Selasa, 08 Mei 2012
Gladiator (Chapter 2)
Raut wajah tampan itu menatap Kim Bum dengan sorot pandangan tajam. Pemuda itu mempunyai ketampanan yang nyaris mendekati nilai ketampanan Kim Bum. Pemuda yang berusia sebaya dengan Kim Bum itu mengenakan baju berwarna biru muda, dan berkalung hitam dengan bandul berbentuk bintang segi enam yang terbuat dari logam putih metal. Di bagian tengah bintang segi enam itu terdapat batu ungu sebesar kelereng.
“Apa maksudmu menghadang langkahku, Tuan?!” tegur Kim Bum dengan sikap bersahabat.
“Benarkah kau yang bernama Kim Bum?!” tanya pemuda itu.
“Aku bukan Kim Bum. Namaku Lee Hong Ki!” jawab Lee Hong Ki dengan sombong.
“Aku tidak bertanya padamu, Tuan!” geram pemuda itu.
“Aku hanya mengumumkan diri!” balas Lee Hong Ki, memuakkan sekali sepertinya.
Kim Bum menyunggingkan senyum kalem, kemudian menatap pemuda sebayanya yang masih berada dalam jarak enam langkah di depannya itu.
“Benar. Akulah yang bernama Kim Bum. Dari mana kau mengenaliku?”
“Dari bumbung arakmu itu!”
Kim Bum menggumam lirih, lalu mengajukan pertanyaan kembali, “Kau sendiri siapa, Tuan?!”
“Aku.... Jung Yong Hwa, utusan dari Sungkyunkwan!”
“Sungkyunkwan...?!” Lee Hong Ki menggumam dengan nada tegang, lalu wajahnya tampak tegang juga. Ia bergeser ke belakang Kim Bum dengan pandangan mata dibayangi rasa takut. Hal itu mengundang kecurigaan dan rasa heran Kim Bum.
“Aku ingin bicara denganmu sebentar, Kim Bum!” bisik Lee Hong Ki, setelah itu ia menjauh dan Kim Bum mengikutinya.
Sementara itu, Jung Yong Hwa memandang dengan curiga dan perasaan tak enak. Namun ia tetap berdiri di tempatnya dengan gagah. Dadanya yang bidang tetap tampak membusung tegar.
“Ini ada sangkut pautnya dengan Kim So Eun, Kim Bum!”
“Apa maksudmu?!” bisik Kim Bum juga.
“Kim So Eun menyuruhku mencarimu, karena ia ditemui oleh sekelompok orang dari Sungkyunkwan. Orang-orang itu menduga Kim So Eun adikmu, dan mereka mencarimu. Mereka tak percaya dengan kata-kata Kim So Eun yang tidak mengetahui dimana kau berada. Bahkan Kim So Eun hampir saja mengambil tindakan keras, sebab mereka tidak mau pergi dan selalu mengikuti ke mana kami pergi. Sampai akhirnya, ketika aku dan Kim So Eun ada di sebuah kedai, Kim So Eun menyuruhku pergi mencarimu secara diam-diam.”
“Apa maksud orang-orang Sungkyunkwan itu mencariku?!”
“Aku tak tahu. Seingatku, mereka juga tidak menjelaskan kepada Kim So Eun. Kalau tak ada aku, mungkin Kim So Eun sudah dibunuhnya. Mereka tampak segan terhadapku.”
Kim Bum tahu, kata-kata terakhir jelas bualan Lee Hong Ki sendiri. Bukan kenyataan. Kim Bum tak heran lagi, karena Lee Hong Ki punya kebiasaan selalu menambahkan bualannya jika sedang menjelaskan sesuatu hal. Bualan itu dimaksud untuk mengangkat namanya agar tak dipandang remeh di depan siapa saja.
“Sepertinya ada yang tak beres pada diri orang-orang Sungkyunkwan,” gumam Kim Bum dalam hati. “Aku sendiri belum pernah tahu di mana dan siapa penguasa Sungkyunkwan itu. Hmmm... sebaiknya kubereskan saja teka-teki ini dengan menghadapi pemuda bernama Jung Yong Hwa itu!”
Maka, Kim Bum pun bergegas kembali menemui Jung Yong Hwa yang tampak menunggu dan tak mau mengganggu perundingan tadi. Sikapnya yang tak mau mengganggu perundingan tadi membuat Kim Bum sedikit heran, karena sikap itu adalah sikap yang baik dan bertata krama tinggi. Padahal penjelasan Lee Hong Ki tadi menimbulkan kesan bahwa orang-orang Sungkyunkwan itu bermaksud buruk kepada Kim So Eun. Kim Bum jadi serba salah menilai Jung Yong Hwa dalam hatinya.
“Jung Yong Hwa, benarkah orang-orangmu telah menemui sahabatku yang bernama Kim So Eun?!”
“Ya, benar!” jawab Jung Yong Hwa dengan tegas.
“Kami mencarimu, dan menghubungi Kim So Eun, adikmu itu untuk menanyakan di mana kau berada dan meminta bantuannya mencari dirimu.”
“Kim So Eun bukan adikku!” ujar Kim Bum dengan tegas. “Tapi dia lebih dari seorang adik bagiku.”
“O, kalau begitu kami tak salah jika meminta bantuannya mencarikan dirimu, Kim Bum?!”
“Jika dilakukan dengan kasar itu sama saja menantang permusuhan denganku!”
“Kurasa tak ada perintah untuk menemui Kim So Eun dan meminta bantuannya secara kasar! Sama halnya sikapku terhadapmu saat ini, Kim Bum! Apakah kau menilaiku bersikap kasar kepadamu?!”
Kim Bum diam sesaat. Tapi dalam hatinya ia mengakui bahwa sikap yang ditunjukkan Jung Yong Hwa di depannya pada saat itu tidak mempunyai kekasaran sedikit pun. Jika suara Jung Yong Hwa agak keras, itu lantaran ia punya sikap yang tegas dan ingin menegakkan wibawanya.
“Jika begitu, kau tentunya tak keberatan jika harus menjelaskan ada keperluan apa kau mencariku, Jung Yong Hwa?!”
“Aku ingin membawamu ke Sungkyunkwan. Rakyat kami sangat membutuhkan dirimu, Kim Bum.”
“Hmmm.... Ada perlu apa aku dibawa ke Sungkyunkwan?!'“
“Kami....”
“Ssst...!” tiba-tiba Kim Bum memotong kata-kata Jung Yong Hwa sebelum pemuda itu bicara lebih lanjut. Kim Bum mendengar suara gemerisik semak terinjak.
Lirikan mata Kim Bum segera dipahami oleh Jung Yong Hwa. Pemuda itu pun segera menyimak suara yang mencurigakan. Suara kaki melangkah pelan itu datang dari arah belakangnya, sehingga ia perlu bergeser sedikit memutar tubuhnya dengan lirikan mata tegang.
Sedangkan Lee Hong Ki mulai bersiap-siap mencari tempat berlindung, karena ia tahu akan terjadi sesuatu yang membahayakan dirinya jika tak segera berlindung.
Tiba-tiba dua buah logam yang memantulkan sinar matahari berkelebat ke arah Jung Yong Hwa.
“Wuuus, wuuuss...!”
Dua pisau terbang melesat dari arah samping kiri Jung Yong Hwa. Tapi sebelum pemuda itu menghindarinya, dua pisau serupa muncul lagi dan mengarah ke punggung Jung Yong Hwa.
“Wuus, wwuusss...!”
Jung Yong Hwa menyentakkan kakinya dan dalam sekejap tubuhnya sudah melambung ke atas.
“Wees...!”
Sedangkan Kim Bum segera bergerak cepat dalam satu lompatan yang sulit dilihat orang.
“Zlaap...! Teb, teeb...!”
Kedua pisau yang mengarah ke punggung Jung Yong Hwa berhasil ditangkapnya dengan dua tangan. Kedua pisau itu terjepit di sela jari tangan kanan-kiri Kim Bum.
Jung Yong Hwa mendaratkan kakinya kembali ke tanah setelah dua pisau dari arah kirinya menancap di sebatang pohon.
“Jreb. Jreeb..!”
Tangan pemuda itu segera merenggang, penuh siaga. Matanya yang tajam melirik Kim Bum. Kedua tangan Kim Bum sedikit diacungkan, memperlihatkan kedua pisau yang berhasil ditangkapnya itu. Wajah Kim Bum tidak setegang Jung Yong Hwa.
“Aku dapat dua!” ujar Kim Bum sambil tersenyum, ia menampakkan ketenangannya.
Jung Yong Hwa masih tegang. Baru saja ia ingin membalas senyuman Kim Bum, tiba-tiba matanya melihat dua orang menerjang Kim Bum dari belakang dengan satu lompatan sama-sama cepat.
“Awas di belakangmu, Kim Bum!” pekik Jung Yong Hwa.
Tapi senyum Kim Bum masih tetap mekar tanpa rasa kaget.
“Aku tahu...,” ujar Kim Bum dengan kalem, lalu cepat membalikkan badan dan kedua tangannya mengayun ke depan, sambil berlutut satu kali.
“Wuut, wuut...!”
Kedua pisau di tangan Kim Bum itu melesat dan menancap mengenai kedua orang tersebut.
“Jeb, jeb...!”
“Aaahk...!” keduanya terpekik dan jatuh terjungkal kehilangan keseimbangan tubuh. Satu pisau menancap di paha salah seorang, satu pisau lagi menancap di bawah pundak kanan orang yang satunya lagi.
Kemunculan dua orang yang telah berhasil dirobohkan Kim Bum itu disusul dengan munculnya tiga orang lagi. Mereka melompat dari balik rimbunan semak sebelah kiri Jung Yong Hwa dan sebelah kanannya.
Kini kedua pemuda itu berhadapan dengan empat orang mengenakan rompi besi, pakaian perang anti senjata tajam. Mereka juga mengenakan topi besi. Lengan mereka juga dibungkus dengan kain berlapis besi agar tak mempan jika terkena pedang.
Lee Hong Ki semakin merunduk, berlindung di semak-semak rimbun di balik pohon. Dari sela-sela batang semak, ia masih bisa melihat apa yang terjadi di depan sana.
Kim Bum merasa heran melihat empat orang berpakaian prajurit seperti itu. Dua orang yang sempat dirobohkan dengan pisau terbang tadi juga berpakaian sama. Hanya saja, bagian paha mereka tak terlindung baju besi, sedangkan bawah pundak orang yang terkena pisau itu kebetulan robek sehingga pisau lemparan Kim Bum dapat mengenai tubuhnya. Pisau beracun itu membuat kedua orang tersebut tak bisa berdiri lagi, tapi keadaannya masih bisa bernapas.
Rupanya pisau itu mempunyai racun yang melumpuhkan korbannya, sehingga kedua orang tersebut hanya bisa mengerang kesakitan karena tak bisa mencabut pisau yang masih menancap di tubuh mereka.
Empat orang bertopi besi itu segera berjejer tegak dengan masing-masing tangan memegang gagang pedang. Namun pedang mereka belum sempat dicabut. Salah seorang mewakili mereka maju dua langkah dari barisan.
Kim Bum melirik Jung Yong Hwa. Pemuda itu sedang memperhatikan wajah-wajah angker keempat orang tersebut.
“Siapa mereka? Aku tak punya kenalan seperti mereka,” bisik Kim Bum masih kelihatan tenang, karena bumbung araknya sudah berpindah di tangan kanannya begitu keempat orang tadi muncul dari semak-semak.
“Mereka adalah para prajurit dari Istana Daehan Minguk,” jawab Jung Yong Hwa dalam bisikan. “Mereka menghendaki diriku. Bukan dirimu. Karena merekalah yang selama ini menculik para pemuda Sungkyunkwan dan sering membuat kacau di tempat kami!”
“Jadi, bagaimana kalau sudah seperti ini?!”
“Akan kucoba menangani mereka. Tapi... kurasa mereka juga akan menangkapmu!”
“Aneh. Kenapa mereka juga mau menangkapku?” gumam Kim Bum.
“Karena kau termasuk pemuda bertubuh gagah.”
“Apa hubungannya?!”
Jung Yong Hwa tak sempat menjawab, karena suara orang yang maju dua langkah dari barisannya itu telah lebih dulu berseru dengan suaranya yang kasar, keras, dan serak.
“Menyerahlah Jung Yong Hwa, daripada kepalamu kupenggal di tempat ini! Jangan terlalu berharap dapat bantuan dari pemuda sebelahmu itu, karena ia pun akan segera kami lumpuhkan. Jika perlu akan kami cincang di sini juga!”
Kim Bum menyunggingkan senyum mendengar dirinya terancam juga. Ia justru membuka tutup bumbung araknya dan menenggak arak dengan tenang, tanpa rasa takut diserang. Keempat orang Istana Daehan Minguk itu memperhatikan Kim Bum dengan hati kesal.
“Hei, kau... yang minum arak! Dengar! Perhatikan kata-kataku!” bentak orang yang tadi mengancam. Orang itu menghampiri Kim Bum dengan pedang dicabut dari sarungnya dan bermaksud ingin mengancam memakai pedang tersebut. Tetapi suara bentakan itu dimanfaatkan Kim Bum untuk alasan tersedak. Minumnya terhenti, kepalanya tersentak ke depan, arak di mulutnya menyembur ke arah orang tersebut sambil berlagak terbatuk-batuk.
“Bwrruus...!”
“Uhuk, uhuk, uhuk, uhuk...!”
“Haah...?!” orang yang mau mengancamnya itu kaget.
Semburan arak Kim Bum itu bukan semata-mata semburan biasa, namun memercikkan bunga api yang segera membakar tubuh orang tersebut.
“Ooh, hhahh...?! Hhaaa... haaaaaa...!!”
Kim Bum telah mengawali perlawanannya.
Jurus “Semburan Api” digunakan dalam keadaan yang tepat sekali, tampak seolah-olah tidak sengaja, namun sebenarnya sangat disengaja. Jurus “Semburan Api” itu membuat semburan arak dari mulut Kim Bum berubah menjadi bara api dan segera membakar tubuh orang tersebut.
Semua mata terbelalak kaget, termasuk mata Jung Yong Hwa. Mata mereka tak berkedip, tubuh mereka tak bergerak. Shock dalam beberapa helaan napas. Mereka hanya memandangi orang yang pakaiannya terbakar itu berguling-guling di rerumputan, berusaha memadamkan api yang membungkusnya.
“Toloong...! Keparat! Toloong...! Tolong aku, Jangan bengong saja...!!” Jeritnya kepada ketiga prajurit lainnya. Barulah ketiga prajurit itu berusaha memadamkan api dari tubuh orang tersebut.
Ada yang menggunakan baju besinya dikebut-kebutkan untuk memadamkan api, ada yang menggunakan segenggam rumput ilalang disabet-sabetkan. Salah seorang lari kesana-kemari dengan bingung mencari air untuk memadamkan api tersebut.
Kim Bum tertawa seperti orang menggumam. Pelan tapi jelas merasa geli. Matanya memandangi kesibukan para prajurit itu. Ia berdiri berdekatan dengan Jung Yong Hwa. Pemuda dari Sungkyunkwan itu akhirnya tersenyum juga melihat ketiga prajurit kebingungan memadamkan api yang membungkus tubuh temannya itu.
“Panaaas...! Panaaaass...! Aairrr...! Aaaaaiiir...!”
Lee Hong Ki ikut keluar dari persembunyiannya, ia berlari-lari membawa daun berisi air. Air itu segera disiramkan ke tubuh orang tersebut! Namun karena jumlahnya sedikit, maka air itu tak dapat memadamkan api yang semakin lama semakin berkobar besar.
Tanpa sadar seorang prajurit yang berusaha memadamkan api dengan menaburkan tanah ke tubuh korban itu berseru kepadaLee Hong Ki.
“Cari lagi yang banyak! Cepat, ambil air yang banyak seperti tadi!”
“Mana bisa! Aku sudah tidak bisa buang air kecil lagi!”
“Hahh...?! Jadi yang kau siramkan tadi air senimu?!”
“Itu karena tak ada air lainnya?!” Lee Hong Ki ngotot.
“Kurang ajar! Kau siram wajahku dengan air seni?!”
Lee Hong Ki ketakutan, lalu segera lari ke arah Kim Bum dan Jung Yong Hwa. Terdengar suara gerutu Kim Bum saat Lee Hong Ki berada di belakangnya.
“Kau ini bikin ulah yang bukan-bukan saja! Untung mereka tak segera memenggal lehermu!”
“Mau bagaimana lagi, aku sendiri juga bingung. Tak ada air terdekat dari sini. Kebetulan aku sedang ingin buang air kecil... lalu, ya... kumanfaatkan saja. Siapa tahu bisa memadamkan api itu,” ujar Lee Hong Ki dengan suara seperti orang menggumam.
Jung Yong Hwa sendiri tidak segera melakukan serangan terhadap orang-orang Istana Daehan Minguk itu. Kim Bum merasa heran dan akhirnya mengajukan pertanyaan kepada Jung Yong Hwa.
“Mengapa kau tak menyerangnya saat mereka banyak kelengahan seperti itu?!”
“Hmmm... menurutmu bagaimana? Haruskah aku menyerangnya?!”
“Hei, mengapa kau menunggu perintah dariku?!” ujar Kim Bum heran. Jung Yong Hwa bingung menjawabnya. Akhirnya Kim Bum melakukan sesuatu setelah melihat Jung Yong Hwa tampak ragu-ragu untuk bertindak.
Kim Bum melesat dengan cepat ke arah mereka yang sibuk memadamkan api.
“Zlaaap...!”
Jurus “Gerak Siluman”-nya yang mempunyai kecepatan seperti kecepatan cahaya itu dipergunakan. Kakinya merentak saat menerabas ketiga orang yang sibuk mengerumuni sang ketua prajurit itu.
“Brruus...!”
“Aaahhh...!!” ketiganya memekik keras. Ketiganya juga terpental ke tiga arah dalam keadaan tubuh mereka melayang cepat. Mereka jatuh terhempas dengan kuat. Ada yang terbanting di rerumputan, ada yang masuk ke semak berduri, ada yang membentur pohon. Yang paling parah yang membentur pohon. Dua tulang rusuknya patah seketika, ia mengerang kesakitan.
Sekalipun memakai rompi besi, tapi rompi yang membentur pohon dengan kuat itu justru membuat tulang iganya bagaikan dihantam dengan sebatang besi.
Kim Bum segera mendekati orang yang terbakar. Orang itu masih mengerang dalam keadaan sekarat. Api masih berkobar-kobar. Kim Bum segera menenggak araknya, sebagian ditelan, sebagian lagi disemburkan ke arah kobaran api tersebut.
“Bwweerrs...! Wuuuubbbh...!”
Api padam seketika. Dua prajurit yang tadi terkena pisau itu bisa memandang keadaan tersebut, dan diam-diam mereka tercengang kagum, namun masih tetap harus menyeringai menahan rasa sakit dalam keadaan lemas bagai tak bertulang sedikit pun.
Sang ketua prajurit seperti babi panggang. Hangus dan berasap. Tapi ia masih bisa merintih walau pelan sekali, ia belum sempat mati. Jika api tak dipadamkan dalam waktu lima hitungan napas lagi, maka orang tersebut akan tewas tanpa bisa tertolong lagi.
Jung Yong Hwa tetap diam di tempat bersebelahan dengan Lee Hong Ki. Ia sempat menggumamkan kata kagum terhadap kemampuan Kim Bum dalam memadamkan kobaran api tersebut.
“Luar biasa sekali!”
Lee Hong Ki menyahut, “Memang ini tindakan di luar biasanya.”
Dahi pemuda Sungkyunkwan itu berkerut saat melihat Kim Bum menenggak arak lagi. Rupanya kali ini tak ada arak yang ditelan. Arak itu segera disemburkan ke sekujur tubuh si ketua prajurit yang sudah seperti babi panggang itu.
“Bwwrreeess...!”
Tak ada yang paham dengan tindakan itu. Mereka tak tahu bahwa Kim Bum telah menggunakan jurus penyembuhan yang dinamakan jurus 'Semburan Husada' itu. Luka apa pun dapat disembuhkan dengan arak yang disemburkan ke tubuh si penderita. Tetapi akibatnya si penderita akan kehilangan ingatan tentang diri Kim Bum. Seandainya si ketua prajurit sebelumnya sudah kenal baik dengan Kim Bum, maka ia akan sembuh tapi lupa siapa diri Kim Bum. Jurus seperti itu jarang dipergunakan oleh Kim Bum. Biasanya Kim Bum melakukan penyembuhan dengan cara meminumkan arak dari bumbung saktinya itu.
Tetapi sepertinya kali ini ia tak memungkinkan dapat meminumkan arak ke mulut orang yang sudah separuh matang itu. Maka jurus “Semburan Husada” dipergunakan, seperti saat ia mempergunakannya kepada seorang gadis yang terluka di masa lalu.
Tiga prajurit yang tadi terpental hanya bisa terbengong di tempat melihat asap mengepul dengan tebal membungkus si ketua prajurit. Ketika asap itu pudar sedikit demi sedikit, tampak si ketua prajurit menggeliat bangun. Tubuhnya yang hangus dan terluka bakar itu menjadi bersih seperti sediakala. Si ketua bisa berdiri dengan tegak, seperti tak pernah mengalami luka apa pun. Ia sendiri merasa heran dan memperhatikan tubuhnya.
Tetapi ketika ia memandang Kim Bum, orang itu tampak heran dan merasa baru kali ini bertemu dengan seorang pemuda berbaju cokelat. Dan bagi Kim Bum, hal itu tidak merugikan dirinya. Toh tanpa terkena pengaruh dari jurus “Semburan Husada” ketua prajurit itu tetap saja tak mengenal siapa Kim Bum.
Dua orang prajurit yang terjerembab di semak dan terbanting di rerumputan tadi segera menghampiri si ketua. Mereka memandangi keadaan tubuh si ketua, memeriksa dengan teliti. Lalu salah seorang berseru kepada dua orang yang terkena pisau dan satu orang yang patah rusuknya.
“Ketua sembuh! Ketua tak punya luka sedikit pun! Ajaib sekali!”
Kim Bum melangkah santai ke arah Jung Yong Hwa. Setibanya di samping pemuda itu, ia berkata pelan sambil memandangi si ketua prajurit yang sedang kebingungan.
“Katakan kepada mereka, jika masih mau coba-coba mengganggu kami, aku akan bertindak lebih kasar lagi. Tapi jika mereka bersedia pulang ke Istana Daehan Minguk, akan kusembuhkan kedua orang yang terkena pisau itu dan seorang yang meraung di bawah pohon itu!”
Jung Yong Hwa bagai seorang prajurit yang patuh kepada komandannya, ia pun berseru seperti apa yang dikatakan Kim Bum tadi.
“Kami bukan orang-orang yang mengenal kata menyerah atau kalah, Jung Yong Hwa!” seru si ketua prajurit masih ngotot juga. Sambungnya lagi, “Tetapi kami hanya bisa menunda waktu untuk satu tugas! Sekalipun sekarang kami pulang ke Istana Daehan Minguk, bukan berarti melepaskan ancaman untukmu dan... dan untuk temanmu itu! Aku hanya ingin membuktikan kemampuan temanmu mengobati ketiga anak buahku itu!”
Kim Bum menyunggingkan senyum. Jung Yong Hwa berbisik sambil meliriknya. “Dia masih keras kepala!”
“Itu hanya sekedar menjaga harga dirinya sebagai seorang prajurit. Kata-katanya sudah membuktikan dia tak akan berani berhadapan dengan kita lagi!”
Kim Bum akhirnya mengobati ketiga prajurit yang terluka itu dengan meminumkan araknya. Ketiganya menjadi sehat dan badan mereka terasa segar tanpa luka apa pun. Bahkan dua prajurit yang tadi terbanting dan menyerusuk ke semak berduri itu juga ikut minta minum arak tersebut. Kim Bum tak keberatan memberikan araknya. Setidaknya sikap itu telah mencerminkan kemenangan besar pada pihaknya.
“Lain waktu kita pasti bertemu!” kata si ketua prajurit dengan suara keras sambil menuding Kim Bum.
Seruan itu hanya dijawab dengan lambaian tangan kecil oleh Kim Bum dan senyum lebar yang berkesan melecehkan mereka. Mereka pun segera pergi meninggalkan tempat itu.
“Itulah mereka,” ujar Jung Yong Hwa. “Hampir setiap empat hari sekali mereka datang ke Sungkyunkwan dan membuat kekacauan, membunuh, merampas harta kami, dan... menculik beberapa pemuda yang berbadan gagah dan tangguh.”
“Untuk apa mereka menculik pemuda-pemuda berbadan gagah dan tangguh?”
“Entahlah. Kami tak tahu dengan pasti. Tapi menurut dugaan kami, teman-temanku itu akan dijadikan prajurit di Istana Daehan Minguk, memperkuat Istana Daehan Minguk dalam menghadapi lawan. Sementara itu, Sungkyunkwan sendiri diharapkan tidak mempunyai kekuatan lagi setelah semua pemuda berbadan gagah dan tangguh dibawa ke Istana Daehan Minguk!”
“Hmmm...,” Kim Bum mengangguk-anggukan kepalanya dan menggumam pelan.
“Karenanya, aku dipilih oleh rakyat Sungkyunkwan sebagai utusan yang bertugas mencari Kim Bum sampai dapat!”
“Maksudnya...?!”
“Kami ingin meminta bantuanmu untuk memperkuat Sungkyunkwan, mengusir orang-orang Istana Daehan Minguk, lebih lagi jika bisa membebaskan rekan-rekanku yang diculik oleh pihak Istana Daehan Minguk itu! Kami menaruh harap sekali padamu, Kim Bum! Karena itulah, beberapa orang kami yang mengetahui tentang perempuan bernama Kim So Eun segera menghubungi perempuan itu dan mendesak agar diberi tahu di mana kau berada. Mungkin desakan kami itu mencurigakan, sehingga Kim So Eun merasa terganggu.”
“Kurasa Kim So Eun dapat memahami keadaan kalian jika sudah dijelaskan seperti ini.”
“Lalu, keputusanmu sendiri bagaimana, Kim Bum? Maukah kau menyelamatkan sisa nyawa yang ada di Sungkyunkwan itu?”
Kim Bum menarik napas, memandang jauh. Ia mempertimbangkan langkahnya, karena ia tak ingin masuk dalam jebakan yang membahayakan jiwanya.
Bersambung…
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar