambil membuka mata. Di hadapannya terpampang wajah seorang lelaki di bawah caping lebar menyeringai padanya. “Bersyukurlah pada Tuhan! Kau tak sampai mati oleh racun mata Jung Yong Hwa...”
Agak lama murid Kim Tae Hee itu memahami ucapan orang di hadapannya. Lalu dia ingat apa yang terjadi. Sebelum dia jatuh pingsan, ada totokan melanda urat besar di lehernya. Totokan itulah yang menolongnya.
“Tuhan memang Maha Besar dan Maha Penolong! Tapi kalau kau tidak muncul tepat pada saatnya dan menotok jalan darahku, mana mungkin saat ini aku masih bisa bernafas! Aku berterima kasih padamu, Hyung...!”
“Kau berterima kasih padaku! Apa kau kira Song Seung Hun akan berterima kasih padamu anak bodoh?!” ujar lelaki bercaping itu.
“Eh, apa maksudmu?” tanya Kim Bum bingung. Tiba-tiba ingatannya pulih menyeluruh. “Astaga! Kim So Eun!” katanya setengah berseru dengan wajah berubah. “Pemuda itu! Jung Yong Hwa! Dia menculik Kim So Eun!”
Lelaki itu menggelengkan kepalanya dengan wajah rawan. “Bebanmu jadi bertambah berat, aku tak tahu kenapa sampai jadi begini. Tapi aku melihat ada satu ganjalan antara kau dan gadis itu...”
Kim Bum menarik nafas dalam. “Aku merasa bersalah. Aku minta petunjukmu, Hyung. Apa yang harus aku lakukan?”
“Menurut penglihatanku, untuk beberapa waktu gadis itu cukup aman...”
“Cukup aman katamu? Apa kau sudah gil...” Kim Bum tak teruskan ucapannya. “Kau tahu sendiri siapa Jung Yong Hwa. Pembunuh berdarah dingin yang tak pandang bulu! Aku bukan saja mengkhawatirkan nyawa gadis itu, tapi juga kehormatannya...!”
“Menurut apa yang aku tahu, ada hari-hari di mana Jung Yong Hwa berada di luar pengaruh Park Shin Hye. Mudah-mudahan saja saat ini dia dalam keadaan seperti itu. Ini bukan berarti kita hanya berlepas tangan. Gadis itu biar aku yang mencarinya, kau tetap saja pada apa yang menjadi tugasmu...”
“Aku tahu tugasku. Mencari Park Shin Hye dan Jang Geun Suk. Tetapi sesuatu terjadi sebelum Jung Yong Hwa melarikan Kim So Eun. Ada orang yang melarikan diri dari tempat ini, meninggalkan satu sosok mayat tanpa kepala itu...” Kim Bum menunjuk pada mayat Lee Hong Ki.
Lee Min Ho menoleh pada mayat yang ditunjuk Kim Bum.
“Kau bisa melihat siapa orang itu, Hyung?” tanya Kim Bum.
“Tak dapat kupastikan siapa orangnya. Kawannya yang satu ini tak punya kepala. Mana mungkin aku mengenalinya. Tapi menurut penglihatanku, orang yang kabur itu telah mencuri sesuatu dari murid Song Seung Hun... Mungkin kau bisa menduganya?”
“Maksudmu ada hubungannya dengan kejadian besar dalam rimba persilatan saat ini?”
“Tentu, ada kaitannya dengan Jung Yong Hwa dan Park Shin Hye...”
Kim Bum termenung. Dia hampir menyerah ketika tiba-tiba dia ingat pembicaraan di tempat kediaman Song Seung Hun di puncak bukit. “Kuharap saja dugaanku tak meleset. Orang itu merampas paku perak yang menjadi senjata rahasia Kim So Eun.”
“Kau betul, Kim Bum. Tapi mengapa dia merampasnya?” tanya Lee Min Ho pula.
“Mudah saja jawabnya. Dia mengira paku itu adalah paku baja putih murni yang bisa melumpuhkan Jung Yong Hwa!”
“Kita tak punya waktu banyak. Aku akan mengejar pemuda itu. Tugasmu mencari Park Shin Hye dan Jang Geun Suk. Jang Geun Suk memiliki paku baja murni itu. Menurut penglihatanku, dia memang mempunyai keinginan menguasai rimba persilatan. Tapi dia juga ingin mencari untung sendiri. Berpura-pura menjual atau menukarkan paku sakti itu dengan benda-benda berharga. Pada gilirannya baru dia akan melumpuhkan dan menguasai Jung Yong Hwa. Hanya satu yang belum aku tahu, kapan pemuda itu akan tidur. Jang Geun Suk pasti tahu kapan Jung Yong Hwa akan tertidur...”
“Aku tak akan membuang waktu, Hyung. Aku akan segera mencari Jang Geun Suk dan Park Shin Hye...”
“Baik, kita berpisah di sini!” kata Lee MinHo. Baru saja dia hendak memutar langkahnya, tiba-tiba terdengar suara tawa melengking tinggi dan panjang di kecerahan pagi. Lee Min Ho tercekat, Kim Bum lekas bangkit berdiri.
“Aku mencium bahaya besar!” ujar Lee Min Ho. Lalu dia mengambil sebuah benda di bawah caping bambunya. Secepat kilat benda itu dilemparkannya ke dalam mulut Kim Bum seraya berbisik, “Lekas kau telan benda dalam mulutmu itu!”
“Apa ini, Hyung?”
“Tidak usah banyak bertanya! Telan saja benda yang ada dalam mulutmu itu kalau tidak mau celaka!” sentak Lee Min Ho.
Meski tidak mengerti, namun Kim Bum akhirnya menelan benda yang ada dalam mulutnya. Mulut, lidah dan tenggorokannya terasa pahit. Dia hampir muntah tapi cepat ditahan. Saat itu suara tawa terputus dan kini di hadapan Kim Bum dan Lee Min Ho berdiri seorang perempuan cantik luar biasa.
Perempuan itu tegak di atas gundukan tanah yang agak tinggi. Angin pagi meniup pakaian berwarna hijau yang membungkus tubuhnya. Dari tempatnya berdiri, Kim Bum dapat melihat sosok tubuh perempuan itu dengan jelas. Dadanya berdebar, darahnya terasa mengalir lebih cepat dan wajahnya menjadi hangat. Terlebih lagi ketika angin pagi menghembuskan bau harum yang keluar dari tubuh perempuan itu. Perempuan itu, memakai sebuah mahkota berbentuk kepala ular di kepalanya. Sepasang mata ular itu terbuat dari sepasang permata berwarna hijau memancarkan sinar berkilauan.
“Kim Bum, apa kau sudah tahu saat ini siapa yang berdiri di hadapan kita...?” Lee Min Ho berbisik.
Meski terpikat melihat kecantikan perempuan berpakaian hijau itu, namun ditanya seperti itu mau tak mau murid Kim Tae Hee itu jadi bergetar juga hatinya. Dia mengangguk dan dengan lidah agak kelu serta suara tersendat dia menjawab, “Aku sudah tahu Hyung, aku...”
Ucapan Kim Bum terputus. Perempuan cantik bermahkota di hadapan mereka membuka mulut.
“Pemuda tampan. Kudengar tadi kau berucap hendak mencariku. Peruntunganmu sedang mujur rupanya. Kau tidak perlu susah-susah mencari. Aku Park Shin Hye sudah muncul di hadapanmu...”
Kim Bum berdehem beberapa kali sementara Lee Min Ho mendongak memandang ke langit.
“Ada keperluan apa kau mencariku? Maksud buruk atau baik?!”
“Hmmm...” Kim Bum bergumam. “Bisa buruk bisa baik,” jawabnya kemudian.
“Katakan dulu yang baiknya...” ujar Park Shin Hye sambil tersenyum.
“Aku sudah lama mendengar nama besarmu. Selain sebagai orang berkepandaian tinggi, kabarnya kau juga cantik jelita. Ternyata kabar itu tidak bohong. Aku merasa beruntung bisa bertemu denganmu saat ini.”
Park Shin Hye tersenyum. “Lalu apa buruknya?”
“Nama besar dan tindakanmu telah menggegerkan rimba persilatan di Korea. Kau melakukan pembunuhan-pembunuhan keji dengan meminjam tangan seorang pemuda yang masuk ke dalam perangkapmu... Ini membuat repot dan marah semua orang...”
“Hmmm... apa kau juga ikut-ikutan repot?” tanya Park Shin Hye sambil menatap tajam pada Kim Bum namun bibirnya tersenyum.
Murid Kim Tae Hee itu tertawa. Di sebelahnya Lee Min Ho memaki. “Dasar bodoh! Kenapa kau malah tertawa?”
“Park Shin Hye, aku mendengar kabar bahwa kau ingin menguasai rimba persilatan. Tapi cara yang kau lakukan sesat dan keji... Semua orang menentang perbuatanmu itu, termasuk aku... ”
“Kalau aku menguasai dunia persilatan secara baik-baik, apakah kau mau membantu?”
Pertanyaan itu membuat mulut Kim Bum terkunci sesaat. “Mungkin saja... Hanya sayang kau terlanjur masuk ke jalan sesat. Tak mungkin keluar lagi...”
Park Shin Hye mengangkat kepalanya. Dia tertawa perlahan lalu memandang pada Kim Bum sambil mengedipkan matanya dua kali.
“Buruk dan baik, kebajikan dan kekejian di masa sekarang ini tergantung dari mana orang memandang. Kalaupun pandangannya benar maka batas antara keduanya setipis kabut pagi yang akan lenyap begitu sang surya menampakkan diri. Agar kau lebih mengenal diriku dan apa yang akan aku kerjakan, kuanggap kau perlu ikut denganku…”
“Ikut denganmu? Kemana?” tanya Kim Bum berlagak bodoh.
Park Shin Hye tertawa. “Banyak yang bisa kita kerjakan berdua... Kalau dunia persilatan bisa kukuasai, apa kau tidak merasa senang berada di sampingku, jadi orang kepercayaanku?”
“Ah, tidak sangka kau baik sekali. Tapi aku khawatir di balik kebaikan itu ada maksud terselubung. Lagi pula bukankah kau sudah punya pemuda tampan bernama Jung Yong Hwa itu?”
“Hey, tidak kusangka ternyata kau merasa cemburu pada pemuda itu. Ha... ha... ha!”
Wajah Kim Bum jadi bersemu merah. “Siapa yang cemburu padanya? Dia siapa, kau siapa dan aku ini siapa?!”
Park Shin Hye kembali tertawa. “Aku akan tetap membawamu. Suka atau tidak suka. Kalau kau berlaku baik aku pasti baik padamu. Imbalan yang akan kau dapat berlipat ganda... Jangan kau andalkan kepandaian yang kau miliki untuk melawanku... Aku butuh bantuanmu untuk menyingkirkan beberapa tokoh silat berkemampuan tinggi.”
“Coba kau tanyakan siapa saja tokoh yang dimaksudkannya itu...” bisik Lee Min Ho.
“Eh, siapa pemuda yang berbisik-bisik di sampingmu itu...?” tanya Park Shin Hye seolah baru melihat kehadiran Lee Min Ho di tempat itu.
“Tidak usah pedulikan dia. Aku hanya ingin tahu siapa-siapa tokoh silat yang hendak kau singkirkan itu?”
“Aku tidak keberatan mengatakannya,” jawab Park Shin Hye sambil tersenyum. “Pertama kita berdua akan mencari Jang Geun Suk. Bukankah kau mengincar manusia satu itu? Kau membantuku dan aku membantumu...”
“Tapi kita punya alasan berbeda!” jawab Kim Bum.
“Kau cukup cerdik!” puji Park Shin Hye sambil mengerdipkan mata kirinya. “Jelas alasan kita berbeda tapi tujuan kita sama. Mengapa perlu diributkan?”
Di sampingnya, Lee Min Ho berbisik. “Jangan berdebat dengan perempuan iblis itu. Kau punya kesempatan merampas paku baja putih dari Jang Geun Suk...”
“Siapa korbanmu selanjutnya?” Kim Bum bertanya.
“Seorang pemimpin rimba persilatan, namanya Lee Seung Gi...”
“Kurang ajar, dia sahabatku dan sudah kuanggap sebagai guru dan kakakku sendiri!” teriak Kim Bum.
Park Shin Hye tertawa panjang. “Itu anggapanmu. Tapi menurut anggapanku dia adalah penghalang besar untuk mencapai cita-citaku!”
“Benar-benar perempuan Iblis,” teriak Kim Bum dalam hati. “Siapa lagi korbanmu selanjutnya, ” tanya murid Kim Tae Hee itu.
“Seorang wanita sakti bernama Kim Tae Hee!”
“Perempuan iblis, Kim Tae Hee adalah guruku!” teriak Kim Bum.
“Kalau gurumu memangnya kenapa? Apa dia tidak boleh mati?” tukas Park Shin Hye sambil tertawa.
“Jahanam!” Kim Bum tidak dapt lagi menahan kesabarannya. Dia hendak melompati perempuan di hadapannya, tapi Lee Min Ho mengulurkan tongkatnya menahan.
“Aku sudah lama tidak menggerakkan badanku!” katanya. “Biar aku meluruskan tulangku dan mengendurkan urat-urat yang sudah kaku!” Setelah berkata seperti itu, Lee Min Ho mengarahkan tongkat di tangan kirinya. Benda itu bergetar keras dan memijarkan cahaya redup. Bersamaan dengan itu terdengar suara berisik menggelegar di tempat itu.
“Kurang ajar! Kau hanya merusak pemandangan dan pendengaranku saja!” hardik Park Shin Hye. Dia mengangkat tangan kanannya. Telapak dibuka dan dihadapkan ke arah ujung tongkat yang datang menusuk ke bagian kepalanya.
“Crasss!” Tongkat itu jelas menembus telapak tangan Park Shin Hye disertai suara mengerikan. Tapi tidak ada darah mengucur. Tapak tangan sama sekali tidak terluka apa lagi berlubang.
“Ilmu Sihir…” desis Kim Bum dalam hati.
Sementara Lee Min Ho tetap tenang saja. Tongkat di tangan kirinya kembali berkelebat. Tapi kali ini tongkat tidak dipakai untuk menyerang lawan, malah ditusukkan ke perut sendiri.
“Crasss!” Tongkat menembus perut. Perut berlubang. Tapi tidak ada darah. Malah ketika ditarik ususnya muncrat! Kim Bum mengernyitkan kening sedang Park Shin Hye sempat tercengang melihat apa yang terjadi.
“Hyung!” seru Kim Bum.
Lee Min Ho tertawa. “Ayo serang lagi! Aku pasti bisa menirukan apa yang kau lakukan!” kata Lee Min Ho.
“Sombong! Lihat seranganku!” teriak Park Shin Hye merasa direndahkan. Dua tanganya disorongkan ke depan.
“Wutt! Wutt!!”
“Sett! Sett!”
Sepasang tangan yang dipukulkan lurus ke depan itu berubah menjadi dua ekor ular. Yang di kiri berwarna hijau pekat sedang yang kanan berwarna coklat kemerahan!
“Wuttt! Bettt! Bettt!” Tongkat kayu di tangan kiri Lee Min Ho membabat di udara.
“Dess! Dess!”
“Traakkk!”
Bagian belakang kepala ular jadi-jadian hancur dan putus dihantam tongkat. Sebaliknya tongkat kayu Lee Min Ho patah menjadi dua.
Selagi Lee Min Ho terkejut melihat kejadian itu, tiba-tiba dua kepala ular yang buntung dan jatuh ke tanah melesat ke atas, menancap di leher kiri kanan.
Kim Bum berteriak kaget. Lee Min Ho menggunakan tangan kiri dan kanannya untuk melepaskan kepala ular itu dari lehernya lalu meremasnya sampai hancur! Sadar bahaya besar mengancam jiwa, pemuda itu segera mengambil dua butir obat dari balik capingnya dan segera menelannya. Tiba-tiba dia meraung. Dadanya seperti ditusuk besi panas. Dari mulutnya keluar busa darah.
“Hyung!” teriak Kim Bum seraya bergerak hendak merangkul pemuda itu. Namun dari samping Park Shin Hye mengebutkan pakaian hijaunya. Selarik cahaya hijau menyambar membuat Kim Bum terpaksa menyingkir dan melompat mundur.
“Perempuan iblis! Kau membunuh kakakku,” teriak Kim Bum marah.
“Oo, jadi dia kakakmu! Kenapa tidak bilang dari tadi? Tadi kau bilang tak usah pedulikan. Kasihan ajalnya sudah di depan mata!”
“Perempuan jahanam! Rasakan ini…” dalam marahnya, murid Kim Tae Hee itu mengerahkan semua tenaga dalamnya ke tangan kanan. Serta merta lengan sebatas siku ke bawah menjadi putih perak menyilaukan. Tangan itu kemudian dihantamkan ke arah Park Shin Hye.
“Pukulan Sinar Matahari!”
Cahaya putih yang sangat panas menyambar ke arah Park Shin Hye. Perempuan itu hanya tercekat sesaat. Kedua lututnya menekuk. Di lain kejap tubuhnya melesat ke atas. Gerakan perempuan itu luar biasa cepatnya. Pukulan Sinar Matahari lewat di bawah kedua kakinya. Dari atas Park Shin Hye mengebutkan lengan baju hijaunya. Dua larik sinar hijau yang membawa angin sederas topan prahara menyambar Kim Bum. Pukulan Sinar Matahari menghantam amblas beberapa pohon dan semak belukar yang serta merta kemudian dikobari api.
Sebaliknya, dua larik pukulan yang dilepaskan Park Shin Hye membuat Kim Bum seperti ditindih gunung. Dia berusaha bertahan sambil berusaha membalas pukulan “Tameng Sakti Menerpa Hujan” dan “Benteng Topan Melanda Samudra”.
Akibat yang terjadi luar biasa. Di udara kelihatan dua sinar hijau mencelat ke atas berbuntal-buntal disertai letusan-letusan keras. Kelihatannya dua pukulan sakti yang dilepaskan Kim Bum mampu memusnahkan serangan lawan. Nyatanya tidak, karena dikejapan berikutnya ketika tubuhnya masih melayang di udara, Park Shin Hye mendorongkan kedua telapak tangannya ke bawah. Dua pukulan sakti yang dilepaskan Kim Bum berbalik menyerang dirinya sendiri.
“Celaka! Jahanam ini ternyata luar biasa ilmu dan tenaga dalamnya!” keluh Kim Bum sambil menjauh.
“Bummmm! Bummm!” Serangan Park Shin Hye menghantam. Tanah, pasir dan batu-batuan muncrat beterbangan. Di tanah kelihatan dua buah lubang sedalam dua jengkal.
Kim Bum merasa kedua lututnya goyah ketika dia berusaha bangkit. Dari sela bibirnya kelihatan ada darah keluar. Baru sempat berdiri lurus tiba-tiba Park Shin Hye sudah berada dua langkah di depannya. Kim Bum menggertakkan rahang. Tangan kanannya bergerak ke pinggang. Siap mencabut “Pedang Iljimae”. Tapi Park Shin Hye bergerak mendahului. Kedua tangannya dipergunakan untuk menyingkap pakaian hijaunya di bagian tengah. Perut Park Shin Hye tersingkap polos dan putih. Wajahnya kelihatan menjadi kaku, pandangan matanya menyorot mengerikan.
Tiba-tiba dari perut perempuan itu melesat sebuah benda yang ternyata adalah seekor ular hitam berkepala putih. Binatang itu melesat ke arah Kim Bum dan langsung mematuk bagian dadanya. Murid Kim Tae Hee itu mengeluh tinggi. Pakaiannya yang robek tampak basah oleh darah. Kepalanya pening. Tubunya mendadak terasa sangat dingin hingga dia menggigil dan akhirnya roboh tak sadarkan diri.
Bersambung…
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar